}); Mengisahkan Inmemoriam 15 Tahun Sang Ayah | BeritaSimalungun
Home » , , » Mengisahkan Inmemoriam 15 Tahun Sang Ayah

Mengisahkan Inmemoriam 15 Tahun Sang Ayah

Written By Beritasimalungun on Friday, 6 March 2020 | 08:47

Jambi, BS-Freddy P Sidagambir yang juga dikenal sebagai Petualang di perbatasan Jambi-Riau, menuliskan kisah Inmemorial 15 Tahun sang Ayah. Lewat akun sosial media, dirinya mengisahkan bagaimana perjuangan Ibundanya sejak ditinggal suami tercinta untuk mencukupi seluruh keperluan anak-anaknya hingga lulus sarjana.

Berikut ini isi tulisan Freddy P Sidagambir yang dibagikan kepada akun social media Erna Waty Simbolon, Marganda Sidagambir, Happy Sariah Sidagambir, Tati Purba Cidagambir, Wella Riana Saragih dan Hany CatecHu BoLu pada 4 Maret 2020 Pukul 12.52 WIB lalu.

Mengenang 15 tahun kepergian ayah tercinta (2005-2020). "AYAH.... DALAM HENING SEPI KURINDU UNTUK MENUAI PADI MILIK KITA, TAPI KERINDUAN TINGGAL HANYA KERINDUAN ANAKMU, SEKARANG BANYAK MENANGGUNG BEBAN".

Begitulah lirik lagu yang begitu mengena dihati. Saya masih ingat betul detik-detik terakhir ayah menghembuskan nafas terakhir. Sebelum ayah meninggal pada malam itu, Ia berpesan agar memanggil tondongnya/hula-hula yakni anak dari tulangnya agar ia disucikan/iuras dengan jeruk purut oleh Tondong pamupusnya/malau. 

Setelah itu berpesan agar diwakafkan di sebelah kiri Tuan Rajanihuta. Mendengar itu ibu saya berteriak dan menangis dan memeluk ayah yang berbaring sakit hampir 1 tahun. Dengan tertatih-tatih, karena susah bernafas ayah menatap saya.

“Hanima maningon marbaju nabirong haganupan". Disitulah airmataku meluap melihat kebapaannya". Ayah juga berpesan kalau ia meninggal harus pakai musik dan menyiapkan 30O kg daging hidup. 

Dan pesan yang terakhir kuingat "Lambin dear do hagoluhan nasiam anggo domma matei AU". Itulah perkataannya yang terakhir dan ia menghembuskan nafas terakhir pada tengah malam 15 tahun silam.

Kini kupikiran kenapa ayah saya bisa tau ajal kematiannya. Semasa hidupnya ia sebagai pemandu adat dipesta-pesta dan juga seorang Sintua yang merintis pendirian gereja GKPS Paradiso di kampung kami. 

Dimana sejak pendirian sampai akhir hayatnya sebagai Voorhanger, mungkinkah Tuhan membisikkannya? Ayah....... sejak kepergiaanmu ada rasa hampa kami rasakan, tapi syukur ibuku kekasihmu begitu berjuang dan memberi semangat kepada kami.

Saat kepergiaanmu, adikku yang paling kecil Happy Sariah Sidagambir Purba masih duduk di kelas 3 SD, kini sudah meraih gelar sarjana keguruaan. Si Tati Purba Cidagambir semasa itu masih SMP, kini sudah meraih gelar SKM dan sudah menikah.

Saya masih ingat luapan air mata adikku yang dua ini. Mereka terisak-isak menangis meratapi mu. Sementara botouku Hany CatecHu BoLu saat itu di Medan SmK farmasi tidak melihat kepergianmu.

Esoknya pas dihari ulang tahunnya kepergiaanmu sebagai kado ULTAHnya. Setelah ia tiba di kampung ia berlari dari bus berteriak. Memanggil bapa...bapa....ia meronta menemukanmu sudah tak ada lagi.

Tapi kini botouku ini dah meraih gelar apoteker dan sudah menikah. Sementara abangku Marganda Purba, saat itu dalam study S1 pertanian di USi Siantar. 

Semasa ayah sakit ia harus bolak balik ke kampung untuk membantu bertani, saat kepergiaanmu dia hanya banyak berdiam dan meratapimu. Kini ia sudah jadi pendeta ayah dan memiliki 2 putri cantik. Ia beralih haluan oleh karena kepergiaanmu. 

Sementara saya anakmu yang kedua, saat itu baru tamat SMK, dulu ayah suruh aku merantau ke Bali. Tapi karena kamu sakit saya harus merawatmu dan menyuapimu setiap pagi. Banyak cerita kita. 
Kini aku dah diperantaun ayah, sudah memiliki 2 putra, meskipun LDR- an sama parumaenmu yang cantik Wella Riana Saragih hampir 5 tahun. 

Saya kembali ingat perkataanmu "Lambin dear do hagoluhan nima anggi Matei AU" ini semua berkat Tuhan, menitipkan seorang ibu kepada kami berlima. 

Dimana berjuang sendiri menyekolahkan kami. Mamaku ini sering bilang "cabe yang kutanam pun meski gak dipupuk tetap banyak buahnya". Itu oleh karena kasih Tuhan. 

Kemana pun aku berhutang untuk biaya kalian tak pernah ditolak. Terimakasih ayah atas kepergian mu yang membuat kenangan indah. Terimakasih inang pangguruan Nami Erna Waty Simbolon. Mama Hebat.(Asenk Lee)

Berita Terkait

Share this article :

Post a Comment