}); Taralamsyah Saragih Night akan Digelar di Siantar | BeritaSimalungun
Home » , , , , , » Taralamsyah Saragih Night akan Digelar di Siantar

Taralamsyah Saragih Night akan Digelar di Siantar

Written By Beritasimalungun on Friday, 5 August 2016 | 12:46

Hadirilah Peluncuran Buku Pencipta Lagu Tor-tor Taralamsyah Saragih
Kisah seniman besar Batak Simalungun, Taralamsyah Saragih (1918-1993), kini "dihidupkan" dan dihadirkan lagi ke tengah-tengah masyarakat dalam buku karya Simon Saragih (Wartawan Senior Kompas)
BeritaSimalungun.com, Pematangsiantar-Untuk mengenang seniman besar Simalungun Taralamsyah Saragih, Garingging Production akan menggelar acara “Taralamsyah Night” yang berisikan pagelaran lagu-lagu karya Taralamsyah Saragih. Direncanakan“Taralamsyah Night” akan dilaksanakan di Pematangsiantar. Demikian dikatakan Jahenson Saragih Direktur Garingging Production kepada SS Rabu (3/8/2016). 


Jahenson Saragih mengatakan dari sekian banyak lagu-lagu Simalungun karya Taralamsyah Saragih cukup fenomenal nuansa khas Simalungun nampak terdengar pada lagu-lagu Simalungun ciptaan Taralamsyah Saragih. 





Kaum muda Simalungun diharapkan dapat lebih mengapresiasi lagu-lagu Taralamsyah Saragih untuk itulah kami berinisiatif melakukan acara ini ujarnya. 

Dikatakan Jahenson Saragih Taralamsyah Saragih lahir di lingkungan Rumah bolon (Istana) di Pamatang Raya – Simalungun, Tanggal 18 Agustus 1918. Menikah saat berusia 26 tahun dengan Siti Mayun br Regar pada Sabtu 25 November 1944, dan dianugrahi 3 orang putra dan 9 putri. Perjalanan hidup Taralamsyah Saragih sungguh menarik untuk direnungkan .

Jahenson menjelaskan dari berbagai sumber dirinya mengetahui bahwa Ketika revolusi berdarah meletus Tahun 1943, Taralamsyah Saragih berusia 28 tahun, masa dimana ia memasuki fase produktif dan sedang dalam memiliki gairah yang tinggi menjalani aktivitas kesenian di Kota Pematangsiantar. 

Dan karena ia anak Raja, nyawanya terancam, sebab revolusi itu memang gerakan revolusioner melawan dan menghabisi sultan dan raja-raja. Taralamsyah berhasil lolos karena mengungsi ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat, dan seterusnya berlayar ke Aceh. 

Kita bisa membayangkan kemelut jiwanya di tanah rantau sebagai pengungsi, bergetar membayangkan ia bersama beberapa sanak saudara mengarungi Samudera Hindia yang ganas dalam pelayaran dari Padang menuju Aceh. 

Sementara di tanah kelahiran, sanak saudara yang lain tewas dibantai pasukan revolusi, termasuk salah seorang abangnya. Pedih memang. 

Revolusi atau perang, memang selalu berakhir dengan tragedinya yang kompleks. Ia tidak hanya merenggut nyawa, tapi lebih dari itu: kejayaan suatu tamadun (puak), akan turut hancur dan runtuh. 

Ikon-ikon kebudayaan ikut lenyap, warisan-warisan peradaban bernilai tinggi turut raib, dan zaman kemudian menyisakan generasi traumatis yang menghindar dari nilai-nilai budaya kebangsawanan, termasuk tautan historis di dalamnya, yang dipaksa terbelenggu dalam lupa. 

Pada masa itu jualah sastrawan ternama Indonesia, Amir Hamzah, menemui ajalnya di tangan ‘rakyat revolusioner’ itu. Hanya saja, Amir Hamzah sudah terlebih dahulu memahat prasasti lewat karya-karya, sehingga kenangan atasnya lebih bersinar. 

Tapi tokoh-tokoh seniman di Simalungun seolah tak ada yang tersisa. Tak terperikan memang rasa sakit membayangkan tragedi itu, sehingga banyak orang tak ingin membahasnya lagi. Masa lalu biarlah jadi masal lalu. 

Setelah situasi politik di Sumatera Timur kembali normal, Taralamsyah kembali ke Medan. Di Aceh, dia sempat meninggalkan jejak sebagai seniman sejati. 

Di tanah Kutaraja itu, dia memberikan pelatihan musik kepada tentara. Dan kegiatan berkesenian itu terus berlangsung setelah ia berada di Medan. 

Demikianlah, ia mengabdikan jiwa-raga dan seluruh kehidupannya untuk kesenian, terutama mencipta tortor (tarian), lagu-lagu Simalungun, sebagian lagu Karo dan tari-tarian Melayu. Setiap orang tentu tahu Tari Serampang Dua Belas yang diperkenalkan di sekolah tingkat dasar, dan konon, Taralamsyah Saragih bersahabat karib dengan Sauti, pencipta Tari Serampang 12 itu.


Kita tidak tahu ‘dendam apa’ yang menyebabkan Taralamsyah pergi dan berlalu meninggalkan Simalungun. Apakah ia meninggalkan tanah kelahiran karena alasan ekonomi? 

Saya kurang percaya tentang itu, sebab di Medan, ia terbilang populer dan rutin mentas, juga menjadi salah satu dosen di Universitas Sumatera Utara (USU). Ketika orang-orang Simalungun asyik menikmati tari-tarian dan lagu-lagu gubahannya, tiada yang tahu bahwa sesungguhnya ia telah hijrah ke Jambi, dan dan di tanah Melayu itulah dia wafat dan dimakamkan.

Kadang-kadang, saya geram membayangkan, betapa tercerai-berainya kita. Raja Siantar Sangnaualuh diasingkan ke Tanah Melayu, Bengkalis, Riau, dan juga menjadi pahlawan yang dihormati di negeri itu. 

Tentang ini, saya kadang-kadang rindu melihat Raja Sangnaualuh dari kacamata rakyat Bengkalis, yang sayangnya, hingga saat ini tak saya dapatkan referensinya. Tapi berdasarkan bincang-bincang beberapa tahun silam, budayawan Riau Hasan Junus berkata, Raja Sangnaualuh sangat terhormat di mata rakyat Bengkalis, bahkan sebagian mengganggapnya orang Melayu.

Kita tidak tahu, seberapa banyak sesungguhnya tokoh-tokoh bangsawan dan terpelajar Simalungun berdiaspora ke berbagai negeri, baik akibat situasi politik maupun karena kenginannya, seperti Taralamsyah yang memilih mengakhiri segalanya di Jambi.

Penguasaan beliau terhadap seni musik, khususnya gual Simalungun, sulit kita temukan tandingnya pada saat ini. Saat sebelum Revolusi Sosial 1946, Taralamsyah Saragih pernah menjelaskan bahwa sangat banyak jenis musik khas Simalungun yang dahulu mereka pelajari, namun saat Revolusi Sosial tersebut, sekian banyak peralatan musik Simalungun yang kini tidak kita temukan lagi, turut terbakar di dalam istana kerajaan Raya.

Dalam ranah tari Simalungun, banyak jenis tari lahir dari koreografinya. Sebut saja tari Sitalasari (1946), Pamuhun, Simodak odak, Haro-haro (1952), Sombah ( merupakan penyelarasan tortour Sombah yang telah lahir dari akar leluhur, 1953), Runten Tolo (1954), Nasiaran (1955), Makail, Manduda (1957), Haroan Bolon (1959), Uou (1960), Tembakan (1964), Panak Boru Napitu (1966), Erpangir (1968) serta banyak lagi tari dan sendratari yang ia ciptakan dari tangan dinginnya.

Taralamsyah Saragih telah banyak menciptakan lagu Simalungun, sebut saja: Lagu Eta Mangalop Boru, Parmaluan, Hiranan, Inggou Parlajang, Tarluda, Parsonduk Dua, Padan Na So Suhun, Tading Maetek, Pamuhunan, Paima Na So Saud, Sihala Sitaromtom, Sanggulung Balunbalun, Ririd Panonggor, Marsalop Ari, Mungutni Namatua, Pindah-Pindah, Inggou Mariah, Uhur Marsirahutan, Poldung Sirotap Padan, Bujur Jehan, Simodak Odak (ciptaan bersama dengan Tuan Jan Kaduk Saragih), serta yang lainnya.


Ada pula beberapa lagu tradisi Simalungun yang ia gubah kembali, seperti Parsirangan , Doding Manduda (ilah tradisi dari Ilah I Losung), Ilah Nasiholan, Marsigumbangi dan Na Majetter (ilah tradisi dari Ilah Bolon).

Terus menghidupkan kesenian dan berkarya, begitu mungkin yang ditekadkan Taralamsyah Saragih dalam mengisi kehidupan. Walaupun hujan duit belum dan tak akan pernah ia rasakan, tapi Sang Bangsawan ini telah melahirkan banyak karya yang belum pernah dimasukkan dalam Hak Kekayaan Intelektual itu.

Tepat pada hari Senin tanggal 1 Maret 1993 di Jambi, Tuan Taralamsyah Saragih Garingging menghembuskan nafas terakhir, disaat sedang menyusun dan ingin merampungkan Kamus Simalungun yang ia susun dari tahun 1960-an dan hingga kini belum diterbitkan.(*)



Sumber: Suara Simalungun Edisi 691
Share this article :

Post a Comment