Home » » Bah Bolon Akan Selalu Meluap Hujan tak Merata & Hulu Rusak

Bah Bolon Akan Selalu Meluap Hujan tak Merata & Hulu Rusak

Written By BERITA SIMALUNGUN on Sabtu, 14 Juli 2012 | 14.10


(FOTO: PRA EVASI HALOHO) Petugas BNPB berusaha mengeluarkan tanah dan batu dari akar pohon beringin di Sungai Bah Bolon, Kamis (12/7).(FOTO: PRA EVASI HALOHO) Petugas BNPB berusaha mengeluarkan tanah dan batu dari akar pohon beringin di Sungai Bah Bolon, Kamis (12/7).
SIANTAR- Potensi banjir atau meluap Bah Bolon selalu tinggi setiap saat disebabkan hujan turun secara tak merata di Siantar dan Simalungun saat ini. Kondisi ini kian parah disebabkan hulu Bah Bolon juga sudah rusak dan bukan kawasan hutan lagi. Ketua Program Pasca Sarjana Perencanaan Wilayah Kota Universitas Simalungun Anggiat Sinurat, kepada METRO, Kamis (12/7) menyebutkan, potensi banjir Bah Bolon tetap tinggi setiap saat disebabkan hujan yang tidak merata yang terjadi di Siantar dan Simalungun saat ini. “Potensi Bah Bolon banjir setiap saat tetap tinggi.

Hujan sebentar saja, Bah Bolon sudah meluap. Curah hujan sudah tidak merata lagi, sebentar hujan deras, sebentar berhenti,” ungkap Anggiat. Disebutkan Anggiat, selain hujan yang tidak merata, hal lain yang memudahkan Bah Bolon meluap atau banjir disebabkan kerusakan lingkungan yang terjadi di hulu dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bah Bolon. 

Saat ini hulu dan DAS Bah Bolon bukan lagi hutan, tetapi sudah berubah fungsi sebagai kawasan perkebunan teh, kelapa sawit dan kawasan perladangan penduduk. “Hulu Bah Bolon ada di Sidamanik dan Marjandi. Saat ini ada lahan teh yang sedang direplanting di Sidamanik untuk diganti menjadi tanaman baru, kita minta ini supaya secepatnya ditanami PTPN 4. Ini juga berpengaruh terhadap penyerapan air ke tanah,” jelasnya.

Selanjutnya, kebun Marjandi, Anggiat meminta agar pemerintah pusat meneliti kembali kawasan ini. Anggiat menduga, beberapa hektare kawasan di kebun ini masih termasuk kawasan hutan sesuai dengan SK 44. Jika hal ini benar, agar kawasan seperti ini dijadikan kembali sebagai kawasan hutan, bukan ditanami kelapa sawit. “Kalau saya pribadi, kelapa sawit di Marjandi itu dikembalikan lagi menjadi perkebunan teh. Itu kan terbukti, sejak kebun itu menjadi kelapa sawit, sering terjadi banjir di Panei Tongah dan juga ke Kota Siantar,” ujarnya lagi.

Disebutkannya, dengan kondisi rawan bencana saat ini, seharusnya Pemko Siantar harus merencanakan relokasi penduduk dari pinggiran sungai. Relokasi ini harus dijalankan dengan sistim win-win solution atau saling menguntungkan. Pemko jangan melakukan pemindahan dengan sistim frontal. “Kalau ada IMB dari bangunan tersebut, pemko harus menjalankan tanggungjawabnya. Bolehlah pemko dikatakan memberikan ganti rugi atas bangunan atau tanah itu,” jelasnya.

Dikatakan, dana ganti rugi bangunan di Bah Bolon, bisa saja diambil dari dana bantuan sosial (Bansos) milik Pemko Siantar atau Bansos Propinsi Sumut. Peruntukan dana ini juga bisa dialokasikan untuk menyiapkan lahan bagi masyarakat jika dipindahkan ke tempat lain. Kabag Humas Pemko Siantar Daniel Siregar ditemui di seputaran Jalan Vihara kemarin belum bersedia menanggapi terkait rencana relokasi warga di bantaran Bah Bolon. 

Dia mengatakan, situasi belum memungkinkan untuk membahas masalah tersebut. “Jangan dibicarakan ke arah sana dulu. Kita ingin suasana tetap kondusif dengan situasi saat ini.
Memang ada aturan dalam RTRW kita tentang tata ruang di Kota Siantar, termasuk pinggiran sungai, ” jelasnya. Disinggung rencana pengerukan Bah Bolon sebagai antisipasi banjir kedepan, Daniel terkesan tidak mau memberikan penjelasan. Dia malah menjawab saat ini mereka sedang melakukan koordinasi dengan BPBD Propinsi Sumatera Utara.

205 Jiwa Korban Banjir

Pada kesempatan itu, Daniel menyebutkan, jumlah warga yang rumahnya terendam di sepanjang bantaran Bah Bolon sekitar 205 jiwa. Namun untuk jumlah warga yang mengungsi akibat luapan Bah Bolon, hingga kini mereka belum tahu. “Data dari kelurahan belum semua masuk. Kalau sudah masuk pasti akan saya beritahukan kepada  kawan-kawan. Saat ini data yang sudah masuk dari Kelurahan Pamatang Simalungun, ada sembilan KK di sana yang sudah mengungsi ditenda yang kita sediakan,” ujarnya lagi.

Disebutkannya, dapur umum untuk warga yang mengungsi akibat banjir ini ditempatkan di Jalan Vihara dekat RSUD Djasamen Saragih. Di lokasi ini ada enam tenda tempat menginap, mobil dapur umum, air bersih,  truk serbaguna, perahu karet, selimut, makanan tambahan untuk bayi dan berbagai kebutuhan lainnya. 

Walikota Siantar Hulman Sitorus, Kepala BPBD Reinward Simanjuntak dan beberapa staf BPBD Propinsi juga terlihat di sekitar Jalan Vihara. Sementara beberapa petugas dari BPBD Kota Siantar dan propinsi terlihat membersihkan Bah Bolon dari kayu-kayu yang tumbang. (ral)
Share this article :

Poskan Komentar

 
Support : Redaksi | Contac Us | Pedoman Media
Copyright © 2011. BERITA SIMALUNGUN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Admin Simalungun
Proudly powered by Blogger