Anak Sekolah Minggu Juga Bagian Penting Pelayanan Pendeta
Jakarta, BS-Pelayanan gereja sering kali identik dengan pembinaan jemaat dewasa. Namun di balik dinamika kehidupan bergereja, terdapat satu kelompok yang memiliki peran penting dalam keberlangsungan iman dan masa depan gereja, yakni Anak Sekolah Minggu (ASM).
Pemahaman inilah yang kembali ditegaskan Pdt. Renni Damanik saat melayani dan mengajar Anak Sekolah Minggu di GKPS Kebayoran, Minggu (31/5/2026). Bagi Pdt. Renni, anak-anak bukan sekadar peserta ibadah mingguan, melainkan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan dan pelayanan seorang pendeta.
"Pendeta bukan hanya melayani orang dewasa. Anak-anak juga merupakan bagian dari jemaat yang harus diperhatikan, dibimbing, dan dipersiapkan menjadi generasi gereja yang kuat di masa depan," ujarnya.
Pelayanan tersebut berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh sukacita. Menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, Pdt. Renni menggunakan media presentasi digital (PowerPoint) sebagai sarana penyampaian firman Tuhan.
Menurutnya, generasi anak masa kini hidup di tengah kemajuan teknologi sehingga metode pelayanan juga perlu beradaptasi agar pesan Injil dapat diterima dengan lebih efektif.
Meski mengaku tidak lagi muda, ia menilai para pelayan gereja perlu terus belajar dan berinovasi agar tidak tertinggal dalam menjangkau generasi digital.
Dalam sesi pembelajaran, Pdt. Renni Damanik mengawali dengan pertanyaan sederhana mengenai baptisan.
Ia menanyakan kepada anak-anak apakah mereka mengetahui kapan, di mana, dan oleh siapa mereka dibaptis. Dari dialog tersebut, ia menemukan bahwa sebagian anak belum memahami identitas kekristenan mereka secara mendalam.
Temuan itu menjadi refleksi penting bagi gereja dan keluarga Kristen. Baptisan bukan sekadar peristiwa seremonial, melainkan tanda perjanjian Allah yang perlu dipahami sejak dini oleh setiap anak.
"Anak-anak perlu mengenal sejarah iman mereka sendiri. Mereka perlu tahu bahwa baptisan adalah bagian dari perjalanan hidup mereka bersama Tuhan," katanya.
Membangun Keberanian dan Pemahaman Iman
Usai menyampaikan firman Tuhan, Pdt. Renni Damanik mengajak anak-anak melakukan refleksi melalui metode partisipatif. Ia meminta mereka maju ke depan untuk menjelaskan kembali isi khotbah yang telah didengar.
Awalnya beberapa anak tampak malu dan enggan berbicara. Namun secara perlahan mereka mulai berani tampil di depan teman-temannya. Bagi Pdt. Renni Damanik, keberanian tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan karakter Kristen yang perlu terus diasah sejak usia dini.
Menurutnya, gereja tidak hanya bertugas mengajarkan pengetahuan Alkitab, tetapi juga membentuk keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan anak dalam menyatakan imannya di tengah masyarakat.
Di sela-sela kegiatan, berbagai jawaban spontan dari anak-anak menghadirkan suasana penuh keceriaan. Ketika ditanya siapa yang ingin pergi ke Sungai Yordan, salah seorang anak justru menjawab bahwa dirinya lebih ingin pergi ke Jepang pada masa depan. Jawaban polos tersebut mengundang tawa para guru dan pelayan.
Dalam kesempatan lain, saat ditanya mengenai ketaatan kepada orang tua, seorang anak dengan jujur mengaku terkadang berpura-pura tidak mendengar panggilan karena terlalu asyik menonton televisi. Ada pula yang dengan santai menceritakan bahwa emas milik ibunya disimpan di dalam brankas.
Bagi sebagian orang, jawaban-jawaban tersebut mungkin terdengar lucu. Namun di balik kepolosan itu tersimpan pesan penting bahwa anak-anak memiliki cara pandang yang unik dan jujur terhadap kehidupan. Karena itu, pendekatan pelayanan kepada mereka tidak cukup dilakukan melalui ceramah semata, melainkan harus dibangun melalui dialog, kedekatan, dan keteladanan.
Masa Depan Gereja Ada di Tangan Anak-Anak
Pelayanan kepada Anak Sekolah Minggu sesungguhnya merupakan investasi rohani jangka panjang bagi gereja. Anak-anak yang hari ini belajar mengenal Kristus akan menjadi pelayan, penatua, guru sekolah minggu, bahkan pemimpin gereja pada masa mendatang.
Karena itu, perhatian terhadap pembinaan iman anak tidak boleh dianggap sebagai pelayanan pelengkap. Sebaliknya, pelayanan anak harus ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama gereja dalam menjalankan Amanat Agung Kristus.
Pelayanan di GKPS Kebayoran tersebut menjadi pengingat bahwa sukacita Injil tidak hanya hadir melalui khotbah yang mendalam, tetapi juga melalui tawa, kepolosan, dan antusiasme anak-anak yang sedang bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan.
Sebagaimana Firman Tuhan dalam Markus 10:14, "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, gereja dipanggil untuk terus mendampingi dan membimbing generasi muda agar tetap berakar dalam iman. Sebab dari tangan-tangan kecil itulah masa depan gereja dan kesaksian Kristus akan terus dilanjutkan kepada dunia.
"ANAK SEKOLAH MINGGU JUGA BAGIAN HIDUP PARA PENDETA. Hari ini Minggu 31 Mei 2026, sukacitaku luar biasa bisa mengajar ASM di GKPS KEBAYORAN. Karena aku bukan hanya pendeta orang dewasa. Mereka juga bagian hidup pendeta Yang mendukung kehidupan para pelayan GKPS. Rasanya sesuatu kali dan bertemu ASM metropolitan,"pungkas Pdt Renni Damanik. (AsenkLeeSaragih)

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


0 Komentar