}); May 2018 | BeritaSimalungun

Berita Terkini

INDEKS BERITA

Yang Terluka yang Menyembuhkan

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 30 May 2018 | 11:28

Defri Judika Purba-FB.
BeritaSimalungun-(1). Tulisan ini saya dedikasikan untuk saudara laki-laki ku Jhon Kariando Purba dan adik perempuanku Noera Nedha Poerba selaku anak dari mama yang luar biasa yang telah melahirkan dan membesarkan kita. Tetap kita tunjukkan pesan mama yang terukir indah di batu nisannya “ulang maringori” kita jalankan dalam hidup keluarga kita.

2. Tulisan ini juga saya dedikasikan untuk bapak rohaniku Saragih Jaharianson yang mulai sejak mahasiswa sampai sekarang selalu mendukung dan menopang pelayananku. Kisah kebaikanmu pak, selalu terpatri di dalam hatiku.

3. Terakhir, tulisan ini saya tuliskan untuk setiap insan yang bergumul dan berjuang untuk memahami misteri kehidupan ini secara khusus jemaatku yang sedang berjuang menghayati apa itu cinta, pengorbanan dan ketulusan. Sespen Purba

Kisah ini dimulai dengan perjumpaanku dengan jemaat yang saya layani disini (bahapal). Ada jemaatku saat ini sedang berjuang keras mengobati anggota keluarga mereka karena penyakit kanker. Saya sebenarnya sudah tahu tentang berita itu, tetapi karena satu dan dua halangan belum sempat berkunjung ke rumah mereka. Setelah ada kesempatan baik, saya bersama istri pun menyempatkan datang ke rumah mereka.

Setelah kami sampai di rumah, kami melihat keluarga tersebut sedang mengadakan diskusi keluarga tentang upaya pengobatan orang tua mereka. 

Yang sakit adalah ibu mereka. Kanker rahim. Selama ini mereka membawa orang tua mereka untuk berobat herbal. Pilihan kemotherapi tidak bisa dilakukan, karena pasien tidak bersedia. 

Sudah berulang kali mereka membawa orang tua mereka ke rumah sakit untuk transfusi darah. Saat ini setelah rasa sakit yang tidak lagi tertahan, akhirnya orang tua mereka mau menjalani kemotherapi.

Melihat kami datang, diskusi keluarga berhenti sebentar. Kami melihat pasien sedang duduk bersandar di atas tempat tidur yang telah disediakan. 

Sepintas tidak seperti orang yang sedang sakit. Menurut info dari menantunya seperti itulah kondisi beliau ketika tidak kambuh. Setelah basa-basi sejenak, kami pun terlibat dalam diskusi keluarga tersebut.

Dalam proses diskusi dan saling berbagi itulah saya banyak berbagi tentang bagaimana pengalaman keluarga kami waktu itu ketika ibu yang melahirkan saya juga mengidap penyakit yang sama dengan orang tua mereka.

Saya pun berkisah: Jauh sebelum kami mengetahui bahwa ibu saya kena kanker, kehidupan keluarga kami biasa saja. Tidak pernah sedikit pun terlintas situasi itu akan kami hadapi. Kehidupan ini kami jalani dengan sukacita tanpa beban. Keluarga kami termasuk tipe keluarga yang hangat dalam persekutuan. 

Tiga orang kami anak dari orang tua kami tidak pernah cekcok atau berselisih. Komunikasi antara kami semua sangat lancar dan terbuka. Walau saat itu mama sering mengeluh sakit di bagian rahimnya, kami semua memberi solusi dan semangat. 

Kadang kami bergantian membawa mama ke dokter. Tidak ada prasangka yang serius tentang penyakit mama. Keluhan mama yang sering adalah tidak teraturnya jadwal bulanannya. Kadang banyak, kadang sedikit kadang tidak ada apa-apa. 

Setelah diobati, sembuh sebentar dan kambuh lagi. Oleh beberapa dokter, situasi mama disebut masa memasuki menopause. Mendengarnya kami menanggapnya biasa saja.

Hingga suatu ketika, ketika penyakit mama kambuh lagi, kami membawa mama ke dokter spesialis kandungan di kota siantar. Ketika keluar dari ruangan dokter saya melihat muka mama sudah terlihat pucat dan panik. 

Sampai di teras praktek dokter – saya masih mengingat jelas- mama duduk bersimpuh sambil memegang kartu pemeriksaan dokter. Dengan suara yang terbata dan terputus-putus, mama menjawab pertayaan kami. 

Hasilnya: mama dirujuk ke Rumah Sakit Adam Malik. Ada satu penyakit yang harus dipastikan kondisinya. Dalam bayangan mama itu adalah kista.

Mendengar penuturan mama, kami pun berdiskusi untuk penanganan mama selanjutnya. Hasil diskusi kami, mama diperiksa dulu di dokter spesialis yang lain. Ini untuk mencari second opinion. 

Rekomendasi dari salah seorang dosenku saat itu kami turuti untuk membawa mama ke dokter spesialis di kota medan yang membuka praktek di sekitar jalan setia budi.

Setelah dapat waktu yang telah ditentukan, kami pun membawa mama ke medan. Kami sekeluarga. Tiba di praktek dokter tersebut, setelah antri, mama pun ditemani adikku yang perempuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, mama pun kembali duduk di tempat antrian.

Tiba saatnya untuk pemberitahuan hasil, maka saya yang masuk untuk menjumpai dokter. Dan inilah moment yang paling saya ingat dalam sejarah hidupku. Saya diberitahu oleh dokter tersebut, bahwa mama mengidap penyakit kanker. 

Sudah stadium tiga B menuju empat A. Walau memang masih menunggu hasil biopsi, dokter tersebut sudah dapat memastikan penyakit mama. Masih teringat kata dokter tersebut: “kenapa lama untuk dibawa berobat?”. 

Mendengar penuturan dokter tersebut, saya merasa pandanganku tiba-tiba gelap, serasa ada beban yang menekan tubuhku. Langit terasa runtuh. Suara bising lalu lintas tiba-tiba senyap. 

Saya seolah-olah berada pada dunia yang lain. Rasa hampa dan kosong tiba-tiba menyeruak dalam hati. Saya tidak sanggup untuk berdiri. Tungkai kakiku terasa lemah. Untuk sesat saya seperti tidak sadarkan diri. Hening.

Setelah beberapa saat, saya pun seperti sadar kembali. Tetapi ada yang aneh dalam pikiranku. Sesuatu yang tidak pernah ada dalam pikiranku selama ini tiba-tiba datang menghantui. Sesuatu yang sangat menakutkan dan mengerikan. 

Dampak pikiranku itu membuat tubuhku menjadi dingin dan lidahku menjadi kelu. Saya tidak sanggup dengan pikiranku yang tiba-tiba datang tersebut; “mamaku tidak akan lama lagi hidup”.

Keluar dari ruang pemeriksaan dokter saya berusaha menahan hati diri untuk tidak menangis. Melihat mama duduk di ruang antri bersama keluargaku yang lain sebenarnya saya sudah mau berteriak dan meraung-raung. Saya tidak sanggup membayangkan wajah mama. 

Melihat wajahnya yang bertanya: “apa kata dokter pa?”, saya serasa dipukul godam yang berat yang membenamkan tubuhku ke dalam tanah. Saya berkata: “tidak ada apa-apa ma, kata dokter ada sedikit gangguan di rahim. Nanti setelah dikasih obat, maka akan sembuh”. Mendengarnya keluargaku semua lega.

Pulang dari praktek dokter, kami langsung menuju kampus tempat dimana saya kuliah dulu, STT Adi Sabda. Sudah ada janji dengan salah seorang dosenku yang juga menjadi “guru Spiritualitasku” untuk mendoakan mama secara pribadi. 

Sewaktu mama sedang didoakan di ruangan khusus, saya pun pergi ke toilet kampus tersebut. Di kamar mandi itu, pertahanan emosiku tidak sanggup lagi. Ibarat air di dalam bendungan, bendungan itu tidak mampu lagi menahan beban berat air yang menekannya. 

Saya pun menangis sejadi-jadnya di kamar mandi tersebut. Pintu saya tutup rapat-rapat, kran air saya jalankan kencang supaya jangan ada yang mendengar. Saya menangis sejadi-jadinya membayangkan saya akan kehilangan mama yang sangat saya sayangi.

Setelah puas dan air mataku seperti tidak ada lagi, maka saya pun keluar dari kamar mandi setelah mengusap wajah dengan air supaya kelihatan segar kembali. Mama pun sudah siap didoakan secara pribadi. Kami pun pulang kembali ke kampung halaman, pematang purba.

Di kampung- ketika mama tidak bersama kami- saya pun berterus terang bercerita kepada keluarga apa dan bagaimana kondisi mama yang sesungguhnya. Mendengar ceritaku semua keluarga terkejut dan tidak menyangka. 

Mungkin apa yang saya alami juga mereka alami sendiri. Butuh waktu yang lama untuk bisa menerima dan mencerna semua yang terjadi tersebut. Selang beberapa lama, kami pun berdiskusi bagaimana penanganan mama selanjutnya. 

Apakah kami menuruti rekomendasi dokter tersebut untuk membawa mama ke rumah sakit adam malik untuk di kemotherapi? Dari informasi yang kami dengar dari orang yang sudah pernah di kemotherapi dan informasi dari internet, kami dibawa pada sebuah fakta yang benar-benar sangat menggetirkan. 

Kemotherapi menurut tujuan dan latar belakangnya sebenarnya tidak untuk menyembuhkan pasien tetapi lebih kepada memperbaiki kualitas hidup. 

Kualitas hidup disini maksudnya adalah pasien tidak terlalu merasakan efek/ dampak sakit yang ditimbulkan penyakit tersebut. Kemotherapi lebih kepada usaha agar sel-sel kanker itu tidak terlalu menyebar ke anggota tubuh lainnya.

Menyadari hal itu, kami pun memutuskan untuk tidak membawa mama kemotherapi. Memberitahu penyakitnya pun kami tidak mau. Walau mungkin ini salah tetapi sebenarnya ada alasan lain kenapa kami bertindak seperti itu. 

Mama kami termasuk orang yang cepat panik menanggapi segala sesuatu. Pikiran buruk cepat melintas dalam pikirannya. Mama tidak sanggup berpikir jernih, runtut dan analitif menanggapi sesuatu. Pernah ketika saya masih mahasiswa dan sakit tipus, mama datang dari kampung bersama saudara laki-lakiku. 

Sepanjang perjalanan –cerita saudaraku- mama tidak bisa berkonsetrasi. Sampai di tempat parkir, mama langsung berlari menuju kamarku. Temanku yang menjemput di tempat parkir pun tidak dia hiraukan. Sampai di kamar, mama pun langsung memelukku sambil menangis. Seperti itulah mamaku.

Dengan keputusan kami, maka mulailah keluarga kami memasuki tahap-tahap yang tidak pernah kami siapkan sebelumnya. Kami pun membawa mama untuk berobat herbal ke pematang siantar. Saat itu saya sudah menjadi vikar pendeta dan menerima penempatan pertama di salah satu resort di Kota Siantar. 

Ini satu hal yang saya syukuri, saya bisa memberi waktu dan pertolongan lebih cepat kalau dibutuhkan. Dari tahap ini juga saya semakin banyak belajar tentang apa itu kanker. 

Rujukan saya yang paling banyak adalah dari buku-buku dan internet. Banyak buku yang saya beli yang menyangkut tentang pengobatan penyakit kanker. Dari tahap inilah saya tahu apa itu metastase (penyeberan sel-sel kanker ke organ tubuh lainnya), keladi tikus, tapak dara dll.

Setelah pengobatan ini, kondisi mama kadang sehat kadang memburuk. Karena itu mama pun sering bolak-balik ke rumah sakit. 

Mulai dari rumah sakit umum di kabanjahe lanjut dengan ambulance di tengah malam menuju rumah sakit adam malik. Suara ambulance yang meraung-raung di kegelapan malam saat itu adalah teror yang menyiksa bathin. Pulih sebentar masuk lagi ke rumah sakit. 

Karena kondisi yang semakin memburuk, maka kami pun memutuskan mama untuk dirawat di pematang siantar, di tempat keluarga. Keputusan ini agar mama tidak terlalu capek bolak-balik dari kampung (Pematang Purba) menuju rumah sakit yang terdekat.
 
Di saat mama menjalani proses pengobatan ada dua perkara yang benar-benar membuat saya seperti ingin menghempaskan badan di atas rumput yang basah di tepi sebuah jurang. 

Ketika badanku terhempas di rumput di tepi jurang tersebut, biarlah saya jatuh dari tepi jurang itu, untuk masuk ke dalam air yang ada di lembah jurang itu. Saya ingin alam ini memelukku dengan pelukan kebebasannya. Saya benar-benar tidak tahu lagi melampiaskan emosi dan beban perasaanku.

Peristiwa pertama adalah ketika adik perempuan saya akan diwisuda saat itu. Saat itu adik perempuanku mengambil prodi kebidanan di kota medan dan akan diwisuda. 

Kondisi mama sebenarnya sudah payah saat itu, tidak bisa berdiri lagi. Tapi beliau memaksa untuk bisa hadir karena mama berkata: “inilah obatku yang sesungguhnya”. Mendengar permintaan mama, maka kami pun terpaksa membawa mama di tempat wisuda. 

Di atas kursi roda, kami menunggu adik perempuanku keluar dari tempat wisuda. Saat itu kami menunggu di tempat parkir, karena mama tidak sanggup masuk ke ruangan wisuda. 

Setelah adik perempuanku keluar, maka mama pun memeluk buah hatinya dengan bangga. Apa yang diusakan dan dikorbankannya selama ini sudah berbuah. 

Melihat adegan mama memeluk adik perempuanku dari atas kursi roda, saya melemparkan pandangan jauh melintasi gedung-gedung pencakar langit di kota medan. Saya berusaha untuk tidak menangis walau tokh pelupuk mataku tetap hangat.

Peristiwa kedua. Saat itu mama sebenarnya sedang dalam proses pengangkatan menjadi kepala sekolah di SD negeri di kampung kami. Proses untuk ini sudah berjalan. Walau saat itu banyak hambatan, petikan SK dari bupati sudah terbit. 

Dengan petikan SK Bupati itulah itulah mama kami semangati. Pernah ketika saya memberi mama makan lewat NGT, saya menyemangati mama: “ayo ma, makan lagi ya, supaya sembuh. Setelah sembuh, baju yang sudah mama jahit bisa dipakai saat pelantikan kepala sekolah”. 

Apa kata mamaku: “inilah yang sangat kutakuti, baju yang sudah saya jahitkan tidak bisa lagi saya pakai”. Mendengarnya, langit kembali terasa runtuh.

Pengobatan untuk mama ternyata menguras banyak tenaga, materi dan waktu kami. Karena biaya pengobatan untuk mama masih berlanjut, maka ayah pun memutuskan untuk menjual ladang di kampung. Saya tidak tahu kapan dan kepada siapa dijual. Saat itu saya pribadi hanya fokus untuk menjaga dan mengobati mama.

Tranfusi darah adalah hal yang wajib untuk mama. Karena itu disamping pengobatan herbal, maka mama pun harus bolak-balik ke rumah sakit. Karena mama kami rawat di rumah keluarga di Pematang siantar, maka rumah sakit umum adalah langganan kami. 

Para perawat sudah tahu dan kenal kepada kami semuanya karena terlalu sering masuk rumah sakit. Pernah saat itu stok darah di PMI kosong. Kami kelabakan. Stok darah dari para donor tidak cukup. Akhirnya saya pun mencari stok darah di rumah sakit Laras di serbelawan. 

Saat itu saya melayani sebagai vikar pendeta di Resort siantar IV dan ditempatkan di serbelawan. Darah yang saya bawa dibungkus di dalam tas setelah dilapisi es. Sampai di siantar, dihangatkan sebentar kemudian ditransfusi ke tubuh mama.

Waktu mama sedang di rawat di rumah sakit, sebagai seorang pelayan, tentu pekerjaan pelayanan tidak boleh saya tinggalkan dengan alasan apa pun. Itu adalah prinsip dalam hidupku sejak dari dulu. Karena itulah pernah ada moment dalam hidupku, saya membawa buku-buku ke rumah sakit berikut laptop. 

Ketika mama sedang terpulas tidur, maka saya mengambil ruangan yang lain di kamar tersebut untuk mengerjakan bahan sermon. Ketika konsentrasi menyusun bahan sermon, sayup-sayup saya mendengar mama merintih. 

Saya pun meninggalkan laptopku untuk melihat kondisi mama. Setelah tenang kembali, maka saya pun melanjutkan menulis bahan sermon. Jam di dingding kadang sudah menunjuk angka jam dua dini hari. 

Dari rumah sakitlah saya berangkat melayani. Pernah saya kecelakaan di sinaksak, karena mengelakkan kereta yang tiba-tiba berbelok. Datanglah jemaatku yang dari serbelawan untuk menjemputku dan membawa ke klinik sekaligus “mamborastengeri”.

Kondisi mama mencapai puncaknya. Penyakit kanker yang telah menggerogoti tubuhnya semakin bermetastase. Kali ini sudah mencapai syarafnya. Akibatnya kami anak-anaknya pun tidak lagi dikenal oleh mama. 

Pernah kami mencoba bertanya kepada mama, siapakah kami anaknya. Kami berdiri di samping mama. Saudara laki-lakiku yang pertama bertanya: “saya siapa ma”. Mama menjawab: “Ini anakku si Ando”. Sekarang tiba giliranku: “Saya siapa ma?”.  Mama diam dan tidak tahu siapa yang bertanya. Saat itu kegelapan benar-benar menyelimuti jiwaku. 

Saya tidak tahu lagi untuk berbuat, berpikir dan bertindak apa. Dunia di sekelilingku terasa gelap. Pandangan mataku berpendar-pendar melihat dinding rumah sakit. Kakiku terasa melayang, tidak menyentuh lantai rumah sakit.

Karena kondisi mama yang semakin memburuk, maka keluarga pun memutuskan membawa mama kembali ke kampung halaman. Tidak berapa lama di kampung halaman, mama pun menghembuskan nafasnya yang terakhir tepat di atas tempat tidurnya. 

Sebelum mama menghembuskan nafasnya, saya masih sempat memberi mama makan di kamarnya. walau mama tidak lagi mengenalku, saya tidak peduli. 

Setelah mama selesai makan dan saya doakan, maka saya pun harus kembali ke siantar untuk mengejar pelayanan. Hari itu adalah hari kamis. 

Ada PA wanita di salah satu jemaat yang saya layani. Keesokan harinya hapeku berdering. Di layar hape ada nama tetanggaku. Seolah sudah memiliki firasat maka saya pun mengangkatnya. 

Pertama dia berbohong dengan menyatakan, mama memanggil-manggil namaku, karena itu pulanglah. Setelah saya desak apa yang terjadi, maka dia berkata: “domma marujung goluh nanggi pi, mulak ma ho”! mendengarnya saya tidak terkejut. 

Kebetulan juga saat itu saya sedang bersaat teduh. Setelah siap membaca Firman Tuhan dan berdoa, maka saya pun menutup disiplin rohaniku itu dengan menyanyikan lagu pujian di Kidung jemaat: Makin dekat Tuhan.

Proses pemakaman mamaku berjalan seperti yang direncanakan keluarga. Di peti matinya kami menaruh segala obat yang pernah dia pakai selama hidupnya. Baju pelantikan kepala sekolahnya berikut SK pangangkatannya juga.

Demikianlah saya mengakhiri cerita. Dengan menceritakan kisah yang pernah kami alami ini, kami berharap tuturan kisah ini bisa memberi kekuatan dan topangan kepada jemaatku yang saat ini sedang mengalami proses yang sama. 

Walau situasi tidak sama persis, dengan berbagi kisah ini semogalah mereka tetap dalam perjuangan cinta merawat orang tua/ mertua yang mereka sayangi. (Defri Judika Purba-Salam Penuh Perjuangan. Bahapal Raya, 30 Mei 2018)

Oleh-Oleh

FB-Anita Martha Hutagalung.
BeritaSimalungun-Kata oleh oleh sering kali terucap Saat orang yang dikenal sedang bepergian. Nggak perduli orang itu pergi tujuannya ngapain.

Pokoknya asal tau aja bepergian atau liat status kawan lagi OTW di Bandara. Pasti ada aja yg komen : "Jangan lupa oleh-oleh yaaa" ๐Ÿ˜œ
Padahal bisa saja dia pergi ke Singapura itu mau berobat, atau mengunjungi anaknya yg study.

Di negara Indonesia tumpah darah tercinta emang begitu. Kalau lagu wajib itu Indonesia Raya. Kalau jalan-jalan itu oleh2 "wajib" dibawa.

Aku adalah orang yang (mudah2an) paling malas minta oleh oleh.
Biarpun itu terhadap orang terdekat aku. Jadi kalau pun ternyata aku mendapatkan oleh oleh itu karena pure pemberian. Bukan karena aku minta. Kenapa aku paling malas minta oleh oleh? Karena aku juga paling malas bawa oleh oleh. Jadi fair kan.. ๐Ÿ˜‰

Saat pertama kali aku jalan jalan ke LN
Ke tempat yg dekat dekat aja, Singapura .
Sekembalinya dari jalan jalan, anakku Leo nanya :

"Apa oleh-oleh buatku, mah? "
"Gk ada tuh"
"Lailaah kejamnya orang tua sebijik ini"

"Kalau kau pengen sesuatu, ngapain minta ?
Lagian belum tentu yang mama bawa cocok untukmu. Kalau kau pengen , ya kumpul duitmu, beli aja sendiri , pilih sesukamu"

Sekilas memang aku terlihat sebagai emak yang kejam dan pelit.
Tapi aku emang mau "membiasakan" anak anak untuk tidak terbiasa meminta. Meskipun hanya basa basi. Emang gk ada basa basi yang lain untuk teman yang bepergian. selain "Jangan lupa oleh-oleh". Aku rasa ucapan.

"Sehat sehat di perjalanan" atau "Enjoy your journey" adalah basa basi yang menyenangkan. Dan tidak membebani orang. *dan bertahun kemudian akhirnya emang Leo " balas dendam". Dia rajin menabung dan suka jalan-jalan. Leo pergi kemana dia suka, dia beli apa yang dia mau. Tapi syukurnya dia gk pelit seperti emaknya. Dia sesekali bawa oleh oleh juga buat gw ๐Ÿ˜

Lalu kamu berkata, Bahwa aku lebay jadi orang. Karena minta oleh oleh itu hal biasa , berapalah itu. Paling gantungan kunci atau kaos sebiji yang murah murah. Trus kekmana kali rupanya , bukan trus miskin gara gara membelikan orang oleh-oleh. Kalau gak dikasi juga gk apa apa. Heloo.. ...??!

Cobaklah klen kali kalikan dulu ya. Misalkan aku pergi jalan jalan nih. Lalu kau sebagai temanku, kubelikan oleh2. Tentu orang seisi rumahku harus ku belikan juga dong. Masak kau aja yang dibelikan ๐Ÿ˜œ Ya udah belilah, untuk mamakku jugalah, lalu untuk eda ku, itoku, adekku, trus kk iparku.

Harus ke 3 nya ku belikan. Nanti sempat tau yg satu kukasi, yang lain tidak. Wah... Bisa-bisa nanti sakit hati panjang urusan. Trus karena kau kubelikan, tentu mamak sianu, mamak siono, mamak siani dan mamak-mamak yang lain ya kubelikan jugalah. Kan mereka juga temanku sama sepertimu.

Belum lagi kawan pengurus, kawan majelis, kawan nongkrong dll.
Begitulah aku sibuk seharian bepikir pikir di pusat perbelanjaan oleh oleh.

Memikirkan cukup gak duitku ๐Ÿค”Belum lagi kepala tambah pening mengagak- agak ukuran baju orang. M - L - XL - XXXL karena macam macam bentuk kawan awak itu. Ada yang gendut ada yang kurus ada yang BPDSU *besar perut dari susu.

Belum lagi masalah warna yang cocok. Trus kalok awak belik yang murah, bisa gatal-gatal badan orang makeknya. Awak belik yang lumayan harganya, tak tolap duitnya. Habis waktuku seharian tersita buat itu.

Abis itu awak pulak yang pening pas ngepak-ngepak barang. Kalau kilo bagasi over dosis, bukan tak sedap itu nenteng2 barang naik ke pesawat itu woii. Belum lagi aku orangnya pelupa , lalap bertinggalan barangku. Kececer dimana mana.

Yang sedapnya lagi , kalau bawa oleh oleh makanan. Udah capek awak bawa kacang bali itu biar dimakan rame rame sama kawan kawan. Di partumpuan di gereja, atau di arisan misalnya.

Gini pulak katanya : "Jiah.. Kacang kek gininya kau bawak Mak Boy , capek kau bawaknya dari Bali sana, di Indoapril sinipun banyak beserak". Tuh kan. Tapi sambil dikunyahnya jugak kacang bali itu, dia pulak yang paling congok kutengok.

Makanya kalau aku jalan jalan, Tak pernah kupikirkan lagi oleh oleh itu. Yang kupikirkan hanya ongkos ku PP (pergi-pulang). Biaya penginapan, dan biaya makan, serta biaya tak terduga. Tak ada kualokasikan dana untuk oleh oleh. Lalu sehari sebelum pulang, kalau masih memadai uangku yang sisa.

Barulah aku membeli oleh oleh untuk orang orang yang aku rasa patut aku bawakan. Terlebih bagi orang yg selalu membawakanku oleh oleh, meskipun aku tidak pernah meminta. Tapi itu juga kalau ada sisa duitku lo..Kalau gak, ya gk beli apa apa, dan aku tidak pernah terbeban untuk itu.

Aku gk mau mengada-ada kalok tak ada. Aku memang kek gitu orangnya. Lagian dalam setahun aku bisa beberapa kali jalan jalan,
Masa beli oleh-oleh melulu? Mikir

Trus.. Kalau aku baru pulang jalan jalan.
Lalu ada yg minta oleh oleh gimana dong?
Ya aku senyum-senyum manis aja.
Trus cengar cengir.

Ya udah.. gitu aja Hahaha...๐Ÿ˜€๐Ÿ˜๐Ÿ˜‚ Kalau orang di Binjai itu udah tau kebiasaan mak Boy. Jadi mereka gk mengharap dibawakan. Paling kalau ada yg pengen, mereka langsung to the poin , langsung ngejapri gw.

Mak Boy belikan yang seperti ini ya...
Trus dia kirim potonya lewat WA
Lalu transfer uangnya lewat ATM .
Ya aku belikan dengan senang hati.

Jadi....Janganlah kalian seenaknya menuduh seseorang itu pelit atau apa..Kalau oleh oleh yang kamu terima itu tidak berkenan dihatimu. Janganlah kamu merasa "seberapalah" itu harga oleh oleh yang kamu terima. Kalau dikalikan sekian banyak untuk sekian orang sudah berapa duit..?

Kamu aja bawa kresek belanjaan sudah repot nentengnya dari pajak/pasar. Coba bayangkan. Gimana orang yg menggeret-geret koper menenteng kardus dan tas, di sepanjang perjalanan.

Kalau kamu dapat oleh oleh meskipun sekedar gantungan kunci atau batik murahan yang luntur. Berbahagialah untuk itu, artinya kamu masih di ingat oleh temanmu. Gak seperti aku yang gk pernah ingat sama kamu.

Kemarin aku tanya anakku Simeon yang di Jogja, mau dibawakan oleh oleh apa?

Katanya : " Gak usah ma.. Nanti biar aja Meon yang beli sendiri"
Aseeeek.. keren anak gw, itu artinya suatu saat nanti dia akan ke tempat dimana aku pergi.

Kalau anakku Boy Steven Damanik. Gk pernah aku tanya mau dibelikan apa. Aku bawakan cerita saja dia sudah senang. Lagian Boy itu emang seperti Mak Boy , hobby jalan jalan, jadi tau sama taulah kami ๐Ÿ˜‰

Lalu aku tanya si Leo Leonardo Damanik mau dibawakan apa dan menantuku itu pengennya apa? Soalnya setiap aku pergi jalan jalan kemanapun itu, ini anak selalu kasi uang jajan buat aku ๐Ÿ˜Š.

Sayangnya Leo menjawab : "Terserah mamah". Hmmm.. ..๐Ÿ™„.Jawaban yang paling aku gk suka itu adalah kata kata "terserah".Gw gk mau pusing mikirkan maunya orang itu seperti apa.
 
Kata terserah itu bagiku 2 arti. Pertama kalau dibelikan ya bagus. Kedua kalau gak dibelikan juga tidak apa apa. Maka dengan senang hati aku pilih yang kedua. Maka aku gk belikan apa apa . Kapok kau Leo hahaha ๐Ÿ˜œ๐Ÿ˜€๐Ÿ˜‚*Gudmoning sayang aku. (FB-Anita Martha Hutagalung)

Aksi Teror di Mapolsek Maro Sebo Muarojambi, Aipda Asp Manalu dan Bripka Sanggap Tinanbunan Korban Sabetan Sajam

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 22 May 2018 | 23:31


Pelaku berinisial AS, warga Danau Lamo, Kabupaten Muarojambi saat diamankan petugas, Selasa (22/5/2018).(Istimewa) 
BeritaSimalungun, Muarojambi-Aksi penyerangan Kantor Polsek Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, Provinsi Jambi, oleh orang tak dikenal, Selasa (22/5/2018), mengakibatkan dua anggota polisi terluka. Kedua korban adalah Aipda Asp Manalu dan Bripka Sanggap Tinanbunan. Saat kejadian, keduanya tengah bertugas jaga di Polsek sekitar Pukul 14.30 WIB.

Di RS Bhayangkara Jambi, ruangan IGD tempat kedua korban dirawat dijaga ketat oleh aparat kepolisian. Kondisi kedua korban kini sudah membaik dan mendapat jahitan dikepala akibat luka benda tajam. Kini keduanya tengah dirawat intensif.

Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS yang meninjau lokasi kejadian Selasa (22/5/2018) kepada wartawan mengatakan, bahwa pelaku telah ditangkap. Pelaku berjumlah satu orang berinisial AS, warga Danau Lamo, Kabupaten Muarojambi. 
Kapolda Jambi Brigjen Pol Muchlis AS yang meninjau lokasi kejadian Selasa (22/5/2018). (Istimewa) 
“Pelaku sudah kami tangkap. Pelaku kami tangkap di kediamannya,” ujar Muchlis usai mengecek kondisi di Mapolsek Maro Sebo usai penyerangan. Saat ini, lanjut Muchlis, pelaku masih dalam proses pemeriksaan dan belum bisa dipastikan apakah aksinya terkait dengan terorisme atau tidak. Sampai sekarang kami anggap sebagai orang tak dikenal (OTK)," tutur Muchlis.

Polsek Maro Sebo Dijaga Ketat

Pascapenyerangan, Polsek Maro Sebo, Muarojambi, dijaga ketat polisi. Penyerangan pria berparang di Polsek membuat dua polisi dirawat karena luka sabetan senjata tajam dikepala.

Penjagaan dilakukan personel polisi bersenjata lengkap. Mereka berjaga mulai area pintu masuk hingga halaman Polsek, Selasa (22/5/2018). Garis polisi juga masih terpasang melintang di bagian depan dan sisi kanan polsek.

“Dua anggota masih dirawat, mereka mengalami luka sabetan di kepala dan di punggung saat diserang pelaku," kata Kabid Humas Polda Jambi AKBP Kuswahyudi Tresnadi.

Polisi masih memeriksa pelaku penyerangan berinisial AS. Tapi hingga saat ini pelaku masih menolak bicara soal motif penyerangan. 

“Belum dapat kita ketahui motif pelaku ini. Dia masih bungkam, kini kita masih mencari tahu terkait hal ini," sambung Kuswahyudi.
“Kapolda juga telah menginstruksikan agar seluruh jajaran kepolisian Polda Jambi diperketat penjagaannya," kata Kuswahyudi.

Masih Diperiksa

Pria berparang yang menyerang polisi di Polsek Maro Sebo, Jambi, masih diperiksa. Pelaku dengan senjata tajam melukai dua polisi yang sedang berjaga. “Pelaku sudah diamankan, dan dalam pemeriksaan," ujar Kapolres Muarojambi AKBP Mardiono saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (22/5/2018) malam.
Korban Aipda Asp Manalu dan Bripka Sanggap Tinanbunan. IST
Dari informasi yang dihimpun, pelaku penyerangan berinisial AS dibawa ke Mako Brimob Polda Jambi untuk menjalani pemeriksaan. 

“Datang seorang tak dikenal dengan menggunakan sepeda motor dan membawa senjata tajam jenis parang dengan membabi buta menyerang anggota polsek yang sedang berjaga," ujar AKBP Mardiono.

Selain membuat dua polisi terluka terkena sabetan senjata tajam, terjadi kerusakan di ruang Mapolsek. “Kerusakan pada ruangan penjagaan dan kerusakan pada jendela-jendela polsek. Kemudian orang tak dikenal tersebut melarikan diri dengan sepeda motor," katanya.

Penyerang di Polsek Maro Sebo, Jambi, membabi-buta menebaskan parang. Pelaku menghampiri petugas personel Polsek Maro Sebo.
Pelaku berhasil ditangkap beberapa saat kemudian. Polisi tengah mendalami motif penyerangan yang dilakukan satu orang pelaku ini. (BS-Lee)

“Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS dari Pesisir Danau Toba”

Parialus Saragih, Tiga Tahun Lumpuh Tak Dapat Pelayanan Kesehatan
Parialus Saragih Sidauruk, warga Desa Hutaimbaru, Kecamatan Pematangsilimakuta, Kabupaten Simalungun yang sudah tiga tahun sakit dan lumpuh. Foto diambil Rabu, 9 Mei 2018. (Foto : St Radesman Saragih)
BeritaSimalungun, Hutaimbaru-“Songondia do au on, Ambia. Sahit hon lalap lang malum !!!???”. (Gimana saya ini. Penyakit saya nggak sembuh-sembuh). Itulah sepatah kata yang tercetus dari Bapak Parialus Saragih Sidauruk (70), warga Desa Hutaimbaru, Kecamatan Pematangsilimakuta, Kabupaten Simalungun,Sumatera Utara ketika ditemui di rumahnya, Rabu, 9 Mei 2018.

Dangan nada suara memelas sembari menahan sakit, Parialus yang sudah terbaring karena lupuh lebih tiga tahun terakhir berusaha duduk. Parialus puna berbicara terbata-bata mengenai penyakitnya yang tidak sembuh-sembuh.

Dia hanya bisa pasrah terbaring siang malam di tempat tidur khusus di bagian dapur rumahnya menjalani hari-hari tanpa ada lagi pengobatan. Parialus pun tak bisa banyak berkata-kata karena kondisi kesehatannya masih memprihatinkan.

Sementara isterinya yang merawatnya sejak mengalami lumpuh tiga tahun lalu sudah meninggal dunia tahun 2017. Saat ini Parialus hanya dirawat anaknya, Jelis (30) yang tidak bisa berjalan karena kedua kakinya cacat sejak kecil.

“Mintalah sebatang rokok dulu. Rokok apa pun jadilah,”kata Parialus mengakhiri percakapan singkat dengan penulis.

Tidak Berobat

Sementara itu Jelis yang setia merawat ayahnya mengatakan, setelah ibundanya meninggal tahun lalu, ayahnya tidak pernah lagi dibawa berobat. Sedangkan kakak Jelis tinggal jauh di Pekanbaru, Riau. Seorang kakak laki-laki Jelis yang tinggal bersama di rumah mereka lebih banyak mengurus keluarga dengan anak yang masih kecil-kecil.
Jelis Saragih Sidauruk (30) yang setia merawat ayahnya Parialus Saragih Sidauruk kendati kondisinya juga memprihatinkan karena mengalami cacat atau kaki lumpuh sejak usia lima tahun. Foto diambil Rabu, 9 Mei 2018. (Foto : St Radesman Saragih)
“Jadi saya lah yang merawat ayah. Memasak nasi, memberi makan dan berbagai keperluan ayah terpaksa saya lakukan sendiri, kendati saya pun tidak bisa berjalan,”keluhnya.

Jelis mengatakan, Dia pun sering menguatkan hati ayahnya supaya menerima keadaannya dan tak lupa berserah kepada Tuhan.

 “Saya sering bilang sama ayah agar pasrah menerima keadaannya yang sakit. Saya bilang agar ayah berserah pada Tuhan karena tak ada lagi orang yang bisa membawanya berobat karena ibu kami sudah tiada,”katanya.

Jelis mengakui, pihak kepala desa, dinas kesehatan, puskesmas dan pihak gereja jarang mengunjungi ayahnya yang sudah hampir tiga tahun terbaring di tempat tidur.

Jelis juga mengatakan bahwa ayahnya hingga kini tidak masuk program Jaminan Kesehatan Masyarakat Daerah (Jamkesmasda) dan tidak memiliki Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN - KIS).

“Saya juga tidak tahu persis kenapa tidak ada perhatian dinas kesehatan, pemerintah desa dan pihak gereja mengurus JKN – KIS ayah. Kalau saya tidak bisa mengurusnya. Saya tidak bisa kemana mana karena kondisi kaki saya yang cacat,”katanya.

Kondisi demikian membuat Jelis juga hanya bisa pasrah saja melihat kondisi ayahnya. Dia begitu setia menemani dan merawat ayahnya.

 “Gimana lagi dibikin, Bang. Sudah begini keadaan yang menimpa kami. Ya, diterima aja. Belanja saya dan ayah sehari-hari, kakak perempuan saya yang tinggal di Pekanbaru yang ngirim setiap bulan. Pengurusan karu JKN –KIS juga tak ada yang peduli,”katanya.

Menurut pengamatan Jelis, ayahnya lumpuh bukan karena penyakit stroke. Masalahnya walau pun kaki dan tangannya lumpuh, tapi sensorik atau respon kaki dan tangannya terhadap sentuhan masih ada.

“Ayah saya masih merasa sakit ketika saya mengurut tangan dan kakinya yang lumpuh. Berarti syarafnya masih berfungsi. Kalau stroke, tentunya syaraf kaki dan tangannya tidak berfungsi dan  pasti terasa kebas,”katanya.

Kartu Sehat

Sementara itu, St B Manihuruk, mantan Pengantar Jemaat (Ketua Majelis Jemaat) Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Hutaimbari mengatakan, Parialus yang sudah lumpuh tiga tahun tidak pernah lagi dibawa berobat menyusul kepergian isterinya untuk selamanya.

Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun atau pihak Rumah Sakit Bethesda GKPS Seribudolok juga tak pernah melakukan aksi pelayanan kesehatan ke desa itu. Kondisi tersebut membuat Parialus tak pernah mendapat pelayanan kesehatan dari pemerintah maupun GKPS.

“Kalau kami di kampung ini diharapkan membawa Parialus berobat ke rumah sakit, kemampuan kami terbatas. Baik dari segi keuangan maupun tenaga,”katanya.

St B Manihuruk menjelaskan, Parialus tidak mendapatkan pelayanan kesehatan melalui Jamkesamda   maupun JKN – KIS karena pihak keluarga Parialus tidak pernah hadir pada pertemuan desa mengenai pelayanan kesehatan. Ketidak-hadiran tersebut disebabkan tidak ada anggota keluarganya yang mewakili.

 “Ketentuannya mungkin seperti itu. Warga desa yang masuk program Jamkesmasda maupun JKN – KIS harus datang pada pertemuan desa. Saya sudah mendapatkan kartu JKN – KIS karena selalu ikut pertemuan desa mengenai program pelayanan kesehatan tersebut,”paparnya.

Jemput Bola

Secara terpisah, Sy Rosenman Saragih, warga GKPS Jambi asal Desa Hutaimbaru mengaku prihatin melihat kondisi Parialus yang saat ini mengalami kondisi sakit parah dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.


Sedihnya,lanjut Sy Rosenman, Bapa Parialus sudah bertahun-tahun sakit lumpuh,namun tidak ada yang membawanya berobat ke dokter. Selama ini Parialus hanya berobat alternatif. Sampai sekarang pun, Parialus tidak pernah menjalani pemeriksaan kesehatan di rumah sakit.

 “Saya sangat prihatin melihat kondisi Bapak Parialus dan Isterinya yang sama-sama lumpuh ketika saya pulang kampung  dua tahun lalu. Saat itu saya diminta mendoakan mereka berdua. Ternyata tahun lalu, isteri Bapa Parialus meninggal dan kini tak ada lagi yang mengurus Bapak Parialus,”katanya.

Menurut Sy Rosenman, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Simalungun dan Yayasan Kesehatan GKPS (Rumah Sakit Bethesda GKPS Seribudolok maupun Rumah Sakit GKPS Pematangraya) perlu melakukan jemput bola datang ke Desa Hutaimbaru memeriksa kesehatan Bapak Parialus.

 “Kalau Bapak Parialus tidak bisa lagi disembuhkan, minimal Dia dapat pemeriksaan kesehatan berkala, bantuan obat-obatan dan bantuan  asupan tambahan makanan gizi. Nah, tugas ini bisa dilakukan melalui aksi pelayanan gratis Yayasan Kesehatan GKPS di Desa Hutaimbaru dan desa sekitarnya di GKPS Resort Tongging. Aksi pelayanan kesehatan gratis ini tentunya sangat tepat dilakukan mengisik Tahun Diakonia GKPS 2018,”katanya. (St Radesman Saragih)

Tortor Simalungun di Puncak Bukit Indah Simarjarunjung

Sulthan Saragih-FB
BeritaSimalungun-SEBAB CINTA SIMALUNGUN. Takdir ku hanya menari dan terus menari untuk Simalungun bersama kaum leluhur. #Dolog Simarjarungjung Tanah Leluhur. (FB-Sanggar Rayantara)
Sulthan Saragih-FB
Sulthan Saragih-FB
Sulthan Saragih-FB




Jangan Menyerah Ompung!!!!! Ketika St RK Purba Pakpak Melawan Penyakitnya

Written By Beritasimalungun on Monday, 21 May 2018 | 18:05

Selamat Ulang Tahun Ke 79 Tahun St RK Purba Pakpak
 
St RK Purba Pakpak (Op Samuel)/ P Br Sitepu. Dok
BeritaSimalungun-“Das bani Hatuaonnima Totap Do Tong Ahu, Ronsi Na Ubanon Hanima, Ahu do Tong Mangombah Hanima. Ahu do Na Dob Mambahen Ai, Anjaha Ahu Ma Namangombah, Ahu ma Na Mangusung Anjaha Ahu na Na Paluahkon”. (Jesaya 46:4). Selamat Ulang Tahun Ke 79 St RK Purba Pakpak ( 12 Februari 2018). 

Sebagai ucapan syukur itu, keluarga besar St RK Purba Pakpak menayangkan Iklan Ucapan Ulang Tahun di Buletin AB GKPS Edisi Maret 2018 lalu. Hidup yang terpatri untuk saluran berkat bagi setiap orang. 

Maaf  saya mencoba merefleksikan Sosok St RK Purba Pakpak, sebagai Teladan dalam keluarga, gereja dan bermasyarakat. Beberapa bulan terakhir, St RK Purba Pakpak (Op Samuel) ini berjuang keras melawan penyakitnya. Selain pertolongan medis di Singapura, Doa-Doa keluarga, Jemaat dan Para Hamba Tuhan, Kolega, dipanjatkan agar diberikan kesembuhan kepada Ompung ini. 
Pdt Riando Tondang STh saat besuk Op St RK Purba di Singapura baru-baru ini.FB
Ditengah mengalami sakit ini, Op Samuel ini tetap semangat dan rajin menyapa lewat media berbagi (WA). Walau berjuang dalam melawan penyakitnya, St RK Purba, tetap bersyukur dan memberikan Petuah-Petuah kepada keluarga dan juga bagi siapa saja yang membesuknya di Rumah Sakit dan kediamannya. 

Oppung ini tidak menyerah begitu saja melawan penyakitnya.Tenaga dan semangatnya tetap membara untuk melawan penyakitnya untuk diberikan Usia Panjang dan menjadi berkat bagi setiap orang. Dimasa Tuanya, St RK Purba sudah menjadi berkat. 

Sudah banyak cerita pahit getirnya dalam menjalani kehidupan ini, namun tetap bersyukur. Soal member dan membantu sesame, tak terhitung lagi dalam memberi bagi banyak orang. Khusus buat GKPS, Keluarga Besar St RK Purba ini, sungguh peduli. 

Semua Keluarga Berdoa, Saya Berdoa, Jemaat Berdoa, agar diberikan kesembuhan bagi Oppung ini dan diberikan Panjang Usia agar lebih menjadi berkat lagi bagi setiap orang. Tuhan Sembuhkan Ompung Ini!.

Sebagai seorang penulis, Saya pernah menuliskan Sosok St RK Purba dalam berbagai kegiatan social dan kegiatan gereja. Berikut ini sejumlah tulisan Saya tentang Sosok St RK Purba yang sudah pernah dipublikasikan dimedia massa. 

Pada Jumat, 5 September 2008, lalu kali pertama saya menulis sosok St RK Purba. Saya berikan  Judul Tulisan itu “Tokoh Simalungun Perantauan yang Peduli Dengan Rumah Tuhan”

“Siparutang Do Ahu Bani Huta Hinalang” (saya punya hutang kepada kampung halaman Hinalang). Sepenggal kalimat penuh makna itu membuat St RK Purba Pak-Pak, seorang Putra Simalungun asal Desa Hinalang, Kecamatan Purba yang sukses merantau di Jambi  terpanggil untuk membangun rumah Tuhan (Gereja) di kampung halaman. 
St RK Purba Pakpak memberikan Kue Ulang Tahun Pesta Jubileum 100 Tahun GKPS Hinalang, Minggu (7/9/2008) di GKPS Hinalang. Foto Asenk Lee Saragih
Keterpagilannya untuk membangun kampung halaman dia wujudkan melalui bantuan pembangunan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Hinalang yang pembangunannya sudah mantap serta diresmikan pada Minggu 7 September 2008 silam sejurus dengan Pesta Jubileum 100 Tahun GKPS Hinalang.

“Saya merasa berhutang untuk kampung Hinalang. Orang tua saya dulu di sana sebagai kepala kampung. Selaku putra kelahiran Hinalang, sudah merupakan keterpanggilan untuk membangun kampung halaman itu, khususnya dalam pembangunan tempat beribadah,” ujar St RK Purba Pakpak saat berbincang-bincang dengan penulis yang saat itu sebagai Jurnalis Batak Pos di kediamannya di Jalan Karya Maju Telanaipura, Kota Jambi.
GKPS Hinalang.Foto Asenk Lee Saragih
Keterpanggilan St RK Purba berbuat untuk kampung halaman, karena melihat antusiasme jemaat GKPS Hinalang beribadah. “Hati nurani kami terpanggil untuk menyisihkan sebagian rezeki untuk menyumbangkan pembangunan gereja tersebut,” katanya.

St RK Purba Pakpak Mantan Pengantar Jemaat GKPS Jambi selama dua periode ini menuturkan, awal keterpanggilan untuk membantu membangun GKPS Hinalang, saat itu datang utusan dari GKPS Hinalang dan warga Hinalang ke Jambi 3 orang.

"Utusan itu membawa Dayok Mira (ayam jantan merah) sebagai ucapan syukur dan mohon doa restu sebagai permintaan masyarakat dan warga GKPS Hinalang agar kami bersedia menjadi Ketua Umum Pembangunan Renovasi GKPS Hinalang,"kata St RK Purba Pakpak didampingi istri tercinta P br Sitepu.

Menurut anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan Hakim Huta Purba Pakpak (Alm)- R br Sinaga ini, keterpanggilannya untuk membangun GKPS Hinalang juga disebabkan melihat antusiasme sekitar 170 kepala keluarga warga GKPS Hinalang yang rajin kegereja.

"Mereka semua semangat dalam kebersamaan dalam membangun gereja. Padahal ekonomi mereka susahnya, namun semangat gotong royongnya luar biasa. Bahkan tidak itu saja Ompung-ompung yang sudah pakei tongkat pun rajin kegereja. Melihat keadaan itu, kami sangat terpanggil untuk menyisihkan sebagian dari berkat Tuhan untuk disumbangkan untuk gereja itu,"ujar Tokoh Simalungun kelahiran 12 Februari 1939 ini.

Menurutnya, kalau semua orang Simalungun yang sukses di perantauan peduli terhadap kampung halaman, pembangunan GKPS di Simalungun tidak seperti sekarang ini masih banyak yang terbengkalai.

Ayah dari St RK Purba Pakpak, Hakim Huta Purba Pakpak adalah tokoh masyarakat yang disegani di Hinalang. Almarhum merupakan Kepala Desa Hinalang seumur hidup yang menjadi panutan bagi masyarakat Hinalang.

Kesuksesan St RK Purba Pakpak membuka usaha perminyakan, angkutan BBM, perkebunan dan usaha lainnya, juga diikuti seluruh putra-putrinya. Saling bahu membahu dan prinsip kebersamaan merupakan kunci sukses keluarga St RK Purba dalam membangun usahanya di Jambi.

Seluruh perusahaan yang saat ini dipercayakan kepada anak dan menantunya, juga peduli terhadap tenaga kerja khususnya dari Simalungun (Hinalang). Selain itu juga merekrut karyawan yang jujur dan mau bekerja keras. Tidak berlebihan, kalau St RK Purba Pakpak bersama istri tercinta  banyak menghabiskan waktu berwisata ke luar Negeri seperti ke Jerusalem, Eropa, Tokyo, Singapura dan Hongkong.

Kedermawanan St RK Purba untuk pembangunan tempat ibadah tidak hanya pada Gereja. Untuk pembangunan Mesjid disekitar tempat tinggal dan usahanya di Jambi, dirinya juga dengan iklas menyumbang.

Selain GKPS Hinalang, pembangunan sejumlah gereja di GKPS dan gereja lain kerap juga St RK Purba pakpak kerap menyumbang. Diusia pensiaun saat ini St RK Purba Pakpak hidup dalam kebahagian dan kesederhanaan. Sosok Putra Simalungun ini, menjadi salah satu teuladan bagi Putra Simalungun yang sukses di perantauan.

100 Tahun GKPS Hinalang

Sementara itu, pada tanggal 7 September 2008 usia GKPS Hinalang genap berusia 100 tahun. Usia se-abad ( 7 September 1908-7 September 2008) GKPS Hinalang semakin mengikuti perkembangan jaman. Dengan bertambahnya jumlah jemaat dari tahun ke tahun, membuat GKPS Hinalang saat direnovasi total. Pesta Jubileum GKPS Hinalang dilaksnakan Minggu (7/9/2008) di GKPS Hinalang.

Hadir pada pesta itu Ephorus GKPS Pdt Belman Purba Dasuha, Bupati Simalungun Drs Zulkarnael Damanik dan ribuan undangan serta tokoh Simalungun asal Desa Hinalang.

Tidak tanggung-tanggung, total biaya pembangunan GKPS Hinalang menelan dana Rp 2,5 miliar. Suatu angka yang fantastis dalam pembangunan rumah ibadah di Tanah Simalungun. Suksesnya pembangunan GKPS Hinalang, tidak terlepas dari partisipasi St RK Purba Pakpak, Putra Hinalang yang sukses buka usaha di Jambi.

“Sekitar Rp 1,5 miliar sudah kita sumbangkan untuk pembangunan GKPS Hinalang. Gambar desain gereja itu adalah hasil karya Putra Simalungun juga. Awal pembangunan renovasi total GKPS Hinalang pertengahan tahun 2006 lalu. Luas bangunan gereja 25 meter X 40 meter. Luas areal tanah sekitar 3500 meter persegi,”kata St RK Purba Pakpak.

Disebutkan, selaku Ketua Umum Pembangunan GKPS Hinalang saat itu, St RK Purba cukup tegas dalam pengawasan bangunan. Tulang rangka bangunan gereja terbuat dari baja dan perlengkapan bangunan lainnya merupakan bahan bangunan pilihan.

“Pintu utama gereja dan daun jendela dikirim langsung dari Jambi yang terbuat dari kayu pilihan. Bentuk pintu merupakan adopsi pintu GKPS Jambi yang bentuknya menyerupai Salib dalam keadaan tertutup. Motif pintu itu diilhami dari sebuah gereja Katolik di Sibolga yang ditunjukkan oleh Mantan Menteri Pertanian RI Prof Bungaran Saragih,”katanya.

Walaupun St RK Purba berdomisili di Jambi, pengawasan terhadap pembangunan gereja itu tetap intensif. Dirinya mempercayakan kepada Sahula Sipayung yang mengontrol langsung di lapangan.

Bahkan saat berbincang bincang dengan penulis, ST RK Purba Pakpak menyempatkan diri untuk berkomunikasi jarak jauh guna mengetahui perkembangan terbaru pembangunan gereja itu. 


Menurut Tokoh Simalungun di Jambi yang juga loyal terhadap masyarakat Simalungun, khususnya asal Hinalang ini, pembangunan GKPS Hinalang selasai dan diresmikan bertepatan dengan Pesta Jubileum 100 Tahun GKPS Hinalang, September 2008 lalu.

Lokasi GKPS Hinalang yang menjadi induk Resort Hinalang itu, dibangun diatas tanah ulayat Masyarakat Desa Hinalang. Perjalanan pembangunan gereja itu juga dilandasi semangat gotong royong dari seluruh warga Jemaat GKPS Hinalang.

“Saya merasa bersyukur dapat menyisihkan rezeki untuk pembangunan gereja itu. Kerinduan saya pembangunan GKPS Hinalang bisa maksimal sehingga hidup dalam kebahagian yang berdasarkan berkat Tuhan Yang Maha Esa. 


“Siparutang Do Ahu Bani Huta Hinalang” adalah semboyan yang harus saya bayar,”ujar Ompung Samuel ini.

Kepedulian St RK Purba Pakpak dalam pembangunan rumah ibadah, tidak pada GKPS Hinalang  saja. Pembangunan GKPS Jambi juga merupakan sumbangsih dari sebagian rezeki keluarganya. Dirinya juga memberikan hati untuk pembangunan rumah ibadah lainnya, termasuk Mesjid di Jambi.

Sementara itu, disaat GKPS Simpang TKA yang berlokasi di Dusun Baru, Desa Rantau Ikil,  Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Senin, 30 Juli 2007 silam dibongkar paksa oleh warga setempat, juga mengundang keprihatinan St RK Purba.

Sebanyak 33 keluarga komunitas Nasrani, warga Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Simpang TKA kilometer 44, Desa Rantau Ikil itu teraniaya oleh sekelompok warga setempat yang tak bertanggung jawab.

Bahkan pembakaran 30 unit rumah milik warga pendatang asal Simalungun dan Karo Sumatera Utara 28 Juli 2007 lalu, menyisakan luka mendalam umat Nasrani di sana. Bahkan warga pendatang itu diwajibkan membayar denda Rp 90 juta sebagai perdamain secara adat. 

St RK Purba, sangat prihatin mendengar kondisi gereja GKPS Simp TKA tersebut saat itu. Dirinya juga memberikan motivasi kepada warga GKPS Simp TKA untuk tetap berusaha mendekatkan diri dengan warga sekitar.

“Saya harapkan terus dilakukan pendekatan persuasif. Sehingga izin bangunan tersebut dapat keluar. Saya bersedia menyumbangkan seluruh atap seng untuk gereja tersebut. Semoga warga GKPS Simp TKA sabar dan teguh dalam iman. Saya juga menyumbangkan seng untuk bangunan gereja tersebut,” demikian kata St RK Purba saat Synode GKPS Resort Jambi, awal Maret 2008 lalu. (Tulisan Ini Naik Cetak di Surat Kabar Harian Batak Pos Edisi 5 September 2008).

Berbagi Kebahagian di Pesta HUT Perkawinan Ke 40 Tahun

Tulisan Saya yang berikut ini, menorehkan kebahagian seseorang bisa juga dinikmati banyak orang. Kebahagian yang penuh berkat yang dirasakan pasangan suami istri St RK Purba Pakpan/ P br Sitepu di hari perkawinan ke 40 tahun (27 Februari 2009) lalu, juga dibagikan kepada anak cucu, saudara seiman, saudara terdekat dan seluruh handataulan serta rekan bisnis.

Hal itu yang diwujudkan St RK Purba Pakpak saat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) perkawinannya dengan istri tercinta P br Sitepu. Suka dan duka dalam mengarungi bahtera rumah tangga hingga usia 40 tahun, sudah penuh asam garam dalam kehidupan Pria asal Desa Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun ini.

Syukuran HUT Perkawinan ke 40 ini dilaksanakan di Gedung Ratu Convention Centre (RCC) ratu Hotel, Telanaipura, Kota Jambi. Hampir seribuan undangan memadati gedung tersebut. Berbagai bunga papan sebagai ucapan selamat juga tampak disepanjang lapangan gedung tersebut dari berbagai kalangan.

Kebaktian syukuran itu dipimpin oleh Pendeta GKPS Resort Jambi, Pdt JRR Purba Sth, Vikar Pdt Girsang, Songliders Pemudi GKPS Jambi (Junita Munthe, Rose Sitopu, Wira Sitopu, Henny G Purba) sementara Keyboris Asi M Damanik.

Kebahagian tampak bersinar dari raut wajah pasangan suami istri pada acara tersebut. Kebahagian itu tidak saja dirasakan pasangan suami istri yang sukses membuka usaha di Jambi itu. Mereka juga membagikan kebahagian itu kepada seluruh undangan yang datang.

Kemewahan tampak dalam perayaan HUT Perkawinan tersebut. Masalah ala restoran cukup memanjakan lidah para undangan. Kemegahan acara juga tampak pada dekorasi ruangan yang megitu menarik dan menyejukkan.

HUT Perkawinan ke 40 St RK Purba Pakpak/ P br Sitepu ini, kebahagiaan para undangan juga dirasakan dengan mendapatkan souvenir dan juga sejumlah kupon gratis BBM 10 liter serta hadiah dorprazi lainnya.Seperti Televisi 29 icn, lemari es, HP, dan masih banyak lagi.

Pesta HUT tersebut juga dihibur oleh artis lokal Jambi serta musik dan lagu Simalungun dan Karo. Suasana pesta tampak meriah dibalut dengan silaturahmi satu dengan yang lain.

Dua minggu sebelumnya (12 Februari 2009) St RK Purba Pakpak juga merayakan HUT hari kelahiran 70 tahun. Diusianya yang sudah memasuki usia lanjut, St RK Purba tetap tampak sehat dan rutin dalam beraktivitas.

Kehidupannya hampir sempurna sejak menjelajah ke Tanah Kelahiran Yesus Kristus Jerusalem. Perjalanan hidup St RK Purba beserta istri tercinta patut menjadi teladan bagi seluruh keluarga, terlebih bagi orang perantau yang selalu tekun dalam doa serta bekerja keras dalam berusaha. (Tulisan ini sudah dimuat di Majalah Sauhur Edisi 10 (April-Mei 2009).

Tanda Syukur St RK Purba Pakpak-P br Sitepu

Sementara pada Selasa, 18 Februari 2014 lalu, Saya menuliskan HUT Ke 75 St RK Purba Pakpak dan HUT Perkawinan Ke 45 St RK Purba Pakpak-P br Sitepu. 


Judul tulisan Saya kala itu “Tanda Syukur St RK Purba Pakpak-P br Sitepu, Hibahkan Mobil Operasional Pendeta GKPS Resort Jambi”.
HUT Ke 75 St RK Purba Pakpak dan HUT Perkawinan Ke 45 St RK Purba Pakpak-P br Sitepu.

HUT Ke 75 St RK Purba Pakpak dan HUT Perkawinan Ke 45 St RK Purba Pakpak-P br Sitepu.

Sebagai tanda syukur di HUT Ke 75 St RK Purba Pakpak dan HUT Perkawinan Ke 45 St RK Purba Pakpak-P br Sitepu, mereka menghibahkan kenderaan operasional Pendeta GKPS Resort Jambi berupa satu unit mobil jenis Xenia Delux warna putih metalik.

Menginjak usia 75 tahun kala itu, St RK Purba Pakpak sangat terharu atas pemberian mengejutkan dari Inang P br Sitepu, kepada Pengurus GKPS Resort Jambi. Pemberian mengharukan itu, diucapkan St RK Purba dengan mata berkaca-kaca.

“Saya terharu, disaat usia saya menginjak 75 tahun, ibu kami P br Sitepu memberikan penghargaan mengharukan sebuah kenderaan operasional kepada Pengurus GKPS Resort Jambi. Kami sangat berhutang kepada Tuhan, dan ini tak seberapa demi pelayanan. Ini sebagai ucapan syukur yang berkat berlimpah yang diberikan Tuhan kepada kami. Semoga tanda syukur ini bisa bermanfaat untuk kemuliaan Tuhan dan pelayanan di GKPS Resort Jambi,” ujarnya.

Secara simbolis, kenderaan Xenia warna putih metalik itu diserahkan oleh St RK Purba/ P Br Sitepu, Petrus Purba/ br Haloho, P Sitanggang/br Purba kepada Pengurus GKPS Resort Jambi, Pdt JP Tamsar, St JB Sitopu, St M Saragih, Sy Awal DJ Damanik, St J Girsang usai ibadah, Sabtu (15/2/2014).

Acara pembukaan stiker GKPS dan pintu mobil serta pemberian simbol "Beras Tenger" (taburan beras) pada mobil sebagai tanda selamat pakai mobil. "Boras tenger" itu dilakukan St RK Purba/ P br Sitepu dan Petrus Purbadisaksikan Pengurus GKPS Resort Jambi usai acara syukuran.

Usai ibadah, pada saat itu juga keluarga besar St RK Purba/ P br Sitepu juga memberikan bingkisan kepada para Pendeta yang diundang pada acara itu. Bingkisan itu diberikan kepada Pdt JP Tamsar STh, Vik Pdt P Sipayung STh, Pdt MH Purba Tamsar (Ketua PGIW Jambi), Pdt Pinem (GBKP Kotabaru Jambi), Pendeta GBKP KM 46 Lintas Timur Sumatera-Jambi.


“Bingkisan ini sebagai ucapan sukacita dan syukur atas bimbingan para Pendeta terhadap keluarga besar kami. Bingkisan ini sebagai rasa syukur dan reward kepada pendeta tetap setia dalam pelayanan,” ujar St RK Purba yang juga mencetak 250 eksamplar buku Tata Ibadah GKPS bahasa Indoensia untuk GKPS Kotabaru Jambi.

Sementara Keluarga Sy Awal DJ Damanik/br Purba Pakpak menghibahkan satu unit sepeda motor jenis Supra Fit untuk perasional Pendeta GKPS Resort Jambi. Sedangkan Jemaat GKPS Jambi memberikan kenderaan operasional satu unit sepeda motor Revo kepada Vik Pdt P Sipayung STh. 


Pdt JP Tamsar STh dan Pengurus GKPS Resort Jambi mengucapkan terimakasih atas songgot-songgot kejutan dari  keluarga besar St RK Purba/ Br Sitepu yang selalu peduli terhadap pelayanan di GKPS dan rumah ibadah lainnya.    

Mengandalkan Tuhan dan Menjadi Berkat Bagi Orang Lain

“Sungguh, umur panjang ada di tangan kananNya, di tangan kiriNya kekayaan dan kehormatan. Hidup dimintanya dari pada-Mu; Engkau memberikannya kepadaNya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya. Karena oleh Aku umurmu diperpanjang, dan tahun-tahun hidupmu ditambah”.
St RK Purba/ Br Sitepu

Demikian kutipan Injil Amsal 3: 16, Mazmur 21:5 dan Amsal 9: 11 pada tata ibadah kebaktian syukur Hari Ulang Tahun (HUT) Ke 75 ( 12 Februari 1939-12 Februari 2014) St RK Purba Pakpak dan HUT perkawinan Ke 45 (27 Februari 1969-27 Februari 2014) St RK Purba Pakpak dengan P br Sitepu di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) Jambi, Sabtu (15/2/2014).

Ibadah dipimpin Pendeta GKPS Resort Jambi, Pdt JP Tamsar STh, nyanyian Vik Pdt P Sipayung STh dan Doa Syafaat Pdt Jhon Ricky R Purba MTh, Persembahan Sy RI Girsang, Sy Salmen Purba dan Organis Sy Friston R Sinaga SPd. Sementara yang menghitung persembahan St R Saragih dan Sy R Tondang. Ibadah syukur itu dihadiri sekitar 350 jemaat dan undangan.

“Sudah berpuluh tahun ya Tuhan, Engkau memelihara hidup kami, dengan murah Engkau anugerahkan putra dan putri juga cucu, sungguh tak terukur bahagia ini. Banyak suka duka selama 45 tahun ini telah kami lewati, kalau mengingat ke belakang sungguh kami mengakui, bukan kuat kami, tapi hanya pertolongan Tuhan sajalah yang memelihara keluarga kami,” demikian  ucapan syukur St RK Purba Pakpak dengan P br Sitepu saat ibadah.

“Terimakasih Tuhan, Engkau memberikan kesehatan, panjang umur dan limpah sukacita kepada orang tua kami ini. Semakin berkatilah orang tua kami ini Tuhan, agar dalam masa tuanya semakin menjadi berkat bagi orang lain,” ujar anak dan cucu St RK Purba Pakpak dengan P br Sitepu pada ibadah itu.

Dalam ibadah juga menampilkan puji-pujian dari Vokal Group (VG) GKPS Tanah Kanaan Jambi, VG Persekutuan Mak Echa dan Mak Samuel, VG Wanita GKPS Kotabaru Jambi, VG PGKPS Kotabaru Jambi.

Pdt JP Tamsar STh dalam kotbahnya mengatakan, menjadi berkat bagi setiap orang, adalah rencana Tuhan. Hal itu jugalah yang diterima St RK Purba Pakpak dalam usia 75 tahun dan mengarungi rumah tangga dengan P br Sitepu selama 45 tahun.


Mengandalkan Tuhan dalam hidup, tentunya akan membawa berkat yang berkelimpahan. Seperti Injil Mazmur 128: 5-6 menuliskan “Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu, dan melihat anak-anak dari anak-anakmu”.

“Firman Tuhan berkata; Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperhatikan kepadanya keselamatan dari pada-Ku,” demikian Injil Mazmur 91:16 seperti dikutip Pdt JP Tamsar dalam kotbahnya.

Sebelum ibadah di gereja dimuai, sebelumnya keluarga besar St RK Purba/P br Sitepu melakukan doa bersama yang dipimpin oleh Vik Pdt P Sipayung di Gedung Serbaguna GKPS Jambi.

Bernafas dalam Lumpur

St RK Purba Pakpak Pakpak, mantan Pengantar Jemaat GKPS Jambi selama dua periode ini pada sambutannya menuturkan perjalanan hidupnya yang penuh dengan pahit getirnya hidup.

St RK Purba Pakpak, anak kelima dari tujuh bersaudara dari pasangan Hakim Huta Purba Pakpak dengan R br Sinaga. Lahir pada hari Minggu 12 Februari 1939 di Rumah Bolon Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun. 


Rumah Bolon merupakan rumah kerajaan Simalungun pada waktu itu dan satu rumah itu tinggal dengan 18 kepala keluarga.
Sumbangkan Mobil Operasional GKPS Resort Jambi.
Saat usia menginjak 30 tahun, berkenalan dengan P br Sitepu yang merupakan boru tulang asal Desa Suka Nalu, Kabupaten Karo. 

“Inang ini adalah boru tulang, ayah saya dan ayahnya sudah akrab dulu. Jadi kami dipertemukan. Pada tanggal 27 Februari 1969 kami menikah dan diberkati di GBKP Kabanjahe Kota. Gereja ini merupakan gereja tertua di Kabanjahe,” ujar  putra Hinalang ini mengenang.

“Prosesi adat perkawinan di Kabanjahe sangat berkesan. Sampai-sampai saat acara pemberkatan saya mengantuk di gereja karena capek oleh prosesi adat yang panjang sebagai tradisi budaya di Kabupaten Karo saat itu. Kemudian bersama istri P br Sitepu merantau ke Jakarta dengan naik Kapal Tongho dari Belawan,” kata Ketua Umum Pembangunan GKPS Hinalang ini.

Tinggal di rumah kontrakan berukuran 3x12 meter di Grogol. Tidak ada kursi tamu, hanya tikar yang diberikan mertua dari kampung.


“Saat kami membeli rak piring rotan seharga Rp 15 ribu, hal itu sudah hal istimewa saat itu. Tidak terceritakan perjuangan hidup ini, sulit untuk diceritakan. Kami ibaratkan sudah bernafas dalam lumpur,” ujar Oppung Samuel ini.

Jambi Tanah Kanaan

Mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan, itu yang dirasakan keluarga St RK Purba Pakpak dengan P br Sitepu hingga kini diberkati 4 anak dan 10 orang Pahompu (cucu-red). Jambi bagi mereka merupakan tanah berkat atau “Tanah Kanaan” yang diberikan Tuhan.


“Jambi ini merupakan Tanah Kanaan bagi keluarga kami. Di Jambi ini kami mendapatkan banyak berkat. Inilah pemberian Tuhan kepada kami. Kami merasa berhutang pada Tuhan, dan kami mencurahkan sebagian berkat itu demi kemuliaan Tuhan lewat pelayanan-pelayanan di gereja,” ujar tokoh Simalungun di Jambi yang tinggal di Jalan Karya Maju Telanaipura, Kota Jambi ini. 

Kesuksesan St RK Purba Pakpak membangun sejumlah usaha mulai dari perminyakan, gas, angkutan BBM, perkebunan dan usaha lainnya, juga diikuti seluruh putra-putrinya. Saling bahu membahu dan prinsip kebersamaan merupakan kunci sukses keluarga St RK Purba dalam membangun usahanya di Jambi. Dan kata kuncinya tetap memohon Doa pertolongan Tuhan.

“Tuhan tidak menutup mata bagi orang-orang yang meminta permohonan kepadaNya. Bagi warga yang belum beruntung jangan putus asa, dan tetap semangat menjalani hidup. Berkat yang kami terima ini adalah pemberian Tuhan dan semoga juga sebagian untuk kemuliaan Tuhan melalui pelayanan-pelayanan,” ujar St RK Purba.

Saat menginjak usia 75 tahun dan HUT Perkawinan 45 tahun, St RK Purba mengaku “masih ok” dalam hal berbuat pelayanan dan bersosial terhadap sesama. Jadi berkat bagi orang lain, sudah menjadi prinsip hidup St RK Purba/br Sitepu dan keluarga besar.

“Saya dikarunia 5 anak, empat perempuan, 1 laki-laki dan 10 pahompu. Ini semua berkat dari Tuhan. Walau sudah tua begini tapi masih oke,” kata St RK Purba yang disambut tepuk tangan jemaat.

St RK Purba juga mengatakan alasan perayaan ulang tahun kali ini diadakan di gereja, bukan di hotel-hotel seperti sebelumnya. 


“Kami ingin merayakan sukacita ini dengan saudara seiman dan keluarga-keluarga semua. Kalau di hotel, gara-gara pejabat, kadang keluarga tidak terakomudir keseluruhan,” ujarnya.

Potong Tumpeng


Usai acara ibadah, dilanjutkan dengan acara pemotongan tumpeng dan jamuan makan bersama di Gedung Serba Guna GKPS Jambi. Acara dipandu oleh St F Sipayung dengan St E br Sitopu dan dihibur musik dan lagu Lae Bakkara. 
Potong Tumpeng
Sebelum pemotongan tumpeng kata sambutan mewakili keluarga besar St RK Purba/br Sitepu yang diwakilkan Bp Petrus Purba/br Haloho (anak laki-laki St RK Purba).

“Terpujilah Allah Bapa di surga, Tuhan kita Yesus Kristus, dan Persekutuan Roh Kudus yang senantiasa memberkati, mengasihi, memberikan nafas kehidupan dan sukacita bagi kita. Tuhan telah mempersatukan kita di tempat ini dalam kebersamaan tali kasih Tuhan melalui acara ibadah Doa Syukur Kebaktian atas HUT Bapak yang ke 75 dan HUT Pernikahan Bapak  dan Mama yang ke 45 tahun,” ujar Petrus Purba saat itu.

“Banyak suka dan duka, tawa-tangis, damai-perselisihan yang mereka (Bapa-Mama) sudah alami dan lalui. Itu semua adalah dekorasi dan lukisan dalam kehidupan keluarga. Terimakasih kita ucapkan kebaikan Tuhan yang memberkati, menguatkan dan menopang mereka,” kata ayah dari tiga anak ini.

Pada acara syukuran itu dua cucu St RK Purba yakni Alima Theresia Stevanova br Damanik dan Nadia Amaris br Sitanggang  membawakan lagu special untuk Ompung.

Kemudian lagu dan puisi juga dipersembahkan Samuel Januardo Purba yang saat itu duduk di kelas 5 SD di HUT tahun 75 tahun St RK Purba dan HUT 45 Perkawinan St RK Purba/ P br Sitepu. Lagu dan puisi dari pahompu (cucu) menambah kebahagiaan St RK Purba/ P br Sitepu.

Usai pemotongan tumpeng, St RK Purba/ P br Sitepu menerima “Dayok Binatur” dari Pengurus GKPS Resort Jambi, Majelis GKPS Tanah Kanaan dan Komunitas Warga Hinalang di Jambi kepada St RK Purba/ P br Sitepu. Hadiah spesial juga diberikan Wakajati Jambi JW Purba Pakpak.

Doa makan disampaikan Pdt Pinem dan undangan menikmati hidangan yang beragam. Tampak sukacita dan kebersamaan pada acara syukuran itu. Hiburan dan tarian sukacita juga  menghangatkan suasana syukuran itu.
Sejumlah hadiah doorprize bagi undangan yang hadir juga diundi sebagai wujud kebahagian saling berbagi. Hadiah itu mulai dari mesin curi, TV LCD, karpet dan peralatan rumah tangga lainnya. (Tulisan Berjudul "Mengandalkan Tuhan dan Menjadi Berkat Bagi Orang Lain" Sudah Naik Cetak di Harian Jambi Edisi Selasa, 18 Februari 2014).

"Asenk Lee Saragih Diatetupa ma ambia. Lang ongga lupa bakku, terlebih selama kurang lebih tiga bulan di RS Hospital Elisabeth Singapura ahu bertarung melawan kanker yang mematikan ini. Kalian semua Berdoa kepada Tuhan, kita memohon kesembuhanku. Percayalah Tuhan Memberikan yang terbaik selalu. Pikiran kita tidak sama dengan pikiran Tuhan. Kita Terima yang Terbaik dari Tuhan, Biarpun yang terburuk kita Rela, Pasrah, dan Mengucap Syukur Selalu. Puji Tuhan. Amin," tulis St RK Purba lewat Group WA Purba PakpakBP Jambi, Senin (21/5/2018) Pukul 23.00 WIB. (BS-Asenk Lee Saragih)













BURSA BALON BUPATI SIMALUNGUN

BURSA BALON BUPATI SIMALUNGUN
SIAPA BUPATI SELANJUTNYA

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun
Buatlah Bangga Orang Tuamu


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Berita Lainnya

.

.
.