Oleh: St Sarmedi Saragih Pfc
Perjalanan hidup ini memang sebuah misteri. Lahir boleh berurut sesuai tanggal lahir! Pengalaman hidup mungkin berbeda sesuai panjang perjalanan dan panjangnya waktu yg Tuhan berikan. Namun kapan akhir perjalanan, adalah sebuah MISTERI yang hanya diketahui Tuhan yang menciptakan kita.
Foto ini menunjukkan kenyataan yang kami alami dalam rentang waktu yang SANGAT berdekatan. Dari 7 bersaudara keluarga (Alm) istriku, kami harus hadapi kenyataan bahwa hari Sabtu tanggal 16-08-2025 Jam 02.10Wib istriku SUSANTI DELKURIADE PURBA alias Santi P yang biasa dikeluarga kami dipanggil POLU SANTI dipanggil Tuhan di RS Hasan Sadikin Bandung setelah menjalani Perawatan selama 3 tahun 2 bulan. Dia adalah anak ke-4 dari 7 bersaudara.
Berselang kurang dari 9 bulan berikutnya tepatnya hari Minggu 10-05-2026 Jam 23.00Wib Laeku St Ir Agust Juvenly Purba Pakpak MBA dipanggil Tuhan dalam Perawatan di RS PON JAKARTA. Dia adalah anak ke-6 dari 7 bersaudara.
Ketika aku terima kabar kepergian Laeku Bapak Yonggi Fayden Cordias Purba ini, aku tidak mampu menahan tangisku. Putriku Yohana Sari Rosa Saragih yang ada bersamaku di rumah juga tidak mampu menahan kesedihannya.
Bahkan dalam perjalanan naik Travel dari Bandung sampai ke Jakarta aku tidak mampu menahan air mata yang terus bercucuran.
Aku jadi teringat, bagaimana menyaksikan kedekatan mereka berdua karena aku mengenal mereka yang tinggal satu Kost di Bandung selama Kuliah. Kebersamaan mereka berdua tetap dilanjut ketika masing-masing sudah menikah, kadang membuat aku iri karena ketika mereka berdua asyik bercerita, seolah aku tidak dipedulikan lagi.
Sempat aku berfikir, tega sekali mereka ini berdua, karena mereka tidak terlalu lama berpisah, Laeku Agust Juvenly cepat-cepat menyusul Kakaknya supaya bisa bercerita lagi berdua!
Dalam perjalanan menuju Jakarta ini, aku merenung sambil berkata dalam hati pada Tuhan, "Mengapa harus terjadi ketika Aku sedang mencoba menata hatiku yang masih berantakan?"
Aku sadar, bahwa aku lemah dan hatiku rapuh, tetapi harus menghadapi kenyataan ini. Tetapi karena aku tau bahwa Besanku Mamak Yonggi yaitu Eylianti Sumbayak hatinya lebih hancur karena sore itu dia masih lihat Suaminya melatih Koor di Gereja GKPS Cililitan Jakarta, namun selang 2,5 Jam berikutnya dia hadapi Suami yang sudah terbujur kaku, pergi tanpa permisi dan tanpa pesan, maka aku tetap mencoba menguatkan hati untuk berangkat ke Jakarta.
Tulisan ini aku buat, untuk meringankan bebanku dalam MENATA ULANG SERPIHAN HATI yang masih berantakan ini.
Menyaksikan langsung suasana di Rumah Duka LAHAI ROI mulai Senin 11-05-2026 dilanjut dengan suasana Acara Adat dan Paragendaon di Gereja GKPS Cililitan Jakarta dan di Pemakaman KEBON NANAS Jakarta Timur pada hari Selasa 12-05-2026, ternyata kepergian Laeku ini meninggalkan duka bagi banyak orang, termasuk begitu banyak Postingan di Media Sosial yang terus mengalir.
Akhirnya, aku berharap semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua, gunakan Talenta kita ketika Tuhan masih beri waktu, karena ada waktunya Tuhan meminta kita berhenti dan kembali kepadaNYA. (***)



0 Komentar