}); June 2019 | BeritaSimalungun

Berita Terkini

INDEKS BERITA

LPSK Tolonglah TRINITY (Bocah Korban Bom Samarinda)

Written By Beritasimalungun on Saturday, 15 June 2019 | 07:34

Bantu Trinity Korban Bom Molotov Samarinda Pulih

Oleh: Birgaldo Sinaga 
 
Beritasimalungun-"Tulang Birgaldo...Doakan Ity ya biar lekas sembuh. Ity takut. Sakit sekali tulang di sana", ucapnya saat kami berpisah di Bandara Terminal 3 Soetta.

27 Mei 2019, di pintu keberangkatan lantai 3 itu saya memeluknya. Mencoba menguatkan gadis kecil Ity. Bocah korban bom molotov Samarinda. Yang hampir sekujur tubuhnya melepuh terbakar.

Saya membisikkan kata sayang padanya. Semua akan baik-baik saja. Boneka panda coklat pemberian Ibu Hetty Setyapurnama terus dipeluknya. Gadis kecil Ity melangkah menjauh. Meninggalkan Jakarta. Berobat ke Guanzhou Tiongkok. Operasi kulit untuk yang ke 5 kalinya.

Bulan puasa lalu, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban mengundang keluarga Trinity. Pasalnya, tulisan saya tentang ketidakpedulian negara pada pemulihan Trinity terdengar oleh mereka. Saya menuliskan keluhan keluarga korban bom terorisme yang mengeluarkan begitu banyak biaya tanpa dibantu negara.

Donasi: Bantu Trinity Korban Bom Molotov Samarinda Pulih


Saya ikut hadir di sana. Mendampingi keluarga Trinity. Di sebuah restoran di Kelapa Gading kami bertemu.

Pihak BNPT dipimpin Direktur Perlindungan, Herwan Chaidir, Roedy Widodo (Kasubdit Pemulihan Korban), Nurturyanto (Kasi Pemulihan Sarana dan Prasarana), Ayu Permata J ( Staf Analis )

Dari LPSK diwakili Pak Galih dan Aji Dana.

Dari penjelasan Pak Herwan saya bisa memahami alasan mengapa BNPT tidak punya alokasi anggaran untuk korban terorisme. BNPT mempunyai fungsi untuk mengkoordinasikan program pemulihan korban termasuk hak-hak korban baik medis, psikologis ataupun psikososial kepada Kementerian/Lembaga terkait.

Artinya BNPT sebatas mengkomfirmasi bahwa korban benar2 korban terorisme. Untuk anggaran pemulihan ada di LPSK. Alur birokrasi biayanya seperti itu.

"Bagaimana ini Pak Galih? Mengapa tidak ada bantuan dari LPSK?", tanya saya pada utusan LPSK.

"Kami sudah ajukan sebenarnya Pak Bir. Tapi yang cair diputuskan hakim hanya 60 juta saja", jawab Pak Galih sambil geleng-geleng kepala.

Setahun lalu, ketika Ibu Trinity berangkat operasi pertama ke Tiongkok, dana 60 juta itu diserahkan.

"Sejujurnya saya tidak mau terima uang itu Pak. Sedih sekali", potong Bu Trinity.

"Tapi kami gak bisa berbuat apa-apa lagi Pak Bir. Hakim memutuskan segitu. Kami mengusulkan hampir 600 juta. Tapi hakimnya memutuskan 60 juta saja", elak Pak Galih membela diri.

Prosesnya Begini

Korban terorisme adalah korban yang terjadi karena negara gagal melindungi warga negaranya. Sesuai konstitusi tujuan negara adalah melindungi segenap seluruh tumpah darah Indonesia.

Negara punya aparatur negara untuk melindungi warga negara. Ada BIN, Polisi, TNI, Densus dan lembaga lainnya. Mereka dibayar rakyat melalui pajak. Ketika terjadi aksi terorisme maka negara harus bertanggung jawab atas kegagalan itu.

Maka untuk membayar kerugian warga negara itu, Jaksa Penuntut mewakili korban terorisme menuntut negara. Tuntutan nilai kerugian itu dihitung oleh LPSK. LPSK menghitung dengan cermat dan teliti. Semua item kerugian materi dan imateril dimasukkan. Untuk korban Trinity total jenderal sebesar 600 juta.

Hasil apraisal LPSK itu dipakai jaksa penuntut di Pengadilan Negeri Samarinda. Bersidanglah mereka. Keluarga korban dan korban dihadirkan. Hakim manggut2.

"Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kami putuskan negara harus membayarkan biaya perobatan sebesar 60 juta rupiah. Tok..tok..tok."

"What!!! Tega banget itu hakim??", protes saya kencang.

"Ya begitulah Pak Bir posisi kami", ujar Aji Dana dengan nada memelas.

Setahun sejak peristiwa bom Samarinda, Trinity dan Alvaro tidak kunjung sembuh. Pelayanan rumah sakit daerah ala kadarnya. Kondisi Trinity semakin memburuk.

Ibu Trinity tidak rela anaknya terlantar begitu saja. Dari rumah sakit hanya diberi salep. Biaya memang ditanggung LPSK untuk salep dan obat. Tapi untuk apa kalo tubuh Trinity memburuk?

Ibu Trinity mencari tahu rumah sakit yang bisa memulihkan anaknya. Kondisi awal Trinity tangannya tidak bisa berfingsi. Otot kulitnya tertarik. Kakinya juga. Parah sekali.

Akhirnya, keluarga mendapat kabar RS Guangzhou bagus. Berangkatlah Trinity dengan uang pas pasan. Hasil menjual perhiasan dan pinjam sana sini. Bawa uang 250 juta.

Sebelum terbang ke Tiongkok, keluarga disodorin surat pernyataan. LPSK tidak bertanggung jawab atas biaya di rumah sakit luar negeri.

"Tidak apa2 Pak. Demi anak saya. Apapun akan saya lakukan. Andai negara ini juga tidak peduli sekalipun. Saya akan tanda tangani", ujar Pak Trinity saat itu.

" Wah ini LPSK lepas tangan. LPSK main aman. Bukannya cari solusi. Tapi buang badan ini Pak", keluh saya di depan utusan LPSK.

"Maaf Bang Bir. Jujur anggaran kami sangat kecil. Hanya 16 M pertahun. Itu kami harus mengurus hampir 4000 korban. Kami juga belum mandiri. Masih di Setneg", jawab Pak Galih.

Begini Pak

Kalau bapak lepas tangan itu artinya negara tidak hadir melindungi kepentingan warganya. Alasan biaya tidak ada dan memaksa orang tua tanda tangan bahwa berobat keluar negeri tidak dibayar itu buang badan namanya.

Orang tua mana sanggup membiarkan anaknya jadi monster? Kaki cacad tidak bisa lurus. Tangan jari cacad tidak berfungsi. Kulit penuh bekas luka bakar seperti monster?

Untuk apa ada aparatur Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban kalau tidak bisa melindungi korban? Justru kami menuntut agar negara bisa melindungi kami karena kami membayar pajak. Kami kerja keras berpeluh keringat. Kami berharap negara hadir saat kami memerlukannya.

Saya benar-benar tidak habis pikir. Sedikit emosi di sana. Tidak bisa menerima cara berpikir seperti itu.

"Pak Galih... Akhir Mei ini, Trinity harus operasi lagi di Tiongkok. Mereka gak punya uang lagi. Operasi pertama sampai ke empat itu bisa karena saya menggalang dana dari teman2 saya. Dan sekarang juga minggu depan bisa berangkat karena saya membuka penggalangan dana lagi. Saya mau negara yang bertanggung jawab. Bukan saya", protes saya tegas.

"Baik Pak Bir. Nanti coba kami ajukan lagi biaya ini", ujar Pak Galih.

"Itu yang operasi pertama dan keempat sudah dikirimkan semua biaya kwitansi perobatan selama di Tiongkok. Mengapa sampai sekarang belum ada perkembangan Pak?", tanya saya.

"Iya Pak Bir...masih diproses. Kami ajukan lagi nanti. Mohon maaf. Memang anggaran di LPSK sangat minim Pak", ujarnya lagi.

24 Mei 2019, Ibu Trinity didampingi Marlyn Allen mengajukan surat permohonan biaya berobat ke luar negeri ke LPSK. Sesuai arahan Pak Galih. Surat permohonan diajukan agar pimpinan LPSK bertemu untuk memutuskan permohonan Ibu Korban. Hingga hari ini, permohonan itu belum ada kabar perkembangannya.

Lima hari lalu, kulit punggung Trinity disayat. Diambil kulitnya untuk ditempelkan ke jari jemari Trinity. Jari tangan Trinity masih tertekuk. Trinity kesakitan. Setiap melihat pisau bedah gadis mungil ini teriak menangis.

Menurut ibunya, mereka akan tinggal di Tiongkok bisa setahun. Visa yang diperoleh untuk 2 bulan. Jika habis, mereka harus keluar dulu ke Hongkong. Lalu ajukan bisa lagi. Untuk selama dua bulan. Habis keluar lagi.

Usai dioperasi, akan dilakukan evaluasi oleh dokter. Dokter akan menanam balon dI punggung Trinity. Selama enam bulan. Untuk mendapatkan kulit baru. Kulit ini akan disayat lagi. Untuk ditempel di jari dan kaki Trinity. Setiap dua kali seminggu balon itu akan disuntik. Sakit sekali. Trinity selalu menangis. Berat sekali hidupnya. Tapi negara sepertinya tidak peduli.

Akan banyak proses tahapan operasi yang akan dilakukan. Ini masih tahap awal untuk konstraktur saja. Belum lagi untuk estetikanya. Bisa sampai dewasa. Sampai kulitnya bisa bagus.

Seminggu sebelum berangkat ke Tiongkok. Saya bermain2 dengan Trinity di lapangan rumput buatan di belakang sebuah Mall Kelapa Gading. Trinity meminta saya menggendongnya. Menggendongnya agar bisa masuk taman bermain itu.

Trinity senang sekali. Ia berlarian main prosotan. Meski dengan kaki berjingkat. Meski dengan jemari tertekuk. Meski dengan kulit tubuh yang terlihat mengerikan. Ia asyik bermain.di tengah tatapan aneh anak2 sebayanya. Anak2 yang tidak mau berjabat tangan dengan Trinity. Karena takut dengannya.

"Tulang Birgaldo...doakan Ity lekas sembuh ya", bisiknya di telepon.

"Iya sayang..tulang akan doakan dan bela kamu sekuat tulang ya. Doakan juga tulang dari jauh ya", balas saya menguatkan Trinity.

Duhai LPSK...dengarkanlah rintih dan getir anak ini. Ibunya. Ayahnya. Saya memohon. Please.

Jika ada yang ingin membantu Trinity
bisa langsung transfer ke nomor rekening BCA ibu kandung Trinity : No rek : 0272694263, Sarina Gultom
BCA cabang Samarinda.


Salam perjuangan penuh cinta
Birgaldo Sinaga 
LPSK TOLONGLAH TRINITY .Foto-Birgaldo Sinaga

LPSK TOLONGLAH TRINITY .Foto-Birgaldo Sinaga



LPSK TOLONGLAH TRINITY .Foto-Birgaldo Sinaga

Gugatan Prabowo-Sandi "Terlalu Banyak Meminta"

Written By Beritasimalungun on Friday, 14 June 2019 | 08:37

Ketua Tim Hukum BPN, Bambang Widjojanto (dua kiri), bersama tim advokasi BPN Denny Indrayana (dua kanan), beserta tim usai pengajuan perbaikan permohonan sengketa hasil Pilpres 2019 di gedung MK, Jakarta, Senin 10 Juni 2019. ( Foto: SP/Joanito De Saojoao.)

Jakarta- Gugatan Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) presiden yang diajukan pasangan capres-cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno berpotensi tidak diterima Mahkamah Konstitusi (MK).

Hal ini lantaran gugatan yang diajukan tim hukum Prabowo-Sandi dinilai tidak konsisten. Ketidakkonsisntenan itu bisa berujung permohonan dinyatakan kabur atau obscured.

"Nanti malah permohonan tidak dapat diterima," kata Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas Feri Amsari kepada SP, belum lama ini.

Dijelaskan, dalam perbaikan gugatan yang diajukan ke MK, tim hukum Prabowo-Sandi terlalu banyak meminta sehingga tidak jelas permintaannya dalam gugatan tersebut.

Feri mencontohkan, dalam diposita atau alasan-alasan permohonan terkait kecurangan secara terstruktur, sistematis, dan masif (TSM), namun dalam petitum atau permintaan, tim hukum Prabowo-Sandi justru meminta peralihan suara.

"Mereka terlalu banyak meminta sehingga tidak jelas permintaannya. Misalnya kalau memang diposita itu terkait TSM kenapa di petitum malah memohonkan peralihan suara. Artinya minta MK jadi mahkamah kalkulator," katanya.

Selain itu, Feri juga mempertanyakan mengenai petitum tim Prabowo-Sandi yang meminta MK memberhentikan seluruh komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU). Feri menegaskan hal tersebut bukan kewenangan MK.

"Itu tentu bukan kewenangan MK," tegasnya.

Diketahui, terdapat 15 poin petitum yang diajukan tim hukum Prabowo-Sandi dalam perbaikan permohonan PHPU. Jumlah tersebut dua kali lipat dibandingkan dengan petitum pada permohonan awal yang didaftarkan pada 24 Mei 2019 lalu.

Poin-poin petitum Prabowo-Sandi antara lain:

1. Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya;

2. Menyatakan batal dan tidak sah Keputusan KPU No. 987/PL.01.8-Kpt/06/KPU/V/2019 tentang Penetapan Hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, Anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota Secara Nasional dalam Pemilihan Umum Tahun 2019 dan Berita Acara KPU RI No. 135/PL.01.8-BA/06/KPU/V/2019 tentang Rekapitulasi Hasil Penghitungan Perolehan Suara di Tingkat Nasional dan Penetapan Hasil Pemilihan Umum Tahun 2019, sepanjang terkait dengan hasil Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019;

3. Menyatakan perolehan suara yang benar adalah sebagai berikut: Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01, Ir. H. Joko Widodo-Prof. Dr. (H.C) KH. Ma’ruf Amin mendapatkan suara sebanyak 63.573.169 (48%) dan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 H. Prabowo Subianto-H. Sandiaga Salahuddin Uno meraih suara sebanyak 68.650.239 (52%). Total suara 132.223.408 (100,00%).

4. Menyatakan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01, Ir. H. Joko Widodo-Prof. Dr. (H.C) KH. Ma’ruf Amin, terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan pelanggaran dan kecurangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019 secara terstruktur, sistematis, dan masif;

5. Membatalkan (mendiskualifikasi) Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01, Ir. H. Joko Widodo-Prof. Dr. (H.C) KH. Ma’ruf Amin, sebagai peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019;

6. Menetapkan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Salahuddin Uno, sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode Tahun 2019-2024;

7. Memerintahkan kepada termohon untuk seketika mengeluarkan surat keputusan tentang penetapan H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode Tahun 2019-2024;

Atau,

8. Menyatakan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 01, Ir. H. Joko Widodo-Prof. Dr. (H.C) KH. Ma’ruf Amin, terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pelanggaran dan kecurangan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2019 melalui penggelembungan dan pencurian suara secara terstruktur, sistematis, dan masif;

9. Menetapkan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02, H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Salahuddin Uno, sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode Tahun 2019-2024;

10. Memerintahkan kepada termohon untuk seketika mengeluarkan surat keputusan tentang penetapan H. Prabowo Subianto dan H. Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode Tahun 2019-2024;

Atau,

11. Memerintahkan termohon untuk melaksanakan pemungutan suara ulang secara jujur dan adil di seluruh wilayah Indonesia, sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945;

Atau,

12. Memerintahkan termohon untuk melaksanakan pemungutan suara ulang secara jujur dan adil di sebagian provinsi di Indonesia, yaitu setidaknya di provinsi: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Banten, DKI Jakarta, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Papua, dan Kalimantan Tengah agar dilaksanakan sesuai amanat dalam Pasal 22E ayat (1) UUD 1945;

13. Memerintahkan kepada lembaga negara yang berwenang untuk melakukan pemberhentian seluruh komisioner dan melakukan rekrutmen baru untuk mengisi jabatan komisioner KPU;

14. Memerintahkan KPU untuk melakukan penetapan pemilih berdasarkan daftar pemilih tetap yang dapat dipertanggungjawabkan dengan melibatkan pihak yang berkepentingan dan berwenang;

15. Memerintahkan KPU untuk melakukan audit terhadap Sistem Informasi Penghitungan Suara, khususnya namun tidak terbatas pada Situng;

Apabila Mahkamah berpendapat lain mohon putusan yang seadil-adilnya (ex aequo et bono).(*)
Sumber: Suara Pembaruan
 

Cerita Secangkir Kopi

Written By Beritasimalungun on Thursday, 13 June 2019 | 06:54

Cerita Secangkir Kopi.
Oleh: Pdt Defri Judika Purba STh

Beritasimalungun-Hari ini (Rabu 12 Juni 2019) saya bersama vikar melayani ke GKPS Tinggi Saribu, Simalungun. Ini adalah jadwal rutin kami ke sana, yaitu sermon dan PA wanita. PA wanita dilaksanakan lebih dahulu pukul 14.00 WIB kemudian dilanjutkan dengan Sermon pukul 16.00 WIB.

Saya meminta vikar lebih dahulu berangkat menuju Tinggi Saribu dan langsung melayani PA wanita. Saya berjanji menyusul dan bergabung ketika Sermon. Ada dua urusan yang membuat saya harus belakangan. Pertama, urusan mendaftarkan anak kami Remiel untuk masuk TK di salah satu sekolah di Pematang Raya. Kedua, urusan menghadiri undangan pernikahan yang ada di Desa Gunung, tetangga desa kami.

Setelah urusan mendaftar Remiel selesai kami pun menuju lokasi pesta di Desa Gunung. Pestanya lumayan ramai juga. Mobil banyak yang berjejer di sepanjang bahu jalan dan di halaman rumah penduduk sekitar pesta. Para pedagang menggelar dagangannya di samping teratak dan di pinggir jalan. Ada penjual cendol, rujak, kacang, telur bebek dan mainan anak-anak.

Setelah memarkirkan mobil, kami pun langsung membaur dengan undangan yang lain untuk makan siang. Waktu memang sudah menunjukkan Pukul 13.00 WIB. Acara makan siang baru saja dimulai. Kami pun antri untuk memperoleh makanan. 

Melihat kami antri, ada jemaat saya yang kebetulan diundang juga di pesta itu melihat dan membantu kami. Dengan cekatan beliau mengambil makanan kepada kami. Ada dua bungkus nasi yang diberikan. Setelah mengucapkan terimakasih, kami pun mencari tempat untuk bisa makan dengan tenang dan santai. 

Setelah tempat yang nyaman kami dapat, kami pun membuka bungkusan nasi yang kami terima. Di dalamnya ada nasi putih yang masih hangat dan daging cincang B2 serta sup lengkap dengan sayur buncisnya. Kami pun makan bersama undangan yang lain di iringi musik dan lagu yang dinyanyikan biduanita. (Saat itu tamu undangan sudah boleh makan sementara pemilik pesta masih melanjutkan acara adat).

Ketika kami sedang makan, saya mendengar biduanita menyanyikan salah satu lagu daerah simalungun. Mendengar lagu tersebut, saya pun tertawa di dalam hati dan merasa kasihan kepada orang yang dulu menyanyikannya. Lagu tersebut bercerita tentang patah hatinya seorang pemuda ketika melihat gadis idamannya lebih memilih pria lain karena lebih kaya dan berpangkat dibanding dirinya.

Judul lagu tersebut : “Na Pangkat Do Na Kaya”. Syair pertamanya berbunyi: “ na pangkat do na kaya da botou, harosuh ni uhurmu, na tinggi sikolah ni da botou, na sosok bai uhurmu. Aha ma anggo au da botou, tading do haganupan, tading do bani rupa da botou, sonai age parlahou.” 

Cobalah kita pikirkan syair lagu tersebut dibandingkan dengan kehidupan cinta sepasang muda/i. Manalah ada seorang wanita (dari dulu sampai sekarang) yang mau kepada seorang laki-laki yang tidak memiliki apa-apa. Wajahnya sudah jelek, perangainya juga jelek. (tading do bani rupa, sonai age parlahou). 

Apalah yang mau dibanggakan dari tipe laki-laki seperti ini? Kalau wajahnya jelek tapi perangainya bagus ini masih lumayan. Atau sebaliknya, perangainya jelek tetapi rupanya ganteng, ini pun masih lumayan juga. Yang terjadi adalah: sudah rupanya jelek, perilakunya (Simalungun: Bakkou) juga jelek. 

Yah,...pantaslah dia ditinggalkan wanita idamannya tersebut. Secara umum, seorang wanita pasti mengejar seorang laki-laki yang kaya, berpangkat, sekolah tinggi dan kalau boleh wajahnya juga ganteng. Adakah wanita yang membaca tulisanku ini keberatan dengan apa yang saya sampaikan?

Nasi yang ada di hadapanku sudah habis ketika lagu “na pangkat do na kaya” selesai dinyanyikan biduanita. Sayup-sayup saya mendengar protokol meminta lagu “sayur kol” untuk dinyanyikan. Tempo musik pun berubah. 

Dari lagu sentimentil yang mengarah kepada mengasihi diri sendiri kepada lagu yang bercerita kehangatan dalam persaudaraan. Walau pun masih baru kenal tetapi sudah diajak ke rumah untuk makan daging anjing dengan sayur kol. Remiel dan Anggita pun bergoyang.

Selesai makan siang, kami pun menunggu sebentar untuk permisi pulang. Tunggu punya tunggu acara adat masih berlangsung sampai pukul 14.30 WIB. Sepertinya kami tidak sempat lagi untuk permisi pulang kepada pemilik pesta. Hujan pun sepertinya akan turun. 

Awan hitam mulai menggantung dimana-mana. Saya pun menyarankan kepada si borsin istriku untuk permisi sebentar kepada pemilik pesta sebelum mereka istrirahat untuk makan siang. Saya langsung saja ke mobil membawa remiel dan anggita supaya tidak kena hujan. 

Sampai di mobil hujan pun turun dengan derasnya. Kami di mobil menunggu istriku, si borsin. Setelah si borsin permisi kepada pemilik pesta (suhut), kami pun kembali ke rumah diiringi hujan yang deras. 

Sampai di rumah, saya pun menunggu hujan reda untuk segera berangkat menuju Tinggi Saribu. Tunggu punya tunggu, hujan tidak berhenti. Saya pun akhirnya tertidur. Suara remiel dan anggita yang bermainlah yang membuat saya terbangun. Ternyata, hujan sudah reda. 

Celakanya, jam sudah menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saya sudah terlambat untuk berangkat menuju Tinggi Saribu. Kalau berangkat, saya pasti sudah terlambat. Lebih baik saya tidak usah berangkat, biarlah vikar yang membawakan sermon. Tokh, nanti untuk sermon berikutnya saya bisa untuk ikut. Saya pun masih mengantuk, ingin tidur lagi.

Pikir punya pikir saya pun akhirnya bergegas untuk berangkat saja. Biarlah terlambat daripada tidak sama sekali. Berjuta alasan bisa saya sampaikan untuk membenarkan diri saya untuk tidak datang sermon, tetapi hati nuraniku tidak bisa saya bohongi. 

Saya terbayang ketulusan dan kepolosan jemaatku yang ada di Tinggi Saribu. Setiap sermon mereka selalu berusaha datang semua. Secangkir teh atau kopi selalu mereka sediakan kepada kami. Kalau saya tidak datang, pasti ada sedikit kekecewaan mereka kepada saya.

Berbekal ingatan saya akan ketulusan merekalah, maka saya pun bergegas berangkat menuju Tinggi Saribu. Jalan berbatu dan licin tidak berarti dibanding ketulusan dan semangat mereka untuk menyambut kami. 

Setelah saya sampai di Desa Talun Kahombu, saya melihat hujan sepertinya sudah turun di desa tinggi Saribu. Saya pun berpikir kembali. Kalau saya melanjutkan perjalanan, maka resiko kehujanan di jurang yang akan saya lewati akan terjadi. Kalau hujan, saya berteduh dimana? Tetapi kalau saya tidak melanjutkan perjalanan, sia-sialah perjalanan saya !

Akhirnya saya memilih untuk melanjutkan perjalanan saja. Jalan yang licin dan menurun hati-hati saya lalui. Setelah sampai di jembatan di atas sungai bahapal saya berhenti sebentar untuk berteduh. Tidak berapa lama, saya pun melanjutkan perjalanan kembali ditemani hujan gerimis. Ban sepeda motor saya terpeleset beberapa kali karena jalan tanah yang licin. Saya pun beberapa kali harus turun dan mendorong sepeda motor untuk bisa maju. 

Dengan perjuangan yang cukup melelahkan, akhirnya sampailah saya di gereja GKPS Tinggi Saribu. Sudah ada beberapa majelis yang hadir. Kondisi hujan membuat jam masuk untuk sermon pun molor. Saya ternyata tidak terlambat.

Ketika memasuki gedung gereja, saya mencium suatu aroma yang sangat menyengat. Aroma yang sangat harum dan menyegarkan. Selidik punya selidik, ternyata sumbernya dari sebuah plastik di samping pintu. Ketika saya tanya, ini apa, majelis yang hadir itu pun berkata: “itu buah kueni pak. Ada berbuah di ladang kita. nanti kalau pulang, bapak bawa”!. Mendengarnya saya diam terharu.

Setelah beristirahat sebentar, kami pun memulai sermon. Benar apa yang ada dalam pikiran saya ketika berangkat dari rumah. Mereka telah menyediakan kopi di meja untuk kami minum.

Kopi di dalam cangkir plastik itulah yang menguatkan saya untuk datang sermon. Ada pesan ketulusan yang saya nikmati lewat secangkir kopi yang mereka suguhkan. Setiap saya menyeruput kopi itu, hati dan jiwaku terbang bebas dan merdeka. 

Saya betul-betul hidup di dalam sebuah kenikmatan hidup yang luar biasa. Di dalam secangkir kopi itu saya menemukan nilai sebuah perjuangan hidup. Secangkir kopi itu adalah cerita cinta mereka kepada kami. Cerita cinta dari jemaat kepada gembalanya. Cerita cinta mereka inilah yang membuat kami selalu semangat untuk datang melayani mereka.

Sermon pun usai, kami bergegas untuk meninggalkan desa Tinggi Saribu. Waktu sudah menunjukan pukul 18.15 WIB. Matahari sudah tidak menampakkan diri lagi. Udara dingin sudah mulai menyentuh tubuh kami. Tampak pepohonan di depan gereja tinggi saribu, meneteskan sisa-sisa tetesan air hujan dari daunnya. Kami pun pulang dengan sukacita dan cerita cinta. (Bahapal Raya, 13 Juni 2019).

 

St Encon Haloho Terpilih Jadi Kepala Nagori Ujung Mariah Pamatang Silimahuta

St Encon Haloho Terpilih Jadi Kepala Nagori Ujung Mariah Pamatang Silimahuta, Rabu 12 Juni 2019. Foto Timbul Saragih
Beritasimalungun-Sebanyak 61 dari 386 Nagori (Desa) se Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara melaksanakan pemilihan kepala nagori (Pilpanag) atau kepala desa serentak Tahun 2019 pada Rabu, 12 Juni 2019. Termasuk Pilpanag (Kades) di Desa Ujung Mariah (Dusun Hutaimbaru-Soping Bolak-Soping Saba), Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun.

Pada pemilihan   Kepala Nagori (Kades) Ujung Mariah ada dua Calon Kades yakni Lumumba Sidauruk (Patahana-Dusun Hutaimbaru) dan St Encon Haloho (Dusun Soping Bolak).


Pada proses pemilihan yang berjalan secara demokratis di Los Dusun Hutaimbaru, Rabu (12/6/2019) tersebut, St Encon Haloho meraih 173 suara sedangkan Lumumba Sidauruk hanya meraih 87 suara. 
Pada proses pemilihan yang berjalan secara demokratis di Los Dusun Hutaimbaru, Rabu (12/6/2019) tersebut, St Encon Haloho meraih 173 suara sedangkan Lumumba Sidauruk hanya meraih 87 suara. Foto Timbul Saragih

Sementara suara tidak sah untuk St Encon Haloho sebanyak 22 suara dan Lumumba Sidauruk 15 suara tidak sah.

St Encon Haloho maju dengan Visi “Membangun Nagori (Desa) Ujung Mariah”. Dan memiliki Misi “Melaksanakan Roda Pemerintahan Secara Terbuka Yang Bersifat Gotong Royong. Mengutamakan Kepentingan Masyarakat dan Siap Melayani Masyarakat Nagori Ujung Mariah Secara Adil”. 



Sukses Pilkanag di Desa Ujung Mariah Dusun Hutaimbaru, Rabu (12/06/2019). Masyarakat begitu antusias dalam penghitungan suara calon pangulu. Turut hadir dalam Pilkanag tersebut jajaran Polsek Saribudolok.


Pangulu Nagori Purba (Horison), Pangulu Ujung Saribu (Bage) dan masyarakat Tongging, Sibolangit, Bage, Baluhut, Nagori Purba dan Gaol. Sehingga suasana sangat meriah dalam pemilihan kepala nagori tersebut.
 

Menurut Ketua Pilpanag (Kades) Desa Ujung Mariah, Bona Mei Purba, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilpanag Ujung Mariah yakni dari Dusun (Huta) Soping Saba ada 20 pemilih, Huta Soping Bolak sebanyak 157 pemilih dan Huta Hutaimbaru sebanyak 133 pemilih. (Timbul Saragih/Asenk Lee)
Pada proses pemilihan yang berjalan secara demokratis di Los Dusun Hutaimbaru, Rabu (12/6/2019) tersebut, St Encon Haloho meraih 173 suara sedangkan Lumumba Sidauruk hanya meraih 87 suara. Foto Timbul Saragih

Pada proses pemilihan yang berjalan secara demokratis di Los Dusun Hutaimbaru, Rabu (12/6/2019) tersebut, St Encon Haloho meraih 173 suara sedangkan Lumumba Sidauruk hanya meraih 87 suara. Foto Timbul Saragih
 
Pada proses pemilihan yang berjalan secara demokratis di Los Dusun Hutaimbaru, Rabu (12/6/2019) tersebut, St Encon Haloho meraih 173 suara sedangkan Lumumba Sidauruk hanya meraih 87 suara. Foto Timbul Saragih

Pada proses pemilihan yang berjalan secara demokratis di Los Dusun Hutaimbaru, Rabu (12/6/2019) tersebut, St Encon Haloho meraih 173 suara sedangkan Lumumba Sidauruk hanya meraih 87 suara. Foto Timbul Saragih
 

Pemilihan Kepala Nagori Ujung Mariah Pamatang Silimahuta

Written By Beritasimalungun on Wednesday, 12 June 2019 | 14:07

Kades (Pangulu) Nagori (Desa) Ujung mariah, Lumumba Sidauruk (berdiri) saat memberikan sambutan saat pembentukan Karang Taruna Dusun Hutaimbaru. 
Beritasimalungun-Sebanyak 61 dari 386 Nagori (Desa) se Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara melaksanakan pemilihan kepala nagori (Pilpanag) atau kepala desa serentak Tahun 2019 pada Rabu, 12 Juni 2019. Termasuk Pilpanag (Kades) di Desa Ujung Mariah (Dusun Hutaimbaru-Soping Bolak-Soping Saba), Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun.

Pada pemilihan   Kepala Nagori (Kades) Ujung Mariah ada dua Calon Kades yakni Lumumba Sidauruk (Patahana-Dusun Hutaimbaru) dan Encon Haloho (Dusun Soping Bolak).

Menurut Ketua Pilpanag (Kades) Desa Ujung Mariah, Bona Mei Purba, jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pilpanag Ujung Mariah yakni dari Dusun (Huta) Soping Saba ada 20 pemilih, Huta Soping Bolak sebanyak 157 pemilih dan Huta Hutaimbaru sebanyak 133 pemilih.

Sementara Rodo Timbul Saragih Manihuruk, warga Hutaimbaru protes karena dirinya tak masuk dalam DPT. Padahal Pilkada 2018, Pilpres, Pileg April 2019 dirinya masuk DPT dan memilih di Hutaimbaru. Sedangkan pada  Pilpanag (Kades) Desa Ujung Mariah, namanya tak masuk DPT karena dirinya tinggal di Pematangsiantar, namun E-KTP Huta Hutaimbaru, Desa Ujung Mariah, Kecamatan Pamatang Silimahuta, Kabupaten Simalungun. (Asenk Lee)







DPT Huta Soping Bolak & Soping Saba












 

61 Nagori (Desa) di Simalungun Pilpanag Serentak Rabu 12 Juni 2019

Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST
Beritasimalungun-Sebanyak 61 dari 386 Nagori (Desa) se Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara melaksanakan pemilihan kepala nagori (Pilpanag) atau kepala desa serentak Tahun 2019 pada Rabu, 12 Juni 2019.

Seperti dilansir antaranews.com, Kepala Dinas Pemerintahan Nagori dan Pemberdayaan Masyarakat, Kabupaten Simalungun, Sarimuda Purba, menyebutkan, ke 61 nagori itu ada di 27 dari 32 kecamatan di wilayah Kabupaten Simalungun.

Di Tano Habonaron Do Bona itu, pesta demokrasi rakyat desa lebih dikenal dengan sebutan Pemilihan Kepala Nagori (Pilpanag) yang diikuti 218 calon, 12 di antaranya perempuan.

Warga pemilih diharapkan menggunakan hak pilih dan seluruh elemen masyarakat, termasuk para calon untuk tetap menjaga kondusivitas desa masing-masing.

Ke 61 nagori itu, Marihat Baris, Sejahtera, Laras Dua, Dolok Hataran dan Silampuyang di Kecamatan Siantar, Karang Anyer, Karang Rejo, Bandar Malela dan Gajing Jaya (Kecamatan Gunung Malela).

Nagori Bangun Rakyat (Kecamatan Panei), Talon Kondot (Kecamatan Panombeian Pane), Ambarokan Panei Raya (Kecamatan Raya Kahean), Boluk, Sei Mangkei, Tempel Jaya, Sidomulyo dan Sei Torop (Kecamatan Gunung Maligas).

Nagori Tiga Bolon (Kecamatan Sidamanik), Sipahoras dan Gorak (Kecamatan Pematang Sidamanik), Baja Dolog, Parbalogan dan Balimbingan (Kecamatan Tanah Jawa), Jawa Tongah dan Jawa Tongah II (Kecamatan Hatonduhan).

Nagori Marihat Dolok dan Tiga Dolok (Kecamatan Dolok Panribuan), Purba Pasir (Kecamatan Haranggaol Horison), Dolok Ilir I, Dolok Mainu, Dolok Tenera, Padang Mainu dan Bandar Selamat (Kecamatan Dolok Batu Nanggar).

Nagori Maligas Bayu (Kecamatan Huta Bayu Raja), Mariah Jambi (Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi), Sibuntuon dan Buttu Bayu Pane Raja (Kecamatan Dolok Pardamean).

Nagori Kandangan (Kecamatan Pematang Bandar), Naga Jaya I, Bah Gunung dan Bandar Tongah (Kecamatan Bandar Huluan), Bandar Rakyat, Bandar Pulo, Bah Lias, Perdagangan II, Perlanaan dan Sidodadi (Kecamatan Bandar), Partimbalan Bandar Masilam).

Nagori Huta Saing (Kecamatan Dolok Silau), Bah Sarimah dan Maria Buttu (Kecamatan Silou Kahean), Pematang Dolok Kahean (Kecamatan Tapian Dolok), Bongguran Kariahan (Kecamatan Raya), Sordang Bolon, Pulo Pitu Marihat dan Tinjowan (Kecamatan Ujung Padang), Ujung Mariah (Dusun Hutaimbaru-Soping) dan Saribu Jandi (Kecamatan Pamatang Silimahuta), Bangun Pane dan Bah Bolon (Kecamatan Dolok Masagal). 

Pilpanag di Desa Ujung mariah (Dusun Hutaimbaru-Soping) ada dua Calon yakni Lumumba Sidauruk (Patahana) dan Encon Haloho. 

Sedangkan di Pilpaneg Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019), ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi.  (BS-Asenk Lee)
Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST

Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST



Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST

Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST


Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST

Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST


Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST

Proses Kepala Desa (Nagoro) di Nagori Purba Pasir, Kecamatan Haranggaol Horison, Rabu (12/6/2019). Ada tiga calon Kades yakni 1.Horman Haloho, 2. Ridwan Sinaga, 3. Benan Tuah Silalahi. Foto IST
 

IKLAN LAGI

IKLAN 1

IKLAN

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan

Doakan St RK Purba Diberikan Kesembuhan
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun

Selamat Datang Mahasiswa Baru Asal Simalungun
Buatlah Bangga Orang Tuamu


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Berita Lainnya

.

.
.