Apakah Kita Harus Berpantang AI (Dalam Hal Mengaransemen atau Bahkan Menciptakan Lagu Simalungun?)

Foto Ilustrasi

Oleh: Rikanson Jutamardi Purba

Ada diskusi seru atas apa yang dilakukan oleh Rein Purba, yakni mengaransemen ulang banyak lagu Simalungun, baik yangg "rohana" maupun yang "rohani" (Doding Haleluya).

Seperti kita tahu, AI ini memudahkan banyak hal. Bahkan dalam jangka panjang, bisa menggantikan peran manusia itu sendiri. Tinggal 1 hal yang tidak (atau setidaknya: belum) dapat digantikan oleh AI, yakni jiwa (soul) atau nurani manusia.

AI tentu saja, perlu kita manfaatkan, sepanjang ia diperlakukan sebagai alat (tool). Memang ke depan, diperkirakan bahwa AI bukan saja bakal menggantikan peran manusia, bahkan AI bisa mengalahkan manusia itu sendiri. 


Kita belum bahas di sini robot atau humanoid. Dalam diskusi tentang lagu Simalungun itu, saya perlu menyampaikan pandangan saya. Kita perlu membahas hal tersebut dari beberapa sudut pandang (PoV = Point of Views):

1) Aransemen baru/kekinian;
2) Hak cipta (HAKI = Hak atas Kekayaan Intelektual);
3) Format musik baru dan platform.

Aransemen Baru/Kekinian

Lagu-lagu Simalungun ('doding') memang tidak berkembang sepesat lagu Toba, Karo, Melayu, dll. Selain penciptanya pun terbatas, konsumennya pun terbatas pula (ada 1 juta nggak sih?).
 
Memang lewat popularitas dan kemasifan penggunaan keyboard (tunggal), terutama di pesta-pesta  sekarang ini, konsumennya pun tidak terbatas lagi pada orang Simalungun (oSim) itu sendiri saja, tapi orang lain pun mulai banyak yang suka tuh. 

Lihatlah luasnya cakupan/penetrasi lagu: "Pos ni Uhumin", "3 Sahundulan, 5 Saodoran [3-5]", "Elvi", "Sihol Sukses", "Bapa na Bujur", "Botou, Botou", "Sabar ma Ham, Inang!", dll.

“Sihol Sukses” bahkan tembus 5 juta views. Kalau oSim ada 1 juta, yang 4 juta lagi tentunya dari yang putar ulang di YT dan/atau bahkan orang lain.
 
Karena pencipta terbatas, lagu-lagu baru yang dikeluarkan pencipta sekelas Taralamsyah Saragih (alm.), St. AK Saragih, Sarudin Saragih (alm.), Meliater Sinaga, dll pun sedikit jadinya. 

Untung belakangan ada Damma Silalahi ("Elvi"), Noah Sumbayak ("Bapa na Bujur"), Janampe Purba ("Sihol Sukses"), dll.

Dua hal tersebut di atas mengakibatkan lagu-lagu lama butuh didaur ulang dengan aransemen baru/kekinian yang cocok di telinga generasi yang lebih muda. 

Inilah yang dilakukan oleh Rein Purba, tapi dianya agak "tarsilpok" dikit. Lebih bagus aransemennya, lebih mudah mengerjakannya, apalagi dibantu oleh (dengan menggunakan) AI (Artificial Intelligence) yang banyak, mudah didapat, dan sudah relatif murah sekarang ini (SUNO, di antaranya), tiap hari bisa muncul 1 aransemen baru.
 
Catatan: Dalam batas-batas tertentu [minim], Noah Sumbayak juga menggunakan AI, tapi sejatinya aransemen yang dibuatnya lebih kepada talenta bermain musiknya yang sudah cihuy duluan sih.

Hak Cipta

Selain "Sirang Padan" (Ciptaan Sarudin Saragih alm) yang diarensemen ulang oleh Rein Purba, ada beberapa lagu lagi yang saya sukai dan unduh. Bagus sih..! Tapi mungkin "tarsilpok"-nya si Rein Purba adalah soal perlunya minta izin dulu (sekadar pemberitahuan pun sebenarnya sekarang ini sudah biasa) kepad pencipta lagu.
 
Memang ada pemeo yang mengatakan, "Daripada minta izin (duluan), lebih baik minta maaf (belakangan)". He.. 8x. Tapi bagaimana pun ya, secara etika, minta izin adalah suatu kepantasan.

Format Musik Baru dan Platform

Di era medsos sekarang ini (terutama T*kt*k), soal hak cipta ini jadinya agak longgar. Demikian juga Spotify, YT, dan semacamnya. Satu lagu akhirnya bisa di-remix, didangdutkan, atau dikoplokan. 

Mungkin Idgitaf (beru Biring yang menciptakan "Sedia Aku Sebelum Hujan") itu justru senang sekali ketika banyak orang yang menyanyikan kembali lagu itu dalam/melalui berbagai format dan di/melalui beberapa platform (terutama T*kt*k tadi), sehingga.., boom.., lagu itu meledak meletup..! Mungkin inilah PoV si Rein Purba. Gitu ‘kan, Kawan?

Jadi, kita semua, khususnya oSim perlu juga mulai memahami dan berselancar di atas gelombang perkembangan zaman, khususnya perkembangan teknologi, terutama AI yang begitu pesatnya saat ini dan ke depan. Jangan pula kita tetap jadi "Simdo", "Simalungun dokah-dokah". Gitu sih menurut keyakinan saya. Iya ‘kan? (Penulis Adalah Pemerhati Simalungun Tinggal di Pamatang Raya, Kabupaten Simalungun).

0 Komentar

 





 


 



https://linktr.ee/asenkleesaragih