Info Terkini

10/recent/ticker-posts

Morden Sitanggang Siap Gelar Ritual di Gunung Pusuk Buhit

Jangan Manfaatkan Danau Toba Untuk Hal Negatif

Morden SitanggangMorden SitanggangPARAPAT– Terjadinya kebakaran, peningkatan suhu dan kemarau di kawasan Danau Toba khusunya di Aek Rangat Kecamatan Pangururan Samosir mendapat perhatian serius dari pemerintah, BMKG, ahli supranatural, dan pemuka agama.

BMKG Parapat, melaporkan kawasan Danau Toba da lam pengamatan serius pasca terjadinya kebakaran kemarin, dan gempa di Aceh Febuari lalu khususnya Gunung Pusuk Buhit dan kaki gunung yang dijadikan pariwisata pemandian air hangat.

Jika Pemkab Samosir sibuk mengadakan sosialisasi penanggulangan bencana, beda dengan Penasehat Spritual Sedunia Morden Sitanggang. Menurutnya kondisi Gunung Pusuk Buhit dan Danau Toba tetap terjaga, apabila semua pihak menghormati nenek moyang dan menjaga tradisi–tradisi yang berkembang agar penguasanya tidak terusik.

Ditemui di kediamannya Jalan Pedidikan Ajibata–Tobasa, Morden didampingi istrinya Sedihma Br Silalahi  mengatakan, jika tata krama orang Batak tidak dijaga, seperti kesopanan, cara berpakaian dan berbudaya tidak pelihara, maka gunung itu akan bereaksi karena dari sanalah asal muasal suku bangsa Batak. Morden menuturkan , tahun 2009, Perkumpulan Para Tokoh Spiritual Sedunia telah mengadakan pangelekan (bermohon) di kaki Gunung Pusuk Buhit sebagai salah satu cara agar kondisi Danau Toba tetap aman.

”Ritual yang kita lakukan saat itu adalah dengan menggelar pesta tokoh spiritual se- dunia, dengan mengundang parah tokoh masyarakat budaya dan pejabat,” jelasnya. Sebagai persembahan untuk Debata Namula Jadi Na Bolon, katanya mereka juga pernah mengorbankan satu ekor hoda bottar ( kuda putih) dan menanam 150 cm rambut Morden agar penguasa Pusuk Buhit dan Danau Toba tetap tenang.

“Waktu itu rambut saya 280 cm, saya korbankan 150 cm untuk dipotong dan ditanam di kaki Gunung Pusuk Buhit. Kalau sekarang rambut saya 180 cm dan kalau sudah memanjang lagi saya akan korbankan lagi yang penting oppung (roh penguasa Pusuk Buhit) itu senang. Namun belum saatnya, karena oppung itu belum meminta,“ ujarnya.

Mengenai hasil pantauan BMG dan langkah–langkah yang dilakukan Pemkab Samosir belakangan ini menanggulangi bencana, Morden berpendapat, itu sah–sah saja dan sangat penting. “Bagus juga langkah yang mereka lakukan. Namun jika dihubungkan dengan keadaan Danau Toba saat ini, mereka juga harus memeperhatikan faktor lain yang memengaruhi, mengapa keadaan seperti ini. Lihat saja sudah banyak orang yang memanfaatkan Danau Toba ke arah negatif,” katanya.

Hal sama disampaikan Sedihma Br Silalahi, sebagai media roh yang bisa berkomunikasi dengan penguasa Danau Toba dan Pusuk Buhit, dia berpendapat apa yang terjadi saat ini adalah pengaruh dari banyaknya oknum yang mengatasnamakan pecinta dan peduli Danau Toba yang memanfaatkan kondisi Danau Toba. 

“Saya heran lihat di TV, di koran dan di warung –warung, saat ini gencar memberitakan Danau Toba, memang tahu apa mereka dengan kampung kita ini. Yang tahu apa yang terjadi di sinikan kita yang lahir, besar, menikah dan punya anak di sini. Tapi kok bisa mereka yang banyak ngomong mengenai Danau Toba,” katanya dengan suara lantang.

Sedihma sejenak diam  sambil melentangkan tikar di lantai, kemudian melipat kakinya dan merenung setelah itu dia berkata ”Nungga marragam dosa diportibion sahat tu luat ni par topi tao, asa unang ro be mara tapadengganma pangalahotta (sudah terlalu banyak dosa di dunia ini dan dibawa ke kawasan pinggiran Danau Toba, mari kita ubah perilaku kita),” katanya sambil mengangkat tangan kemudian berdiri.
Hal sama disampaikan penggiat budaya Rismon Raja Mangatur saat rapat di Balai Kecamatan Girsang Sipangan Bolon dalam persiapan Festival Tor-tor Batak penganti PDT bulan Juni.

Menurutnya, pejabat, pengusaha dan masyarakat harus bersama memperhatikan kelestarian Danau Toba. “Jangan ada yang memanfaatkan Danau Toba sebagai sarana politik. Kurang apalagi anugerah yang Tuhan berikan sama kita. Dari hasil Danau Toba kita makan, minum, anak kita sekolah, cucu kita punya warisan. Apalagi yang kurang, Danau Toba milik kita bersama, kalau ada yang memanfaatkan untuk hal yang tidak–tidak, berarti dia bukan bagian dari kita. Kita berhak mengusir dan melarang mereka datang ke sini,” tegasnya.

Sementara Ketua Yayasan Yobel Ajibata  Pdt B Sihite, mengaku sangat prihatin dengan kondisi masyarakat Danau Toba yang terganggu dengan situasi yang terjadi belakangan ini. Menurut Gembala Sidang Gereja Bethel Injil Sepenuh ( GBIS) Ajibata ini, pejabat, aparat, pebinisnis, tokoh budaya, pelaku wisata dan masyarakat setempat harus bergandeng tangan dalam menciptakan suasana kondusif. (METROSIANTAR.COM)

Berita Lainnya

There is no other posts in this category.

Post a Comment

0 Comments