Pamatangraya, BS - Di usianya yang ke-193 tahun, Kabupaten Simalungun berdiri sebagai salah satu daerah dengan sejarah panjang, budaya kuat, dan potensi alam yang luar biasa. Namun di balik perayaan hari jadinya, tersimpan realitas yang tak bisa lagi ditutup dengan seremoni: persoalan infrastruktur jalan yang masih jauh dari kata layak.
Di tengah semangat “Simalungun Maju”, masyarakat justru masih bergelut dengan jalan berlubang, longsor, hingga akses yang nyaris terputus di berbagai wilayah.
Salah satu titik paling krusial adalah ruas jalan lingkar Danau Toba, khususnya jalur Haranggaol menuju Bage. Jalan ini bukan sekadar akses biasa, melainkan urat nadi penghubung kawasan pesisir Danau Toba yang memiliki potensi wisata dan ekonomi tinggi.
Ruas Haranggaol – Nagori-Sihalpe-Binangara–Gaol-Nagori Purba–Hutaimbaru-Soping-Baluhut hingga Bage dilaporkan mengalami kerusakan berat dan belum tersentuh pembangunan signifikan selama bertahun-tahun.
Padahal, jalan ini menjadi akses utama masyarakat untuk aktivitas ekonomi, mulai dari pertanian hingga distribusi hasil bumi ke pusat pasar.
Lebih ironis lagi, kawasan Danau Toba telah ditetapkan sebagai destinasi wisata prioritas nasional. Tapi pembangunan infrastruktur tidak merata. Di beberapa wilayah lain, jalan sudah mulus dan berkembang, sementara di Simalungun, jalan masih seperti “janji yang tertinggal di seberang danau.”
Fakta Pahit: Ribuan Kilometer Jalan Rusak
Data yang beredar menunjukkan bahwa sekitar 1.028 kilometer jalan di Simalungun mengalami kerusakan berat dan membutuhkan penanganan serius. Angka ini bukan kecil. Ini seperti bilang, “hampir separuh akses hidup masyarakat sedang tidak baik-baik saja.”
Upaya perbaikan memang ada, bahkan sebagian dilakukan secara swadaya masyarakat. Tapi jelas, itu bukan solusi jangka panjang.
Kondisi di Kecamatan Haranggaol Horison menjadi gambaran nyata persoalan ini. Bahkan, pada awal 2026, terjadi longsor yang merusak akses jalan utama hingga harus ditinjau langsung oleh Bupati.
Pemerintah daerah mengakui bahwa jalan tersebut sangat vital dan membutuhkan penanganan cepat. Masalahnya? Penanganan sering bersifat sementara, sementara akar persoalan belum sepenuhnya terselesaikan.
Dan seperti biasa, masyarakat lagi-lagi diminta bersabar. Karena tampaknya di negeri ini, sabar sudah jadi “infrastruktur tambahan” yang paling kuat.
Antara Potensi Besar dan Realita Tertinggal
Simalungun sebenarnya tidak kekurangan potensi pertanian yang kuat, pariwisata Danau Toba, letak strategis sebagai jalur penghubung.
Namun semua itu seperti mobil mewah tanpa jalan yang layak. Mau seindah apa pun pemandangannya, kalau aksesnya rusak, wisatawan juga mikir dua kali. Tanpa infrastruktur yang memadai, potensi hanya akan jadi cerita di proposal dan pidato.
Refleksi di Usia ke-193
Hari jadi ke-193 Kabupaten Simalungun seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar perayaan. Karena pada akhirnya, kemajuan daerah tidak diukur dari spanduk ucapan selamat, seremoni tahunan, atau slogan yang indah.
Tapi dari hal sederhana, apakah masyarakat bisa melintas dengan aman di jalannya sendiri. Di usia hampir dua abad, Kabupaten Simalungun masih berdiri dengan penuh harapan. Namun harapan itu kini menuntut bukti.
Masyarakat tidak lagi sekadar ingin mendengar rencana. Mereka ingin melihat jalan diperbaiki, akses dibuka, dan pembangunan yang benar-benar menyentuh kehidupan sehari-hari. Karena sejatinya, kemajuan tidak dimulai dari pidato. Tapi dari jalan yang bisa dilalui tanpa rasa takut.
Horas! Selamat Hari Jadi ke-193 Kabupaten Simalungun
Di bawah naungan langit Bumi Habonaron Do Bona, sejarah telah memahat jejak panjangnya selama hampir dua abad. Seratus sembilan puluh tiga tahun bukanlah sekadar deretan angka, melainkan napas perjuangan dan kemuliaan budaya yang terus mengalir di nadi setiap insan Simalungun.
Simalungun adalah rumah bagi rindu, tempat jati diri mengakar kuat pada tanah warisan leluhur. Mari kita rayakan kebersamaan ini dengan tekad yang bulat: "Kompak, Solid, Berjuang!"
Biarlah kearifan masa lalu menjadi pelita, memperkuat jati diri budaya untuk melangkah pasti menjemput hari esok yang lebih bermakna. Bersama Bapak Bupati H. Anton Achmad Saragih dan Wakil Bupati Benny Gusman Sinaga, mari kita nyalakan Semangat Baru untuk Simalungun Maju. Hasoman Simalungun, mari kita jaga harmoni ini selamanya. (BS-AsenkLeeSaragih)



0 Komentar