Jakarta, BS-Kabar duka menyelimuti keluarga besar Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS), khususnya Jemaat GKPS Cipayung, Resort Cililitan Jakarta. St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak, yang selama ini dikenal sebagai Porhanger GKPS Cipayung, meninggal dunia pada Minggu, 6 September 2026, sekitar pukul 21.00 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Ia berpulang dalam usia 53 tahun.
Kepergian St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak meninggalkan kesedihan mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi jemaat, sahabat, kerabat, serta berbagai komunitas yang pernah merasakan perhatian dan dukungannya.
Kabar berpulangnya St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak, disampaikan Jasarman Saragih melalui media sosial pada Minggu malam. Dalam ungkapan dukacitanya, Jasarman Saragih mengenang St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak sebagai sosok abang yang memiliki perhatian besar terhadap keluarga, terutama kepada adik-adiknya dan generasi muda yang sedang menempuh pendidikan.
Bagi keluarga, St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak, bukan sekadar seorang abang. Ia menjadi sosok yang memberi dorongan, perhatian, sekaligus teladan. St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak dikenang sebagai salah satu pelopor keluarga yang menempuh pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Jejak tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi adik-adiknya untuk mengikuti langkahnya melanjutkan pendidikan di Yogyakarta.
Jarak dan kesibukan pekerjaan tidak membuat perhatian St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak kepada keluarganya berkurang. Ketika adik-adiknya berada di Yogyakarta, ia disebut rutin menyempatkan diri untuk menemui dan memastikan keadaan mereka.
Bahkan setelah bekerja di Jakarta, St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak tetap berusaha hadir. Ia datang untuk melihat keadaan adik-adiknya, menanyakan kabar, serta memberikan perhatian ketika mereka menghadapi berbagai persoalan.
Kenangan tentang sosok abang yang selalu berusaha hadir itulah yang kini menjadi bagian dari kesedihan keluarga yang ditinggalkan.
Tetap Berbagi Perhatian di Tengah Sakit
Sehari sebelum menjalani perawatan di ruang ICU, St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak masih sempat membagikan sejumlah unggahan Jasarman Saragih mengenai kepergian Adi Jarme R. Saragih, yang disebut sebagai adiknya.
Hal tersebut menjadi salah satu kenangan terakhir yang semakin memperlihatkan bagaimana perhatian terhadap keluarga tetap melekat dalam dirinya, bahkan ketika kondisi kesehatannya mulai menurun.
Di lingkungan pelayanan gereja, St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak juga dikenang sebagai pribadi yang aktif, ramah dan memberikan perhatian kepada jemaat serta berbagai kegiatan pelayanan.
Mahda Siboro, melalui ungkapan dukacitanya, mengenang St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak sebagai “Bapa Vorhanger” bagi jemaat GKPS Cipayung. Ia menyampaikan doa agar Tuhan memberikan kekuatan kepada seluruh keluarga yang ditinggalkan.
“Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini,” demikian kutipan dari Wahyu 14:13 yang dibagikan dalam ungkapan dukacita tersebut.
Dalam bahasa Simalungun, Mahda juga menyampaikan doa, “Pargogohi Ham Tuhan... haganup keluarga,” sebagai ungkapan permohonan agar Tuhan memberikan kekuatan kepada seluruh keluarga.
Kenangan dalam Pelayanan dan Kebersamaan
Duka juga disampaikan Elfrida Meryance Saragih. Ia mengenang momen-momen kebersamaan bersama Rouly, termasuk ketika mengikuti kegiatan dan mendampingi anak-anak dalam berbagai aktivitas.
“Setiap selesai pelayanan ketika foto dokumentasi tidak ada lagi...” tulisnya dengan penuh haru.
Ia juga mengingat Sabtu terakhir sebelum St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak jatuh sakit, ketika mereka masih sempat menikmati kebersamaan dengan menonton konser bersama.
Dalam aktivitas anak-anak Pesparawi, Elfrida menyebut St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak sebagai sosok yang dapat dipercaya. Ketika kesibukan membuatnya sulit membagi waktu, ia merasa tenang karena anaknya dapat berangkat dan pulang bersama tulangnya.
Bagi Elfrida, kebaikan dan perhatian St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak menjadi kenangan yang tidak mudah dilupakan.
“Terima kasih Botou Vorhanger GKPS Cipayung St. Rouly Saragih Sumbayak atas kebaikanmu,” tulisnya dalam pesan dukacita. Rumah duka St. Rouly Saragih Sumbayak disebut berada di Sopo Gabe VIP.
Kesaksian lain datang dari Triadil Saragih, yang mengenang peran St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak dalam perjalanan grup Agadi Voice.
Menurut Triadil, St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak turut memberikan dukungan, semangat dan dedikasi kepada grup tersebut sejak awal perjalanan hingga ketika dirinya terbaring sakit.
Dukungan tersebut bahkan terus dikenang dalam momentum peluncuran atau launching Agadi Voice. Bagi para anggota grup, St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak bukan hanya seorang pendukung, tetapi sosok yang memberikan semangat dan perhatian terhadap perkembangan mereka.
“Selamat jalan bang, terima kasih untuk semua dukungan untuk grup Agadi Voice,” demikian ungkapan Triadil Saragih dalam pesan dukacitanya.
Sementara itu, John E. Saragih juga menyampaikan rasa kehilangan yang mendalam. Ia menggambarkan St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak sebagai sosok yang ramah, baik dan meninggalkan kesan bagi orang-orang yang pernah mengenalnya.
Kepergian St. Rouly Konservio Naldy Saragih Sumbayak, menurutnya, menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup manusia pada akhirnya berada dalam rencana Tuhan.
Warisan Kebaikan yang Ditinggalkan
St. Rouly Saragih Sumbayak kini telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Namun, bagi orang-orang yang pernah dekat dengannya, kenangan tentang dirinya tidak berhenti pada kepergiannya.
Ia dikenang melalui pelayanan di gereja, kepedulian kepada keluarga, perhatian kepada generasi muda, dukungan kepada komunitas, serta kesediaannya hadir bagi orang-orang yang membutuhkan.
Kehilangan seorang Porhanger tentu meninggalkan ruang yang tidak mudah diisi bagi jemaat GKPS Cipayung. Namun, nilai-nilai pelayanan dan kebaikan yang telah ditanamkannya akan terus menjadi bagian dari ingatan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.
“Perjuanganmu sudah selesai, Bang. Kau abang kami yang hebat. Selamat bertemu kembali di Jerusalem yang baru,” demikian salah satu ungkapan perpisahan yang disampaikan keluarga.
St. Rouly Saragih Sumbayak berpulang, meninggalkan istri, anak-anak, keluarga besar, jemaat dan sahabat-sahabat yang mencintainya.
Dalam suasana duka, keluarga besar GKPS Cipayung dan seluruh kerabat yang ditinggalkan kiranya memperoleh kekuatan, ketabahan dan penghiburan dari Tuhan.
"Segenap Majelis GKPS Jambi menyampaikan Dukacita Mendalam. Semoga Keluarga yang Ditinggal Tegar, Tabah dan Diberikan Penghiburan Oleh Tuhan maha Pengasih,"ucap Sy Rosenman Saragih Manihuruk.

.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)


0 Komentar