Oleh: Jhane Madly Cova Saragih
Duka Mendalam Iringi Kepergian St Ir Agust Juvenly Purba Pakpak MBA, Sosok Pelayan Tuhan dan Maestro Koor GKPS
Jakarta, BS- Tangis duka menyelimuti keluarga besar Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), khususnya Alumni Pemuda GKPS Bandung PDAM, atas berpulangnya St Ir Agust Juvenly Purba Pakpak MBA di Rumah Sakit PON Jakarta, Minggu malam (10/5/2026) sekitar pukul 23.05 WIB.
Jenazah disemayamkan di Rumah Duka Pouk Gereja Lahai Roi Cijantung Jl.Mahoni No.1 Cijantung II Jakarta Timur. Paragendaon dilaksanakan di GKPS Cililitan Jakarta, Selasa (12/5/2026).
Kepergian sosok pelayan Tuhan yang dikenal rendah hati, penuh semangat pelayanan, dan berdedikasi tinggi dalam dunia musik gereja itu meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, sahabat, jemaat, serta seluruh orang yang pernah mengenalnya.
Almarhum meninggalkan seorang istri tercinta, Eylianti Sumbayak, serta putra yang sangat dibanggakan, Yonggi Fayden Cordias Purba. Ia juga merupakan adik kandung dari Rikanson Jutamardi Purba dan mendiang Susanti Delkuriade br Purba.
Bagi banyak orang, St Agust Juvenly Purba bukan hanya pelatih paduan suara ataupun pengurus gereja. Ia adalah sahabat, saudara, sekaligus penggerak pelayanan yang setia mengabdikan hidupnya untuk Tuhan dan jemaat.
![]() |
| R.I.P St Ir Agust Juvenly Purba Pakpak MBA. |
Dan selama 15 tahun itu, aku tidak pernah ingat kita benar-benar bermusuhan, tidak bertegur sapa, atau saling menjauh. Kita bertumbuh bersama di gereja, melayani bersama, tertawa bersama, dan memuji Tuhan bersama.
Bang, dari semua orang yang pernah kutemui dalam pelayanan, mungkin abang salah satu yang paling totalitas. Aku banyak belajar darimu tentang ketulusan, tentang memberi yang terbaik tanpa menghitung untung rugi, tanpa menjadi money oriented dalam melayani Tuhan.
Aku masih ingat bagaimana abang selalu datang dengan perlengkapan lengkap. Membawa baju ganti, perlengkapan Yonggi, bahkan rela tidur di gereja setelah ibadah hanya untuk menunggu latihan sore hari.
Semua itu abang lakukan dengan sukacita, tanpa mengeluh. Sampai hari ini, rasanya belum ada yang semilitan abang di gereja untuk meneruskan semangat itu.
Sejak tahun 2012, kebersamaan kita di gereja lewat musik, nyanyian, dan budaya seperti tidak pernah terputus. Hampir setiap kegiatan gereja yang berhubungan dengan musik, kita selalu ada di dalamnya.
Kita berkarya bersama lewat group Blessed4one (Agust Juvenly Purba Roi Josen Echu Adler Parjumapulo & Jhane Madly Cova Saragih) dan melahirkan album perdana “Tonggohon” pada Mei 2014.
Kita punya kerinduan yang sama, membuat aransemen musik lagu rohani Simalungun naik kelas, lebih indah, lebih berkualitas untuk kemuliaan Tuhan.
Dan abang…terima kasih sudah menciptakan lirik lagu “Tonggohon”. Lagu itu bukan hanya indah, tetapi sangat dalam maknanya, menguatkan dan sudah memberkati begitu banyak orang sampai hari ini.
Bahkan bukan hanya Tonggohon. Begitu banyak karya yang abang tinggalkan, Tonggohon, Hulobei-Mu, Roh do Ham, Balosi Tonggokin, Sai Marsada ma bai Horja-Niin, Anggo Das Ma Panorang ni, Tarima Kasih Ma Tuhan, Tarsongon Bintang in, Pitah Holong-Mu, Engkau dan Aku Selama-Nya, Ketika Engkau Memilihku, Boru ni Bapa ma Tongon, Eta Nasiam Hobaskon ma, Marsada ma Haganupan (Mars GKPS Cililitan), hingga Diateitupa Ma Bamu Tuhanku.
Semua lagu itu sekarang menjadi jejak hidupmu. Suaramu mungkin telah diam, tetapi karya dan pelayananmu akan terus hidup. Kita juga punya kwartet bersama Kak Erida Manalu, KakBenni Manria Purba, dan pemusik Roi Josen Purba.
Walau belum sempat merekam 1 single lagu dengan serius, aku tetap bersyukur karena Tuhan pernah mempertemukan kita dalam pelayanan yang begitu indah. Banyak orang mengenal kita lewat nyanyian di berbagai acara dan pelayanan ibadah. Dan aku bangga untuk itu.
Aku juga tersenyum mengingat bagaimana aku sering memanggilmu "O.. Gus" bagi orang yang mendengar itu seperti kurang hormat karena seharusnya aku memanggilmu “Tulang”. Tapi abang tidak pernah marah. Begitulah hubungan kita, lebih dari sekadar teman pelayanan, tetapi seperti keluarga sendiri.
Tanggal 22 Februari 2026 kita masih melayani bersama di HUT GKPS Cibubur. Aku sangat senang melihat penampilan kita saat itu. Totalitas. Penuh semangat. Dan terakhir kita melayani bersama sebagai kantoria pada Ibadah Jumat Agung, 3 April 2026.
Dan yang paling sulit kuterima…terakhir kali kita bernyanyi bersama adalah Minggu, 10 Mei 2026 pukul 18.30 WIB. Tidak ada yang menyangka malam itu menjadi malam terakhir kita bersama.
Setelah latihan koor untuk HUT UEM ke-30, abang mulai mengeluh rusuk kiri terasa kram. Abang meminta duduk lima menit sebelum pulang. Bahkan masih sempat bercanda, “sudah tua eii… gak kuat kayak dulu lagi".
Kami semua juga bercanda. Ada yang bilang abang harus cari penerus. Dan aku menimpali sambil tertawa, “abang tetap jadi pelatih koor dan dirigen sampai lansia,” lalu aku meledek perut buncitmu untuk dikecilkan agar nanti tampil mantap di HUT UEM.
Tidak ada satu pun dari kami yang tahu…itu akan menjadi percakapan terakhir kita. Beberapa menit kemudian abang mulai berkeringat dingin dan kesakitan. Kami langsung membawa abang ke RS PON.
Di IGD, kondisi abang sempat membaik. Kami masih bisa ngobrol. Monitor terlihat normal. Dokter mengatakan serangan jantung dan merencanakan abang dirujuk ke RS JHC.
Aku masih ingat saat masuk menemani abang di IGD. Aku memilih diam supaya abang bisa istirahat. Tapi abang menyapaku lebih dulu, “Ho do hape in?” Dan kujawab, “eyak bang…”
Aku bertanya apa yang abang rasakan. Abang menjawab pelan, “naha pelang tottang…” Aku menenangkan abang dan bilang semuanya akan baik-baik saja.
Lalu abang bertanya lagi, “kau lihatnya tadi saat aku serangan jantung di depan gereja?” Aku bilang aku lihat. Aku lihat bagaimana abang dituntun dan digendong ke mobil agar cepat dibawa ke rumah sakit.
Selama 2,5 jam itu kami semua percaya abang akan sembuh. Kami percaya abang akan kembali latihan, kembali memimpin nyanyian, kembali duduk di tempat biasanya di gereja.
Karena melihat kondisi abang membaik, aku izin pulang. Tapi di perjalanan aku mendapat telepon, abang tidak sadarkan diri. Sepanjang jalan aku menangis di atas motor sambil berdoa, “Tuhan… izinkan bang Agust tetap bersama kami… kami masih membutuhkannya… jangan ambil dia dari kami Tuhan…”
Doa ini terus kuucapkan berulang kali. Namun sesampainya di RS PON, aku melihat semua teman tertunduk diam. Jantung abang sedang dipacu oleh tim medis, tetapi tidak ada respons. Kami hanya bisa menunggu dengan ketakutan.
Lalu pesan itu datang, “Sudah selesai…” Dunia rasanya runtuh malam itu. Kami menangis. Kami berteriak. Kami tidak percaya.
Beberapa jam sebelumnya abang masih berbicara dan bercanda dengan kami. Tetapi malam itu, Minggu 10 Mei 2026 pukul 23.00 WIB, Tuhan memanggilmu pulang.
Bang…Aku pasti kecarian dan tidak bertemu denganmu lagi, tidak bercanda lagi, tidak jajikan bareng lagi dan tidak bernyanyi bareng lagi. Setiap membuka HP dan melihat video kita bernyanyi bersama, melihat foto-foto kebersamaan kita, air mataku terus jatuh.
Hampir 10 tahun kita bernyanyi berdua di berbagai acara dan pelayanan. Dan sekarang..tinggal kenangan bang.
Terima kasih untuk semua kenangan, semua tawa, semua pelayanan, semua motivasi, semua pembelajaran hidup,semua perjuangan, dan semua karya yang abang tinggalkan. Selamat jalan sahabat terbaikku. Sampai bertemu kembali di rumah Bapa. Aku sangat kehilangan.(***)




0 Komentar