![]() |
| dr Saud P Sinaga. |
"Tolong ke sini sebentar", ucap pak
J.Saragih waktu itu.Saya siswa kelas satu SMP ,dipanggil secara khusus oleh wali kelas kami.
"Iya pak",Jawab saya, sambil menebak-nebak ,ada apa gerangan.Kami pun duduk berdua berhadap-hadapan dengan bapak wali kelas saya.
"Ini ada buku raport kelas 1, jumlahnya 31,tolong diisikan ya"!.Jatung saya langsung berdegup kencang sembari bingung.
"Maaf pak, apa boleh saya isi rapor, saya kan siswa dan masih kelas satu"? Saya bertanya dengan sedikit kebingungan.Mau menolak saya tidak berani,sementara melakukan tugas yang diperintah saya juga ga berani.
"Masa siswa nulis rapot sendiri,jeruk makan jeruk ni", pikir saya. Tatapan mata pak JS,mulai serius,sambil mengela nafas, kembali beliau berbicara.
"Saya percaya dengan kamu,kamu adalah siswa paling pintar di kelas kita dan saya lihat juga tulisan kamu bagus",(dulu tulisan saya lumayan bagus,sebelum jadi dokter tulisan jadi acak adul,hehe ),ucapan beliau mempertegas perintahnya.
Nada bicaranya tentunya menyiratkan bahwa saya tidak boleh menolak. "Tolong ya ,karena sebentar lagi kita mau bagi rapor,ini daftar nilai siswa-siswa kita dan tolong di isi juga peringkatnya",ucap beliau dengan tegas,membuat saya hanya pasrah menerima.
Saya pun membawa "tugas mulia" ke rumah. Malam harinya sayapun mulai mengerjakannya karena siang dan sore saya harus membantu orang tua kerja di ladang.
Orang tua kebetulan petani dan waktu itu membantu orang tua adalah kewajiban(beda dengan jaman sekarang ya,hehe).
Harus diakui jaman dulu kita dipaksa dewasa sebelum waktunya karena keadaan. Sekolah SMP dimulai pukul 8 selsai dipukul 13.45.Semua anak pada jaman itu akan keladang membantu orang tua.
Karena mayoritas kami adalah anak-anak petani. Bermimpi sekolah tinggi ,tidak pernah terlintas di benak kami.Yang penting bisa baca tulis,hitung2an, sudah syukur.
"Apa itu nak"?,Orang tua saya bertanya dengan keheranan ketika saya sibuk dengan lembar-lembar rapor.
"Rapor satu kelas pak",jawab saya kala itu.
"Apa"?tanya beliau dengan keheranan."Itukan bukan tugasmu dan kamumasih kelas satu SMP".
"Iya pak,tapi sudah disuruh oleh wali kelas saya",Jawab saya.
Bapak saya pun berlalu,tapi masih dengan penuh tanda tanya dan keheranan,terpancar dari raut wajahnya.
Saya tulis satu persatu mulai dari nama dan kelengkapan-kelengkapan rapor lainnya. Kemudian saya mulai pakai kalkulator untuk menjumlahkan nilai dari semua mata pelajaran.
Hmmm,ternyata saya ranking satu,ketika itu nilai saya total 82 dari 10 mata pelajaran.Privilege saya, hehe,sudah tau rangking satu sebelum teman2 saya. Polos dan lugunya saya ketika itu tidak ada manipulasi nilai sama sekali.
Dan teman-teman saya juga ga tahu kalau saya yang menulis rapornya.Kalau tahu mungkin minta nilainya dinaikkan kali ya..hehe.
Selesai sudah saya isi rapornya,lengkap dengan peringkatnya,mungkin sekitar seminggu saya kerjakan.Jaman dahulu peringkat mungkin jadi prestise dan kebanggaan khusus untuk kita, terutama orang tua.
"Coba lihat anaknya tu juara 1, dipangl kedepan", demikianlah orang tua kerap membanggakan anak2nya.
Kejadian ini menurut saya langka sekali dan sepanjang perjalan hidup saya inilah "prestasi terbesar " saya.Kadang bisa senyum2 sendiri mengenang kejadian aneh bin ajaib tab.
Hoaks kah ini? tentunya tidak sama sekali, tentu nya akan banyak yang berpikir dan bertanya tanya...dan bukti tulisan saya dirapot teman-teman masih terpampang nyata...sekian lama tidak menulis, simpul-simpul saraf saya masih belum terjalin baik. (FB-Saud P Sinaga)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


0 Komentar