. Catatan Pertama Pdt Defri Judika Purba Soal Perjuangan Melawan Covid-19 | BeritaSimalungun
Home » , » Catatan Pertama Pdt Defri Judika Purba Soal Perjuangan Melawan Covid-19

Catatan Pertama Pdt Defri Judika Purba Soal Perjuangan Melawan Covid-19

Written By Beritasimalungun on Monday, 1 February 2021 | 07:36

Pdt Defri Judika Purba.

Pematangraya, BS-
Pdt Defri Judika Purba dan Inang Nofika Frisliani Sinaga dan dua anak mereka akhirnya bisa berkumpul kembali dalamsukacita. Karena terpapar Covid-19 (OTG), terpaksa Pdt Defri Judika Purba mengisolasi diri dari keluarga. Namun dengan perjuangan dan Doa, akhirnya Pdt Defri Judika Purba dinyatakan sembuh dan negative Covid-19.

Pdt Defri Judika Purba menuliskan catatan dalam empat tulisan selama berjuang menghadapi Covid-19. Tulisan itu dibagikan Pdt Defri Judika Purba di laman sosial medianya. Dibawah ini empat tulisan itu Redaksi kutip untuk pembaca BeritaSimalungun yang setia.

Perjuangan  Melawan Covid-19: Awal Mulanya
(Bagian Pertama)

Benar, menurut pemeriksaan SWAB Antigen saya terpapar covid-19. Kenapa bisa tertular? Bagaimana ceritanya? Bagaimana penanganannya? Terus sekarang bagaimana kondisi saya?

Baiklah,  saya akan menjawab  sebagian  pertanyaan di atas, sebagian lagi pada tulisan selanjutnya. Saya merasa perlu untuk menjawab dan menerangkannya supaya  kita semua tahu bersikap kalau seandainya suatu waktu kita terpapar penyakit covid.

Pertanyaan pertama, kenapa bisa tertular, saya tidak tahu. Saya termasuk orang yang taat pada protokol kesehatan dalam setiap aktivitas yang saya lakukan. Stok masker selalu ada di rumah. Di kantung dan tas kecil saya selalu tersedia hand sanitizer. Saya selalu berusaha tidak kontak erat dengan siapa pun selain dari orang yang saya kenal dekat. Intinya, saya selalu berusaha mematuhi protokol kesehatan. Jadi, darimana saya tertular?

Nah, inilah yang ingin saya sampaikan. Darimana saya tertular - sekali lagi - saya  tidak tahu darimana. Saya hanya tahu badan saya tidak enak setelah pulang reatreat keluarga di Pematang Siantar tanggal 04 Januari- 8 Januari 2021. 
 
Hari Jumat kami pulang, esoknya badan saya sudah sakit. Saya berpikir terlalu capek. Saya memang mendonorkan darah pada hari kamisnya. Setelah donor, saya tetap puasa.  Minggu esoknya, saya masih beribadah di GKPS Marturia. Tidak bertugas memang, karena badan saya masih sedikit pegal dan ada pilek. 

Mulai hari senin dan jumat (11 jan- 15 jan), saya masih mengantarkan anak saya sekolah di hapoltakan, Pematang Raya. Saya merasa sehat saja, walau memang saya tetap komsumsi obat pilek ditambah  puding dan banyak istirahat.


Nah, situasi berubah pada hari jumat (15 Januari). Saya merasakan badan saya mulai demam. Saya pun  ditelepon  teman  sewaktu reatreat keluarga di Pematang Siantar bahwa mereka sudah SWAB Antigen dan hasilnya mereka positif covid (Suami-Istri). Mereka bertanya bagaimana kondisi kami. Jujur, saya mengaku agak demam. 

Esok harinya demam saya tidak turun malah naik ke angka 38 derajat celcius. Badan semakin pegal, pilek pun tidak sembuh. Penciuman harus dipaksa supaya bisa dibaui. Awalnya saya berpikir bisa saja saya kena typus karena gejalanya sama. Tapi mengetahui sahabat saya sudah periksa dan hasilnya positif saya pun memutuskan untuk periksa keesokan harinya (Minggu 17 Januari) ke RS Rasyida, Pematang Siantar. 

Singkat cerita, hasil pemeriksaan menunjukkan saya positif covid. Bagaimana perasaan saya? Saya tidak takut atau kwatir dengan hasil tersebut. Saya hanya bingung, bagimana untuk langkah selanjutnya. Saya terpaksa harus isolasi dulu selama sepuluh hari sesuai anjuran dokter. Dimana isolasi? Bagaimana istri dan anak-anak saya? Apakah mereka terpapar juga? 

Di tengah kekalutan berpikir saya pun mengendarai mobil untuk pulang. Saya hanya sendiri dan waktu menunjukkan sudah pukul tujuh malam. Saya pun memberitahukan hasilnya kepada istriku dan ia pun menangis. 

Mendengar dia menangis saya pun bingung bercampur sedikit marah. Kenapa dia menangis? Apakah menangis membantu dalam situasi ini? itulah pikiran saya.  Saya juga memberitahukan kepada saudara saya Jhon Kariando Purba di kampung hasil pemeriksaan. Saudara saya terkejut dan bertanya kenapa bisa terpapar. Saya tidak sempat menerangkan karena masih bingung dan mengendarai mobil. Teman saya yang sudah sudah terpapar  pun saya beritahukan. 

Di tengah perjalanan, saya pun berkomunikasi dengan vikar untuk segera pindah rumah sementara, karena saya mau pakai rumahnya untuk isolasi mandiri. Saya menghubungi pengantar jemaat GKPS Bangun Selamat untuk segera datang ke rumah membantu vikar pindah dan menenangkan hati istriku.

Sampai di raya, saya pun membeli obat-obat yang saya butuhkan. Sebagian sudah saya beli di Pematang Siantar. Setelah cukup saya pun pulang ke rumah kami di Bahapal Raya. Waktu sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam ketika saya sampai di rumah. Istri saya sudah menunggu di pintu begitu juga anak-anak, remiel dan anggita.  

Pengantar jemaat GKPS Bangun Selamat Sudiaman beserta istrinya Jennysaragih Jennysaragih pun sudah di rumah. Remiel dan Anggita  tidak berlari lagi mendekat  untuk dipeluk. Mugkin mereka sudah diberitahu mamanya. Saya pun hanya berhenti di mobil. Pengantar jemaat GKPS Bangun Selamat  menangis melihat saya begitu juga istriku. Saya jadi bingung bagaimana menghadapi situasi yang terjadi.

Setelah berbicara sebentar, saya pun memilih langsung istirahat ke rumah vikar di sebelah rumah kami. Vikar sudah pindah ke rumah pengantar jemaat GKPS Marturia.  Kepala saya masih sakit dan demam sepertinya belum turun. Saya juga belum makan malam. Setelah mandi,  makan malam dan komsumsi obat, saya pun langsung beristirahat seraya berharap situasi akan lebih baik esok harinya.

Sampai hari ini (Minggu 24 januari), saya sudah tujuh hari isolasi mandiri. Butuh tiga hari lagi untuk isolasi sesuai anjuran dokter. Saya pun masih menunggu hasil test swab PCR.  Kondisi saya  sudah semakin baik dari hari sebelumnya. Saya tidak lagi demam. Badan sudah segar dan pilek tidak ada lagi. Lidah saya sudah ingin mengecap makanan b2 panggang, nila panggang dan ayam panggang.  Hehehe.

Saya semakin bersemangat dan optimis untuk bisa menang melawan covid ini dengan kekuatan dan dukungan dari keluarga, teman-teman, jemaat dan tentu saja Dia Sang pemilik kehidupan ini. Bahapal Raya, 24 Januari 2021.(*)
Share this article :

Post a Comment

Halaman FB Media Lintas Sumatera

Mengucapkan

Mengucapkan
KLIK Benner Untuk Beritanya

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan

DANRINDAM I BB/ Mengucapkan
DIRGAHAYU TNI ' Semoga TNI Selalu di Hati Rakyat, Menjadi Kebanggaan Ibu Pertiwi, Sinergi, dan Maju Bersama Negeri, AMIN

Kaldera Toba Akhirnya Diakui UNESCO Global Geopark

Kabar Hun Simalungun

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung

St Dr Bonarsius Saragih Dilantik Jadi Pembantu Ketua I Sekolah Tinggi Hukum Bandung
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik

Tinuktuk Sambal Rempah Khas Simalungun Dari Devi Damanik
Tinuktuk adalah Sambal Rempah Khas Simalungun yang berkhasiat bagi tubuh dan enak untuk sambal Ikan Bakar atau sambal menu lainnya. Permintaan melayani seluruh Indonesia dengan pengiriman JNT dan JNE. Berminat hubungi HP/WA Devi Yusnita Damanik 0815 3445 0467 atau di Akun Facebook: Devi Damanik.

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)
Hinalang- Pdt Jhon Rickky R Purba MTh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusara “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba) di Desa (Nagori) Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019). Acara Peletakan Batu Pertama dilakukan sederhana dengan Doa oleh Pdt Jhon Rickky R Purba MTh. Selengkapnya KLIK Gambar

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”

Catatan Kecil Lomba Cover Lagu Simalungun “Patunggung Simalungun”
“Lang jelas lagu-lagu Simalungun sonari on. Tema-tema pakon hata-hata ni lagu ni asal adong. Irama ni pe asal adong, ihut-ihutan musik sonari. Lagu-lagu Simalungun na marisi podah lang taridah.” (Semakin kurang jelas juga lagu-lagu Simalungun belakangan ini. Tema dan syairnya asal jadi. Iramanya pun ikut-ikut irama musik zaman “now” yang kurang jelas. Lagu-lagu Simalungun bertema nasehat pun semakin kurang”.