}); January 2018 | BeritaSimalungun

BERITA TERBARU

MENU BERITA

MATRA-Media Lintas Sumatera (BETA)

MATRA-Media Lintas Sumatera (BETA)
KLIK Benner Untuk Penampakannya
INDEKS BERITA

Multi Etnis Berangkatkan (Paborhaton) JR Saragih Menuju Sumut 1

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 31 January 2018 | 10:30


Jopinus Ramli Saragih dan istrinya bernama Erunita Tarigan dalam acara Paborhatan di Pematang Raya Simalungun. (Tribun Medan/Dedy Kurniawan)
BeritaSimalungun, Raya-Bupati Simalungun, JR Saragih yang juga merupakan Bakal Calon Gubernur Sumut tampak gagah mengenakan pakaian adat Simalungun di hadapan ribuan warga dari berbagai daerah yang datang ke Pematangraya untuk mengikuti upacara Adat Paborhaton jelang Pulgub Sumut, Sabtu (27/1/2018).

Semua perwakilan suku di Sumut turut hadir dalam acara itu. Begitu pula istri JR Saragih Erunita Tarigan, dan anaknya Efarina Margaretha Saragih.

“Hidup Pak JR, Hidup Semangat Baru Sumut,” teriak warga yang mengiringi langkah JR menuju lokasi pelaksanaan Paborhaton di Lapangan SMP Negeri 1 Simalungun.

Hadirin yang turut dalam acara terlihat mengenakan baju adat Jawa, Melayu, Toba, Karo, Mandailing, Pakphak dan Tionghoa.

Paborhaton adalah ritual adat Batak yang berarti pemberangkatan dengan berkat. Paborhaton ini dilakukan sebelum pemberangkatan Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara JR Saragih. Ia akan melakukan prosesi pemotongan satu kerbau dan tujuh Sapi.

“Kepala kerbau ini nantinya akan diberikan kepada Bapak JR sebagai tanda penghormatan bagi masyarakat atas kinerjanya dan agar bisa menggapai keinginannya, prosesi ini dinamakan Jambar,” ucap Sekjen DPP Partuha Maujana Simalungun Cak Paten Purba di Pematang Raya.

Diperkirakan lebih dari 5.000 warga hadir dalam acara adat Paborhaton (Pemberkatan) ini.

“Alangkah senangnya kita pada Bapak yang akan menjadi Gubernur Sumatera Utara, Semoga Allah merestui langkah. Subhanallah, Bismillahirrohmanirrohiim,” kata pemuka agama yang mewakili umat Islam di atas panggung Paborhaton di SMPN 1 Raya, Simalungun.

Selanjutnya, perwakilan tokoh adat juga memberikan restu dengan menabur beras ke arah kepala JR Saragih dan istrinya.

“Horas. Hidup Pak JR jadi Gubernur Sumatera Utara. Hidup Semangat Baru Sumut,” teriakan warga di depan panggung.

Ritual Paborhaton 

JR Saragih menyembeli satu kerbau persiapan acara Paborhaton, Jumat (26/1/2018). (Internet)
Bupati Simalungun, JR Saragih yang ikut dalam kontestasi Pilgub Sumut 2018, maju sebagai bakal calon Gubernur berpasangan dengan Ance Selian dari Partai Kebangkitan Bangsa.

Dijadwalkan, masyarakat akan melepas keduanya dengan ritual adat Paborhaton. Paborhaton adalah ritual adat Batak yang berarti pemberangkatan dengan berkat.

Paborhaton ini dilakukan sebelum pemberangkatan Ketua DPD Partai Demokrat Sumatera Utara JR Saragih. Ia akan melakukan prosesi pemotongan satu kerbau dan tujuh Sapi.

“Kepala kerbau ini nantinya akan diberikan kepada Bapak JR sebagai tanda penghormatan bagi masyarakat atas kinerjanya dan agar bisa menggapai keinginannya, prosesi ini dinamakan Jambar,” ucap Sekjen DPP Partuha Maujana Simalungun Cak Paten Purba di Pematang Raya, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Jumat (26/1/2018).

Dijelaskan Cak Paten Purba bahwa pemotongan satu kerbau merupakan simbol kekuatan bagi masyarakat Sumatera Utara. Dalam prosesi ini diberikan sebuah kain sarun yang akan dilaksanakan sebelum matahari sempurna berada di puncak.

“Prosesi pemberangkatan ini dilakukan pada pukul 09.00 hingga pukul 12.00 WIB atau pada saat sebelum matahari berada di puncaknya. Bagi masyarakat Sumatera Utara, prosesi ini menyimbolkan adanya tahapan menuju cita-cita yang diinginkan,” jelasnya Cak Paten Purba.

Ketua Panitia Parborhaton, John Sabiden Purba menyampaikan bahwa prosesi menghantarkan JR Saragih dan Ance juga akan dihadirkan seluruh etnis yang ada di Sumatera Utara mulai dari Pakphak, Toba, Karo, Mandailing, Jawa, Melayu serta Tionghoa.

Sebelum menuju lokasi, maka JR Saragih akan diberikan pakaian adat yang terdiri dari topi, baju, pedang yang memiliki arti pemimpin tertinggi di Simalungun yang akan berjuang menuju arah yang lebih tinggi dengan harapan bisa meraih kemenangan.

“Bapak JR dan Ance akan berjalan kaki menuju lokasi acara kemudian disambut tarian tor-tor Dihar yang selanjutnya akan diberikan kain ulos Hiou Pamotting,” urainya.

Kemudian, setelah berada di lokasi maka JR Saragih dan Ance akan dipanggil oleh tokoh adat serta rohaniawan, selanjutnya diberikan makanan khas berupa ayam di binatur yang ditaruh di atas pinggan (piring) besar serta nitak berupa beras yang ditumbuk yang di dalamnya ada bumbu-bumbu rempah tradisional. Makanan ini nantinya diberikan oleh masyarakat.

“Dayok "Binatur" merupakan tradisi khas Simalungun yang mempunyai arti agar hidupnya teratur, bisa mencapai cita-cita yang diinginkan serta diberikan kekuatan dalam menjalankan hidup,” tuturnya. (BS)

Durhakalah Mereka yang Menyeret Saulina Br Sitorus (92 Tahun) Asal Balige Ke Penjara

Nenek Saulina Br Sitorus (92 Tahun) Perintahkan Anak Tebang Pohon Durian 
Saulina Br Sitorus (92) dibantu cucunya mendatangi PN Negeri Balige, Senin (29/1/2018). (Hetanews/Julina Martha Hutapea)
BeritaSimalungun-Hukum memang panglima tertinggi di Negeri ini. Hukum memang tak memandang usia. Hukum memang tak memandang status sosial. Namun mereka penegak Hukum setidaknya memiliki hati Nurani. Hukum setidaknya memiliki aspek keadilan dan aspek kemanusiaan. Namun apa yang terjadi di Pengadilan Negeri (PN) Balige, Sumatera Utara sungguh peristiwa yang luar biasa, khususnya bagi Orang Batak.

Tampaknya "Patik Palimahon" Hukum Taurat Ke 5 (Hormatilah Orang Tuamu) sudah diabaikan oleh nurani penegak hukum hingga tega menyeret Nenek renta ini ke Penjara. Hormat kepada orang tua mencakup pemeliharaan terhadap mereka pada saat mereka sudah tua tidak bisa bekerja.

Mat 15:4-6 - “(4) Sebab Allah berfirman: Hormatilah ayahmu dan ibumu; dan lagi: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya pasti dihukum mati. (5) Tetapi kamu berkata: Barangsiapa berkata kepada bapanya atau kepada ibunya: Apa yang ada padaku yang dapat digunakan untuk pemeliharaanmu, sudah digunakan untuk persembahan kepada Allah.

Adalah Ompung (Nenek) Saulina Br Sitorus (92). Perempuan renta ini menangis tersedu-sedu saat sidang pembacaan vonis kasus pidana di Pengadilan Negeri Balige, Tobasamosir, Senin (29/1/2018) lalu.

Saulina diseret ke hadapan hukum karena diduga ikut andil dalam penebangan pohon yang dilaporkan oleh saudaranya sendiri, Japaya Sitorus (70). Ia divonis tahanan 1 bulan 14 hari gara-gara menebang pohon durian untuk membangun tugu makam leluhur.

Perempuan tua yang akrab dipanggil, Oppu Linda ini, dituduh menebang pohon durian milik Japaya Sitorus berdiameter lima inci di Dusun Panamean, Desa Sampuara Kecamatan Uluan Toba Samosir ketika hendak membangun makam leluhurnya.

Majelis hakim yang dipimpin oleh Marshal Tarigan membacakan pertimbangan-pertimbangan dan segera memasuki bagian putusan. Kasus ini menyedot perhatian masyarakat luas karena harus menyeret perempuan uzur itu ke ranah hukum.

Enam anaknya juga terseret kasus ini dan Selasa (23/1/2018) telah divonis majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Balige dengan hukuman penjara 4 bulan 10 jari dipotong masa tahanan.

Ke-enam tervonis itu adalah Marbun Naiborhu (46), Bilson Naiborhu (60), Hotler Naiborhu (52), Luster Naiborhu (62), Maston Naiborhu (47) dan Jisman Naiborhu (45), masih harus menjalani sisa masa tahanan beberapa hari lagi. Namun mereka harus pasrah menerima sidang putusan Saulina Br Sitorus (92) yang akan digelar Senin, 29 Januari 2018.

Saulina Br Sitorus yang harus menggunakan tongkat kana berjalan ini selalu menekankan jika dia dan anak-anaknya pernah minta maaf kepada penggugat yang masih terbilang saudaranya, Japaya Sitorus (70).

Upaya damai tidak tercapai karena menurut pihak tergugat tidak sanggup menuruti nominal yang diminta Japaya. Dan mereka sudah dilaporkan ke polisi. Menurut mereka, Japaya Sitorus meminta uang ratusan juta sebagai syarat berdamai karena kesal dan juga menghitung segala kerugian yang diakibatkan penebangan pohon tersebut.

Saulina mengaku, dirinya sudah mendapatkan izin dari empunya tanah wakaf tersebut. Dan kini dia hanya menginginkan anak-anaknya pulang dan kembali melanjutkan hidup bersama keluarganya masing-masing.

Sejak awal Saulina sudah rela menawarkan dirinya dipenjara. Karena dialah yang menyuruh anak-anaknya membebaskan tanaman-tanaman yang sekiranya dianggap mengganggu pembangunan tambak atau (makam leluhur mereka). 

Sidang Nenek 92 Tahun

Rintihan Nenek 92 tahun saat divonis mengundang simpatik warga. “Jangan sidang lagi pak Hakim, aku sudah tua, capek aku,” ujar Saulina lirih.

Nenek Saulina Br Sitorus alias Ompu Linda (92) tahun menjalani sidang putusan di Pengadilan Negeri Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara, Senin (29/1/2018). Ia divonis tahanan 1 bulan 14 hari gara-gara menebang pohon durian untuk membangun tugu makam leluhur. 

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Balige, Kabupaten Toba Samosir, Sumater Utara menjatuhi hukuman penjara 1 bulan 14 hari kepada Saulina Br Sitorus. Ia j anda dari Boigodang Naiborhu.

“Menurut kami, terdakwa harus menjalani hukuman satu bulan empat belas hari," ujar Marsahal lalu mengetuk palu sidang, Senin (29/1/2018).

Kemudian hakim menanyakan Saulina terkait putusan yang baru saja dibacakan. “Apakah ada yang ditanyakan terkait putusan tersebut," tanya Hakim kepada Saulina. Hakim menjatuhkan vonis 1 bulan 14 hari untuk Nenek Saulina.
Adalah Ompung (Nenek) Saulina Br Sitorus alias Ompu Linda (92). Perempuan renta ini menangis tersedu-sedu saat sidang pembacaan vonis kasus pidana di Pengadilan Negeri Balige, Tobasamosir, Senin (29/1/2018) lalu.

Berikut beberapa fakta tentang persidangan Saulina.
1) LAHIR 19 TAHUN SEBELUM INDONESIA MERDEKA

Saulina alias Ompung Linda tampak bingung, dan menatap hakim dengan air mata dimukanya yang kuyu. Ia merintih, dan menjawab dalam bahasa Batak Toba “Unang be sai sidang be ahu bapak. Nungnga matua ahu, nungga loja ahu dihatuaon hu on”('Janganlah sidang lagi saya bapak. Saya sudah lelah di hari tuaku ini)".

Ia sembari mengangguk kearah hakim. Selanjutnya, menggunakan tongkat kayu bambu, Ompung Linda dipapah cucunya Helfina Rumapea ke luar Ruang Sidang.

Saulina kelahiran Oktober 1926. Ia lahir 19 tahun sebelum Indonesia merdeka.  Di masa senjanya, nenek ini masih aktif bertenun kais khas Batak, di kampungnya.

2) TIDAK FASIH BERBAHASA INDONESIA

Usianya sudah uzur, fisik sudah semakin melemah dan tulang hanya dibalut dagingnya yang tipis berkerut. Dia hanya berharap bebas. Sebagai nenek yang lahir, jauh hari sebelum Indonesia merdeka, wajar Saulina tidak bergitu fasih berbasa Indonesia.

Usai vonis, kepada wartawam Nenek Saulina mengaku tidak terlalu mengerti tentang apa yang dimaksudkan hakim kepadanya. Namun dengan berbahasa Batak, yang diterjemahkan Boy pengacaranya dia menyampaikan agar tidak disidang lagi dengan berbagai pertimbangan.

"Unang sai disidang be ahu. Nungga loja ahu, dang boi be ahu mardalani. Nungga mattua ahu." (Saya sudah tua, janganlah aku disidang-sidang lagi. Tak sanggup lagi karena sudah lelah di hari tuaku ini)," sebutnya dengan suara bergetar.

Nenek Saulina Br Sitorus mengaku lelah setiap kali menjalani persidangan. Apalagi harus menyeberangi Danau Toba dengan kapal kayu yang dia tumpangi memakan waktu kurang lebih dua jam. Belum lagi bila sidang dimulai sore hari dan bisa berakhir pukul 9 malam seperti hari-hari sebelumnya. Artinya, Nenek Saulina harus kedinginan malam harinya menahan hempasan angin danau tiap kali pulang ke rumahnya di Desa Panamean.

3) PENGACARA AJUKAN BANDING

Menyikapi putusan tersebut, penasihat hukum, Boy Raja Marpaung mengatakan akan pikir-pikir. Namun, usai persidangan mereka sepakat menyatakan banding.

“Kami akan menyatakan banding, karena sebelumnya Oppu Linda telah mendapatkan izin dari ahli waris lahan tersebut, yakni Kardi Sitorus," ujar Boy.

Kata Boy, dalam waktu dekat akan mengajukan memori banding di Pengadilan Tinggi Medan. Namun, keputusan tersebut kembali ke keluaraga Saulina, sebagaimana yang dilakukan anak-anaknya.

Cucu Ompu Linda, Helfina Rumapea mengaku tidak terima atas putusan hakim. Menurutnya, mereka berani membersihkan lahan tersebut dikarenakan memang telah mendapat restu dari Kardi Sitorus. Sehingga mereka berniat membangun Tambak/Tugu di tanah leluhur mereka.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erthy Simbolon tidak mau berkomentar ketika diwawancarai soal tuntutannya sebelumnya, dia tidak menjawab. Erthy Simbolon hanya bergegas keluar dari Ruang Sidang.

Terkait alasannya menahan para terdakwa setelah kasus dilimpahkan ke Kejaksaan oleh kepolisian dia juga tak menjawab. Erthy terburu-buru menuju ke luar ruangan menghindari wartawan.

5) GARA-GARA MENEBANG POHON DURIAN

Saulina Br Sitorus digugat Japaya Sitorus warga sekampungnya, sesama warga Dusun Panamean, Desa Sampuara Kecamatan Uluan, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara. Saulina dan Japaya masih terbilang saudara, sesama keturunan bermarga Sitorus. Japaya menggugat Saulina bersama enam orang lainnya.

Keenam orang itu adalah, yakni Marbun Naiborhu (46 tahun), putra kandung Saulina. Kemudian lima lagi adalah ponakan, yakni anak dari abang dan adik suaminya. Mereka adalah Maston Naiborhu (46), Jesman Naiborhu (45), Luster Niborhu (62), Bilson Naiborhu (59), Hotler Naiborhu 52). Dalam adat Tapanuli, ponakan semarga, disamakan dan disapa sengan sebuatan anak.

Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Balige, menyatakan keenam terdakwa bersama mengganjar hukuman penjara 4 bulan 10 hari dipotong masa tahanan, pada sidang putusan, Selasa (23/1). Mereka lebih dahulu menerima vonis sebelum Saulina.

6) MEMBANGUN TUGU MAKAM LELUHUR

Persoalannya bermula dari niat Sauline Br Sitorus dan keluarga besar bermarga Naiborhu membangun makam atau tugu leluhur dari suami dan leluhur, Naiborhu. Namun Japaya merasa dirugikan, karena Saulina dan anak/pnakan menebang pohon durian di atas tanah dijadikan tempat membangun tugu atau makam.

Tugu bagi orang Tapanuli dijadikan tempat pemindahan tulang-belulang atau kerangka nenek-moyang atau keluarga yang telah lama meninggal. Tulang-belulang biasanya digali dari kubur di tanah, lalu dipindahkan ke dalam tugu yang terbuat dari beton.

Japaya Sitorus tidak hadir pada sidang putusan kasus yang menyeret Ompu Linda, Senin (29/1/2018). Saat dikonfirmasi Japaya bersikeras, dia menggugat gara-gara para terdakwa menebang pohon durian miliknya yang teretak di pekuburan.

“Pohon durian itu milikku, telah berumur 10 tahun. Pohon durian tersebut ditebang oleh Marbun Naiborhu, kemudian diangkat ke pinggir tambak (tugu) agar tidak mengenai semen bangunan Boigodang Naiborhu yang sedang dibangun," kata Japaya kepada wartawan Tribun Medan, Senin (29/1/2018) malam. Ukuran pohon durian itu diperkirakan berdiameter sekitar 5 inci.

7) PENGGUGAT BERDALIH RUGI RATUSAN JUTA

Japaya merasa rugi senilai ratusan juta, karena di lahan yang dibangun tugu, sebelum terdapat pohon durian, belakangan ditebangi keluarga Saulina. Sedangkan Saulina mengaku sudah mendapatkan izin dari empunya tanah wakaf untuk dijadikan tempat membangun tugu. Lalu melaporkan Saulina dan terdakwa lainnya pada 1 Maret 2017 lalu ke Polsek Lumban Julu, Tobasa.

Dalam laporan Japaya, mereka disebut-sebut merusak pohon durian di dekat areal pemakaman. Sesuai laporan Japaya, durian tersebut adalah miliknya, meski kuburan yang tengah dibangun menjadi tugu atau tambak itu juga tidak lain adalah leluhur Saulina Sitorus.
Saulina dan kawan-kawan disangkakan tentang perusakan yang dijerat pasal 170 ayat 1 KUHP subsider 406 ayat 1 KUHPidana Jo Pasal 55 Ayat 1 ke 1e KUHPidana.

Wartawan Harian Tribun Medan/onlin Tribun-Medan.com, telah mengikuti persidangan Saulina dan kawan-kawan sejak Rabu (20/12/2017). Mereka telah menunggu sejak pukul 11.00 WIB. Namun baru sore hari, sidang dimulai.

Saat itu, bangku panjang Ruang Sidang Pengadilan Negeri (PN) Balige dipenuhi kerabat sekampung dan keluarga Saulina Sitorus pada pembacaan keterangan saksi meringankan (A De Charge). Sementara para terdakwa digiring menuju ruang sidang mengenakan rompi tahanan berwarna oranye. Saulina dan enam terdakwa didampingi penasihat hukumnya, Natalia Hutajulu SH dan Boy Raja P Marpaung SH.

Saat itu, Saulina tampak membisu. Raut wajahnya sedih penuh harap pada hakim PN Balige. Nenek yang akrab disapa Ompu Linda, duduk di samping Boy Raja.

Saulina tidak bisa lagi duduk tegak di kursinya, beruntung saat ini dia tidak perlu ikut mendekam di tahanan bersama anak dan keluarganya tersebut. Sementara ke-6 terdakwa lainnya sudah ditahan sejak 19 September 2017. Setelah divonis 4 bulan 10 hari,dalam waktu dekat, mereka akan segera bebas dari tahanan.

8) MENDAPAT IZIN PEMBERI WAKAF

Kardi Sitorus, sebagai saksi dalam kasus ini, mengatakan tanah pekuburan tersebut sudah mereka berikan digunakan untuk tanah wakaf sesuai mandat ayahnya. Sehingga, ketika para terdakwa datang hendak membersihkan kuburan untuk membangun tugu/tambak sebelumnya sudah meminta izin kepadanya. Atas restunya, para terdakwa pun mulai membersihkan termasuk menebang pohon durian.

“Jadi mereka ini (terdakwa) datang ke saya. Dan saya izinkan. Buat saja, silakan. kau bisa buat tambak di sana. Lalu setelah selesai, saya didatangi lagi dan mereka lapor bahwa di sana ada tanaman durian. Lalu saya bilang, bersihkan saja kalau di sana ada durian," kata Kardi.

Penebangan pohon durian ini menjadi muasal perkara. Namun, Kardi mengaku tidak tinggal diam. Setelah mengetahui persoalan tersebut, dia berinisiatif memediasi agar kedua belah pihak berdamai. Menurutnya, polisi turut mendamaikan, namun tak berhasil.

Upaya perdamaian yang dilakukan sudah dua kali. Dan orangtua di desa pun pernah mendamaikan apalagi pihak terdakwa katanya menunjukkan itikad baik.

“Setelah persoalan ini saya ketahui, saya suruh anak saya mendatangi si Japaya. Lalu polisi pun mendamaikan, tapi si Japaya tidak mau," ucap Kardi menjawab pertanyaan hakim.

Sesuai keterangan saksi, penasihat jukum para terdakwa, Boy Raja memastikan butuh pemeriksaan hukum yang objektif terkait kepemilikan pohon-pohon yang diklaim sebagi milik Japaya.

“Artinya harus ada pembuktian yang objektif atas kepemilikan itu. Karena untuk pembuktian itu dilakukan atas keterangan saksi yang tidak lain adalah anak dan istri Japaya saja. Sementara harus ada alat bukti yang menunjukkan bahwasanya itu adalah sah milik Japaya," kata Boy.

Menurut Boy, lahan tersebut bukan milik Japaya maupun milik gereja. Sebab, bila memang benar itu adalah lahan gereja pihak gereja, pasti keberatan ketika tugu/tambak dibangun di sana. Tanah tersebut sudah dihibahkan menjadi tanah wakaf bagi warga Panamean oleh Kardi dan tidak diizinkan sebagai lahan berladang atau bercocok tanam di areal itu.(BS)


Selamat Jalan Panggi Darman Saragih

Written By Beritasimalungun on Monday, 29 January 2018 | 13:36

Selamat Jalan Jalan Panggi Darman Saragih
BeritaSimalungun-Selamat Jalan Jalan Panggi Darman Saragih. Meninggal Karena Sakit Rumah Sakit Bekasi Minggu 28 Januari 2018 Malam. Rencana Dimakamkan di Sirpang Sigodang, Kabupaten Simalungun. 

Jenazah Diberangkatkan Dari Rumah Sakit Umum Bekasi Senin (29/1/2018) Pukul 12.00 WIB Bandara Soeta Tujuan Kualanamu. Penerbangan Pukul 16.00 WIB. Turut Berdukacita......Semoga Kelurga Tabah dan Tegar. SELAMAT JALAN PANGGI!!!!!!!
Doa Pemberangkatan Jenazah Darman Saragih dari RSU Jalan Pramuka Bekasi, Senin (29/1/2018).Photo FB-Sahalatua Saragih.

Bagaimanakah Hidup Harus Dijalani? (Antara GKPS Tinggi Saribu dengan GKPS Cikoko)

Pdt Defri Judika Purba

Oleh: Pdt Defri Judika Purba

BeritaSimalungun-Hari ini (Minggu 28 Januari 2018) saya melayani ke GKPS Tinggi Saribu. Apa yang saya hadapi sangat berbeda jauh dengan apa yang saya alami minggu yang lalu.

Minggu lalu saya melayani di salah satu jemaat di Kota Jakarta, yaitu GKPS Cikoko. Jemaat ini termasuk jemaat yang mapan dilihat dari program dan dukungan dana.

Gedung gerejanya sudah permanen dengan balkon di atas pintu masuk ada terpasang beberapa AC di dinding, membuat suasana tambah sejuk dan adem. 

Kursi untuk jemaat berjejer rapi membentuk formasi empat baris. Sound system sudah diatur sedemikian rupa, sehingga tidak menimbulkan suara yang mengganggu. 

Sekeras apa-pun song leader mengeluarkan suara, tidak akan bisa mendominasi suara jemaat. Betul-betul penataan audio yang sudah melibatkan aspek akustik ruangan. 

Sudah tersedia lapangan parkir yang memuat mobil jemaat. Walau tidak terbilang luas, lahan parkir cukuplah menampung mobil jemaat yang datang beribadah, di tambah bahu jalan di depannya. Di samping parkir tersedia gedung sekolah minggu bertingkat yang terdiri dari beberapa ruangan kelas.

Warta jemaat memuat dengan rinci program yang sedang dikerjakan dan akan dikerjakan. Untuk program jemaat, saya perhatikan didominasi bona tahun sektor. 

Ada yang dilaksanakan di rumah jemaat dan ada di tempat wisata. Jemaat yang sedang sakit dan berulang tahun juga dimuat secara rapi dan rinci. 

Warta jemaat juga memuat rincian dana masuk dan keluar berikut jumlah saldo. Saya perhatikan saldo kas jemaat puluhan juta rupiah.

Saldo panitia pembangunan hampir dua milyar. Ada program panitia pembangunan yaitu renovasi gedung gereja yang ditaksasi berbiaya empat setengah milyar.

Meja altar dihiasi bunga tekwa warna/i dengan dedaunan segar di sela-selanya. Setelah selesai ibadah, bunga segar ini tidak ada lagi di tempatnya. 

Mungkin langsung diganti dengan bunga yang lain pada ibadah berikutnya. Waktu ibadah, suasananya benar-benar sangat nyaman.

Nyanyian dinyanyikan dengan baik dan benar dengan memperhatikan kaidah musik. Tanda titik dan angka nol benar-benar dipakai. 

Pengiring musik ada dua. Satu dengan efek pipe organ satu lagi dengan iringan piano lembut. Song leader ada tiga orang. Saya perhatikan mereka benar-benar menguasai lagu begitu juga cara memakai miks.
Pdt Defri Judika Purba (paling kiri) saat melayani di GKPS Cikoko Jakarta.
Itulah suasana dan pengalaman seminggu yang lewat. Hari ini (Minggu 28 Januari 2018) suasananya sangat jauh sekali berbeda. Untuk menuju ke GKPS Tinggi Saribu, saya harus menyiapkan tenaga ekstra untuk bisa sampai kesana. 

Memang sepeda motor sudah bisa kesana. Tetapi akhir-akhir ini kondisi jalan bertambah rusak. Sebagian sisi jalan sudah ada yang longsor menutupi badan jalan. 

Air hujan yang deras juga menggerus jalan sehingga jalan banyak yang berlubang akibat gerusan air. Batu lepas berserak dimana mana. 

Kalau dulu pertama sekali naik sepeda motor kesana, hanya dua titik yang rawan, kali ini sudah empat titik. Saya harus turun dari sepeda motor untuk mendorongnya. 

Untung datang pengantar jemaat menjemput saya. Kalau tidak, saya mungkin tidak sampai ke Desa Tinggi Saribu.

Gedung gereja GKPS Tinggi Saribu masih semi permanen. Ada dua baris bangku berjejer. Altarnya masih dari triplek. Tidak ada bunga warna/i di atas altar. 

Hanya ada bunga hias palsu berwarna pink dari tahun ke tahun, tidak pernah diganti. Lonceng gereja dari lingkar mobil. Digantung seadanya pakai kawat. Alat pemukulnya terbuat dari besi kecil.

Ibadahnya berbeda jauh dengan kondisi pertama yang saya ceritakan. Nyanyian tidak ada diiring alat musik. Semua nyanyian dinyanyikan dengan tempo lambat. 

Sudah beberapa kali diajari, tapi toh juga kembali kepada kebiasaan awal. Kalau ibadah mau dimulai, petugas ibadah berdiri di depan di samping altar berdesak-desakan. Mereka belum memiliki gedung konsistori.

Warta jemaat yang dibacakan setelah selesai ibadah, tidak terlalu lama. Hanya dua menit tidak sampai karena tidak banyak warta yang harus disampaikan. 

Hanya dana masuk yang diwartakan, dana keluar tidak. Saldo jemaat tidak sampai kisaran lima juta. Itu pun ada setelah dikumpul selama beberapa tahun. Tidak tahu harus dikemanakan.
 
Dari dua situasi yang saya ceritakan di atas, sebenarnya saya memiliki mimpi. Mimpinya agar kiranya kita bisa bertumbuh bersama. 

Bertumbuh dalam kehidupan persekutuan yang saling menopang dan memperhatikan. Bertambah besar secara bersama-sama. Dalam Tahun Diakonia GKPS 2018 ini, pertumbuhan bersama di dalam persekutuan gereja kita hendaknya digagasi dan dipikirkan bersama. 

Jemaat yang sudah mapan dan besar misalnya bisa "Berdiakonia" kepada jemaat-jemaat kecil yang ada di pedesaan. Kalau ini misalnya terjadi, pasti terjadi suatu gelombang perubahan yang semakin nyata dalam hidup persekutuan kita.

Kembali kepada judul tulisan di atas. Bagaimanakah kehidupan ini harus dijalani? Dengan memaparkan dua situasi di atas, sebenarnya saya tidak mau memperbandingkan. Saya hanya mau menyampaikan kondisi apa adanya. 

Didalam situasi ini bagaimanakah saya menghadapinya? Apakah saya merindukan kondisi yang pertama, seraya menolak kondisi yang kedua? 

Sama sekali tidak. Saya menerima kedua kondisi tersebut di dalam proses pemaknaan hidup. Beginilah kehidupan ini berproses dan terjadi. Kadang susah kadang mudah. Kadang diatas kadang dibawah.

Kadang berduit, kadang tidak berduit. Kadang lewat jalan tol, kadang harus mendorong sepeda motor. Kadang makan ikan bandeng pepes, kadang cukup hanya daging babi hutan. Kadang di kota, kadang di desa. Kadang tidur di hotel, kadang tidur di atas lantai papan.

Semua yang terjadi mengajarkan kehidupan ini akan menjadi lebih indah kalau dijalani dengan ucapan syukur. Syukur untuk semua perkara dan peristiwa yang sudah dan akan terjadi. Apa pun perkara yang kita hadapi kalau dihadapi dengan syukur, semua menjadi sangat indah.
 
Seperti kata syair lagu: "Hidup ini adalah kesempatan, hidup ini untuk melayani Tuhan, Jangan sia-siakan apa yang Tuhan b'rikan, hidup ini harus Jadi Berkat". Tetaplah bersyukur !!!*

Pesta Bona Tahun Purba Pakpak Se Kota Jambi 2018 Meriah

Suasana manortor di Pesta Bona Tahun Tumpuan Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi di Gedung Asini Roha II, Minggu, 28 Januari 2018. Foto Asenk Lee Saragih. 


BeritaSimalungun, Jambi-Tradisi Budaya Batak, Khususnya Batak Simalungun tetap diabadikan hingga ke Kota Jambi. Acara Pesta Bona Tahun (Pesta Awal Tahun) merupakan salah satunya yang tetap erat dilaksanakan kumpulan marga-marga di Kota Jambi. Manortor (menari) bersama pada Pesta Bona Tahun juga menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat Batak di tanah perantauan. Pesta Bona Tahun ini sudah merupakan kewajiban bagi setiap perkumpulan marga-marga disetiap awal tahun.

Hal itu juga yang ditunjukkan Tumpuan (Kumpulan Kerabat) Marga Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi di Gedung Asini Roha II Kotabaru Kota Jambi, Minggu (28/1/2018). Pesta Bona Tahun Tumpuan Purba Pakpak, Boru dan Panagolan se Kota Jambi dihadiri sebanyak 117 kepala keluarga (KK) atau sekitar 350 jiwa dari 150 KK Anggota Purba Pakpak se Kota Jambi Tahun 2018. 



Merajut “holong” (kasih) di Pesta Bona Tahun Purba Pakpak-Boru-Panagolan se-Kota Jambi cukup meriah dan bersahaja. Tradisi budaya Batak ini semakin kokoh dan abadi di tanah perantauan. Pesta Bona Tahun Purba Pakpak ini juga sebagai ajang silaturahmi kekerabatan kepedulian sesama di Kota Jambi.

Susunan Acara di Pesta Bona Tahun Purba Pakpak-Boru-Panagolan se-Kota Jambi 2018 meliputi Ibadah, Makan Bersama, Pesta Bona Tahun. 

Pesta Bona Tahun diawali dengan Ibadah dengan Kotbah oleh  Pdt Riando Tondang STh. Sementara Votum Liturgis St E Br Sitopu MPd, Organis Sy Friston R Sinaga SPd, Songliders, Sy R Saragih, Bp Wendi Saragih. 

Kotbahnya, Pdt Riando Tondang STh diambil dari Nats Matius 11: 28. Inti Kotbahnya mengajak seluruh Anggota Tumpuan Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi untuk tidak takut dan kwatir dalam menjalankan kehidupan sehari-hari walau melawan rintangan. “Jadikanlah Tuhan sebagai sumber kekuatan dalam menjalani kehidupan seharihari serta selalu berseru Kepada Tuhan dalam setiap pergumulan,” ucapnya saat Kotbah.

Sebelum sebelum santap siang bersama, juga dilakukan pemberian makanan khas Adat Simalungun “Dayok Binatur” kepada Penasehat, Tondong Purba Pakpak, Pengurus, Boru, Panagolan dan Panitia.

Pesta Bona Tahun dirangkai dalam 14 poin yakni Pengantar Protokol Bp J Saragih dan St JB Sitopu, Laporan Pengurus Harian (Ketua Drs A Purba/br Sinaga, Sekretaris H Simarmata/br Manullang, Bendahara M Sijabat/br Purba) dilanjutkan dengan Tortor Pengurus Harian Purba Pakpak.

Kemudian Tortor Penasehat Tumpuan, Tortor Ketua Wilayah dan Komisaris, Tortor Purba Pakpak na Marsanina, Tortor Hela/Boru Purba Pakpak, Tortor Panagolan Purba Pakpak (Laki-laki), Tortor Panagolan Purba Pakpak (Wanita), Penerimaan Anggota Baru, Tortor Niombah (Anak-anak) Purba Pakpak, Laporan Keuangan Sementara Panitia Pesta Bona Tahun Purba Pakpak 2018, Doa Penutup.

Pesta Bona Tahun dilakukan pengumpulan dana untuk kas kumpulan melalui “Tortor”. Perayaan Pesta Bona tahun tersebut cukup bersahaja dan menjalin kepedulian sesama. Pada kesempatan itu juga diadakan penerimaan anggota baru. Terkumpul dana pada hari itu dari tortor sekitar Rp 25 juta lebih. Acara berjalan lancar sesuai dengan tata acara yang telah disiapkan sebelumnya.

Rangkaian Tortor juga diselingi dengan penarikan hadiah kupon dooprize yang telah disiapkan oleh Panitia. Panitia juga mengadakan hadiah undian utama sesuai daftar hadir berupa 1 Mesin Cuci, 2 Tab Adroid, 2 Kipas Angin, 1 Karpet, Piring 8 paket (@1/2 lusin).

Ketua Umum Punguan Marga Purba Pak-pak/Boru/Panogolan se Jambi, Drs A Purba/br Sinaga dan Ketua Panitia Pesta Bona Tahun Purba Pakpak, Sy SA Purba Pakpak/ Br Lingga mengatakan, Pesta Bona Tahun Purba Pakpak di Kota Jambi merupakan budaya Batak Simalungun yang harus dilestarikan.

“Kalau di kampung halaman, pesta ini jarang ada. Ini hanya banyak di tanah perantauan. Kumpulan marga mampu mempersatukan orang Batak di tanah rantau dari berbagai kampung asal usul di Sumatera Utara. Kumpulan marga, adalah aset budaya Batak yang harus dilestarikan sebagai kekayaan Budaya Indonesia,” kata SA Purba.

Menurutnya, Pesta Bona Tahun Purba Pakpak ini sebagai wujud “Holong” antar anggota kumpulan untuk saling peduli satu dengan yang lain. Kepedulian sosial merupakan tujuan dari kumpulan marga tersebut supaya sesama anggota terus terjalin hubungan timbal balik dalam “Holong”.

Sementara Ketua Kumpulan Purba Pakpak Kota Jambi Drs A Purba, kini kumpulan Purba Pakpak-Boru-Panagolan se Kota Jambi dibagi Sembilan komisaris. Penasehat St RK Purba/br Sitepu, Sy S Purba/br Simarmata, M Simatupang/br Purba, St JBS Sumbayak/br Sinaga (+).

St RK Purba Pakpak beserta istri P br Sitepu, Petrus Purba Pakpak dan lainnya juga memberikan sumbangan kepada ratusan anak-anak kumpulan kerabat Purba Pakpak dalam akhir acara dengan “tortor” penutup. Pesta bona tahun Purba Pakpak 2018 menampilkan Group Musik JKR Musik yang memukau dengan lagu-lagu Simalungun.

Hadiah doorprize dan hadiah utama yang disumbangkan Kel Petrus Purba/ S br Haloho dan Kel St AD Damanik/Br Purba. Sedangkan konsumsi sebagian besar disumbangkan dari Anggota serta dikerjakan dengan cara Gotong Royong. 

Pesan St RK Purba 

Sementara Tokoh Masyarakat Simalungun di Jambi St Raja Kumpul (RK) Purba Pakpak mengajak orang Simalungun yang ada di Provinsi Jambi untuk percaya diri dalam hidup bermasyarakat. Orang Simalungun di Provinsi Jambi tak lagi menjadi tamu namun sudah menjadi tuan rumah di Provinsi Jambi.

Pada awalnya orang Simalungun, khususnya Marga Purba Pakpak di Provinsi Jambi datang dengan berbagai latar belakang profesi dan kehidupan sosial yang beragam. Mulai dari buruh, berkebun, pegawai, TNI, Polri, Pengusaha dan berbagai profesi lainnya. 

Namun Orang Simalungun di Jambi, patut bersyukur sejumlah Orang Simalungun pernah menjabat di Provinsi Jambi seperti mantan Kajati Jambi Erbindo Saragih dan JW Purba Pakpak.

“Saya juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh Anggota Tumpuan Purba Pakpak se Kota Jambi yang terus membangun kebersamaan dalam tumpuan. Juga kepada pengurus yang telah menjalankan kegiatan Tumpuan Purba Pakpak selama ini. Semoga Tumpuan Purba Pakpak se Kota Jambi semakin bersatu padu dan saling tolong menolong dalam suka dan duka,” ujar St RK Purba Pakpak yang juga Dewan Penasehat Purba Pakpak Jambi.

Tokoh Batak Simalungun yang pada 12 Februari 2018 genap berusia 79 Tahun ini berpesan, agar generasi muda Purba Pakpak, Boru Panagolan se Kota Jambi dan sekitarnya tetap memberikan hati dan waktu untuk kumpulan dalam suka dan duka. Juga tetap menjaga kekompakan dalam kumpulan marga. Acara ditutup dengan doa pulang dengan salam-salaman. (BS-Asenk Lee)


Suasana manortor di Pesta Bona Tahun Tumpuan Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi di Gedung Asini Roha II, Minggu, 28 Januari 2018. Foto Asenk Lee Saragih.

Suasana manortor di Pesta Bona Tahun Tumpuan Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi di Gedung Asini Roha II, Minggu, 28 Januari 2018. Foto Asenk Lee Saragih.

Suasana manortor di Pesta Bona Tahun Tumpuan Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi di Gedung Asini Roha II, Minggu, 28 Januari 2018. Foto Asenk Lee Saragih.

Suasana manortor di Pesta Bona Tahun Tumpuan Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi di Gedung Asini Roha II, Minggu, 28 Januari 2018. Foto Asenk Lee Saragih.




Suasana manortor di Pesta Bona Tahun Tumpuan Purba Pakpak, Boru, Panagolan se Kota Jambi di Gedung Asini Roha II, Minggu, 28 Januari 2018. Foto Asenk Lee Saragih.

Kuliner Khas Simalungun "Dayok Binatur (Dayok Atur Manggoluh)"

Written By Beritasimalungun on Saturday, 27 January 2018 | 08:33

Kuliner Khas Simalungun "Dayok Binatur (Dayok Atur Manggoluh)" Dipanggang Buatan St Berlin Manihuruk, Desa Hutaimbaru, Kecamatan Pamatang Silimakuta, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Photo Asenk Lee Saragih.
BeritaSimalungun-Sebuah Tradisi Mempersembahkan Ayam dalam Tradisi Simalungun - yang kaya akan makna dan petuah. Sejak Tahun 2016,  Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya – Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Republik Indonesia telah menetapkan DAYOK BINATUR sebagai WARISAN BUDAYA TAK BENDA (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Dayok Binatur adalah Ayam (Dayok) yang dimasak dengan cara (Ruhut-ni) Simalungun, yang biasanya digunakan dalam acara adat tertentu. Cara mempersiapkan sampai mempersembahkan (manurduk) Dayok Binatur ini mengikuti kaidah, etika, aturan tertentu – yang kita di Simalungun menyebutnya dengan Ruhut.

Ada ruhut ketika mempersiapkan atu memilih jenis ayam yang mau dipotong. Ada Ruhut membagi potongan ayam yang disebut manrang-rang dan martok-tok. Ada tata cara untuk menata potongan dari kepala sampai ekor (ulu – ihur). Ruhut manurdukhon atau mempersembahkan ayam yang sudah di batur.

Urah do ganupan lahouan anggo domma nabotoh ruhutni, begitu kata terua kita di Simalungun jaman dahulu. Artinya: semua pekerjaan itu jadi mudah kalau kita sudah tahu kaidah, etika dan tatacaranya. 

Membuat Dayok Binatur pun bukan pekerjaan susah seperti yang dikeluhkan oleh banyak orang – terutama generasi Jaman Now yang lebih mengenal makanan cepat saji atau masakan yang disiapkan rumah makan. Dari dayok binatur kita bisa belajar tentang kebersamaan dan pembagian peran.

Ayam yang sudah dipotong potong sesuai bagiannya (Gori), sesudah dimasak ditata kembali didalam satu wadah berupa Pinggan Pasu atau Sapah. 

Makna yang terkandung disini: Semua orang mempunyai peran dalam acara/horja adat (tolu saodoran lima sahundulan), dan kesediaan berbagi peran itu juga menentukan keberhasilan suatu acara. Riah do sibahen parsaudni horja. Hasadaon ni riah dilambangkan dengan ayam yang diatur (atur manggoluh) diatas wadah yang bulat.

Didalam acara adat Simalungun, Dayok Binatur adalah persembahan yang utama. Jika pun dalam acara itu ada memotong Babi, Kebau atau Kambing – itu dianggap sebagai pengiring (pangiring). 

Pemberian Dayok Binatur sebagai Ucapan Syukur kepada St Radesman Saragih M Sos saat Ulang tahun Ke 51 Tanggal 22 Januari 2018 di Jambi. Suatu Tradisi Budaya Adat Simalungun yang tak lekang hingga keperantauan. Photo Asenk Lee Saragih.
Ketika seseorang “disurduki” dengan Dayok Binatur, harapan utamanya agar orang yang disurduk itu hidupnya teratur, bahagia dan sejahtera. Semakin bersemangat dalam menjalani hidup, itu juga makna terkandung dalam pemberian Bunga Raya dan potongan jahe dan cabe diatas Dayok Binatur.

Memilih dan Mempersiapkan Ayam yang di Potong.

Orang Simalungun memberi makna pada setiap warna ayam yang hendak dipotong. Ada dayok Si Mirah, Si Lopak, Si Jarum Bosi, Si Sabur Bintang dan lain lain. Ayam yang hendak di potong dipilihlah yang sehat (ulang na bunrungon). Barimbing (Jengger)nya harus bagus dan tegak keatas (Ayam Bangkok tidak memenuhi kualifikasi untuk dijadikan Dayok Binatur).

Ada beberapa pendapat mengenai “Berean” atau kepada siapa Dayok Binatur itu hendak ditujukan (i surdukhon). Ayam Si Mirah ditujukan kepada Sibiak Tondong. Ayam Jarum Bosi untuk sibiak Sanina (sebagian menggunakannya untuk orang yang baru naik jabatan) dan Ayam Siputih untuk sibiak Boru. 

Ada juga warna Dayok yang mau disurdukhon itu berdasarkan “sir ni uhur”, keinginan hati yang dalam. Tapi penentuan warna dayok "Berean" ini juga tidak baku, dibeberapa daerah Simalungun ada juga perbedaannya.

Ada juga yang membagi warna ayam dari persfektif spiritual Simalungun jaman dahulu (Habotohan Sapari):

1. Dayok Sijarum Bosi itu dulu ditujukan sebagai galangan atau pesembahan kepada Bhatara Guru (Anggo dong ayok namar anting-anting lebih dear).

2. Dayok Silopak (Putih) kepada orang yang dianggap suci, Namarpambotoh, Datu atau Ompung Na Ilobei (leluhur)

3. Dayok Simirah (Merah; orang Simalungun juga membagi beberapa varian warna ayam merah) biasanya ditujukan kepada Pemimpin (Partongah), Panglima (Goraha) atau orang yang dituakan.

4. Dayok Sabur Bintang biasanya disurdukhon kepada orang yang mau belajar, anak yang mau mencari nafkah atau memulai usaha baru supaya murah rejeki, hidupnya terhormat dan sukses dalam kehidupan. Dan sekali lagi, tiap daerah ini bisa berbeda. Dan setiap perbedaan itu memperkaya khasanah budaya Simalungun.

Ruhutni Mamungkah Manayat Dayok (Kaidah memotong Ayam)

Kalau Ompung kami dulu di Rayamas, menasihatkan agar ayam yang hendak dipotong itu harus diberi makan dulu (ibere mamagut). Temboloknya harus penuh (gok isini biruruni). Jangan sekali kali memotong ayam yang sedang kelaparan. Konon itu harapan agar orang yang hendak disurduki Dayok Bintur hidupnya berkecukupan dan sejahtera.

Jika ayamnya sudah kenyang, maka kaki (kais kais) dan paruh (Pamagut) ayamnya dibersihkan/dicuci dengan air. Ompung kami mempunyai kebiasaan membawa ayam yang sudah dibersihkan itu ke kamarnya untuk di doakan. Didalam kamar itu harapan, doa dan permohonan disampaikan kepada Yang Maha Kuasa.

Sebelum ayam dipotong, pastikan bahwa kaki ayam tidak ada tali yang melilit, dimana maknanya supaya hidup orang yang disurduki Dayok Binatur terbebas dari lilitan masalah. Sesudah itu lidah ayam dikeluarkan dan kemudian dijepitkan pada paruhnya, supaya ayamnya tidak bersuara ketika dipotong. Lalu bulu ayam disekitar leher yang mau disayat dicabuti (kalau bisa jangan sampai jatuh ke tempat penampungan darah ayamnya).

Pisau yang digunakan untuk memotong ayam juga harus bersih dan tajam (marot / ulang tajol). Konon itu simbol kebersihan hati (paruhuran), kejernihan dan ketajaman pikiran. Sebelum ayam dipotong, hembus dulu bagian pantat ayam supaya fesesnya tidak keluar saat dipotong (pesak).

Yang pertamakali digunakan maneses/menyayat leher ayam adalah bagian punggung (bagian yang tumpul); dengan cara pisaunya digesekkan keatas dan kebawah sekali saja. Baru selanjutnya menggunakan bagian mata pisau untuk maneses. Darah ayam yang menetes dari leher melalui ujung pisau juga mempunyai makna. Untuk menginterpretasinya butuh keahlian khusus.

Ketika memotong ayam, usahakan ayamnya tidak mati ditangan kita. Jadi sebelum ayamnya menghabiskan nafas lehernya dilipat (ipulos) kedalam sayapnya. Kalau sudah benar benar mati baru disiram pakai air mendidih (jangan terlalu lama) dan dicabuti bulunya. Tips supaya tidak kepanasan memegang ayam yang baru disiram air adalah: cabut sebuah bulu bagian sayap yang paling panjang, kemudian tusukkan kelobang hidung ayam dan bulu itu dijadikan pegangan.

Hatani / sahapni atau Perlambang yang terdapat pada Ayam yang dipotong

Bagi orang yang berkeahlian khusus, kejadian saat memotong ayam itu menyampaikan pesan atau makna (sekarang sudah langka orang yang mempunyai pengetahuan ini). Pesan dan makna ini yang disebut “hata atau sahapni dayok”.

Bagaimana cara ayam meronta ketika dipotong dan hendak menghabiskan nafasnya? Bagaimana cara menetes atau muncratnya darah dari leher? Bagaimana kondisi organ dalam yang dipotong. Dari sini bisa dibaca bagaimana kehidupan dan kondisi kesehatan orang yang hendak disurduki Dayok Binatur. Bahkan ketika ayam sudah disurduk kepada kita, bagian mana yang pertama kita ambil (jomput), konon itu bisa menggambarkan sifat dan kehidupan kita.

Ruhut Manrang-rang dan martok-tok Dayok (Kaidah memotong bagian Ayam)

Biasanya ayam yang sudah dicabuti bulunya selanjutnya dibakar diatas nyala api untuk membersihkan bulu bulu halus yang masih tersisa. Kulit ari yang terdapat pada kaki juga semakin mudah dilepaskan ketika dipanaskan dengan api. Kemudian dicuci bersih, terutama bagian dalam mulut ayam. Kulit bagian tembolok juga dikoyak untuk memisahkannya dengan bagian dada kemudian dicuci juga.

Biasanya yang terlebih dahulu dipotong atau dirang-rang adalah bagian sayap dan kaki ayam. Memotong bagian ayam pada tahapan ini tidak melukai tulang ayam atau dipotong mengikuti buku/ruas tulang ayam. Sedikit daging dari bagian pangkal sayap disayat untuk dijadikan toktok. Tulang bagian tengah ruas sayap (antara pangkal dan ujung sayap) dikeluarkan tapi jangan sampai dagingnya putus atau terpisah.

Kaki ayam dipisahkan dari bagian tubuh ayam. Kaki ayam ini dibagi tiga potongan mengikuti ruasnya. Tapi sebelum dipotong sebagian daging dari pangkal paha (tulan bona) sampai ke paha (tulan ganjang) disayat sedikit untuk dijadikan tambahan toktok.

Langkah selanjutnya adalah memisahkan bagian punggung dan dada ayam. Kuncinya adalah memotong tulang belikat ayam yang terdapat di dekat tembolok atau pangkal leher dan kemudian memberi sayatan tipis pada bagian sisi kiri dan kanan dada ayam. Selanjutnya tinggal menarik dengan tangan supaya kedua bagian itu terpisah.

Daging yang terdapat pada bagian dada biasanya dijadikan toktok (daging yang dicincang kecil). Kalau ayamnya dimasak gulai, tulang ayam yang terdapat pada dada ayam (garap garap) dicincang sangat-sangat halus bersama sedikit bumbu, kemudian dibentuk bulatan (polur polur) dan selanjutnya ikut dimasak juga.

Bagian kepala yang menyatu dengan dengan punggung ayam (tanggoruh) selanjutnya dipisah. Sebelum dipisah keluarkan dulu tenggorokan (dalan hosah) dengan cara menarik melalui tembolok, lanjut terus menarik bagian usus, hati dan ampla sampai ke lubang bagian pantat dipisah dari ekor. Potongan yang masuk bilangan gori dari bagian ini adalah: kepala, sebagian potongan leher, sebagian potongan punggung (bagian yang ada dua bulatan seperti ginjal pada ayam) dan potongan ekor (imput).

Langkah selanjutnya adalah membersihkan bagian dalam ayam. Sebagian orang membuang usus mulai dari usus buntu sampai ke bagian tembolok dan tenggorokan. Ada sebagian pendapat yang mengatakan selaput halus yang menyatukan usus ayam tidak robek ketika dibersihkan. Cara membersihkannya dengan membelah usus itu hati hati dan mengeluarkan kotorannya.

Sebagian lagi berpendapat ususnya boleh diurai dan dengan tehnik tertentu: bagian dalam usus itu dibalik menjadi bagian luar kemudian dibersihkan. Kemudian usus itu “idandan” (dijalin mirip kepang rambut wanita). Persamaannya usus tidak lepas dari hati dan ampla (bilalang).

Selanjutnya ampla dibelah dan isinya dibuang. Satu lapisan bagian dalam ampla yang berwarna kuning atau orange harus dibuang juga. Pada saat membersihkan bagian ini, usahakan jangan sampai empedunya pecah. Saat cucian terakhir boleh dicuci dengann menambahkan sedikit garam pada saat membilas - untuk menghilangkan bau amis.

Kalau dayok binaturnya mau dimasak panggang, bagian dalam ini direbus sampai matang dan terakhir “ilulus” (dibakar sebentar).

Ruhut / Cara memasak dan Menyajikan Dayok Binatur

Ada tiga cara utama memasak dayok binatur:
1. I padar / Ipanggang.
2. I lompah / masak kuah / di gulai
3. I Lomang (dimasukkan kedalam potongan bambu setengah tua atau buluh poso kemudian dipanggang bersama bambunya).


Biasanya Ayam yang berwarna putih tidak dipanggang, tapi di lompah atau di lomang. Kalau Ayamnya dimasak degan kedua cara diatas, bagian toktok tadi dimasak bersama degan potongan Gori tadi.

Kalau ayamya dimasak dengan cara dipanggang (ipadar) bagian toktok tadi dijadikan Hinasumba atau Nahinasumba. Ini adalah satu makanan khas Simalungun. Jadi, sebelum bagian itu dicincang halus terlebih dahulu dipanggang atau direbus setengah matang baru kemudian dicincang (itok-toki). Kalau sudah di toktoki halus, kemudian air yang terdapat pada daging diperas.

OOT dikit: Bagi orang yang pernah belajar tehnik afirmasi, saat yang paling pas untuk menyampaikan afirmasi adalah ketika menahan nafas (manguntong). Dan pada saat manguntong inilah doa, tabas dan harapan disampaikan kedalam makanan. Hal senada juga pernah disampaikan seorang tetua di Simalungun yang juga seorang maestro dihar (pencak silat) yang sudah mendahului kita.

Sesudah toktoknya diperas baru diaduk (sambil meremas) dengan bumbu. Selanjutnya adalah mencampur toktok tadi dengan perasan air dari kulit atau akar pohom Singkam. Ini juga sebagai proses pematangan daging tadi.

Ciri khas bumbu untuk hinasumba adalah ‘igatgati” (dicincang dengan pisau) bukan digiling (kecuali menghaluskan lada hitam dan garam). Bumbu utama Nahinasumba adalah: Serai (sange sangge), Lengkuas (Halawas), Cabe (Lassina), Bawang yang dibakar, Jahe merah yang dibakar, Kelapa parut yang digongseng (Halambir sinaok), Lada Hitam dan Boras Sinanggar (beras yang digongseng dan kemudian dihaluskan/disaring/diayak). Konon urutan mencampur bumbu dengan daging mempengaruhi cita rasa Nahinasumba.

Kemudian daging dan bumbu tadi juga dicampur dengan sebagian darah yang mentah tadi. Darah itu akan dimatangkan oleh getah singkam. Bagi orang yang tidak mengkonsumsi darah, diganti dengan santan kelapa murni. Pada tahapan ini Nahinasumbanya sudah selesai.

Pada jaman dahulu, ketika seseorang mengolah hinasumba – apalagi untuk Sir Ni Uhur, tidak boleh mencicipi olahan tersebut sebelum di surdukhon atau dipersembahkan. Untuk mengetahui rasa masakan cukup ditempelkan pada kuku jari jempol (mungkin tidak banyak lagi yang menguasai tehnik ini). Upah/bagian untuk orang yang mengerjakan disebut ‘turturni sangkalan”.

Potongan ayam yang disebut gori tadi juga diolesi dengan darah ayam atau santan kelapa yang dimatangkan oleh getah singkam. Darah ini diaduk tersendiri di luar bagian Hinasumba tadi.

Mambatur Dayok (Atur Manggoluh): Menata ayam yang sudah dimasak.

Ayam yang sudah dimasak tadi, kemudian ditata dalam sebuah wadah bulat. Wadahnya bisa Sapah (Kayu yang diukir melengkung menyerupai piring tapi ada kakinya), Pinggan Pasu (semacam keramik) atau Piring kaca.

Potongan ayam dan toktok ditata diatas wadah meniru ayam itu semasa hidup. Jangan sampai ada Gori atau potongan yang hilang. Di sebagian tempat Gori ayam tadi ditata diatas nasi. Sebagian lagi menata Gori itu diatas Toktok Nahinasumba. Dayok Binatur ini kemudian ditutupi dengan Bulung Tinapak (daun pisang yang dibentuk bulat, biasanya memakai daun pisang Kepok atau Sitabar)

Dalam menata susunan Dayok Binatur ada istilah Tungkol Osang. Potongan leher ayam yang melengkung dipakai untuk menyangga kepala ayam saat ditata (mambatur). Di sebagian tempat Dayok Binatur namartungkol osang ini hanya dipakai pada acara kematian (pusokni uhur) dan tungkol osang tidak dipakai pada acara sukacita atau malasni uhur. Di sebagian tempat menggunakan Tungkol Osang ini dipakai untuk acara suka cita maupun dukacita.

Ruhut Manurdukhon / Menyampaikan / Mempersembahkan Dayok Binatur

Biasanya dalam acara adat Simalungun, yang manurduk adalah kaum wanita / Nasi Puang. Sambil manurduk biasanya ada kata kata berupa doa, harapan dan permohonan. Kalau kata kata ini disampaikan oleh kaum perempuan boleh ditambahi kaum Bapak / Dalahi. Atau bisa dengan cara: Nasi Puang yang manurdukhon – kaum Bapak yang menyampaikan kata kata.

Dalam acara khusus, semisal untuk sirni uhur, biasanya yang mau disurduk itu duduk diatas tikar yang baru (apey nabayu) dan memakai kain abit. Ada juga yang Maranggir dengan Jeruk Purut (Untey Mungkur) terlebih dahulu. Dan biasanya acara ini dilaksanakan sebelum “Panorang Madiris Matani Ari” (sebelum lewat tengah hari).

Sesudah Dayok Binatur (dan atau dengan Pangiringnya) di Surdukhon, biasanya dilanjutkan dengan doa bersama. Kemudian orang/pihak yang disurduk itu ‘manjomput’ (mengambil sejemput) tok-tok dan sepotong gori – kemudian berdoa/afirmasi/make a wish – selanjutnya memakannya sampai habis. 

Sesudah pihak yang disurduk sudah merasa cukup, kemudian Dayok Binatur itu dibagi (ipadalan) dimana semua sibiak tutur atau yang hadir kebagian giliran manjomput semua (ris dapotan).

Disini ada nilai yang hendak disampaikan; ULANG ANGKARU MANGGOMAK – RIS DAPOTANLAH HAGANUP AI DO SIDEARAN (maknanya jangan serakah dalam hidup, harus bisa berbagi dengan yang lain).

Susudah acara manurduk dan makan bersama selesai, biasanya dilanjutkan dengan acara Parsahapan atau Mambere Podah. Bisa juga sebelumnya manurduk demban salpu mangan. Pesan yang tersirat disini adalah: JANGAN MENASEHATI ORANG LAIN KETIKA ORANG TERSEBUT SEDANG KELAPARAN.

Demikian sedikit tulisan yang bisa saya baturkan. Tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi dan juga hasil mengikuti Workshop Ruhut Padear Dayok Binatur yang diselenggarakan di Sanggar Tortor Elakelak Simalungun yang beralamat dihuta Sirpang Daligraya.

Masukan dan koreksi dari pembaca yang budiman sangat kami harapkan demi penyempurnaan Pengetahuan kita bersama tentang Budaya Simalungun yang satu ini.

Bersama ini, sekaligus juga saya marsantabi kepada pemilik tulisan, saya sertakan tautan yang membahas tentang Dayok Binatur, yaitu tulisan Tulang Jordi Purba ttps://www.facebook.com/jordi.purb…/posts/10211126428298886 dan abang Rikanson J Purba. https://www.facebook.com/jutamardi/posts/10209505365724156.

** Tulisan ini boleh di share jika dianggap bermaanfaat tanpa ijin khusus penulis. (FB-Budaya dan Sejarah Simalungun)

Irjen Martuani: Tembak Teroris Bom Thamrin Hingga Pj Gubernur Sumut

Written By Beritasimalungun on Thursday, 25 January 2018 | 16:19

Irjen Martuani Sormin.
BeritaSimalungun-Jakarta - Tak hanya Irjen Iriawan, Irjen Martuani Sormin juga diusulkan jadi penjabat (Pj) gubernur). Irjen Martuani diusulkan jadi Pj Gubernur Sumatera Utara. Bagaimana perjalanan karirnya? Martuani ke posisi Pj Gubernur Sumut bak pulang kampung. Sebab, Martuani merupakan putra Batak dengan marga sormin. 

Aksi Martuani Sormin yang dingat masyarakat yaitu saat terjadi ledakan bom dan serangan bersenjata api dari kelompok teroris di Thamrin, Jakarta Pusat, Januari 2015 lalu. Saat itu, Martuani yang perpangkat Kombes ikut melakukan penanganan cepat. Bahkan, mobil dinas Kepala Biro Operasi Polda Metro Jaya itu sempat dilempar bom oleh Afif Cs.

22 peluru Martuani habis dalam penanganan aksi teroris itu. Yang lebih haru, saat itu istrinya sedang dirawat di RSPAD Gatot Subroto.

"Waktu ledakan pertama, itu saya melihat asap dari kanan saya dari Starbucks Coffee. Sopir saya bilang 'Pak ada ledakan', waktu itu saya sempat mengira ah ledakan kompor gas itu," jelas Martuani saat dihubungi detikcom, Senin (18/1/2016).
Aksi Irjen Martuani (saat itu Kombes) saat baku tembak dengan teroris bom Thamrin.Aksi Irjen Martuani (saat itu Kombes) saat baku tembak dengan teroris bom Thamrin. Foto: AFP Photo
Saat ini, Martuani menjabat Kepala Divisi Propam (Propam) Polri. Jabatan itu diembannya sejak Juli 2017.

Sebelum menjadi orang nomor satu di Divisi Propam, dia pernah menjabat kepala biro di divisi itu. Dia jadi Kepala Biro Paminal (Karo Paminal) Divisi Propam pada 2016. 

Sebelum ke Kadiv Propam, Sormin bertugas sebagai Kapolda Papua Barat. Dia jadi Kapolda Papua Barat selama sekitar 7 bulan.

Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul mengatakan Irjen Martuani diusulkan jadi Pj Gubernur Sumut karen masa jabatan Tengku Erry akan segera berakhir.

"Dalam pengarahannya, Bapak Wakapolri menyampaikan ada dua perwira tinggi Polri yang dipercaya untuk memimpin sementara dua wilayah provinsi, yaitu Jawa Barat dan Sumatera Utara," ujar Kabag Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul kepada wartawan, Kamis (25/1/2018). (BS)


Sumber: Detik.com

Berita Lainnya

.

.
.

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)
Hinalang- Pdt Jhon Rickky R Purba MTh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusara “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba) di Desa (Nagori) Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019). Acara Peletakan Batu Pertama dilakukan sederhana dengan Doa oleh Pdt Jhon Rickky R Purba MTh. Selengkapnya KLIK Gambar

Ikan Bawal Seberat 9 KG Dapat (Tabu-tabu) di Danau Toba Hutaimbaru Simalungun

Ikan Bawal Seberat 9 KG Dapat (Tabu-tabu) di Danau Toba Hutaimbaru Simalungun
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya