Berita Terkini

INDEKS BERITA

Anton Sihombing: Infrastruktur Jalan di Simalungun Amburadul

Written By GKPS JAMBI on Tuesday, 19 February 2013 | 18:34

Anton Sihombing. Foto Asenk Lee Saragih HP 0812 747 7587

Anton Sihombing Tolk Show di radio Mora Sumut dipandu Hendro Purba dan Tambos Sidauruk 3-1-13. Foto Asenk Lee Saragih
Siantar-Masyarakat di 31 kecamatan di Kabupaten Simalungun kini mengeluhkan kondisi infrastruktur jalan ke sentra pertanian yang masih amburadul. Kondisi jalan tersebut rusak parah hingga puluhan tahun tak dapat perhatian pembangunan.

Perhatian Pemerintah Kabupaten Simalungun serta Pemerintah Provinsi Sumatera Utara soal pembangunan infrastrukjalan di Kabupaten Simalungun sangat minim. Kondisi jalan di sentra-sentra pertanian di Kabupaten Simalungun sudah memprihatinkan.

Hal itu terungkap dalam dialog interaktif Anggota Komisi IV DPR (Golkar) Anton Sihombing di Studio Mora Sumut 91.30 FM di Jalan Sisingamangaraja P Siantar, Kamis 3 Januari 2013 yang dipandu penyiar Hendro Purba dan Tambos Sidauruk. Sauhur juga ikut menyimak langsung dialog interaktif tersebut.

Menurut Anton Sihombing yang kerap 3 hingga 5 kali ke Siantar-Simalungun dalam sebulan mengatakan, dirinya sudah menelusuri jalan-jalan rusak tersebut. Seperti jalan dari Simpang Raya menuju Tigaras yang merupakan akses puluhan desa menuju Siantar-Tigaras.

Kondisi jalan tersebut rusak berat dan belum mendapatkan perhatian pembangunan dari Pemerintah Kabupaten Simalungun. Kemudian jalan nasional lintas P Raya-Kecamatan Purba tepatnya di Raya Bayu kondisinya rusak berat. Pembangunan jalan Nasional Lintas Siantar-Kabanjahe Sumut itu sudah mendapatkan dana perbaikan namun hingga kini belum juga tuntas.

“Saya banyak berkunjung ke pelosok di Kabupaten Simalungun. saya banyak mendapatkan laporan dari masyarakat soal kerusakan jalan yang tak kunjung mendapat perbaikan. Ini sudah harus ditindak lanjuti sehingga akses ekonomi masyarakat di Simalungun dapat meningkat,”katanya.

“Yang parah lagi, jalan dari Sirpang Haranggaol menuju Haranggaol. Jalan tersebut rusak parah selama belasan tahun. Padahal Haranggaol merupakan tenpat obyek wisata Danau Toba serta sentra budidaya ikan air tawar jarring di Sumatera Utara, khususnya di Kabupaten Simalungun. saya sudah kesana, dan jalannya memang parah,”ujarnya.

Anton Sihombing juga mengingatkan Bupati Simalungun JR Saragih untuk membangun infrastruktur secara merata di Kabupaten Simalungun. Jangan pembangunan infrastruktur hanya terfokus di ibukota kabupaten, Pematang Raya.
Sementara pengamatan Sauhur menunjukkan, jalan rusak hamper merata di Kabupaten Simalungun. Seperti Jalan Simpang Raya-Tigaras, Sipoldas-Gunung Mariah-Batu Dua Puluh, Sirpang Haranggaol-Haranggaol-Saribudolok-Serpadang-Situri-turi-Bangun Mariah-Simpang Bage-Bage-Sibolangit-Sihalpe (jalan lingkar Danau Toba).

Kondisi jalan tersebut rusak parah dan belum mendapatkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Simalungun. Warga mendesak Bupati Simalungun JR Saragih guna mewujudkan janjinya saat kampanye 2010 yang berjanji akan memprioritaskan pembangunan jalan sentra di Simalungun. (Asenk Lee Saragih).

Kecewa Dengan Producer, Penyanyi Simalungun Banting Provesi Jadi Tukang Sayur Keliling

Bahrun Purba Penyanyi Pop Simalungun Beralih jadi tukang sayur keliling saat melintas di Sipoldas dari Siantar hingga ke Simpang Tigaras Senin 7 Jan 2013.Foto-foto Asenk Lee Saragih






Sipoldas, Sauhur

Pagi itu, Pukul 07.30 WIB, Senin 7 Januari 2013, cuaca Desa Sipoldas, Kecamatan Panei, Kabupaten Simalungun cukup cerah. Seorang pedagang sayuran dengan menggunakan sepeda motor roda tiga modivikasi melintas di Desa Sipoldas. Ternyata setiap paginya becak sayur itu menemui pelanggannya di Sipoldas.

Saat itu, penulis singgah di ruah mertua di Sipoldas. Sontak saja Sauhur kaget melihat sosok pedagang sayur keliling itu adalah seorang penyanyi Simalungun bernama Bahrun Purba (maaf yang kakinya satu cacat) yang tahun Minggu 9 September 2007 singgah ke Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) dalam rangka promo album pita kaset lagu Batak Simalungun berjudul "Lang Bai Pangarapan (Tak Sesuai Harapan).

Penulis pun menyapa dan bertanya kenapa bisa beralih jadi tukang sayur keliling Siantar-Simpang Tigaras. Dengan nada polos dan tegas, Bahrun Purba mengaku kecewa dengan Producer Lagu Simalungun yang tidak menghargai penyanyi dari segi upah dan reputasi.

Bahrun Purba mengaku sudah menggeluti profesi sebagai pedagang sayur keliling selama dua tahun terakhir. Bahrun Purba sebenarnya sudah pernah ikut rekaman VCD dalam album kompilasi lagu Simalungun. Namun profesi “tarik suara” Bahrun Purba ternyata tak mampu untuk membiayai tiga orang anaknya, Dita Clara Purba (17 tahun), Lousi  Purba (14 tahun) dan Ferdi Cahaya Purba (11 tahun).

“Producer music Simalungun hanya mencari untung sendiri. Kita selaku penyanyi tak dihargai, dan sering dijadikan korban saat rekaman, begitu juga saat undangan pesta-pesta atau acara-acara resmi. Ini yang membuat saya jera dan tidak menyanyi lagi,”ujarnya.

Kenangan Bahrun Purba Tahun 2007

Sementara itu, Bahrum Purba pernah memilih promosi Lagu Simalungun lewat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Cacat fisik (kaki lumpuh) sejak lahir ternyata tidak membuat Bahrum Purba, seorang artis Batak Siantar Simalungun menyerah begitu saja. Dengan talenta tarik suara yang dimilikinya, Bahrum mencoba merilis album pita kaset Lagu Batak Simalungun berjudul "Lang Bai Pangarapan (Tak Sesuai Harapan) " 2007.

Promosi album lewat GKPS dilakukannya demi sebuah karya tarik suara dimilikinya. Promosi Album Simalungun lewat GKPS mulai dikakukan Bahrun Purba dari GKPS Jambi, Minggu (9/9/2007).

Bahrun tiba di GKPS Jambi, Sabtu (8/9/2007) dengan BIS INTRA dari Siantar seorang diri. Kemudian dilanjutkan ke GKPS Palembang, GKPS Bengkulu, GKPS Surabaya dan berakhir di GKPS Bagan Batu. Tour album keliling kota, tampaknya itu yang dilakukan Bahrun Purba lewat pintu GKPS.

Di GKPS Jambi, usai kebaktian minggu gereja, artis lokal Batak Simalungun ini pun memperkenalkan identitas dan latar belakangnya sebagai seorang penyanyi lokal Batak Simalungun.

Tampil diatas kursi roda, pria kelahiran Nagori 23 Desember, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara menyumbangkan suarnya dihadapan umat jemaat GKPS Jambi. Dua tembang Simalungun yang dilantunkannya dapat merogoh kocek simpati umat hingga jutaan rupiah.

Sembari promosi album kaset berisikan 10 lagu Simalungun, suami dari Lince Turnip ini pun menawarkan ulos khas Simalungun. "Promosi album lewat GKPS, merupakan cara yang tepat saya lakukan guna menjual kaset serta Ulos Simalungun. Kalau tidak dari pintu-ke pintu GKPS, saya kesulitan promosi album saya ini,"ujar anggota Jemaat GKPS Bane Resort Siantar II ini kepada penulis di GKPS Jambi.

Menurut ayah tiga orang anak ini, Dita Clara Purba (17 tahun), Lousi Purba (14 tahun) dan Ferdi Cahaya Purba (11 tahun), dirinya harus menyanyi dari pesta-ke pesta untuk mencukupi ekonomi keluarga serta sekolah anak.

“Saya sudah puluhan tahun menyanyi dan mencipta lagu Simalungun. Namun kali ini bisa rekaman karena bantuan Saidin Saragih Anggota DPRD Kabupaten Simalungun,"katanya.

Album pertama Simalungun direkam 3000 copy di atas pita Sisi Record Medan. Album kompilasi ini Simalungun ini juga menampilkan artis perdana lokal Simalungun Cindy S dan Darwin Purba.

Dalam lawatan promo album ini, Bahrum Purba membawa 120 kaset dengan harga Rp 15.000 per kaset. Promo album lewat pintu GKPS ini merupakan dukungan dari Pdt Kitaman Saragih STh (Pendeta GKPS Resort Siantar II).

Menurut surat keterangan dari Pimpinan Majelis Jemaat GKPS Bane Siantar II, Bahrum Purba merupakan anggota Jemaat GKPS Bane yang menderita cacat fisik sejak lahir. Sehingga bergerak dan berjalan harus menggunakan kursi roda. Bahrun mempunyai tanggungan satu istri dan tiga anak.

Bahrun Purba memiliki talenta yang diberikan Tuhan dalam hal tarik suara. Bahrun bermaksud untuk mengunjungi beberapa Gereja GKPS untuk menawarkan Album Lagu Simalungun yang telah dihasilkannya.

Surat keterangan yang dipegang Bahrun Purba sesungguhnya hanya diberikan sebagai bentuk dorongan kepada Bahrun Purba di Tahun Bapa GKPS 2007 lalu. Dirinya masih gigih berjuang demi keluarga dalam tubuh yang tidak sempurna.

“Dalam kondisi tubuh yang tidak sempurna, tetapi gigih berjuang untuk keluarga. Melalui surat ini, kami juga berharap agar semua warga GKPS dapat menerima kehadirannya di jemaat kita. Sebagai salah satu bentuk dukungan yang dapat kita berikan kepada sesama umat Nasrana dan warga GKPS,”"ujar Marthin Girsang.

Menanggapi kehadiran Bahrun Purba di GKPS Jambi, Sy VM Purba dan R Purba, warga GKPS Jemaat Jambi mengatakan, tokoh Simalungun belum bangga jadi Simalungun. Kemandirian musisi Simalungun masih terbelakang akibat kurangnya dukungan moral dan moril dari Tokoh Simalungun dan pengusaha Simalungun yang sukses.

Menurut mereka, sebagian besar warga Simalungun tidak bangga dengan bahasa, lagunya sendiri. Hal itu yang menyebabkan Simalungun tertinggal dalam segala hal. Kehadiran Bahrun Purba, artis Simalungun yang cacat fisik, merupakan penggugah nurani Simalungun agar mencintai budayanya sendiri.

Termasuk masalah adat, budaya dan bahasanya. Perjuangan Bahrun Purba juga mengingatkan kembali kaum Simalungun, khususnya Bapa GKPS agar menjadi berkat bagi keluarga sejalan dengan Thema GKPS 2007.

“Mari kita cintai budaya, adat,lagu dan bahasa Simalungun dalam keluarga, agar Simalungun maju dan menjadi tuan dinegeri sendiri tanpa meningalkan sifat Nasionalisme,”ujar Ir VM Purba. Kini Bahrun Purba tak lagi mengadu nasib di tarik suaranya, namun banting stir menjadi pedagang sayur keliling. (Asenk Lee Saragih) (Berita Ini Sudah Dimuat di MAJALAH SAUHUR SIMALUNGUN EDISI FEBRUARI 2013)

Museum Simalungun, Riwayatmu Kini

Bangunan Yang Terbengkalai di Belakang MUSEUM SIMALUNGUN.Foto-foto Asenk Lee Saragih (HP 0812 747 7587)

Bangunan Yang Terbengkalai di Belakang MUSEUM SIMALUNGUn

Koleksi MUSEUM SIMALUNGUN Yang Usang dan Lapuk.

Daftar Kunjungan Ke MUSEUM SIMALUNGUN 1972 -2010


MUSEUM SIMALUNGUN di Jalan Sudirman Siantar

Kantor Museum Simalungun di JL Sudirman Siantar.

Menteri Kebudayaan dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu saat berkunjung ke Museum Simalungun tanda didampingi Pejabat Pemkab Simalungun Desember 2011. Kunjungan itu diprakarsai Komunitas Jejak Simalungun.

Staf MUSEUM SIMALUNGUN Lili br Purba Pakpak

Menteri Kebudayaan dan Industri Kreatif Mari Elka Pangestu saat berkunjung ke Museum Simalungun tanda didampingi Pejabat Pemkab Simalungun Desember 2011. Kunjungan itu diprakarsai Komunitas Jejak Simalungun.

Staf MUSEUM SIMALUNGUN Lili br Purba Pakpak
Catatan Pinggir Museum Simalungun

Obyek wisata budaya dan sejarah di Pulau Jawa sudah menjadi salah satu unggulan daerah itu dalam menggaet wisatawan. Tak heran kalau obyek wisata Budaya dan sejarah mampu mendongkrak pendapatan asli daerah, sehingga pemerintah daerah mendorong penggiat obyek wisata budaya dan sejarah untuk lebih kreatif dalam menyajikan obyek wisata bernuansa sejarah budaya tersebut.

Namun lain lubuk, lain ikannya, lain daerah lain pula nasibnya. Lalu bagaimana dengan obyek wisata bidaya dan sejarah di Simalungun?. Berikut sekelumit tentang keberadaan  Museum Simalungun. Museum Simalungun adalah bangunan spesifik Simalungun menyimpan berbagai benda-benda dan barang-barang purbakala peninggalan kerajaan-kerajaan di Simalungun. Berbagai koleksi yang ada di Museum Simalungun yang terletak di Pusat Kota Pematangsiantar, kini lusuh dan kusam dan terancam hancur dimakan rayap.

Peninggalan bersejarah di Simalungun yang kini dipajang di Museum Simalungun di Jalan Sudirman Pematang Siantar jauh dari perhatian. Kunjungan wisatawan lokal dan manca Negara ke obyek wisata Sejarah itu kini hanya hitungan jari per bulannya.

Pada  Januari 2013 lalu, penulis mengunjungi Museum Kebanggaan Simalungun tersebut. Di pintu gerbang Museum itu, dikejutkan dengan bangunan di belakang Museum itu tampak bangunan yang terbengkalai sudah belasan tahun.

Staf honorer Museum Simalungun, Lili br Purba Pakapak sempat memandu penulis untuk melihat dengan kasat mata isi Museum Simalungun. Kurang lebih dari 30 menit, penulis mengamati koleksi-koleksi yang ada dalam museum, baik di lantai dasar dan lantai satu.

Isi dari Museum Simalungun itu diantaranya peralatan rumah tangga seperti : Parborason (tempat menyimpan beras), Pingga Pasu (piring nasi untuk raja), Tatabu (tempat menyimpan air), abal-abal (tempat menyimpan garam).

Peralatan pertanian seperti : wewean (alat memintal tali), hudali (cangkul), tajak (alat membajak tanah), agadi (alat menyadap nira), peralatan perinakan seperti bubu (penangkap ikan dari bamboo), taduhan (tempat menyimpan ikan), hirang-hirang (jaringan penampung ikan), hail (kail).

Tidak hanya disitu, penulis juga melihat dengan kasat mata alat-alat kesenian seperti Ogung, Mong-mong, Heseh, Gondrang, Sarunei, Sordam, Arbab, Husapi dan alat-alat perhiasan seperti Suhul Gading (keris), raut (pisau kecil), Gotong (kopiah laki-laki), bajut (tas wanita), Bulang (tudung wanita), Suri-suri (selendang wanita), Gondit (ikat pinggang wanita), Doramani (perhiasan kepala pria).

Secara kasat mata, koleksi-koleksi Museum Simalungun tersebut kurang terawat dengan baik. Ragam koleksi hanya diletakkan pada dalam lemari biasa yang bisa dihinggapi serangga dan debu.

Banyak peninggalan sejarah itu dibiarkan lapuk dan usang tanpa adaya upaya pengawetan dan perawatan yang maksimal. Sepertinya Pemerintah Kabupaten Simalungun dan Pemko Siantar kurang peduli dengan keberadaan Museum Simalungun tersebut. Perawatan dan pemeliharaan hanya dilimpahkan kepada Yayasan Museum Simalungun yang diketuai Drs Djomen Purba Pakpak.

Pandangan mata penulis juga tertuju kepada rangka bangunan yang terbengkalai di belakang museum tersebut. Bangunan yang diperuntukkan gedung pertunjukan Adat, Budaya, Seni Simalungun serta ruang serga guna itu sudah terbengkalai pembangunannya selama 22 tahun.

Guna melanjutkan pembangunan yang terbengkalai itu, Yayasan Museum Simalungun telah membuat proposal pembangunan dengan anggaran Rp 1.185.000.000. Proposal itu ditanda tangani oleh Ketua Djomen Purba dan Sekretaris Tuahman Saragih. Namun hingga kini hasil dari proposal itu belum diketahui pasti.

Menurut Staf honorer Museum Simalungun, Lili br Purba Pakpak, keberadaan Museum Simalungun memang memprihatinkan. Selain biaya operasional dan perawatan minim, kunjungan ke Museum Simalungun dari 2005 hingga 2012 sangat minim.

Dari data yang terpajang di papan di Ruang Staf Museum Simalungun, jumlah kunjungan dari tahun 2005 hingga 2010 hanya 156 orang setiap bulannya. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibandingkan dengan jumlah kunjungan pada tahun 1972 hingga 2001 yang mencapai 4600 orang setiap bulannya.

Menurut Lili, tiga pegawai staf Museum Simalungun hanya diupah Rp 500.000 per bulan. Mereka meminta Pemkab Simalungun atau Pemko Siantar atau para dermawan mengalokasikan anggaran untuk staf Museum Simalungun sesuai dengan standar.

“Kita hanya diupah minim. Hanya dengan kepedulian dan isme kita terhadap Simalungun, hingga kini kami bertahan menjadi staf Museum Simalungun ini. Kita berharap ada perhatian Bupati Simalungun,”kata Lili br Purba didampingi Trieselda br Purba Tua, staf Museum Simalungun lainnya. (Asenk Lee Saragih-HP 0812 747 7587)

Dana Rekanan Ir Benny Siagian Rp 168 Juta Tak Kunjung Dibayar


Ir Benny Siagian saat diwawancara Sauhur di Pohon Natal Tertinggi 33 Meter di Jalan Gereja Siantar.Foto Asenk Lee Saragih (HP 0812 747 7587)


Cerita Dibalik Pohon Natal Tertinggi di Siantar


Siantar

Kalau pembaca memasuki Kota Siantar, jalan lah ke di Jalan Gereja, Kecamatan Siantar Selatan, Kota Siantar. Anda akan melihat sebuah pohon Natal setinggi 33 meter dengan rangkaian rangka besi bundar melingkar.  

Pohon terang yang didirikan sejak tahun 1996 oleh Panitia Natal Oikumene dan diresmikan oleh menteri Agama Tarmizi Taher 1997, hingga Januari 2013 kini ternyata menyimpan cerita lain.

Pohon terang setinggi 33 meter yang terbuat dari baja yang menelan biaya pembuatannya Rp 168 juta itu, berdiri di lahan Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Saat suasana Natal dihiasai lampu-lampu bintang di ujungnya dan saat suasan Paskah dihiasi dengan tanda salib berlampu.

Pembangunan terang itu, dibangun dengan tim pembangunan yang saat itu diketuai oleh Kadis PU Kota Pematangsiantar (alm) Ir Agus Gultom, dengan wakilnya Muda Saragih, Sekretaris Jhonson Tambunan, dan bendahara atau seksi dana RE Siahaan.

Disaat malam hari, keindahan terpancar ketika seluruh lampu hias pohon terang menyala. Keberadaan pohon terang tertinggi itu sudah merupakan cirri khas keindahan Kota Pematang Siantar saat malam hari tiba. Disaat bulan Natal dan Paskah, pohon natal itu banyak dikunjungi pendatang dan warga Siantar sekitarnya.

Demikian dituturkan Ir Benny Siagian, Januari 2013 lalu kepada Sauhur saat mengamati pohon Natal tersebut. Benny Siagian mengaku sebagai pelakasana pembangunan dengan menggunakan dana pribadi hingga kini belum dibayar Panitia Natal Oikumene Siantar saat itu.

“Sebetulnya pohon terang ini milik saya. Pemko Siantar selalu mengalokasikan dana rehab untuk itu. Pembangunan pohon terang yang direncanakan menjadi landmarknya Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun itu dibangun tanpa dana tertampung di APBD kedua pemerintahan itu. Namun dengan kesepakatan bersama, mengingat di Kota  Pematangsiantar banyak gereja yang berkantor pusat di sana,”ujar pria yang tinggal di Lapangan Bola Atas Jl Farel Pasaribu Kelurahan Sukamakmur, Kecamatan Siantar Marihat.



“Diinginkanlah  waktu itu agar ada sebuah ikon berbau keagamaan di kota ini, makanya digagas Alm Agus Gultom dan bertindak sebagai ketua tim pembangunan. Namun hingga kini dana pembangunan Rp 168 Juta belum dibayarkan kepada saya,” ujar Benny Siagian berharap.

Kata Benny Siagian, kesiapannya untuk mendahulukan dana pribadi karena ada hubungan kemitraan dengan pemerintah setempat dan dorongan ketua Tim Pembangunan Pohon Natal Oikumene saat itu.

“Sampai dimana sekarang proses pengalihan bangunan menjadi milik pemerintah Kota Pematangsiantar/Kabupaten Simalungun atau Jemaat HKBP, juga belum jelas. Sebagai pemilik dana pembangunan, saya siap mebubuhkan tekenan saya di prasasti serah terima bangunan itu. Jika pemerintah mau,” katanya.

Benny Siagian menyanyangkan, hingga kini Pemko Siantar terkesan mengklaim bangunan itu milik pemerintah. Sementara dirinya yang telah mengeluarkan dana, tidak mendapat petunjuk yang jelas.

“Dana pembangunan pohon natal ituhanya modal kepercayaan aja saat itu. Tapi sampai kini, jangankan mengganti uang saya, pertanda serah terima pun belum ada. Saya sangat menyesali sikap Pemerintah Kota Pematangsiantar yang hingga kini mengabaikan hal itu. Bangunan itu dibangun saat kepemimpinan Abu Hanifa sebagai Wali Kota Pematangsiantar dan Jabanten Damanik sebagai Bupati Simalungun,”ujarnya.

Menurut Benny Siagian, tim pembangunan saat itu mendapat persetujuan dari pemerintahan Pemko Siantar dan Pemkab Simalungun. “Saya harapkan pemerintah kota lebih memperhatikan nasib bangunan yang seharusnya telah menjadi Landmark Kota itu.
Saya memang tidak ada bukti hitam diatas putih, hanya saja, sebagai bukti-bukti lain saya miliki,” ujarnya.

Pengakuan Benny Siagian, Salib sepanjang 12 meter masih disimpannya. Seharusnya Salib  dipasang dibagian puncak pohon terang saat suasana paskah. Namun itu tidak lagi dilakukan karena ketidak jelasan keberadaan pohon terang tersebut.

“Saya berharap Pemko Siantar dan Pemkab Simalungun membahas soal keberadaan pohon terang tertinggi di Sumatera ini. Pemko Siantar, Pemkab Simalungun dan HKBP bisa duduk bersama dan membahas status kepemilikan pohon ini,”ujarnya.

Benny Siagian juga berharap ada perhatian dari lembaga-lembaga gereja yang berkantor di Kota Siantar seperti Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), HKBP, GKPI, HKI dan dedominasi gereja yang lain.

“Karena pada dasarnya Pohon Natal setinggi 33 meter ini dibangun atas inisiatif Panitia Natal Oikumene Tahun 1996 dan didukung oleh Pemko Siantar dan Pemkab Simalungun. Jadi Pohon Natal ini milik seluruh dedominasi gereja yang berpusat di Siantar,”ujarnya. (Asenk Lee Saragih)

IKLAN LAGI

IKLAN 1

IKLAN

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun
Buatlah Bangga Orang Tuamu


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Berita Lainnya

.

.
.