Medan, BS - Nama Mohammad Yusafrihardi Girsang mendadak mencuat ke permukaan setelah memimpin majelis hakim dalam perkara dugaan korupsi proyek video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Putusan bebas terhadap terdakwa membuat publik mulai bertanya: siapa sebenarnya sosok di balik palu sidang tersebut?
Sebagai seorang hakim, Girsang merupakan bagian dari aparat penegak hukum yang memiliki peran krusial dalam menegakkan keadilan. Tugasnya bukan sekadar memimpin sidang, tapi juga menilai fakta hukum secara objektif, mengkaji alat bukti yang diajukan, menentukan putusan berdasarkan hukum yang berlaku
Profesi ini menuntut integritas tinggi, ketelitian, dan yang sering diuji, ketahanan terhadap tekanan publik maupun opini yang beredar.
Dalam perkara yang menyita perhatian tersebut, Girsang bertindak sebagai ketua majelis hakim. Artinya, ia, mengarahkan jalannya persidangan, memimpin musyawarah majelis, membacakan putusan akhir.
Namun penting diingat (walau sering dilupakan saat emosi publik naik), keputusan pengadilan adalah hasil kolektif majelis, bukan keputusan tunggal satu hakim.
Sorotan Publik dan Kontroversi
Nama Girsang mulai ramai diperbincangkan setelah majelis hakim yang dipimpinnya memutus bebas Amsal Christy Sitepu dari dakwaan korupsi.
Keputusan ini memicu beragam reaksi, ada yang mempertanyakan dasar pertimbangan hukum. Ada yang menilai putusan tersebut kontroversial. Dan tentu saja, ada yang langsung menarik kesimpulan sendiri (internet memang tidak pernah kehabisan teori).
Padahal dalam sistem hukum, vonis bebas bisa terjadi jika unsur pidana tidak terbukti, bukti tidak cukup kuat, atau terdapat keraguan yang harus menguntungkan terdakwa, hakim di antara dua dunia.
Kasus ini kembali menunjukkan posisi hakim yang sering “serba salah” jika menghukum, dianggap keras, jika membebaskan, dianggap mencurigakan.
Hakim seperti Girsang berada di persimpangan antara teks hukum dan ekspektasi publik. Dan jujur saja, dua hal itu sering tidak berjalan seiring.
Mengenal sosok Mohammad Yusafrihardi Girsang bukan hanya soal satu putusan yang viral, tetapi juga memahami peran hakim dalam sistem peradilan yang kompleks.
Karena pada akhirnya, keadilan di ruang sidang tidak selalu terasa sama dengan keadilan di hati masyarakat. Dan di situlah drama sebenarnya dimulai—bukan di palu hakim, tapi di reaksi setelahnya.(BS-Red)



0 Komentar