Berita Terkini

INDEKS BERITA

Dani Carvajal Bakal Absen di Piala Eropa 2016

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 31 May 2016 | 19:45

BERITASIMALUNGUN.COM- Bek Real Madrid, Dani Carvajal, dikabarkan AS kemungkinan besar absen di Piala Eropa 2016. Carvajal setidaknya membutuhkan waktu hingga tiga pekan untuk pemulihan cederanya tersebut.

Carvajal mengalami cedera lutut ketika tampil membela Real Madrid pada laga final Liga Champions kontra Atletico Madrid, Sabtu (28/5/2016) atau Minggu dini hari WIB. Dalam laga yang berlangsung di Stadion San Siro itu, Carvajal harus ditarik keluar pada menit ke-52 dan digantikan Danilo.

Setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, tim medis Real Madrid dan tim medis timnas Spanyol sepakat mengatakan Carvajal tak bisa tampil di Piala Eropa 2016. Dengan demikian, pelatih Vicente del Bosque hampir dipastikan bakal mengganti Cavajal dengan Hector Bellerin.

Keyakinan itu terjadi setelah bek Arsenal tersebut tampil mengesankan saat Spanyol meraih kemenangan 3-1 atas Bosnia-Herzegovina dalam laga persahabatan di AFG Arena, St. Gallen, Senin (30/5/2016) dini hari WIB. 

Jika hal itu terjadi, besar kemungkinan Cesar Azplicueta akan dikembalikan ke posisi aslinya sebagai bek kiri. Bek Chelsea itu bakal menjadi pelapis dari Jordi Alba yang langganan masuk starter timnas Spanyol.

Sedangkan Bellerin, bakal bersaing dengan bek Atletico Madrid, Juanfran, di posisi kanan lini pertahanan La Furia Roja. Pengumuman skuat resmi timnas Spanyol akan dilakukan pada Selasa (31/5/2016).
Sumber: Football Espana

Jelang Piala Eropa 2016: Timnas Spanyol Umumkan 19 Pemain

BERITASIMALUNGUN.COM-Pelatih Vicente del Bosque baru mengumumkan 19 nama pemain yang akan membela tim nasional Spanyol di ajang Piala Eropa 2016. Di antara nama-nama tersebut, tak ada perwakilan dari Real Madrid dan Atletico Madrid. 

Salah satu kejutan yang terjadi adalah adanya nama bek Arsenal, Hector Bellerin. Pemain berusia 21 tahun itu didapuk sebagai pengganti Dani Carvajal yang mengalami cedera.

Dua dari enam nama pemain Real Madrid dan Atletico Madrid ini bakal dicoret. Mereka adalah Sergio Ramos, Lucas Vazquez, Juanfran, Koke, Isco dan Saul Niguez.

Del Bosque dikabarkan bakal segera mengumumkan skuat resmi timnas Spanyol untuk Piala Eropa 2016. Sebab, UEFA memberikan tenggat waktu hingga 31 Mei 2016 sebagai batas akhir pengumuman nama-nama pemain.

Berikut ini 19 pemain tim nasional Spanyol yang bakal berlaga di Piala Eropa 2016:
Kiper: Iker Casillas (Porto), David de Gea (Manchester United), Sergio Rico (Sevilla)
Bek: Gerard Pique, Jordi Alba, Marc Bartra (Barcelona), Cesar Azpilicueta (Chelsea), Mikel San Jose (Athletic Bilbao), Hector Bellerin (Arsenal)
Gelandang: Bruno (Villarreal), Sergio Busquets, Andres Iniesta (Barcelona), Thiago Alcantara (Bayern Munich), David Silva (Manchester City), Pedro, Cesc Fabregas (Chelsea)
Penyerang: Aritz Aduriz (Athletic Bilbao), Nolito (Celta Vigo), Alvaro Morata (Juventus)
Sumber: Sky Sports

Tim Grup A Piala Eropa 2016: Prancis

BERITASIMALUNGUN.COM-Saat tepat untuk juara. Itulah tajuk yang mengiringi persiapan tim nasional Prancis menuju perhelatan putaran final Piala Eropa 2016. Meski masih terkendala performa, kalangan media lokal, masyarakat dan pengamat memprediksi, Les Bleus bakal berjaya di negeri sendiri.

Beberapa faktor mendukung Prancis untuk mengangkat trofi juara. Status tuan rumah menjadi modal utama. Dukungan fans memberi banyak energi bagi Paul Pogba dkk untuk bermain sempurna di setiap partai.

Modal berikutnya adalah komposisi pemain yang seperti biasa, memiliki kualitas di atas rata-rata. Meski masih terkendala dengan masa persiapan yang dianggap kurang ideal, karena tak mengikuti fase kualifikasi, Prancis mempunyai kombinasi menawan antara pemain lawan dan penggawa muda yang sedang bersinar di level klub.

Itulah yang membuat Pelatih Prancis, Didier Deschamps merasa optimistis anak asuhnya akan menjadi yang terbaik pada akhir turnamen. Satu lagi yang memberi tambahan energi adalah rotasi Prancis untuk menjadi yang terbaik di level Eropa.

Secara tradisi Prancis sukes menjadi yang terbaik di Benua Biru dalam rentang setiap 16 tahun. Hal itu terbukti ketika mereka sukses menjadi jawara pada Piala Eropa 1984, yang terulang di Piala Eropa 2000.

Artinya, dengan tambahan waktu 16 tahun, momen menjadi tuan rumah bisa mengarahkan ke mereka untuk menjadi yang terbaik di negeri sendiri. Publik Prancis semakin percaya diri, karena Pelatih Didier Deschamps memiliki banyak variasi untuk ditampilkan lantaran banyak pemain berkualitas.

Saat menjadi jawara pada 1984 dan 2000, Prancis dianggap memiliki komposisi seimbang seperti yang dimiliki Deschamps saat ini. Sebut saja kala menaklukkan Spanyol pada 27 Juni 1984 di Parc des Princes, Paris. Dua gol kemenangan dilesakkan Michel Platini pada menit ke-57 dan Bellone (90').

Pada turnamen tersebut, Prancis memiliki generasi yang disebut sebagai satu di antara yang terbaik. Di sana ada gelandang Yvon Le Roux, Luis Fernández, sang ikon sekaligus kapten tim Michel Platini, Alain Giresse dan Jean Tigana. Di lini penggempur ada Bruno Bellone dan Bernar Lacombe.

Pelatih Michel Hidalgo dianggap beruntung karena mendapatkan para pemain yang tengah bersinar di klub masing-masing sepanjang musim 1983/1984. Hal itu terulang lagi 16 tahun kemudian, saat mereka berjaya di arena Piala Eropa 2000.

Pada fase putaran final, kualitas mental pantang menyerah pasukan Roger Lemerre menjadi kunci. Berstatus runner-up Grup D di bawah tuan rumah Belanda, mereka sukses merangsek ke partai final.

Pada laga puncak di Rotterdam (2/7/2000), spirit untuk menjadi yang terbaik membuat mereka merengkuh trofi jawara. David Trezeguet menjadi pahlawan setelah mencetak gol pada menit ke-103.

Sebelumnya, Sylvain Wiltord membuat pesta sang lawan, Italia, menjadi tertahan usai menjebol jala Gli Azzurri pada tiga menit tambahan waktu babak kedua. Sementara itu, Italia mencetak gol pembuka pada menit ke-55 melalui aksi Marco Delvecchio.

Generasi era Piala Eropa 2000 dianggap memiliki kesamaan dengan 1984. Maklum, usai menjadi jawara Piala Dunia 1998, tak banyak perubahan. Di sana ada kapten Didier Deschamps, duet bek tengah tangguh Marcel Desailly dan Laurent Blanc, dua pengatur serangan brilian, Youri Djoarkaeff dan Zinedine Zidane. Di area penggempur, nama Thierry Henry dan Christophe Dugarry seolah menjadi garansi kesuksesan.

Selain itu, nama-nama lain juga sedang ganas di level klub, seperti Lilian Thuram (Parma), David Trezeguet (AS Monaco), Bixente Lizarazu (Bayern Munchen), Robert Pirès (Marseille) sampai striker Nicolas Anelka (Real Madrid).

Kini berbekal perombakan signifikan, pelatih Didier Deschamps memiliki kecenderungan meniru apa yang sudah dilakukan pendahulunya, yakni kombinasi. Hal itu belajar dari apa yang mereka alami pada dua turnamen akbar terakhir, yakni Piala Eropa 2012 dan Piala Dunia 2014 di Brasil.

Pada dua ajang bergengsi tersebut, Prancis tersingkir pada babak perempat final. Di Polandia-Ukraina, tim berjuluk Ayam Jantan ini takluk di tangan Spanyol 0-2. Dua gol Xabi Alonso pada menit ke-19 dan 91', mengubur impian untuk bangkit setelah terpuruk di ajang Piala Dunia 2010.

Sementara itu, di Piala Dunia 2014, Jerman menjadi tim yang membuat Prancis pulang kampung. Der Panzer, yang kemudian menjadi juara dunia, menekuk pasukan Didier Deschamps, 1-0. Gol tunggal dilesakkan bek tengah, Mats Hummels pada menit ke-13.

Alhasil, status tuan rumah pada perhelatan Piala Eropa 2016, kini akan membuka kans besar bagi Prancis untuk mendapatkan status tim terbaik di Benua Eropa. Kesempatan tersebut sejalan dengan asa fans mereka.

Apalagi sebagian besar dari mereka percaya, siklus setiap 16 tahun bakal memberi suasana pesta di pengujung pelaksanaan Piala Eropa 2016, yakni juara! Selain modal status tuan rumah, Layak ditunggu apakah tradisi perputaran 16 tahun-an tersebut bakal berjalan mulus dan membawa Prancis menjadi yang terbaik di negeri sendiri.
Bintang:
Paul Pogba


Musim 2015-2016, pemain berusia 22 tahun ini mendapat penghormatan dari Juventus untuk mengenakan nomor keramat, 10. Hal itu membuat status Pogba naik drastis, karena tak sembarang pemain mendapat kepercayaan untuk menggunakan nomor yang sudah dipakai beberapa nama besar, antara lain Michel Platini, Roberto Baggio sampai Alessandro Del Piero.

Pada sisi lain, Pogba merepresentasikan sosok pemain yang menjadi kunci permainan bagi Juventus. Hebatnya, pemain berpostur 191 cm ini mampu menjawab tantangan dari manajemen dan pelatih Massimiliano Allegri.

Pogba selalu menjadi bagian penting dari setiap pertandingan Juventus sepanjang musim ini. Tak hanya gol spektakuler, dia juga pandai membantu pertahanan dan beberapa kali berstatus pengatur aliran bola dari lini belakang ke barisan penggempur.

Kemampuan itu pula yang membuatnya menjadi tulang punggung timnas Prancis. Pada beberapa laga uji coba internasional, peran Pogba sangat penting bagi pelatih Didier Deschamps. Bedanya, pemain kelahiran 15 Maret ini tak sendirian, karena di tim Les Bleus, ia memiliki beberapa kompatriot sejenis, seperti Blaise Matuidi, Moussa Sissoko dan Morgan Schneiderlin.

Kemampuan individu dan daya imajinasi Pogba membuat Deschamps selalu memberi prioritas pada pemain berkulit hitam tersebut. Sang pemain memiliki skill komplet sebagai gelandang, seperti daya jelajah tinggi, visi yang bagus, pandai mengatur ritme permainan, ditambah keahliannya dalam melakukan sepakan jarak jauh.

Pada sisi lain, Pogba juga memiliki sisi negatif yang kerap kali masih keluar tanpa kendali, terutama dari sisi emosi. Selain itu, pesepak bola kelahiran kota Lagny-sur-Marne ini punya tabiat tak konsisten, terutama jika mendapat tekanan.

Nama Paul Pogba menjadi perhatian dunia setelah tampil menawan pada gelaran Piala Dunia U-20 di Turki (2013). Ia menjadi bagian penting saat membawa Prancis U-20 menjadi juara turnamen.

Pada babak final (13/7/2013), Prancis menaklukkan Uruguay melalui adu penalti dengan skor 4-1, setelah kedua tim bermain imbang tanpa gol pada waktu normal. Pogba juga mendapat penghargaan sebagai pemain terbaik, mengalahkan Nicolás López (Uruguay) dan Clifford Aboagye (Ghana).

Saat itu Pogba menjadi bagian dari tim yang beberapa individunya berhasil mencuat sekarang, seperti bek Kurt Zouma, Thibaut Vion, Geoffrey Kondogbia, Yaya Sanogo, Lucas Digne dan Florian Thauvin.

Setelah itu, kemampuan Pogba semakin berkembang saat 'terbuang' ke Juventus. Ia memang tak dipakai Manchester United, yang kemudian mengirim sang pemain ke Turin. Di tangan Antonio Conte, Pogba tampil konsisten, mendapat menit bermain yang stabil, mendapat tempat starter, ditambah level produktivitas yang terus meningkat.

Tantangan terberat bagi Pogba tak lain rasa puas diri yang kadang menyelimuti dirinya. Tak hanya itu, level konsistensi juga menjadi pekerjaan rumah yang tak mudah baginya. Maklum, menjalani turnamen dengan jeda waktu istirahat yang minim, memberi ujian tersendiri di sisi fisik dan mental. Jika Pogba lolos dari ujian tersebut, bisa dipastikan Prancis akan mendapat benefit yang luar biasa.
Pelatih: 
Didier Deschamps

Sosoknya terkenal sebagai individu yang kenyang pengalaman dengan ragam atribut trofi juara semasa aktif sebagai pemain. Ia pernah menjadi jawara Liga Champions bersama Marseille (1992-1993), dan Juventus (1995-1996), serta trofi juara liga domestik bersama dua klub tersebut.


Puncaknya, Deschamps menjadi bagian utama dari keberhasilan timnas Prancis mengangkat trofi juara Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000. Dua kesuksesan beruntun tersebut membuat nama Deschamps selalu dikenang.

Di level kepelatihan, ia juga mendapat trofi juara bersama AS Monaco dan Marseille. Deschamps melengkapi prestasi dirinya dengan koleksi beragam penghargaan individu. Meski sukses di level klub, ternyata bukan jaminan mendapat hal yang sama kala menangani timnas Prancis.

Buktinya, pada dua perhelatan bergengsi, Euro 2012 dan Piala Dunia 2014, ia dianggap gagal total. Hal itu terjadi setelah armadanya tersingkir di perempat final, baik di Polandia-Ukraina maupun Brasil.

Ketika itu, banyak pihak menganggap Deschamps belum layak untuk menangani sebuah timnas. Kalangan media dan pengamat membeberkan kebiasaan yang dianggap buruk dari pelatih bernama tengah Claude ini, yakni bongkar pasang pemain.

Hal itu juga terjadi pada persiapan jelang putaran final Euro 2016. Berstatus tuan rumah bukan berarti bisa melenggang nyaman. Justru karena tak mengikuti fase kualifikasi, membuat sisi kompetitif Prancis dianggap kurang bagus.

Kondisi seperti itu pula yang menjadi perhatian utama Deschamps, yang harus bekerja keras untuk memilih pemain, plus menentukan format baku permainan anak asuhnya. Bukan perkara mudah, karena pelatih berusia 47 tahun ini harus berhadapan dengan sederet pemain berkualitas tinggi, yang juga mendapatkan jatah bermain reguler di klub.

Contoh nyata ada di lini tengah. Pada saat Paul Pogba, Blaise Matuidi dan Antoine Griezmann sedang bersinar, beberapa nama juga tengah bagus. Di antara yang bisa membuat pusing Deschamps, antara lain Mathieu Valbuena, Geoffrey Kondogbia, Dimitri Payet, Maxime Gonalons dan Josuha Guilavogui.

Namun dalam beberapa kesempatan, Deschamps menganggap 'kekayaan' pemain yang dimilikinya akan memberi variasi permainan yang tak mudah ditebak lawan. Situasi itu pula yang membawa Deschamps mampu menjuara Ligue 1 ketika menangani Marseille (2009-2010).

Deschamps berstatus pelatih timnas Prancis pada 8 Juli 2012. Ia menggantikan Laurent BLanc, yang mengundurkan diri usai gagal di ajang Piala Eropa 2012. Tugas sang pelatih anyar tergolong berat, yakni lolos ke putaran final Piala Dunia 2014.

Setelah sempat terseok-seok pada awal fase grup, Prancis berhasil lolos ke Brasil setelah menyingkirkan Ukraina melalui babak play-off. Deschamps mendapat tawaran perpanjangan kontrak pada 20 November 2013, yang membuatnya bertahan sampai Piala Eropa 2016.

Kini publik berharap Deschamps bisa menularkan energi positif melalui pengalamannya, agar membawa Prancis berpesta di rumah sendiri. Bukan tantangan ringan, karena di fase grup, Si Biru kedatangan tamu tim kejutan Albania, Swiss dan si kuda hitam, Rumania.
Legenda
Zinedine Zidane

Sederet prestasi bersama timnas Prancis membuat sosok Zinedine Zidane layak mendapatkan status sebagai legenda. Namanya mencuat saat Zizou membawa Bordeaux mampu berbicara di Ligue 1 dan kancah Eropa.


Kariernya semakin menanjak saat bergabung dengan Juventus pada musim panas 1996. Ia pun tak pernah lepas berkostum timnas Prancis. Hasilnya, Zidane menjadi pahlawan bagi Les Bleus di partai final Piala Dunia 1998. Dua gol ke gawang Brasil, membuat Prancis merengkuh gelar bergengsi tersebut.

Dua tahun berselang, pria kelahiran Marseille ini membawa negaranya berjaya di Piala Eropa 2000. Pada perhelatan di Belanda-Belgia tersebut, Zidane menjadi inspirator armada Roger Lemerre untuk mengangkat trofi juara, sekaligus koleksi kedua bagi mereka setelah 1984.

Pada level individu, ragam gelar berhasil diraih. Beberapa penghargaan bergengsi antara lain Pemain Asing Terbaik Serie A (1997, 2001), Pemain Terbaik ke-3 Dunia (1997, 2002), Pemain Terbaik Prancis (1998, 2002), Ballond d'Or (1998), Pemain Terbaik Serie A (2001), Pemain Asing Terbaik La Liga (2002), Pemain Terbaik Piala Dunia 2006 dan runner-up Pemain Terbaik Dunia 2006.
Sumber: Bola.com

Tim Grup A Piala Eropa 2016: Swiss

BERITASIMALUNGUN.COM-Swiss mengawali kualifikasi Piala Eropa 2016 di Grup E dengan hasil buruk. Tim yang dilatih Vladimir Petkovic itu mengalami kekalahan pada dua laga awal. Swiss takluk 0-2 ketika menjamu Inggris, dan berikutnya kalah 0-1 di kandang Slovenia.

Setelah itu, Xherdan Shaqiri dkk baru bangkit. Mereka merebut lima kemenangan berturut-turut, sebelum akhirnya kembali takluk 0-2 di kandang Inggris. Swiss kembali bangkit dengan mengamankan dua laga terakhir dan memastikan lolos ke putaran final Piala Eropa 2016 dengan menjadi runner up Grup E di bawah Inggris.

Kekuatan tim ini terletak pada pemain-pemain yang memperkuat klub-klub di luar Swiss. Praktis hanya Basel, klub asal Swiss yang menyumbangkan pemain ke timnas. Pemain lain timnas Swiss kebanyakan berasal dari liga lain, seperti Bundesliga Jerman, Serie A Italia, Premier League Inggris, hingga Ligue 1 Prancis.

Swiss mengawali tradisi lolos ke putaran final dengan hasil apik sejak Piala Eropa Portugal 2004. Ketika itu Swiss tampil perkasa pada babak kualifikasi. Johan Vonlanthen dkk lolos sebagai juara grup 10, mengungguli Rusia dan Irlandia.

Namun, pada putaran final, Swiss gagal total. Hasil 0-0 melawan Kroasia, disusul kekalahan 0-3 lawan Inggris, dan 1-3 kontra Prancis, membuat Swiss terpuruk di dasar klasemen Grup B.

Empat tahun kemudian, Swiss tampil pada putaran final Piala Eropa 2008 dengan fasilitas sebagai tuan rumah bersama Austria. Namun, Stephane Chapuisat dkk gagal memanfaatkan keuntungan sebagai tuan rumah.

Swiss langsung rontok karena kalah pada dua laga awal melawan Rep. Ceska (0-1) dan Turki (1-2). Kemenangan 2-0 atas Portugal pada laga terakhir hanya membuat pendukung Swiss terhibur karena tersingkir lebih awal.

Pada Piala Eropa 2012 yang digelar di Polandia dan Ukraina, Swiss kembali gagal lolos ke putaran final. Mereka hanya menduduki tempat ketiga Grup G di bawah Inggris dan Montenegro.

Namun dua tahun berikutnya, pada gelaran yang lebih besar, Piala Dunia Brasil 2014, Swiss mencatat hasil terbaik. Mereka lolos ke babak 16 besar sebagai runner up Grup E. Hanya saja, pada fase knock-out, Swiss harus mengakui keunggulan Argentina yang menang 1-0 lewat gol Angel Di Maria pada masa injury time.

Kini, bisa dibilang Swiss punya skuat terbaik sepanjang sejarah mereka tampil di turnamen besar seperti Piala Eropa dan Piala Dunia. Saat berlaga pada putaran final Piala Eropa 2016, Swiss akan bersaing dengan Albania, Rumania, dan tuan rumah Prancis di Grup A.

Jadwal yang didapat Shaqiri dkk cukup menguntungkan karena mereka akan menghadapi tim debutan Albania pada laga awal. Kemenangan akan menjadi modal utama buat menantang dua tim berikutnya yang lebih tangguh.
Bintang: 
Xherdan Shaqiri


Ketika putaran final Piala Eropa Prancis 2016 digelar, Xherdan Shaqiri baru berumur 24 tahun. Namun, pada usianya tersebut, Shaqiri bisa dibilang menjadi andalan di lini tengah Swiss.

Pemain yang berposisi sebagai gelandang itu adalah imigran berdarah Albania. Ia telah merasakan tampil di Piala Dunia 2010 dan 2014. Pengalamannya di kompetisi domestik Swiss cukup mentereng karena ikut memperkuat Basel saat merebut tiga gelar liga.

Sukses di dalam negeri, Shaqiri menarik minat klub raksasa Jerman, Bayern Munchen. Setelah bergabung dengan Munchen pada 2012, Shaqiri ikut andil dalam kesuksesan tim berjuluk The Bavarians itu meraih gelar treble (Bundesliga, Piala Jerman, Liga Champions) pada 2013.

Lantaran tak selalu mendapat tempat sebagai starter, Shaqiri tidak menolak ketika dijual ke Inter Milan pada Januari 2015. Namun tak lama memperkuat Inter, ia dijual ke klub Premier League, Stoke City pada bursa transfer awal musim ini.

Stoke memang bukan klub yang besar seperti Bayern atau Inter. Namun, di kedua tim tersebut Shaqiri mendapatkan jaminan lebih besar untuk tampil di tim utama sebagai starter.

Modal utama Shaqiri untuk memimpin lini tengah Swiss adalah kekuatan kedua kaki yang sama baiknya. Hal tersebut menunjang kemampuannya dalam melepas umpan maupun mengeksekusi peluang menjadi gol.

Lantaran kemampuan tersebut, Shaqiri mendapat julukan Messi dari Alpen. Jika tampil dalam kondisi terbaik di Prancis, Shaqiri berpeluang membawa Swiss untuk melangkah lebih jauh dari babak penyisihan.
Pelatih
Vladimir Petkovic


Vladimir Petkovic mulai menangani timnas Swiss sejak 1 Juli 2014. Pria asal Bosnia itu menggantikan posisi manajer legendaris asal Jerman, Ottmar Hitzfeld.

Pada level klub, awal karir Petkovic hanya menangani tim-tim kecil di Swiss dan Turki. Kesempatan untuk menangani tim yang berlaga di kompetisi besar didapat saat ia melatih Lazio pada 2012.

Bersama Lazio, pelatih yang kini berusia 52 tahun itu meraih kesuksesan dengan mengantarkan tim asuhannya menjuarai Copa Italia 2013. Faktor disiplin dan kebersamaan menjadi modal Petkovic dalam menangani tim.

Pelatih yang punya julukan The Doctor ini melarang keras siapapun membawa gadget dalam pertemuan tim. Para pemain pun diharuskan memakai sepatu dengan rapi ketika makan.

Petkovic juga meminta seluruh anggota tim untuk makan bersama demi menjaga kekompakan dan soliditas. Berbagai hal tersebut menjadi contoh disiplin yang diterapkannya.

Soal gaya main dan perlakuan disiplin itu, ia mengaku terinspirasi dengan apa yang dikembangkan oleh manajer asal Italia, Fabio Capello. Semasa menangani Lazio, Petkovic memiliki formasi favorit 3-4-3 atau 4-3-3.

Dengan formasi tersebut, Swiss menjanjikan permainan menyerang dan atraktif. Sebanyak 24 gol dari 10 pertandingan yang dilesakkan Swiss pada babak kualifikasi menjadi pertanda racikan Petkovic punya agresivitas yang tak bisa dianggap remeh oleh lawan manapun.
Legenda: 
Stephane Chapuisat


Stephane Chapuisat adalah salah satu pemain tersukses yang pernah dimiliki Swiss. Semasa bermain buat timnas pada periode 1989 hingga 2004, Chapuisat yang bermain di posisi striker ini mengoleksi 21 gol dari 103 penampilan.

Ia tampil di Piala Dunia 1994, Piala Eropa 1996, dan Piala Eropa 2004. Namun sayang, pada tiga turnamen besar itu, penampilan Swiss tak pernah bagus dan selalu rontok pada babak pertama.

Chapuisat justru memiliki penampilan bagus dan ketajaman ketika tampil bersama klubnya, Borussia Dortmund. Bersama klub Bundesliga Jerman itu, ia tampil sebanyak 218 dan mencetak 102 gol.

Pria yang kini berusia 46 tahun itu sempat merasakan gelar juara Bundesliga pada 1995 dan 1996. Gelar lain yang diraihnya bersama Dortmund adalah Supercup DFB 1995 dan 1996, Liga Champions 1997, dan Piala Intercontinental 1997.

Salah satu momen paling dikenang oleh Chapuisat adalah ketika ia mencetak gol dalam laga perempat final Liga Champions 1997 lawan Bayern Munchen. “Laga sesama Jerman itu sungguh spesial. Gol yang saya cetak malam itu tak akan terlupakan hingga kapanpun,” ujar Chapuisat.

Pada 2003, Federasi Sepak bola Swiss menganugerahi Chapuisat dengan penghargaan pemain paling berpengaruh sepanjang 50 tahun terakhir. Namun, ia tetap berusaha merendah dan tak menganggap diri sebagai pemain terbaik yang pernah dipunyai Swiss.

“Saya tak merasa sebagai pemain hebat buat Swiss karena sebagian besar karir saya justru dihabiskan bersama Dortmund,” kata Chapuisat dalam sebuah wawancara dalam situs FIFA.

Ia pensiun dari lapangan hijau pada 2006. Setelah pensiun, ia belum menekuni karir sebagai pelatih kepala. Chapuisat hanya melatih pemain-pemain muda yang berposisi sebagai striker, sama seperti dirinya dulu.
Sumber: Bola.com

Tim Grup A Piala Eropa 2016: Rumania

BERITASIMALUNGUN.COM-Rumania bisa dibilang tim semenjana di ranah Eropa. Prestasi tim berjuluk Tricolorii itu dalam ajang Piala Eropa juga tak begitu istimewa. Rumania tercatat hanya lima kali lolos ke putaran final Piala Eropa. Pencapaian terbaik mereka adalah menembus perempat final pada 2000.

Prestasi tersebut bisa jadi paling dikenang publik Rumania. Bagaimana tidak, Gheorghe Hagi dan kawan-kawan berhasil mematahkan prediksi banyak orang.

Tergabung dalam Grup A bersama Portugal, Inggris, dan Jerman, Rumania jelas tak diunggulkan lolos ke babak berikutnya. Namun, hasil 1-1 lawan Jerman dan kemenangan 3-2 atas Inggris. membuat Rumania berhak maju ke perempat final dengan status runner up grup.

Sayang, langkah sensasional mereka terhenti pada babak delapan besar. Rumania harus mengakui keunggulan Italia setelah kalah dua gol tanpa balas lewat gol Francesco Totti dan Filippo Inzaghi.

Meski gagal juara, Rumania dinilai memiliki generasi emas. Sebut saja Christian Chivu, Adrian Mutu, Cosmin Contra, Dan Petrescu, dan Viorel Moldovan yang mengisi beberapa lini.

Namun, setelah itu performa Rumania di kancah Piala Eropa terjun bebas. Pada 2004 dan 2012, mereka gagal lolos ke putaran final. Pada 2008, Rumania memang lolos ke putaran final yang berlangsung di Austria-Swiss, namun mereka tak mampu lolos dari penyisihan grup.

Rumania punya kesempatan untuk mengulang prestasi pada Piala Eropa 2000. Tiket putaran final Piala Eropa 2016 sudah berada dalam genggaman. Rumania lolos setelah menjadi runner up Grup F dengan mendulang 20 poin.

Pada putaran final Piala Eropa 2016, Rumania tergabung dalam Grup A bersama Prancis, Albania, dan Swiss. Melihat komposisi tim, peluang untuk lolos ke fase berikutnya cukup terbuka bagi skuat asuhan Anghel Iordanescu tersebut.
Bintang: 
Razvan Rat


Tim nasional Rumania termasuk dalam tim yang memiliki pertahanan kukuh menjelang Piala Eropa 2016. Hal tersebut terlihat dari catatan kebobolan mereka selama babak kualifikasi.

Dalam 10 pertandingan di Grup F, Rumania hanya kebobolan dua kali. Kukuhnya pertahanan Rumania tak lepas dari peran Razvan Rat, yang merupakan sosok kunci skuat Tricolorii.

Tak hanya kuat dalam bertahan, Rat juga kerap membantu menyusun serangan lewat sisi sayap kiri. Selama babak kualifikasi Piala Eropa 2016, pemain berusia 34 tahun itu sudah mengemas tiga assist dalam 9 pertandingan.

Kenyang pengalaman membuat Rat tampil tenang dalam setiap pertandingan yang dilakoni bersama Rumania. Tak hanya itu, pemain kelahiran Piatra-Olt itu juga memiliki kharisma serta jiwa kepemimpinan. Wajar bila akhirnya dia ditunjuk sebagai kapten timnas Rumania.

Karier Rat memang terbilang cukup luar biasa. Mengawali karier profesional bersama Rapid Bucuresti, pemain berpostur 178 cm ini sempat membela tim ternama seperti Shahtar Donetsk dan West Ham United. Saat ini, Rat menjadi bagian dari tim La Liga, Rayo Vallecano.

Publik Rumania berharap Rat bisa memimpin rekan-rekannya menciptakan sejarah seperti Piala Eropa 2000. Dia diharapkan bisa menularkan pengalaman serta ilmunya kepada pemain muda Rumania.
Pelatih: 
Anghel Iordanescu


Nama Anghel Iordanescu memang kurang familiar di telinga pecinta sepak bola Eropa. Maklum, pelatih berusia 65 tahun ini tak pernah melatih klub atau tim nasional besar di Benua Biru.

Meski demikian, Iordanescu tercatat sebagai satu di antara pelatih tersukses di Rumania. Dia berhasil meraih empat gelar Liga Rumania bersama Steaua Bucharest, yaitu pada musim 1986–87, 1987–88, 1988–89, 1992–93.

Pencapaian terbaiknya adalah mengantarkan Steaua menembus partai final Liga Champions 1988-89. Sayang, Iordanescu gagal membawa klub raksasa Rumania itu mengalahkan AC Milan setelah menyerah empat gol tanpa balas dari Ruud Gullit dan kawan-kawan.

Kesuksesan Iordanescu bersama Steaua membawa berkah. Dia kemudian mendapat pekerjaan untuk melatih tim nasional Rumania pada 1993. Belum lama membesut Tricolorii, mantan pemain OFI Crete itu langsung mencetak sejarah.

Dia berhasil membawa Rumania lolos ke putaran final Piala Dunia 1994. Tak hanya itu, Iordanescu juga mampu memimpin Rumania menembus babak perempat final untuk pertama kalinya.

Sayangnya, dia gagal membawa Rumania berprestasi pada ajang Piala Eropa 1996 dan Piala Dunia 1998. Dia pun mendapat kritikan pedas dari media. Setelah Rumania tersingkir dari Piala Dunia 1998 di Prancis, Iordanescu memilih hengkang untuk melatih timnas Yunani.

Pada 2002, pria kelahiran Bucharest tersebut kembali dipanggil timnas Rumania. Namun, kiprah Iordanescu kali ini tak sesukses sebelumnya. Dia gagal memenuhi target membawa Rumania lolos ke putaran final Piala Eropa 2004.

Kegagalan itu sempat dia bayar dengan membawa Tricolorii menembus putaran final Piala Dunia 2006. Akan tetapi, Iordanescu kembali dipecat Federasi Sepak Bola Rumania (FRF) setelah penampilan buruk melawan Armenia.

Pada 2014, FRF memberikan kesempatan ketiga kepada pelatih yang membawa Al Hilal dan Al Ittihad meraih gelar Liga Champions Asia tersebut. Sejauh ini, dia sukses menjalankan tugasnya membawa Rumania ke putaran final Piala Eropa 2016.

Publik Rumania pun berharap Iordanescu bisa menyamai, atau bahkan melebihi, pencapaian Emerich Jenei yang mampu membawa Rumania menembus perempat final Piala Eropa 2000.
Legenda: 
Gheorghe Hagi


Rumania mencatat sejarah pada Piala Dunia 1994 dengan mencapai babak perempat final sebelum akhirnya disingkirkan Swedia lewat adu penalti. Hasil itu pun membuat para penggawa Rumania menjadi buah bibir.

Nama Gheorge Hagi mendapat paling banyak sorotan. Dia dianggap roh permainan Rumania saat itu. Memiliki jiwa kepemimpinan tinggi, Hagi pun mendapat julukan Comandante—Sang Komandan—dari fans Rumania.

Hagi yang ketika itu membela klub Italia, Brescia, juga terbilang tajam jika berada di jantung pertahanan lawan. Tiga gol berhasil dipersembahkannya untuk Tricolorii pada ajang tersebut.

Saat Rumania berhasil mencatat sejarah pada Piala Eropa 2000, Hagi juga yang menjadi bintang. Di bawah kepemimpinan Hagi saat berada di lapangan, Rumania sukses mencapai babak perempat final Piala Eropa untuk pertama kalinya.

Padahal saat itu, Hagi nyaris saja tak ikut serta karena sempat memutuskan pensiun pada 1998. Namun, beberapa bulan setelah gantung sepatu, dia mengubah pikirannya untuk kembali membela timnas Rumania.

Hagi bisa dibilang satu di antara pemain Rumania yang sukses. Memulai karier di Farul Costanta pada 1982, Hagi kemudian bersinar setelah tampil empat musim bersama Steaua Bucuresti.

Bersama klub raksasa Rumania tersebut, pria dengan postur 174 cm itu juga memperlihatkan kemampuan terbaiknya. Akibat penampilan gemilang itulah Hagi direkrut raksasa La Liga, Real Madrid, pada 1990. Sayangnya, dia hanya mampu mempersembahkan gelar Piala Super Spanyol selama dua musim berseragam Madrid.

Karier Hagi memang tak begitu cemerlang di Spanyol. Ketika bergabung dengan Barcelona pada 1994, pemain yang hanya tampil 36 pertandingan bersama Blaugrana itu juga gagal mempersembahkan gelar bergengsi.

Hagi baru kembali memperlihatkan kemampuan terbaiknya di klub Turki, Galatasaray. Tampil sebanyak 132 kali, Hagi mencetak 79 gol selama lima musim.

Pada 2001, tepat di usia ke-36, Hagi memutuskan gantung sepatu. Dia kemudian beralih pekerjaan menjadi pelatih timnas Rumania. Namun, dia akhirnya dipecat lantaran tak mampu membawa timnya lolos ke Piala Dunia 2002.
Sumber: Bola.com

IKLAN LAGI

IKLAN 1

IKLAN

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun
Buatlah Bangga Orang Tuamu


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Berita Lainnya

.

.
.