}); DIMANAKAH KEBAHAGIAAN ITU? | BeritaSimalungun
Home » , » DIMANAKAH KEBAHAGIAAN ITU?

DIMANAKAH KEBAHAGIAAN ITU?

Written By Beritasimalungun on Sunday, 24 January 2016 | 14:43

ILUSTRASI
Pagi ini, saya membaca sebuah renungan yang ditulis Firman Pratama, seorang pakar pikiran dan praktisi pendidikan di Kompasiana berbunyi sebagai berikut:

"Banyak dari anda mungkin juga sibuk mencari kebahagiaan? Mencari diluar? Atau mencari dimana? Kalau anda mencari kebahagiaan itu diluar diri maka yang pasti terjadi adalah rasa lelah dan capek?. 

Sebab anda mencari yang tidak ada. Meskipun anda pergi ke gunung, pergi ke pantai, melakukan berbagai meditasi, berbagai pertapaan dan kegiatan lainnya maka saya jamin yang didapatkan adalah rasa frustasi dan capek. Kenapa itu terjadi? Ya karena anda mencari yang tidak ada…kebahagiaan adalah rasa yang dibuat dan dimunculkan dari dalam,".

Ade Manuhutu, seorang penyanyi pop terkenal di era 70-an, menyanyikan sebuah lagu yang mempertanyakan : "Dimana Kebahagiaan Itu?"

Manusia sibuk mencari kebahagiaan, sayangnya sering menempuh dengan mencarinya, di luar dirinya, padahal kebahagiaan itu ada di dalam dirinya sendiri.

Dalam kehidupan saya misalnya!. Sering juga salah dalam memaknai kebahagiaan.

Lima belas tahun yang lalu, saya berfikir, kalau nanti semua anak-anak sudah selesai sekolahnya, maka saya akan bahagia!.

Setelah itu tercapai, maka cita-cita selanjutnya, kalau anak-anak sudah tamat sekolahnya dan bekerja, kalau boleh , mereka berkeluarga, pada saatnya.

Setelah semua yang di atas tercapai, muncul lagi syarat baru untuk bahagia. Kalau anak-anak sudah tamat sekolah dan bekerja, maka mereka bisalah mendapat pasangan masing-masing.

Sebagian itu sudah tercapai, dan sudah mendapatkan pasangan masing-masing.

Kalau nanti sudah menikah, bolehlah menimang cucu. Cucu, sudah diberikan.
Benarkah karena itu saya bahagia?

Waktu, membuat kita makin memahami arti kebagiaan, dan merubah cara pandang kita.

Kebahagiaan, ternyata bukan seperti itu. Kebahagiaan itu bukan lima tahun lagi, atau besok, setelah mencapai sesuatu.

Ternyata, kebahagiaan itu tidak jauh-jauh jarak dan waktunya.
Kebahagiaan itu kudapatkan pagi ini, ketika saya memberitakan kebahagiaan ini kepada Anda.

Kebahagiaan itu adalah sekarang dan di sini, tanpa melihat keberadaan kita.

Kebahagiaan itu adalah ketika kita bisa memaknai semuanya dengan rasa syukur, apa yang kita miliki sekarang. Bahagia itu, tanpa syarat hal-hal yang tampak mata, enak didengar telinga. Dia adalah sesuatu yang tanpa dipengaruhi hal-hal yang bersifat fisik.

Dia tidak mempersayaratkan sesuatu keinginan, cita-cita kita tecapai, tetapi ketika kita dalam proses menuju cita-cita itu .

Prof Dr Albiner Siagian, dalam artikelnya berjudul "Mari Bahagia Sekarang" di harian Analisa 8 Januari 2016 lalu, mengatakan, dengan mengutip Aristoteles, "Aristoteles, salah seorang filsuf dan tokoh etika Yunani terkenal, mengemukakan bahwa tujuan akhir dari hidup manusia adalah kebahagiaan," katanya.

Kemudian, Prof Albiner mengisahkan sebuah cerita, antara nelayan dan seorang pelancong dari luar negeri.

Konon, pada suatu ketika di tepi pantai, terjadilah percakapan serius antara seorang pelancong dari luar negeri dengan seorang nelayan. Si pelancong bertanya: “Tidak adakah rencanamu untuk meminjam uang ke bank?” “Untuk apa?”, jawab si nelayan. “Ya, agar kamu bisa mengganti sampanmu ini dengan perahu bermotor”, kata si pelancong.

“Oh, begitu! Lalu, untuk apa saya memiliki perahu bermotor?”, tanya si nelayan. “Dengan perahu bermotor, kamu akan bisa mendapatkan hasil tangkapan yang lebih banyak”, jawab si pelancong. “Lalu, apa yang akan terjadi jika hasil tangkapan saya banyak”, tanya si nelayan lagi. Jawab si pelancong, “Kamu akan memeroleh uang yang banyak.” 

“Untuk apa uang yang banyak itu?”, sahut si nelayan pula. “Kalau kamu punya uang banyak, kamu akan bisa beli pakaian bagus, rumah bagus, makanan yang enak. Dan, yang lebih enaknya lagi, kamu bisa seperti saya pergi piknik ke luar negeri”, kata si pelancong bangga.

“Lalu….!?,” kata si nelayan sambil mengernyitkan dahi. “Kamu akan bahagia karenanya”, gumam si pelancong dengan yakin. “Oh, itu terlalu lama tuan. Kalau soal bahagia, saya sudah merasakannya sekarang”, tukas si nelayan sambil senyum.

Menurut Prof Albiner, bahagia, sebenarnya mudah di dapat. Tetapi mengapa manusia tidak banyak yang bahagia?.

Karena kita selalu membandingkan diri dengan orang lain (selalu akan merasa kekurangan), dan susah bersyukur. "Kebahagiaan adalah soal bagaimana manusia menempatkannya, mempersepsikannya, menyikapi realitas, dan memaknai kehidupan".

Kalau begitu?.
Jadilah diri sendiri, bersyukurlah sekarang, ceritakanlah berita syukur kepada orang lain, maka kebahagiaan itu akan hadir.

Dapatkanlah bahagia itu sekarang, dan di sini, di tempat Anda berada sekarang, dalam keberadaan Anda sekarang! Selamat hari Minggu! (St Jannerson Girsang)
Share this article :

Post a Comment