Mengenang 14 Tahun Kepergian Sintua Absalom Kasianus Saragih (St AK Saragih)

Sintua Absalom Kasianus Saragih (75) dan Putrinya Lizmayer AK Saragih. Foto Dok Asenk Lee Saragih


Pamatangsiantar- Pada 28 Februari 2012 menjadi hari duka bagi keluarga besar Simalungun dan jemaat Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Pada hari itu, seorang pelayan Tuhan, komponis, dan budayawan Simalungun berpulang ke rumah Bapa. Tahun ini, tepat 14 tahun (Sabtu 28 Februari 2026) sejak kepergian beliau, namun nama dan karya St AK Saragih tetap hidup, bergaung dalam setiap pujian, dalam setiap ibadah, dan dalam setiap nada yang dinyanyikan jemaat.

St AK Saragih bukan sekadar pencipta lagu. Ia adalah penjaga identitas rohani dan budaya Simalungun. Melalui sentuhan musiknya, ia meramu irama tradisional inggou Simalungun dengan pesan Injil yang mendalam. Hasilnya adalah ratusan lagu rohani yang menguatkan iman, menghibur hati, dan membangkitkan semangat pelayanan.

Karya-karyanya terpatri dalam Buku Haleluya GKPS, menjadi bagian resmi liturgi gereja dan dinyanyikan lintas generasi, dari anak sekolah minggu hingga lansia. Setiap bait dan melodi bukan hanya sekadar lagu, tetapi doa yang diangkat dalam bahasa dan jiwa Simalungun.

Sebagai seorang Sintua (Penatua gereja), St AK Saragih mempersembahkan hidupnya untuk pelayanan. Bahkan ketika ia menghadapi penderitaan fisik di masa tuanya, semangat berkaryanya tidak pernah redup. Ia tetap menulis, menggubah, dan menginspirasi.

Kepergiannya pada 28 Februari 2012 bukanlah akhir, melainkan awal dari warisan yang terus bertumbuh. Hari ini, lagu-lagunya masih berkumandang di gereja-gereja GKPS, di acara adat, bahkan di perantauan. Itulah bukti bahwa karya sejati tidak pernah mati.

Menjaga Nama, Merawat Warisan

Mengenang 14 tahun wafatnya St AK Saragih bukan sekadar seremoni. Ini adalah panggilan bagi generasi muda, khususnya anak-anak Simalungun untuk menyanyikan dan mempelajari lagu-lagunya dengan penuh penghayatan.

Melestarikan Buku Haleluya GKPS sebagai harta rohani dan budaya. Menghidupkan kembali musik tradisional Simalungun dalam pelayanan gereja. Menciptakan karya baru tanpa melupakan akar budaya.

Nama besar St AK Saragih akan tetap dikenang selama nada-nada pujian itu terus dilantunkan. Selama jemaat masih menyanyikan karyanya, selama gereja masih berdiri, selama budaya Simalungun tetap dijaga—maka semangatnya tetap hidup.

Empat belas tahun telah berlalu, namun gema karyanya masih terdengar jelas. St AK Saragih telah menyelesaikan pertandingan iman dengan setia. Kini tugas kita adalah memastikan bahwa nama dan karyanya tidak tenggelam oleh zaman.

Kiranya generasi hari ini dan esok terus berkata dengan bangga “Inilah warisan rohani dan budaya kami.” Selamat mengenang 14 tahun kepergian St AK Saragih. Warisanmu hidup, dan akan terus hidup.


Berikut ini berita duka yang diangkat kembali pada halaman ini. Masyarakat Simalungun dan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) kehilangan seorang tokoh, komponis musik, rohani dan lagu Simalungun. Pada Selasa 28 Februari 2012 sekira pukul 05.00 WIB, Sintua Absalom Kasianus Saragih (St AK Saragih) telah dipanggil menghadap Tuhan. Tokoh lagu rohani dan lagu daerah Simalungun itu meninggal di ruangan ICU RSU Djasamen Saragih karena menderita penyakit jantung dan paru-paru selama tiga tahun terakhir.

Banyak karya yang ditinggalkan St AK Saragih, namun nama dan karyanya tidak seperti ketenaran namanya. Hidup sederhana, itulah sosok yang tampak pada tokoh Simalungun ini. Berpulangnya St AK saragih kepada penciptanya, akankah muncul sosok seperti St AK Saragih masa kini. Semoga.

“Horas sayur matua ma ham Bapa, horas sayur matua ma ham Inang, horas sayur matua hita on. Itulah salah satu lirik lagu ciptaan Sintua Absalom Kasianus Saragih (75) yang tidak asing lagi di dengar masyarakat. Di setiap acara adat pesta pernikahan Simalungun, lagu itu selalu dibawakan untuk mewarnai serangkaian adat.

Namun sekarang masyarakat hanya bisa mendengarkan lagu-lagu ciptaanya saja, sebab Sintua AK Saragih telah dipanggil menghadap Tuhan, Selasa (28/2/2012). Di kediaman Sintua AK Saragih di Jalan Handayani II, Kecamatan Siantar Sitalasari, Rabu (29/2/2012) sudah berdiri beberapa tenda dan papan bunga yang disampaikan oleh kerabatnya.

Begitu masuk ke rumahnya tersebut, ternyata suasananya tidak sehebat namanya yang sudah tersebar di Siantar-Simalungun. Begitu juga dengan kondisi rumah itu tidak sehebat dan banyaknya lagu yang ia ciptakan. Rumah tersebut masih semi permanen yang sebagian masih berdindingkan papan.

Sementara dalam ruangan itu, hanya ada beberapa wanita setengah baya yang mengenakan sarung dan ulos. Serta anak kelima Sintua AK Saragih, Tuah Ben Saragih dan istrinya Sinar br Sinaga yang berada di sekitar jenazahnya.

Selanjutnya wartawan mulai memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud kedatangan kepada anak kelima AK Saragih. Kemudian dengan senang hati keluarganya menerima dan bersedia menceritakan kenangan dan kisah perjalanan hidup orangtuanya.

“Awal berkiprah di dunia seni pada 1978, yakni mengikuti pertandingan menciptakan lagu Habonaran Do Bona yang saat itu masih dipimpin Bupati Simalungun, BF Silalahi. Saat itu bapak berhasil meraih juara satu dan itu yang membuat dia termotivasi untuk berkarya,” sebutnya.

Lebih lanjut ia menerangkan, memang karyanya terus mengalir dan hingga kini ada sekitar 400 lagu yang telah diciptakannya. Biasanya untuk menciptakan sebuah lagu, dia belajar di notnya terlebih dahulu. Setelah notnya dapat, baru mencari syair yang cocok.

“Seluruh lagu yang diciptakan Bapak hanya ditemani dengan sebuah piano merk Yamaha. Bapak belajar memainkan not dengan piano saat usianya sekitar 23 tahun. Dari situlah Bapak mampu menciptakan lagu bervariasi mulai dari kidung pujian hingga budaya Simalungun,”kata Tuah Ben Saragih.

Sementara lagu pop Simalungun yang saat ini sering didengarkan masyarakat Simalungun berjudul ‘Horas Sayur Matua’. Lagu itu sering dibawakan pada acara adat pesta pernikahan dan itu memang sudah menjadi lagu tradisi untuk pernikahan di Simalungun.

Sedangkan lagu kidung pujian yang cukup terkenal yakni lagu Pesparawi Nasional yang berjudul Tiada Kasih, Aku Melihat Bumi Yang Baru dan Haleluya Puji Tuhan. Lagu untuk kegiatan Pesparawi itu berawal dari imbauan Bimas Kristen agar gereja-geraja menyampaikan kepada jemaatnya untuk menciptakan lagu rohani. Bagi jemaat yang lagunya berhasil diangkat dan dibawakan saat perlombaan, maka akan mendapatkan royalty.

Disebutkan, lagu St AK Saragih yang dulu tamat dari Sekolah Raya Sirpang Hinalang itu berhasil dibawakan untuk tiga kali perlombaan Pesparawi Nasional. Lagu itu dibawakan untuk perlombaan Pesparawi Tahun 1999, 2006 dan 2010.

“Atas seluruh karya seni yang dibuatnya, Bupati Simalungun pernah memberikan penghargaan pada saat Pesta Rondang Bintang 2011 lalu,”ujarnya.

Menurut Tuah Ben Saragih, tidak hanya itu saja, pada pesta 100 tahun Jubileum GKPS digelar konser St AK Saragih. Konser itu membawakan seluruh lagu ciptaan dari St AK Saragih dan itulah kebanggaan terbesar dalam hidupnya.

Selanjutnya pada 2003, dia pernah menerima hadiah satu unit mobil Toyata Carry dari pusat. Tapi pada 2010, mobil itu dijual karena biaya pajaknya setiap tahun terlalu mahal.

“Keluarga memutuskan menjualnya karena biaya pajaknya cukup berat. Kalau dulu biaya untuk pajak kendaraan sering diminta sama Marim Purba dan Jhon Hugo Silalahi. Mereka dulu sangat kompak dengan Bapak, makanya Bapak sampai berani meminta uang untuk membayar pajak kendaraan,” paparnya.

Menurut pria yang biasa disapa Ben ini, kepergian ayahnya St AK Saragih meninggalkan lima orang anak, 11 orang cucu dan tiga cicit. Sedangkan istrinya, Alm Rosni Hasna br Purba sudah lama meninggal di usia 65 yakni pada tahun 2000.

Akan tetapi talenta yang dimiliki St AK Saragih turun kepada anak ketiganya yakni Lizmayer AK Saragih yang kini menetap di Belanda. Di sana kakaknya sudah membuat tiga buah album lagu rohani.


Lizmayer AK Saragih

Di masa muda Sintua AK Saragih dulu, dia paling kompak dan belajar dari pimpinannya El Manik. Saking kompaknya, mereka pernah membuat grup yang bernama Yamuser (Yayasan Musik Gerejawi). Bahkan atas bakatnya biasanya mereka melakukan perjalanan ke berbagai daerah di Indonesia.

“Sudah hampir semua lokasi di jalani Bapak di Indonesia. Rencananya dulu Bapak pernah hendak melangsungkan perjalanan ke Australia. Tapi rencana itu gagal karena bapak tidak bisa berbahasa Inggris. Maklum Bapak hanya tamat di bangku SMP di SMP 2 yang sekarang SMPN 1,”katanya.

Masyarakat Simalungun dan Jemaat GKPS Berduka

“Seluruh jemaat GKPS di Indonesia merasa kehilangan seorang komponis Simalungun. Beliau telah banyak menyumbangkan dan menciptakan lagu rohani dan lagu Simalungun. Semoga generasi muda seperti beliau akan hadir dan mampu meneruskan seperti kiprah yang dilakukan beliau,” kata Ephorus GKPS Pdt Jaharianson Sumbayak di Kantor Pusat GKPS di Jalan Pdt J Wismar Saragih.
Ephorus GKPS Pdt Jaharianson Sumbayak.  Foto Asenk Lee Saragih

Dia mengaku sangat kaget mendengar kabar meninggalnya St AK Saragih. “Seluruh jemaat GKPS berduka dan merasa kehilangan seorang komponis yakni Sintua AK Saragih. Saya sendiri sedikit kecewa karena masih belum sempat mewawancarai beliau tentang lagu-lagu rohani yang ia ciptakan. Memang itulah talenta dalam dirinya hingga mampu menciptakan banyak lagu rohani,” paparnya.

Dikatakan, mereka berharap dan yakni dari GKPS akan lahir generasi penerus St AK Saragih. Dia itu seorang komponis yang sudah terkenal secara nasional dan internasional. Sebab sebuah buku di Cina berjudul The Bambo sudah ada mengambil beberapa lagu ciptaan St AK Saragih.

“Tapi saya secara langsung masih belum dilibatkan. Semoga beliau sudah tenang di alam sana dan generasi muda akan terus lahir,” ujarnya.

Dikenang Sepanjang Masa

Menurut Dr Med Sarmedi Purba SpOG, salah seorang tokoh Simalungun, Rabu (29/2/2012) mengatakan, figur St AK Saragih memiliki arti dalam spiritualitas Simalungun, khususnya di GKPS (Gereja Kristen Protestan Simalungun).

Tidak ada penulis lagu segigih dia. St AK Saragih sudah sebanyak menciptakan lagu dan syair kidung gereja, mengantar inggou atau irama Simalungun masuk ke dalam gereja, yang dulu merupakan tabu pada permulaan penyebaran Injil di Tanoh Habonaran Do Bona ini.

Seperti halnya di Jerman dulu, kata Dr Sarmedi, lagu rakyat ditradisikan menjadi lagu gereja. Itulah yang dibuat dan dicontoh St AK Saragih dalam karyanya. Sebagai penyair, diterjemahkannya berbagai lagu gereja ke dalam bahasa Simalungun, atau diciptakan syair yang khusus untuk itu.

Ia mengatakan, sesudah Taralamsyah Saragih, St AK Saragih inilah yang banyak menciptakan inggou Simalungun, yaitu irama yang serta merta mengingatkan kekhasan inggou Simalungun. Kalau iramanya terdengar, seperti yang pernah dicita-citakan Taralamsyah tahun 60-an.

Mungkin karena itulah ada yang menduga bahwa St AK Saragih seolah-olah mengadopsi inggou yang pernah dipublikasi oleh pendahulunya itu. Padahal itu karena memang gagasannya sama, menonjolkan inggou Simalungun dalam lagu ciptaan kedua pujangga ini.

Seperti halnya lagu Jawa atau lagu Cina yang kalau didengungkan akan spontan direspons pendengarnya, apakah itu lagu Jawa atau Cina atau dalam hal ini lagu Simalungun. Tidak semua kemampuan ini dimiliki pencipta lagu Simalungun. Dan bukan semua lagu bersyair Simalungun beringgou Simalungun.

Dr Sarmedi yakin, selama GKPS masih ada, selama gereja-gereja di Indonesia masih eksis, selama itu pulalah nama St AK Saragih tidak hilang dari ingatan manusia.

Berkat ciptaan lagu dan syair yang begitu banyak pada Kidung Jemaat Haleluya GKPS dan terjemahan ke bahasa Indonesia pada buku nyanyian kristen lainnya. Juga penulis buku Inggou Simalungun Kumpulan lagu Ciptaan Taralamsyah Saragih 1964 Medan. (Berbagaisumber/Asenk Lee Saragih)


0 Komentar

 





 


 



https://linktr.ee/asenkleesaragih