Jambi, BS - Memaknai Pesta Minggu Inang GKPS Ke 68 Tahun 2026 dan Hari Perempuan Internasional yang puncaknya pada Minggu 8 Maret 2026. Seksi Inang adalah salah satu kategorial di Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) yang sudah berusia 68 tahun. Kalau dalam adat budaya Simalungun, masuk dalam usia Sayur Matua.
Seksi Inang GKPS dalam pelayanan, merupakan sebagai motor penggerak keluarga dalam bersekutu dan sebagai tonggak Doa yang kokoh dalam keluarga. Seksi Inang juga sebagai penyejuk hati di tengah keluarga.
Namun dengan perkembangan era digital dan media sosial saat ini, tak sedikit Seksi Inang GKPS terjebak dalam senang sesaat, dan tak sadar lupa akan tanggung jawab kepada suami dan anak-anak. Juga tak sedikit tak lagi menjaga etika atau sopan santun hanya untuk sebuah konten di media sosial.
Usia 68 tahun bukanlah usia yang muda. Dalam adat Simalungun, fase ini disebut Sayur Matua, sebuah tahap kehidupan yang matang, terhormat, dan penuh wibawa. Demikian pula Seksi Inang GKPS, yang telah melayani selama hampir tujuh dekade, seharusnya berdiri sebagai simbol kedewasaan iman, kebijaksanaan, dan keteladanan.
Namun Zaman Telah Berubah
Hari ini kita hidup di era media sosial. Dunia yang serba cepat, serba tampil, serba ingin dilihat. Dalam dunia digital, ukuran nilai sering kali bergeser, bukan lagi pada ketulusan, tetapi pada jumlah tayangan, bukan lagi pada kedalaman iman, tetapi pada banyaknya “like” dan komentar.
Dan tanpa disadari, godaan itu merayap masuk, bahkan ke dalam kehidupan kaum Inang. Ketika konten mengalahkan karakter, tidak sedikit pula yang terjebak dalam euforia sesaat.
Demi sebuah konten, sopan santun bisa terkikis. Demi eksistensi, batas etika menjadi kabur. Demi hiburan, martabat terkadang dipertaruhkan. Padahal, Inang GKPS bukanlah perempuan biasa.
Ia adalah, tiang doa dalam keluarga. Penjaga nilai dalam rumah tangga. Motor penggerak pelayanan di gereja. Teladan iman bagi anak dan generasi muda.
Apa jadinya jika tiang doa mulai goyah? Apa jadinya jika yang seharusnya menjadi panutan justru larut dalam arus yang tak terarah? Media sosial bukanlah musuh. Ia hanyalah alat. Tetapi ketika alat menguasai hati, di situlah masalah dimulai.
68 Tahun: Saatnya Memperkuat Jati Diri
Memasuki usia 68 tahun, Seksi Inang GKPS tidak dipanggil untuk ikut arus dunia, melainkan untuk meneguhkan identitasnya.
Identitas sebagai perempuan yang takut akan Tuhan. Identitas sebagai penjaga kehormatan keluarga. Identitas sebagai pelayan yang rendah hati.
Kedewasaan bukan tentang mengikuti tren, tetapi tentang tahu batas. Kebijaksanaan bukan tentang tampil paling menarik, tetapi tentang bersikap paling benar.
Inang yang dewasa dalam iman akan bertanya sebelum memposting, apakah ini membangun atau hanya menghibur sesaat? Apakah ini mencerminkan iman dan martabat saya? Apakah anak-anak saya bangga melihatnya? Apakah Tuhan berkenan?
Jika jawabannya meragukan, mungkin lebih baik menahan diri daripada kehilangan wibawa. Kembali menjadi tiang Doa yang kokoh. Seksi Inang GKPS sejak dahulu dikenal sebagai kekuatan rohani gereja. Doa-doa yang dinaikkan dengan air mata. Kesetiaan hadir dalam persekutuan. Ketekunan mendukung pelayanan.
Itulah jati diri yang harus dijaga. Di tengah dunia yang semakin bising, Inang GKPS harus menjadi suara yang menenangkan. Di tengah budaya yang semakin bebas, Inang GKPS harus menjadi batas yang menguatkan. Di tengah generasi yang mudah terpengaruh, Inang GKPS harus menjadi teladan yang teguh.
Usia 68 tahun bukan sekadar perayaan. Ini adalah panggilan untuk naik kelas, dari sekadar aktif menjadi berdampak, dari sekadar hadir menjadi penopang, dari sekadar pengguna media sosial menjadi saksi Kristus di dunia digital.
Pada akhirnya, yang dikenang bukanlah video yang viral, bukan pula konten yang ramai komentar. Yang akan dikenang adalah karakter. Doa. Kesetiaan. Keteladanan.
Biarlah di usia ke-68 ini, Seksi Inang GKPS semakin memperkuat jati diri sebagai Tiang doa yang kokoh di tengah gereja, Motor penggerak pelayanan yang setia, Penjaga martabat keluarga dan adat, Perempuan bermartabat yang takut akan Tuhan.
Karena dunia mungkin berubah, tetapi panggilan Inang GKPS tetap sama, menjadi terang, bukan hanya di mimbar gereja, tetapi juga di layar ponsel. Semoga. Selamat Minggu Pesta Inang GKPS Ke 68, Tuhan Memberkati. (AsenkLeeSaragih)



0 Komentar