PERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR


Oleh: Pdt Defri Judika Purba

Sewaktu kecil, mainan yang pernah saya mainkan adalah magnet. Magnet ini biasanya diambil dari radio atau televisi yang sudah rusak. Dengan magnet ini, saya bersama teman-teman akan asyik bermain. Biasanya permainan kami adalah mengumpulkan pasir. 

Pasir yang dikumpulkan ini kemudian  dibersihkan dan disaring, untuk mengambil material warna hitamnya. Material pasir warna hitam inilah yang bisa ditarik secara ajaib oleh magnet. Kadang material pasir warna hitam ini, kami buat di atas kertas, dan magnetnya di bawah kertas. 

Kemana magnet ini bergerak, maka butiran pasir warna hitam tersebut akan mengikuti. Bagi kami, ini adalah sebuah keajaiban pengetahuan. Magnet mampu menarik benda-benda yang ada disekitarnya. 

Dalam pengertian yang terbatas, Yesus itu ibarat “magnet” yang mampu menarik ribuan orang datang kepada-Nya. Banyak orang datang berkerumun mendekati Yesus. Mereka berasal dari berbagai kota-kota dan perkampungan. 

Ketika orang banyak ini datang , tentu ada faktor yang membuat mereka bertindak demikian. Mereka adalah orang-orang yang telah mendengar dan melihat, bahwa Yesus memiliki kharisma dalam kehadiran-Nya. Yesus memberikan pengajaran yang berbeda ditambah berbagai kuasa untuk melenyapkan penyakit dan mengusir roh jahat. 

Kepada orang banyak inilah Yesus berkata, bahwa Firman yang ia sampaikan itu seperti benih dan pelita. Gambaran ini tentu mudah untuk mereka pahami, karena benih dan pelita itu adalah benda-benda yang ada di sekitar mereka. Benih itu sering mereka pakai  di perladangan, sementara pelita, itu adalah benda yang selalu ada di setiap rumah mereka.

Mereka paham dan mengerti, bahwa tidak semua benih yang jatuh ke tanah itu akan tumbuh dan berbuah. Benih yang jatuh di pinggir jalan, di tanah berbatu-batu dan di tengah semak duri tentu tidak akan menghasilkan buah. Benih akan menghasilkan buah yang bagus dan berlimpah ketika jatuh di tanah yang baik. Ketika ini terjadi, maka benih ini akan menghasilkan buah seratus kali lipat.

Mereka paham dan mengerti, bahwa pelita itu berguna untuk penerangan di dalam rumah. Tidak ada orang yang menyalakan pelita, kemudian menutupnya dengan tempayan atau membuatnya di bawah di tempat tidur. Itu adalah tindakan yang bodoh dan tidak logic. Tindakan yang benar adalah menempatkan pelita yang telah dinyalakan itu di atas kaki dian. Ketika itu terjadi, maka, terang dari pelita itu akan menerangi kegelapan di rumah tersebut.

Muncul pertanyaan: apakah orang banyak itu dapat mengerti gambaran yang Yesus sampaikan? Apakah mereka dapat mengerti tentang konsep benih dan pelita dalam ajaran-Nya?

Inilah tahapan yang paling krusial dalam situasi ini. Orang banyak yang datang  itu pada umumnya tidak pendengar yang baik. Mereka adalah tipe orang yang menganggap mereka sudah memiliki pengertian atau pengetahuan yang cukup. 

Mereka tidak mampu memahami, bahwa ajaran yang mereka dengar itu berbicara tentang kehidupan mereka sendiri. Mungkin mereka mendengar dan membenarkan pengajaran Yesus, tetapi itu bukan untuk mereka melainkan ditujukan kepada orang lain. 

Sikap ini persis sama dengan orang yang mendengar khotbah di gereja. Ia tidak membantah Firman yang ia dengar. Ia membenarkannya. Tapi kebenaran Firman Tuhan itu, lebih cocok dikenakan kepada orang lain, bukan untuk dirinnya sendiri.

Pada tahap inilah gambaran orang yang menyalakan pelita dan menutupinya dengan tempayan terjadi. Pelita itu akan mati dan tidak berguna. Pelita yang seharusnya mampu menerangi kegelapan tidak berfungsi. Firman yang seharusnya mampu menerangi kegelapan hati , menjadi padam tidak berguna. Ini adalah tindakan yang bodoh dan tidak masuk akal. 

Dan terjadilah. Kepada orang-orang yang menyalakan pelita dan menutupnya dengan tempayan, maka, apa yang ada padanya akan diambil, sehingga ia akan mengalami kegelapan dan kekosongan. Dan  orang-orang yang menyalakan pelita dan menempatkannya di atas kaki dian,  akan diberi banyak kelimpahan.

Lukas 8:18 Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya. (Pontianak, 25 Juli 2025).

0 Komentar

 





 


 



https://linktr.ee/asenkleesaragih