Home » , , , , , , , , , » Hilangnya Ikan Pora-pora dari Danau Toba, Apa Sebabnya?

Hilangnya Ikan Pora-pora dari Danau Toba, Apa Sebabnya?

Written By Beritasimalungun on Tuesday, 22 November 2016 | 06:54

Nelayan Mengeluarkan ikan Haporas dari Jaring di Desa Tongging. Jaring sebagai alat tangkap tradisional ikan Haporas. Foto Diabadikan Tahun 2010 lalu. Ft Dok Asenk Lee Saragih.

Oleh-oleh Danau Toba bahan Ikan Pora-pora.IST

BeritaSimalungun.com, Simalungun-Banyak masyarakat di pinggir Danau Toba kini merindukan ikan Pora-pora (Belili) (Haporas-Simalungun) atau sejenis ikan Paitan (Danau Singkarak) atau lebih dikenal dengan ikan Megawati. Kenapa disebut ikan Megawati? Karena Presiden Megawatilah yang menabur ikan Pora-Pora itu di Daau Toba.(Baca Juga:Dampak Pukat Nelayan, Ikan Haporas (Ikan Pora-pora) di Danau Toba Punah )

Saat kejayaan ikan Pora-Pora, warga yang bermukim di pinggir Danau Toba sungguh terbantu dengan keberadaan ikan Pora-Pora ini. Bahkan ikan Pora-Pora menjadi mata pencaharian tambahan warga selain bertani.(Baca:Nelayan Pesisir Danau Toba di Simalungun Terancam Kelaparan )

Namun tiga tahun terakhir, ikan Pora-Pora dari Danau Toba menghilang. Hilangnya ikan Pora-Pora ini diluar dugaan warga sekitar. Bahkan hingga kini belum ditemukan apa penyebabnya ikan Pora-Pora mendadak hilang dari Danau Toba.(Baca:Kadiskanla Sumut Bantah Kondisi Air Danau Toba Buruk untuk Bibit Ikan Pora-pora)

Awalnya semua pasti tahu dan ingat akan ikan yang satu ini. Penulis pastikan banyak orang suka makan ikan ini. Dulu pernah membuat taraf kehidupan banyak warga sekitar Danau Toba meningkat dan bahkan lebih sejahtra dari karyawan perusahaan pengeksploitasi Danau Toba.(Baca: 100 Ribuan Ikan Endemik Danau Toba akan Ditabur Pemprov Sumut Tiap Bulan)

Ikan ini juga sempat menjadi oleh-oleh para pengunjung yang datang ke Danau Toba. Lalu apa yang membuat ikan ini punah dari air Danau Toba yang maha luas dan indah itu?. Sedangkan penangkapannya sudah lama berhenti kurang lebih tiga tahun.(Baca:Mencari Pemasok Ikan Haporas (Ikan Pora-pora) Danau Toba)

Tetapi ikan ini sampai sekarang tidak pernah terlihat lagi. Apakah ikannya pada mandul dan tidak bisa lagi berkembang biak? Ataukah karena limbah KJA milik perusahaan yang sudah menggunung di dasar Danau Toba. Segera Selamatkan Danau Toba Beserta Komponennya. 


Ikan Haporas Danau Toba Sudah Menjadi Makanan Ternak Babi

Sortir Ikan Haporas : Sejumlah nelayan di Desa Wisata Tongging, Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Jumat (7/5/2010) tampak tengah menyortir ikan “Haporas” (Pora-pora) Danau Toba di Pekan Jumat Tongging. Kini harga ikan Haporas turun drastis dari Rp 2000 perkilogram menjadi Rp 1300 perkilogram ditingkat nelayan. Foto Asenk Lee Saragih

(Cacatan Ringan Sepekan di Simalungun-Tahun 2008)

Simalungun-Ikan "Haporas" sejenis ikan bandeng kecil (Chanos chanos Forskal) yang menjadi faritas khas ikan Danau Toba saat ini dijadikan makanan ternak Babi olah warga setempat.(Jadi Makanan Ternak Babi)

Ditaburnya ikan jenis bandeng bersisik ini di Danau Toba merupakan niat Pemerintah mensejahterakan masyarakat pesisir danau. Namun, niat baik pemerintah itu bertolak belakang dengan harga ikan Haporas yang saat ini harga merosot (Rp 1000 per kilogram).

Kejadian miris itu terdapat di Desa Hutaimbaru, Kecamatan Silimakuta, Kabupaten Simalungun. Desa ini terletak dipesisir danau. Ikan "Haporas" menjadi makanan ternak Babi merupakan pilihan utama warga karena harga ikan hasil tangkapan warga desa hanya dihargai Seribu Rupiah per kilogram. Padahal warga pesisir di keliling Danau Toba mampu mendapat ikan Haporas ini 5 ton sehari.

Lamhot P Saragih (29), warga Desa Hutaimbaru, Kecamatan Silimakuta, Kab Simalungun, baru-baru ini mengatakan, awal berkembangnya ikan jenis Haporas di Danai Toba, dimulai tahun 2004 lalu. Saat itu Presiden Megawati menabur benih jutaan ribu ekor ikan "Haporas" di Parapat, Simalungun Danau Toba.

"Saat kali pertama warga menjaring (mardaoton-red) ikan Haporas, harga ikan Haporas dipatok para nelayan desa ke tengkulak Rp 10 ribu perkilogram. Harga ini hanya bertahan selama dua bulan. Kemudian merosot ke harga Rp 5000 per kilogram (tahun 2006) dan kini hanya dihargai Rp 1000 per kilogram (2007-2008).

Akibatnya, gairah para warga menangkap ikan Haporas kini mati suri. Warga menangkap Haporas hanya untuk makanan ternak Babi. Hal senada juga diakui Tokoh Masyarakat Desa Hutaimbaru, St B Manihuruk yang juga peternak.

Menurutnya, ikan Haporas lebih baik dijadikan makanan ternak babi daripada di jual ke pekan (pasar). Biaya menangkap Haporas dengan jaring biayanya mahal, namun tidak diimbangi dengan harga yang patut.

"Bukan hanya desa ini yang menjadikan ikan Haporas jadi makanan ternak babi. Hampir seluruh warga desa d pesisir danau toba dari Desa Haranggaol, Kecamatan Horisan Simalungun hingga Desa Tongging, Kabupaten Karo juga melakukan hal yang sama. Seperti di Desa Soping, Bage, Baluhut, Sibolangit, Nagori Purba, Sihalpe, Binangara, Gaol, Silumbak dan masih banyak lagi,"katanya.

Ditambahkan, fakta miris ini baru terjadi saat ini. Disaat orang susah mendapatkan ikan tawar untuk konsumsi, namun di desanya "Haporas" justru dijadikan makanan ternak babi. Masyarakat desa kini menggantungkan hidupnya pada ternak babi dan ayam karena bertanam bawang kurang berhasil.

"Hasil tangkapan ikan Haporas usai disangi dari jaringnya, baru direbus dan diberikan kepada babi. Namun ada juga yang langsung memberikan ikan "Haporas" secara mentah kepada ternaknya. Tapi kami heran kenapa pertumbuhan ternak babi kami sangat lambat,"ujar B Manihuruk.

Sementara itu, Pangulu (Kepala Kelurahan) Desa Hutaimbaru, Saudin Sidauruk mengatakan, hampr seluruh warganya yang beternak babi memberikan ikan "Haporas" jadi makanan ternak mereka. Ini dilakukan karena membeli pakan ternak mahal (ampas ubi, dedak) mahal Rp 2500 per kilogram. Sedangkan harga jual Haporas hanya dihaegai Rp 1000 per kiligram,"katanya.
Pabrik Tepat Guna

Guna mengatasi hal itu. Pihaknya meminta bantuan pemerintah Simalungun agar memberi pabrik pengolahan ikan "Haporas" tepat guna menjadi bahan ternak babi dan ayam. Mereka juga menghaparkan agar ada pelatihan pabrik sederhana yang dapat dimanfaatkan warga setempat.

"Hampir seluruh warga peternak ayam dan babi di pesisir Danau Toba menjadikan "Haporas" jadi makanan ternak alternatif. Kondisi ini sungguh ironis. Disaat masyarakat di daerah lain kesulitan mendapatkan ikan tawar Danau Toba, di desa kami justru jadi makanan ternak. Ini sungguh menyedihkan bagi warga yang hingga kini menggantungkan hidupnya dari nelayan danau,"katanya.

Disebutkan, selama ini kondisi tersebut tidak diketahu pemerintah setempat. Warga Desa Hutaimbaru juga meminta perantau sukses asal Simalungun mau membantu mereka mengembangkan pabrik pengolahan ikan "Haporas" di Simalungun.

"Kita harapkan kepada orang Simalungun yang sukses di perantauan mau mengurangi beban warga yang kesulitan ekonomi. Melalui pabrik tepat guna salah satu media yang dibutuhkan warga guna mengolah ikan 'haporas" jadi bahan pakan ternek,"katanya.

Pengamatan penulis, penangkapan ikan Haporas lumayan rumit dengan jaring ikan (Daoton). Mengeluarga Haporas dari jaring cukup lambat tidak seperti ikan Mujahir. "Ikan Haporas sudah tidak asing lagi menjadi santapan ternak babi (i hutanami )di kampung kami. (Rosenman Manihuruk alias Asenk Lee Saragih)  
Share this article :

Post a Comment