. Tulisan Tulang Birgaldo Sinaga "Selamat Jalan Little Angel Intan Olivia Marbun" Meneteskan Air Mata | BeritaSimalungun
Home » , » Tulisan Tulang Birgaldo Sinaga "Selamat Jalan Little Angel Intan Olivia Marbun" Meneteskan Air Mata

Tulisan Tulang Birgaldo Sinaga "Selamat Jalan Little Angel Intan Olivia Marbun" Meneteskan Air Mata

Written By Beritasimalungun on Monday, 14 November 2016 | 17:06


BeritaSimalungun.com, Samarinda-Pagi masih berkabut. Langit masih gelap. Suara azan subuh belum terdengar dari Mesjid dekat UGD RSUD AW Syahranie, Samarinda. Lamat lamat terdengar suara isak tangis lirih dari ruang ICU memecah keheningan subuh. Dua orang dewasa dengan mata sembab menatap tubuh mungil berbalut perban berumur 2.5 tahun. Di tepi ranjang tampak kedua orang tua bocah mungil itu tidak henti berdoa.

Mulutnya berseru pelan memohon muzizat untuk kesembuhan anaknya. Matanya nampak sembab. Keduanya tidak bisa tidur. Mereka menatap pilu putrinya tidak sadarkan diri. Sebuah selang berisi oksigen terpasang dimasukkan ke mulut bocah itu.

Subuh beranjak merambat pagi. Pak Anggiat Marbun dan Ibu Intan terus menangis. Grafik detak jantung di layar monitor mesin EKG terlihat semakin melemah. Detak jantung Intan terus melemah. Perawat mendekat. Memberikan pertolongan medis. Suasana ruang ICU mendadak gaduh. Denyut nadi bocah malang itu berhenti.

Sontak kedua orang tua Intan menjerit histeris. "Boru hasiannnn...Intannnn boru hasiankuu..jangan tinggalkan mamak nakkkk", jerit pilu Ibu Intan sambil memeluk tubuh mungil putrinya. Sang ayah memeluk istrinya. Tangisnya teredam dalam rongga dadanya. Dadanya bergetar. Anggiat Marbun terguncang. Tiba tiba bumi serasa runtuh.

Keduanya bahkan tidak mampu lagi mengangkat wajahnya. Kepala mereka tertunduk ditepi ranjang sambil menangis panjang manggil nama anaknya. Ruang ICU itu menjadi pertemuan terakhir kedua orang tua Intan melihat anak yang dikasihinya.

Empat belas jam sebelumnya, Minggu pagi, 13 November 2016, sekitar pukul 10.00 Wib, suasana hening terasa di dalam Gereja Ouikumene Samarinda. 

Hanya terdengar suara Pendeta sedang mengucapkan doa pengharapan dan pemberkatan. Ratusan jemaat tampak menutup mata mendengarkan doa penutup ibadah minggu. Kedua orang tua Intan tampak khidmat berdoa.

Sementara itu, di depan halaman gereja tampak bocah bocah kecil sedang bermain. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang dibawa orangtuanya ikut bergereja.

Hal biasa saat orang tua sedang beribadah, anak anak kecil ini bermain di halaman gereja. Mereka adalah anak anak sekolah minggu yang sebelumnya telah selesai beribadah sekolah minggu.

Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3) bersama anak anak sekolah minggu lainnya senang sekali pagi itu.

Mereka senang karena di sekolah minggu mereka bisa bernyanyi dan bermain. Bertepuk tangan sambil menggoyangkan pinggang dan kepala. Bagi anak anak kecil itu sekolah minggu adalah tempat favorit mereka bergembira.

Mereka bisa bergembira karena disanalah mereka bisa bertemu dengan guru guru sekolah minggu yang mengajar betapa baiknya Tuhan. Guru guru sekolah minggu yang mengajar mereka bernyanyi dan berdoa.

Di luar pagar teras gereja, seorang pria kurus berkaos oblong hitam nampak berjalan kaki. Pria kurus itu berjalan tergesa gesa sambil menenteng tas ransel hitam di punggungnya. Ia tampak berhenti sebentar. Mengamati sekelilingnya. Clingak clinguk sekejap. Setelah pasti, Ia berjalan masuk ke halaman gereja.

Anak anak kecil itu tidak menaruh curiga. Dengan polos mereka tetap bermain. Tidak ada rasa takut. Anak anak kecil sekolah minggu itu hanya tahu bahwa gereja adalah Rumah Tuhan. Rumah berkat. Rumah di mana kebaikan dan kasih sayang diajarkan. Tidak mungkin ada bahaya di sana.

Pria berkaos oblong hitam itu berjalan semakin mendekat. Ia berhenti lalu menatap anak anak kecil itu. Entah apa yang dipikirkannya. Wajahnya mengeras dan dingin.

Ia sepertinya tidak melihat ada anak anak di halaman depan gereja itu. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak nan polos sedang bermain. Ia sepertinya tidak mendengar suara anak anak itu sedang bernyanyi.

Pria berkaos oblong hitam itu hanya melihat musuh yang harus dihabisinya. Kebenciannya begitu membuncah. Kalian harus mati. Begitu pikirannya.

Intan Olivia Banjarnahor (2,5), Anita Kristobel Sihotang (2), Alvaro Aurelius Tristan Sinaga (4), dan Triniti Hutahaya (3) memandang pria berkaos oblong hitam itu.

Mereka malah tertawa riang lalu melanjutkan permainan mereka. Mereka tidak tahu sebentar lagi api akan melahap mereka. Mereka tidak tahu sedetik lagi pria berkaos oblong hitam itu akan melemparkan bom api molotov.

Setelah tiba waktunya, Pria berkaos oblong hitam itu lalu menarik nafas dalam. Ia melihat anak anak kecil itu sebagai target untuk dihabisi. Ia melihat kegembiraan anak anak kecil itu harus dihentikan. Keriangan anak anak kecil itu tidak boleh ada. Ia mendengus.

Lalu, Ia melepas tas punggungnya. Mengeluarkan sumbu lalu mengambil korek api. Ia membakar sumbu tas punggung itu.

Dengan sekuat tenaga pria berkaos oblong itu melempar tas berisi bensin menyala api. Brakkkk..bummm...Tas punggung berisi bensin dan berapi itu menghantam kerumunan anak anak kecil itu.

Api membumbung tinggi. Asap hitam mengepul. Pria berkaos oblong itu tersenyum lalu lari kencang menjauh dari halaman gereja itu.

Intan Olivia bocah berumur 2.5 tahun itu menjerit tangis. Api membakar sekujur wajah dan tubuhnya. Intan berguling guling menangis memanggil nama mamanya. 

"Ma...mamak..makkkk..panas makkk..sakittt makkkk...", teriaknya perih. Sekujur badannya melepuh, mengalami luka bakar cukup serius.

Teman teman Intan lainnya Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan juga menjerit menangis. Api menyambar tubuh mungil mereka. Membakar baju mereka. Keempat bocah malang itu berlari berguling guling mencoba memadamkan api yang melahap tubuh mungil mereka.

Suasana gereja yang damai teduh berubah menjadi neraka. Teriakan pilu perih anak anak sekolah minggu Intan Olivia Banjarnahor, Anita Kristobel Sihotang, Alvaro Aurelius, Tristan Sinaga, dan Triniti Hutahayan membuat seisi gereja panik.

Para orang tua berhamburan keluar. Mereka mencari tahu apa yang terjadi. Mereka menjerit histeris melihat anak anak mereka meraung raung terbakar. 

Berguling guling menahan panas membakar kulit dan dagingnya. Para orang tua itu berusaha memadamkan api. Sebagian berteriak histeris melihat anaknya dilalap api.

"Saya panik dan syok. Saya pun langsung mencari anak-anak saya, biarpun apa mereka semua anak-anak kami," ujar Mirna sedih. Mirna salah seorang jemaat gereja yang saat itu ikut menyaksikan tubuh tubuh mungil terbakar api.

"Anak-anak sedang bermain di luar gereja. Orangtua mereka sedang berdoa di dalam gereja. Tiba-tiba terdengar suara ledakan nyaring hingga tiga kali. Kami semua langsung panik, mencari perlindungan, dan mencari anak kami masing-masing," kata Mawarni yang juga keluarga Intan.

Hanya 14 jam bocah mungil Intan Olivia dapat bertahan. Luka bakarnya hampir 80 persen. Sekitar pukul 04.00 Wita akhirnya bocah lucu itu meninggal dunia. Bocah malang cantik itu menghembuskan nafas terakhirnya disamping ibu bapaknya yang menangis kencang.

Pukul 6 pagi, seorang teman mengirim berita kematian Intan. Saya terpekur sedih. Dadaku sesak. Tidak terasa air mata keluar dari kedua bola mataku. Saya kehilangan kata kata. Saya terhanyut dalam sedih atas kehilangan Intan dan nasib bangsaku.

Saya tiba tiba melihat wajah anakku Baby K yang seumuran dengan Intan. Memandang bocah bocah mungil lucu pemilik warisan Tanah Air Indonesia ini sungguh membuat saya kecut. Akankah anak anak kita akan mewarisi Ibu Pertiwi yang damai dan bersahabat? Ahhhh Entahlah...

Selamat jalan ananda Intan Olivia. Betapa berat 14 jam penderitaanmu itu. Api membakar kulit dagingmu hingga wajah cantikmu berubah mengerikan. Luka gosong sekujur tubuhmu begitu mengerikan.

Kini, Tuhan mendekapmu. Mendekap sejuk dan teduh jiwamu yang terbang bersama para malaikat. Kini tubuh gosongmu cantik kembali. Bumi ini bukanlah tempatmu bermain lagi. Surgalah tempatmu bermain bersama teman temanmu dari seluruh bangsa.

Tempat barumu itu tidak ada ketakutan lagi. Tempat barumu itu tidak ada lagi orang jahat penuh kebencian seperti pria berkaos oblong itu. Di Surga sana hanya ada damai dan kebahagiaan.

Selamat jalan ananda Intan...kami minta maaf tidak bisa menjagamu. Kami minta maaf alfa dan lalai tidak bisa memberi rasa aman di rumah Tuhan tempatmu bernyanyi. Lagu kesukaanmu "Kingkong Badannya Besar" tidak akan pernah kami dengar lagi dari bibirmu yang mungil.

Bernyanyilah di surga ananda..
Bermainlah di taman Firdaus ananda...

Nyanyikanlah lagu Kingkong itu di Surga buat kami ya...
"Kingkong Badannya Besar Tapi Kakinya Pendek, Lebih Aneh Binatang Bebek, Lehernya panjang kakinya pendek..Haleluya..Tuhan Maha Kuasa, Haleluya Tuhan Maha Kuasa Damailah jiwa mungilmu terbang bersama para malaikat menuju keabadian...Salam peluk cinta dan sayang..
(Dari Tulang Birgaldo Sinaga)

 
Share this article :

Post a comment

Mengucapkan

Mengucapkan
KLIK Benner Untuk Beritanya

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan
DIRGAHAYU TNI ' Semoga TNI Selalu di Hati Rakyat, Menjadi Kebanggaan Ibu Pertiwi, Sinergi, dan Maju Bersama Negeri, AMIN

Kaldera Toba Akhirnya Diakui UNESCO Global Geopark

Pdt Dr Deddy Fajar Purba dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe (Ephorus dan Sekjen GKPS)

Pdt Dr Deddy Fajar Purba dan Pdt Dr Paul Ulrich Munthe (Ephorus dan Sekjen GKPS)
Selamat Natal dan Tahun Baru

Kabar Hun Simalungun

Mengucapkan

Mengucapkan
Selamat Natal 25 Desember 2020

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Rental Mobil di Pematangsiantar

Rental Mobil di Pematangsiantar
Ada Executive Tiomaz Trans. KLIK Gambar Info Lengkapnya

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik
Tinuktuk adalah Sambal Rempah Khas Simalungun yang berkhasiat bagi tubuh dan enak untuk sambal Ikan Bakar atau sambal menu lainnya. Permintaan melayani seluruh Indonesia dengan pengiriman JNT dan JNE. Berminat hubungi HP/WA Devi Yusnita Damanik 0815 3445 0467 atau di Akun Facebook: Devi Damanik.

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)
Hinalang- Pdt Jhon Rickky R Purba MTh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusara “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba) di Desa (Nagori) Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019). Acara Peletakan Batu Pertama dilakukan sederhana dengan Doa oleh Pdt Jhon Rickky R Purba MTh. Selengkapnya KLIK Gambar

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”
“Lang jelas lagu-lagu Simalungun sonari on. Tema-tema pakon hata-hata ni lagu ni asal adong. Irama ni pe asal adong, ihut-ihutan musik sonari. Lagu-lagu Simalungun na marisi podah lang taridah.” (Semakin kurang jelas juga lagu-lagu Simalungun belakangan ini. Tema dan syairnya asal jadi. Iramanya pun ikut-ikut irama musik zaman “now” yang kurang jelas. Lagu-lagu Simalungun bertema nasehat pun semakin kurang”.