}); Sosok Pariaman Pakpahan Dimata Ramlo R Hutabarat | BeritaSimalungun
Home » , , , » Sosok Pariaman Pakpahan Dimata Ramlo R Hutabarat

Sosok Pariaman Pakpahan Dimata Ramlo R Hutabarat

Written By Beritasimalungun on Saturday, 22 October 2016 | 20:23

BeritaSimalungun.com-Kepada Anda aku perkenalkan Pariaman Pakpahan. Dia wartawan paling tua yang pernah kukenal. Ani Idrus, BM Diah, Mukhtar Lubis, Rosihan Anwar, Mahbub Djunaedi, termasuk wartawan tua juga yang melakukan aktifitas jurnalistiknya hingga akhir hayatnya. Tapi aku tak mengenal mereka. Paling-paling yang aku kenal wartawan tua cuma almarhum Dr GM Panggabean, Nazar Effendi Erde, Arifin Siregar, serta Karni Ilyas.

Aku bahkan sangat mengenal Pariaman Pakpahan. Itu dimungkinkan karena aku dan dia pernah satu perahu di bawah bendera PT Harian SINAR INDONESIA BARU Medan. 
Dia sudah lama sekali menjadi Wartawan Harian SIB, singkatan Sinar Indonesia Baru. Sejak mengenal dunia jurnalistik, dia sudah bekerja di perusahaan surat kabar yang pernah berkibar cemerlang itu.

Bahkan, dia menjadi salah seorang Wartawan SIB mula-mula di Kota Pematangsiantar seangkatan dengan almarhum Gunung Tampubolon, almarhum Manapar Manullang, almarhum PK Sinaga, almarhum Pardamean Silaban, almarhum Urbanus Sitanggang dan banyak lagi. Ya, kawan-kawan seangkatannya sudah almarhum semua.

Siantar - Simalungun, memang merupakan suatu daerah yang dikenal memiliki jurnalis-jurnalis profesional di masa lalu. Semisal almarhum Marisi Bungaran Simanjuntak, almarhum Pariaman Sitompul, almarhum Yansius Sinaga, almarhum JW Hutagaol, almarhum PT Sitanggang, almarhum Burhanuddin Siregar (Bureg), almarhum Panjaitan yang saya lupa namanya (orang tua Tumpak Panjaitan) dan banyak lagi. Semua mereka, di masa hidupnya dikenal sebagai wartawan sejati. Suatu hal yang agaknya perlu diteladani oleh wartawan-wartawan Siantar - Simalungun sekarang.

Aku mengenal Pariaman Pakpahan, waktu aku masih menjadi Wartawan SIB di Medan, 1980. Mengenalnya, karena sesekali kami sama-sama menghadiri Rapat Kerja yang dipimpin big bos kami, almarhum Dr GM Panggabean. Waktu itu memang, Harian SIB sedang cemerlangnya berkibar. 

Sebagai surat kabar beroplah terbesar di Sumatera di luar Jawa, Harian SIB selalu dijadikan berbagai kalangan sebagai referensi. Bahkan, waktu itu Harian SIB sangat mempengaruhi kebijakan-kebijakan pemerintah daerah di Sumatera Utara. 

Bahkan, tak terlalu keliru kalau disebutkan waktu itu kebijakan-kebijakan Pemprop Sumatera Utara selalu dipengaruhi oleh berita-berita atau opini-opini yang disiarkan Harian SIB.

Bagaimana bisa Harian SIB waktu itu begitu, kupikir karena sebagai Pemimpin Umum yang sekaligus Pemimpin Redaksi, almarhum Dr GM Panggabean merupakan seorang wartawan sejati yang tahan uji dan tahan puji. Juga, tahan goda dan tahan selera. 

Sebuah idealisme bersarang di dada yang tak tergoyahkan oleh gelombang sebesar apa pun. Pers sebagai terang dunia dan garam dilakoninya dengan sepenuh hati. Selain, cinta membara yang bersarang di dada tak bisa pudar bahkan ketika musim berganti-ganti.

Sebagai sebuah perusahaan besar yang meraksasa, PT SINAR INDONESIA BARU memang memiliki uang yang cukup untuk melatih para karyawannya. Secara rutin dan berkesinambungan, kepada seluruh karyawannya diberikan pelatihan dan pendidikan dalam berbagai bidang menyangkut perusahaan pers dalam arti luas. 

Idealisme ditanamkan serta ditumbuhkembangkan. Katua (panggilan akrab kami kepada almarhum Dr GM Panggabean) tak segan-segan mendepak wartawan yang luntur idealismenya. Makanya, tak heran kalau di Harian SIB waktu itu berkumpul wartawan-wartawan yang tahan uji dan tahan puji, serta wartawan-wartawan yang tahan goda tahan selera.

Di antara itulah ada sosok Pariaman Pakpahan yang saya kenal. Dia seorang yang tekun, setia dan taat serta patuh pada prinsip dan keyakinannya. Keuletannya termasuk kesabarannya dalam mengumpulkan, mengolah dan menyiarkan berita tak tanggung-tanggung. 

Ciri khasnya sampai sekarang yang patut saya catat, dia tidak pernah menggunakan kendaraan sendiri. Kemana saja dalam operasionalnya dia selalu menggunakan Beca Siantar yang antik dan unik itu, dan kadang hanya berjalan kaki sepanjang jarak tempuhnya tak terbilang jauh.

Ciri lainnya sebagai wartawan, Pariaman tidak mengenal steno seperti yang dikenal wartawan lainnya pada masa lalu. Tapi dia mampu dan cerdas sekali mencatat dengan menulis seperti anak sekolah secara umum. Tulisan tangannya besar-besar dan tebal. 

Kemana saja, buku tulis dan pena selalu menyertainya. Dan harap maklum, nada suaranya selalu blak-blakan, ceplas-ceplos tanpa kesan kepura-puraan. Sepanjang yang saya ketahui, tak seorang pun yang tak suka pada sosoknya. Siapa saja. Apalagi para Abang Beca di Siantar. Itu karena Pariaman selalu membayar ongkos becanya lebih dari tarif yang sesungguhnya.

Pariaman cukup lama dipercaya oleh pucuk pimpinan PT Harian SIB menjadi Kepala Biro Harian SIB untuk wilayah Siantar, Simalungun, Tapanuli dan Nias. Belakangan meliputi juga Tebingtinggi, Asahan dan Labuhan Batu. 

Dan di tangannya waktu itu, Harian SIB berkibar cemerlang baik oplah, pemberitaan termasuk iklan. Tak dapat dipungkiri, cemerlangnya Harian SIB di masa kepemimpinan Pariaman khususnya pada wilayah yang dipimpinnya merupakan hasil kerja keras dan tangan dinginnya. Agaknya, tak dapat dipungkiri sejarah Harian SIB harus mencatat hal ini dalam bagian atau lembarannya.

Saya pernah menjadi anak buah Pariaman di Harian SIB Biro Siantar - Tapanuli. Bersama saya waktu itu, ada Ulamatuah Saragih yang belakangan hengkang menjadi dosen Kopertis Wilayah I. 

Juga Josmar Simanjuntak yang belakangan hengkang juga menjadi guru SMA Panei Tongah dan akhirnya menjadi Anggota DPRD Kota Pematangsiantar. Ada juga anak buah Pariaman waktu itu Harison Manurung yang sampai sekarang tetap setia mendampinginya, Lawasen Saragih yang sekarang menetap di Raya Usang, dan banyak lagi dan banyak lagi. 

Termasuk Tumpal Panjaitan yang sekarang ngendap di kampungnya Silaen sana, Manogar Malau alias Barges (Barang Gesekan) yang sekarang berdagang pakaian bekas di Pasar Parluasan Siattar.

Soal mantan atau bekas anak buah Pariaman Pakpahan, saya pikir sudah puluhan orang atau barangkali sudah lebih seratus orang. 

Sekarang , sudah sulit saya mengingatnya lagi. Kalau saya coba untuk mengingat, ada Suandi Purba yang sekarang di Medan, Antoni Marpaung yang sekarang di Balige, almarhum Maruahal Napitupulu, Rusman Panjaitan, Martua Situmorang, Kristian Situmorang yang pernah menjadi Wakil Ketua DPRD Humbang Hasundutan, Charles Simanungkalit sekarang Anggota DPRD Tapanuli Utara, almarhum Titus Sitompul yang pernah menjadi salah seorang Majelis Pusat GKPI, almarhum Pdt Edy Simatupang, almarhum Krisman Munthe, Bulman Harianja, dan banyak lagi.

Menjadi anak buah Pariaman adalah sebuah kenikmatan yang sedap dan syoor. Setiap kali kami ditugaskan ke luar kota, selalu diberinya uang saku secara khusus yang berasal dari uang pribadinya. 

Jadi, biaya operasional dan uang saku yang berasal dari PT SINAR INDONESIA BARU, bisa saya serahkan bulat-bulat kepada istri saya Delfria Simanullang yang cantik dan penuh pengertian itu. 

Makanya tak heran, kalau saya bertugas ke luar kota istri saya selalu berwajah sumringah. Itu artinya dia akan kecipratan uang masuk yang ditabungnya sedikit demi sedikit untuk membangun masa depan putra-putri kami.

Sebagai pemimpin, Pariaman merupakan seorang yang penuh perhatian, peduli dan selalu berbagi kasih terhadap para staf dan pembantunya. Saya tidak tahu, apakah putra bungsunya Bongsu Pakpahan yang sekarang memimpin HETANEWS sebuah media online juga memiliki tipikal seperti ayahandanya ini. 

Tak pernah sempat kami bermuram durja karena tak ada uang di saku. Pariaman cepat dan tanggap mengenali wajah-wajah kami dan segera menyodorkan uang dalam jumlah yang cukup.

Soal dari mana sumber uang yang didapat Pariaman, memang tak menjadi urusan kami para staf atau anak buahnya. Yang penting ketika ada keperluan dan tak uang, lapor saja kepadanya. 

Hitung jam saja, segera uang didapatnya dan diserahkannya kepada kami tanpa kesan di wajahnya yang merasa berjasa. Ada kesan yang saya tangkap, dia merasa berkewajiban membantu anak buahnya saat dalam kesulitan.

Ciri Pariaman lainnya selain aktif di panggung politik, dia juga aktif sekali di Gereja. Okh ya, Pariaman pernah menjadi Anggota DPRD Kota Pematangsiantar dari Fraksi PDI saat di bawah kepemimpinan almarhum Oscar Hutabarat, ayahandanya Martin Hutabarat, sekarang Anggota DPR dari Fraksi GERINDRA. Di HKBP Jalan Gereja Pematangsiantar, sudah puluhan tahun dia berperan aktif bersama mantan pacarnya Boru Siahaan yang cantik, cerdas dan ramah.

Pariaman dianugerahi Tuhan putra-putri yang menyenangkan dan membahagiakannya. Si sulung Bona Pakpahan, begitu lulus dari USU Medan bekerja di perusahaan perkebunan asing hingga menduduki puncak sebagai Manager (ADM tempo dulu) Si bungsu Bongsu Pakpahan, seperti yang sudah saya sebut di atas, sekarang memimpin media online HETANEWS dan berkibar cemerlang bersaing dengan media online lainnya. Putra-putrinya yang lain, menetap di berbagai kota di tanah air dan cukup terpandang.

Sebagai seorang Bapak, Pariaman memang terbilang sukses dan bahagia. Sejak muda, istrinya yang Boru Siahaan aktif di Gereja. Sehari-hari, perempuan yang cantik, ramah dan cerdas itu mengusahakan ternak babi di bahagian belakang rumahnya di Jalan Sekolah dekat Simpang Empat Kota Pematangsiantar. 

Sekalian, menerima anak-anak sekolah untuk kost di rumahnya. Hidup mereka memang terbilang berkecukupan hingga semua putra-putri mereka bisa melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. 

Bongsu pun, merupakan seorang sarjana teologia lepasan salah satu STT di Jakarta. Tapi dia tidak bekerja menjadi pendeta, justru mengikuti jejak ayahandanya.

Apa yang menarik perhatian saya hingga memperkenalkannya kepada Anda - Pembaca - adalah keteladanan yang tercermin dan terpantul dalam kesehariannya. Termasuk, kesetiaannya pada habitatnya : wartawan. 

Sekali lagi ingin saya katakan, sepanjang yang saya tahu tidak satu pihak pun yang tidak suka kepadanya. Bahkan hingga kini di saat usianya hampir mencapai 70 tahun dia masih aktif sebagai wartawan bahkan barangkali pun lebih produktif dibanding dengan wartawan-wartawan muda. Kreatifitasnya, aktifitasnya, energinya, ide dan gagasannya serta semangatnya sangat perlu untuk diteladani. Termasuk profesionalisme serta moral dan itikad baiknya.

Pariaman Pakpahan bagi saya adalah seorang wartawan sejati yang tahan uji dan tahan puji. Tahan goda dan tahan selera.

“Saya akan tetap menjadi wartawan sampai mati. Sampai mati”, katanya pada suatu hari kepada saya ketika belum lama ini kami ongkang-ongkang di Sirpang Opat Kota Pematangsiantar.

Tapi bagi siapa saja, jangan kecewa kalau saat diundang untuk sebuah pertemuan pers atau jumpa pers atau kegiatan peliputan lainnya, Pariaman tidak akan mau mencicipi hidangan yang disuguhkan apalagi kalau untuk makan. Jangan harap. Tidak akan. Dia tidak akan mau makan. Maklumi saja.

“Saya kan diundang untuk melakukan peliputan. Bukan untuk makan. Kalau diundang untuk makan, ya khusus saja undang untuk makan”, selalu katanya. Pariaman Pakpahan, aku mengagumimu ! Aku ingin meneladanimu !
(Patarias Coffeshop, 22 Oktober 2016-Ramlo R Hutabarat).Cq: Imran Nasution Syamp Adari Hermanto Sipayung Hentung Purba Ibnu Manurung Trisno Munthe Rencana Siregar Dosmaria Saragih.
Share this article :

Post a Comment