}); December 2012 | BeritaSimalungun

BERITA TERBARU

MENU BERITA

MATRA-Media Lintas Sumatera (BETA)

MATRA-Media Lintas Sumatera (BETA)
KLIK Benner Untuk Penampakannya
INDEKS BERITA

Bupati Simalungun JR Saragih Terancam Terseret Kasus Dugaan Korupsi Rp 67,2 Miliar

Written By GKPS JAMBI on Sunday, 16 December 2012 | 06:50

Bupati Simalungun, JR Saragih.Foto Ist
Bupati Simalungun, JR Saragih kini terancam terseret dalam pusaran kasus dugaan korupsi senilai Rp 67, 2 miliar. Nilai korupsi itu terdapat di sejumlah pengelolaan dana seperti pengelolaan Dana Bansos untuk rehap gedung SD/SMP, dana BOS, dana Alokasi Khusus, Pengadaan Baju Batik, Insentif guru dan dana bagi hasil PBB tahun 2011-2012 dengan total dugaan korupsi senilai Rp 67,2 Milyar.

Pada Rabu 12-12-'12  Hendro Susilo (Silok Cs) dari LSM Macan Habonaron dari (Siantar-Simalungun) berangkat ke Jakarta untuk secara resmi melaporkan Bupati Kabupaten Simalungun JR Saragih ke Kejaksaan Agung RI. Dan Kamis 13-12-'12 pula telah melaporkan hal yang sama KPK RI, yakni tentang kasus lima pengelolaan dana di Pemkab Simalungun.

Informasi dugaan korupsi tersebut diperoleh dari hasil wawancara Radio Mora FF bersama Hendro Susilo (silok) di Gedung KPK via telepone seluler Kamis, 13/12-12. Dugaan kourupsi dana Bansos APBD Thn 2011 dan beberapa dugaan korupsi lainnya.

Dugaan Korupsi pengelolaan Dana Bansos untuk rehap gedung SD/SMP, Dana BOS, Dana Alokasi Khusus, Pengadaan Baju Batik, Insentif guru dan Dana bagi hasil PBB tahun 2011-2012 dengan total dugaan korupsi senilai Rp 67,2 Milyar harus diusut tuntas.  (Sumber FB  Radio Mora Sumut 91.30 FM/(Monang Saragih/Radio Mora)

Ibunda Wakil Ketua DPRD Taput Ditemukan Tewas Bersimbah Darah di Dapur

Written By GKPS JAMBI on Tuesday, 11 December 2012 | 13:30

Sering Diancam Lewat SMS, Diduga Kuat Korban Dibunuh
SIANTAR- Rustiana br Panjaitan (74), seorang janda yang merupakan ibu Wakil Ketua DPRD Tapanuli Utara, Ir Ottoniyer Simajuntak, ditemukan tewas bersimbah darah di dapur rumahnya, Minggu (9/12) sekira pukul 08.00 WIB. Kuat dugaan korban tewas dibunuh karena sebelumnya juga dia sering mendapat SMS teror dari orang yang namanya tidak terdaftar di Hp milik ibu tiga anak itu.

Pariana Siregar (63), B Simanjuntak (56) dan boru Purba (50) adalah orang yang pertama sekali menemukan korban tewas di rumahnya, Jalan Gatot Subroto, Batu 4 Gang Gardu, Lingkungan IV, Kelurahan Lubuk Baru, Kecamatan Padang Hulu, Kota Tebingtinggi.

Ketika itu sekira pukul 07.30 WIB, Pariana yang tinggal berdekatan dengan rumah korban hendak mengantarkan makanan buat Rustiana. Sampai di teras rumah, Pariana melihat pintu besi rumah korban tertutup, tapi pintu kedua yang terbuat dari kayu terbuka separuh. 

“Melihat pintu besi tertutup, aku kembali pulang setelah berulang kali kupanggil. Tapi tidak ada sahutan dari dalam rumahnya,” ujar Pariana Siregar.

Karena tak ada sahutan dari dalam rumah, lalu Pariana memanggil B Simanjuntak dan isterinya boru Purba yang juga tinggal berdekatan dengan rumah korban. Kepada pasutri tersebut, Pariana menceritakan kecurigaannya telah terjadi sesuatu di dalam rumah korban. Ketiga orang itupun kembali mendatangi rumah korban. “Ketika ditelepon ke nomor HP korban, terdengar suara HP korban berdering dari dalam rumah, tapi tetap tak ada sahutan,” timpal B Simanjuntak.

Entah siapa yang memulai inisiatif, akhirnya B Simanjuntak membuka paksa engsel pintu besi rumah korban. “Pintu kedua yang terbuat dari kayu tetap terbuka separuh, tapi pintu besinya tertutup, lalu kumasukkan tanganku ke sela-sela lubang pintu besi itu untuk membuka engselnya. Setelah terbuka, kugoyang engkol kunci pintunya, ternyata tidak terkunci dan bisa terbuka,” ujar B Simanjuntak lagi.

Setelah pintu berhasil dibuka, B Simanjuntak dan boru Purba langsung masuk ke dalam rumah mewah tersebut.

 “Orang itu berdua saja yang masuk untuk memastikan apa yang telah terjadi di dalam. Karena aku sudah merasa takut, aku hanya menunggu di luar pintu saja. Orang itu berdua langsung masuk ke kamar Eda Rustiana sambil menyapa namanya. 

Karena tidak ketemu, dari luar pintu kusuruh lagi mereka berdua melihat ke ruang makan. Begitu masuk ke ruang makan/dapur, ternyata boru Purba menjerit karena melihat Eda Rustiana sudah tewas tergeletak di lantai ruang makan dengan kondisi darah mengental yang sudah mulai kering di sekitar kepalanya,” jelas Pariana.

Sontak ketiga saksi langsung mengabari jiran tetangga sehingga warga beramai-ramai mendatangi rumah korban. Tak lama, meyusul kedatangan sejumlah petugas kepolisian ke lokasi kejadian.

Ternyata niat Pariana mendatangi rumah korban untuk memberikan makanan pada pagi itu adalah yang ketiga kalinya. Pada malam harinya, sekira pukul 19. 00 WIB, Pariana sudah datang membawa daging untuk diberikannya kepada korban di rumah. 

“Namanya kami bertetangga, wajar kami saling memberi makanan. Kadang kalau korban dikunjungi anak-anaknya dan dibawai makanan, aku dikasihnya. Begitu juga kalau aku lagi ada makanan, kuantarkan juga buat Eda Rustiana ke rumahnya. Semalam sore (8/12) kebetulan di rumahku ada acara arisan. Siap acara arisan, sekira pukul 19.00 WIB, kuantarkan sepiring makanan daging ayam buat Eda Rustiana ke rumahnya. 

Sampai di rumah Eda itu, kulihat lampu rumahnya gelap dan pintu besi rumahnya tertutup, tapi pintu kayunya terbuka separuh. Begitu kupanggil dari luar pintu, tidak ada sahutan. Begitu kutelepon, malah terdengar suara Hp nya dari dalam. Yah udah, kupikir Eda sedang keluar rumah dan Hp nya tertinggal, lalu akupun kembali pulang,” jelasnya lagi.

Satu jam kemudian, tepatnya sekira pukul 20.00 WIB, Paraiana kembali mendatangi rumah Rustiana sambil membawa sepiring daging buatnya. Ternyata untuk yang kedua kalinya dia datang, kondisi pintu rumahnya tetap sama seperti yang pertama kali. Lampu rumah itu tetap padam. “Kutelepon juga masih terdengar suara Hp dari dalam. 

Berulang kali kupanggil namanya, tetap juga tak ada sahutan. Akhirnya kuputuskan besok pagilah aku kembali datang. Tadi pagi begitu menu masakan daging sudah kupanaskan, aku kembali mendatangi rumahnya untuk mengantarkan makanan itu, ternyata posisi pintu rumah korban tetap sama dengan yang kulihat tadi malam. 

Akupun langsung curiga, sehingga kupanggil B Simanjuntak dan boru Purba. Di situlah ketahuan kalau Eda Rustiana ternyata telah tewas dalam kondisi mengenaskan. Kepalanya pecah dan darah membasahi lantai ruang makan rumahnya. Darah tersebut sudah hampir mongering,” terang Pariana.

Polisi langsung melakukan olah TKP sambil memasang police line (garis polisi). Saat jenazah pertama sekali ditemukan, tubuh korban telentang di lantai tepat di samping meja makan, posisi kaki dan tangan korban dalam keadaan lurus, sedangkan sarung yang dikenakan korban tersingkap ke bawah hingga terlihat separuh pahanya. 

Di sekitar kepala korban banyak darah yang mulai mengering membasahi lantai ruang makan, lalu di dekat kepala korban ditemukan juga pecahan kaca asbak rokok, pecahan mangkok cuci tangan dan sebatang lilin besar bersama korek apinya. Semua barang-barang itu sudah terkena darah korban, lalu diamankan petugas sebagai alat bukti.

Meskipun petugas kepolisian belum bisa memastikan motif kematian Ibu dari Wakil Ketua DPRD Kab Tapanuli Utara itu, namun melihat kondisi jenazah korban dan alat bukti yang ditemukan, Rustiana diduga tewas karena dibunuh. “Ngeri kali darah yang membasahi lantai rumah korban, pasti korban bukan terjatuh dan terhempas kepalanya ke meja makan, aku yakin korban pasti dibunuh,” ucap sejumlah warga yang mengerumuni rumah korban.

“Belum tahu apa penyebabnya. Memang tidak masuk akal rasanya kalau kematian inangtua kami hanya karena terjatuh dan terhempas kepalanya mengenai asbak dan mangkok cuci tangan. Soalnya darahnyapun banyak sekali keluar dari luka di kepalanya itu. Pasti karena dibunuh. 

Tapi motifnyapun belum bisa dipastikan. Seandainya motifnya karena perampokan, perabot rumahnya, baik pintu atau peralatan yang lain tidak ada kami lihat rusak, begitu juga dengan uang Rp8 juta dan sejumlah perhiasan yang masih ditemukan tersimpan di balik kasur tempat tidurnya walaupun kamar tidurnya kami lihat berantakan,” ucap keluarga korban, B Simanjuntak.

Sedangkan keponakan korban, Dean Panjaitan juga sangat yakin kalau kematian namborunya akibat korban pembunuhan. “Yakin sekali aku kalau namboruku mati karena dibunuh, apalagi katanya ditemukan buku tulis yang berisi catatan piutang di meja tamunya. Namboruku selama ini kerjanya meminjamkan uang kepada orang lain. Mungkin saja tadi malam korban didatangi tamu ke rumah untuk meminjam uang, tapi karena masih ada tunggakan utang dari orang tersebut, tidak dikasih namboruku sehingga bisa jadi orang tersebut emosi lalu menghabisi nyawa namboruku dengan cara memukulkan asbak rokok itu ke kepalanya,” terka Dean Panjaitan.

Hal ini cukup masuk akal karena sebelumnya korban juga sering mendapat SMS teror, bahkan pernah diancam bunuh lewat SMS dari orang yang namanya tidak terdaftar di Hp milik korban. Ada cerita yang didapat dari salah seorang warga yang tinggal tak jauh dari rumah korban, namanya Intan (40). Ia membuka usaha toko ponsel di rumahnya. 

Dari wanita, didapat kabar kalau korban sering mendapat SMS ancaman dan teror ingin dibunuh. “Korban sering mengisi pulsa ke tempatku. Ketika Eda Rustiana mengisi pulsa selalu dia minta tolong samaku untuk membacakan SMS yang masuk ke Hp nya, karena eda itu mengaku tidak bisa membuka dan mengirim SMS. Begitu kulihat ada sejumlah SMS ancaman dan teror kepadanya, tapi hanya nomor pengirimnya saja, nama pengirimnya tidak ada,” ujar Intan.

Menurut Intan, SMS ancaman itu tidak semua diberitahukannya kepada korban. “Yang kukasih tahu hanya bunyi SMS yang biasa-biasa saja, tapi yang bernada ancaman tidak kukasih tahu karena aku takut menggangu kesehatannya. Dia kan sudah tua, nanti jadi pikirannya pula,” sambung Intan.

Intan mengaku, terakhir kali dia membaca SMS sekitar sebulan yang lalu dan bunyi SMS itu juga bernada marah. “Aku taunya kalau aku punya utang sama opung dan utangku pasti kubayar, nggak usah ditagih-tagih kali Pung, pasti kubayarnya itu, jangan takutlah,” ucap Intan menerangkan bunyi SMS yang masuk ke Hp korban.

Selain SMS yang menurut Intan bernada marah-marah, juga ada dua kali SMS bernada ancaman. “Awas kau ya opung, jangan main-main, kubunuh kau nanti, pasti kubayar utangku itu,” bilang Intan mengingatkan SMS yang masuk ke Hp korban.

Intan mengetahui beberapa isi SMS ini karena dia sering mengajari korban menggunakan paker panggilan. “Korban itukan ingin menelepon, jadi kusarankan ngga usah pakai TM (time on, red), tapi CM. Kalau CM kan mengirimnya lewat pengiriman SMS ke 8999, dan ini didapatkan setiap kali kita mengisi pulsa Rp10 ribu. Di situlah kulihat banyak SMS yang belum terbaca di Hp korban, tapi bunyi SMS ancaman itu tidak kuceritakan kepada korban karena aku takut mengganggu kesehatannya,” bilang Intan lagi.

Selama korban mengisi pulsa di toko ponsel milik Intan, korban hanya curhat tentang susahnya menagih utang. “Samaku korban hanya sering curhat masalah nasabahnya saja. Korban mengeluh karena susah menagih utang,” jelas Intan.

“Kenapa ya kalau mau mengutang cepat sekali, tapi giliran membayar susahnya minta ampun,” begitulah yang sering diucapkan korban ditirukan Intan.

Intan mengaku, dia terakhir kali melihat korban sekitar seminggu yang lalu saat korban membeli pecal di warung Bu Iin. “Setelah itu ngga pernah kulihat lagi,” ucap Intan.

Namun Kapolsek Padang Hulu AKP K Nadeak belum bisa memastikan motif di balik tewasnya korban. “Belum bisa terlalu cepat kami menyimpulkan karena masih butuh penyelidikan lebih lanjut. Saat ini alat bukti yang telah dikumpulkan adalah asbak rokok yang pecah, mangkok cuci tangan, lilin dan korek api. Kalau buku tulis yang berisi catatan piutang, itu tidak ada kita temukan,” ucap AKP K Nadeak. 

Haccit Nai Diilala Ho Inong

SIANTAR- “Haccit nai diilala ho, Inong (betapa sakitlah yang kau rasakan, Ibu),” jerit tangis Wakil Ketua DPRD Tapanuli Utara Ir Ottoniyer Simanjuntak saat melihat ibunya Rustiana br Panjaitan berada di instalasi jenazah RSU Djasamen Saragih Pematangsiantar, Minggu (9/12) pukul 13.30 WIB.

Ottoniyer yang tinggal di Tarutung terlihat histeris begitu melihat luka koyak di bagian kepala ibunya sehingga para keluarganya pun terpaksa membujuknya untuk keluar dari ruangan.

Korban mengalami luka robek di kepala sepanjang sekitar 10 cm dan luka menganga 2 cm di bagian samping batok kepala. “Dari hasil outopsi, di bagian kepala korban terdapat luka robek sekitar sepanjang 10 cm dan luka menganga sekitar 2 cm, tepatnya di atas telinga sebelah kanan. 

Luka itu akibat benda tumpul. Untuk pengungkapannya, kami masih menunggu hasil resmi dari tim dokter forensik. Kemudian tiga orang saksi sudah kami kumpulkan dan akan dimintai keterangannya,” ucap Kapolsek Padang Hulu.

Sementara Ottoniyer Simanjuntak mengatakan bahwa ibunya akan dibawa ke Pabatu, Kabupaten Serdang Bedagai. Wakil Ketua DPRD yang merupakan wakil dari PDI-Perjuangan ini mengaku mendapat kabar dari kelaurganya saat ia sedang di rumah. 

Sementara tangisan keluarga Ottoniyer Simajuntak di Tarutung, Tapanuli Utara langsung memecah saat mendengar kabar duka cita tersebut. Mereka langsung bergegas menuju kota Tebing Tinggi untuk melayat.

Sementara Istri Ottoniyer, Betti Sitorus saat dihubungi merasa terpukul mengetahui mertuanya tewas terbunuh. “Kami sedang di perjalanan menuju Tebing Tinggi. Orangtua kami meniggal,” kata Betti Sitorus saat dihubungi METRO. Ditanya kronologis dan upaya keluarga mengusut kasus tersebut, Betti tidak banyak bercerita. “Nantilah ya, kita lagi di perjalanan,” ujarnya singkat. 

Terbunuhnya orangtua Ottoniyer Simajuntak itu juga meninggalkan duka mendalam di jajaran pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI-Perjuangan.

“Secara pribadi mapun kelembagan, kita turut prihatian atas kejadian yang menimpa Ibunda Ottoniyer Simajuntak. Kepergian almarhum membawa duka yang mendalam bagi kami dan bagi saya pribadi. Untuk itu kita berharap kasus tersebut harus diusut tuntas,” sebut Wakil Sekretaris DPC PDI-Perjuangan Tapanuli Utara Ir Augustinus Butarbutar.

Dia juga menyebutkan bahwa hari ini, Senin (Senin, red) pengurus DPC PDI-Perjuangan akan menggelar rapat untuk membahas keberangkatan mereka ke Tebing tinggi untuk melayat dan menyampaikan kata-kata penghiburan terhadap keluarga yang ditinggal almarhum. (Copas MSC)

Dua Jenderal Bermalam di Silou Kahean


SILOU KAHEAN- Dalam rangka latihan Batalyon Tim Pertempuran (BTP) 123/Kala Cakti, dua perwira tinggi TNI Angkatan Darat, yakni Asisten Operasi (Asops) Kasad Mayjen TNI Dedi Kusnadi Thamin dan Pangdam I BB Mayjen TNI Lodewijk F Paulus mengunjungi Kecamatan Silou Kahean, Jumat (7/12/12).

Bersama Bupati Simalungun JR Saragih, kedua perwira tinggi ini  melakukan temu ramah dengan ratusan warga hingga bermalam di sana. Esoknya, Sabtu (9/12) , mereka meninjau lokasi latihan di kawasan Tinggiraja.

Di hadapan ratusan warga, Pangdam I BB mengucapkan terima kasih kepada warga dan Pemkab Simalungun yang telah bersedia menjadikan wilayah Silou Kahean sebagai daerah latihan Kodam I BB. “Sejak kamis malam saya sudah bermalam di tempat ini dan menyaksikan kehidupan warga di sini. melihat prajurit saya berinteraksi dan berkomunikasi dengan warga. Dan saya dengar laporan dari Komandan Rindam, warga di sini menerima keberadaan kami,” ujar mantan Danjen Kopasus ini.

Dia mengatakan, ada 3 tugas utama dari TNI, yaitu menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan NKRI dan melindungi bangsa dan negara.

 “Tentara tidak bisa sendirian dalam melaksanakan tugas utama tadi. Tentara harus dibantu oleh rakyat. Kami itu tidak ada artinya tanpa rakyat. Semoga kehadiran TNI di daerah ini membawa dampak positif bagi kehidupan warga. Contoh kecilnya saja, TNI berencana akan membangun lapangan sepakbola di sini yang bisa dipergunakan oleh warga, sehingga nantinya akan muncul bibit-bibit pemain sepakbola yang bisa berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional,” ujar Pangdam.

Sebelumnya Bupati Simalungun JR Saragih mengatakan telah menyetujui wilayah Silou Kahean dijadikan daerah latihan di jajaran Kodam I BB. “Akan banyak dampak positif yang diperoleh masyarakat jika daerah ini menjadi latihan TNI. Akan banyak petinggi-petinggi negara yang akan berkunjung ke sini. Setidaknya dengan melihat prajurit TNI, generasi muda daerah ini akan terinsipirasi untuk menjadi prajurit,” ujar JR.

Keesokan harinya sekira pukul 05.00 WIB, Pangdam beserta rombongan menuju kawasan pemandian air panas Tinggiraja, kemudian dengan menggunakan sepedamotor trail mereka meninjau lokasi yang akan dijadikan daerah latihan. Melihat kondisi jalan tembus Silou Kahean-Dolok Silou yang licin dan berlumpur bak kubangan kerbau, Bupati Simalungun mengatakan akan mengalokasikan dana pada APBD 2013 untuk pengerasan jalan sepanjang 11 km. “Pengerasan jalan dulu, baru di tahun berikutnya akan diaspal,” ujar JR. (Copas MSC)

Koswari Gelar Diklat Jurnalistik di Siantar-Simalungun

Semarakkan HUT ke XIII


SIMALUNGUN- Bertempat di Aula Hotel Alexander, DPC Korps Senior Wartawan Republik Indonesia (Koswari) Siantar-Simalungun menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) dan pemahaman hukum, Sabtu (8/12). Diklat itu digelar untuk menyemarakkan HUT ke XIII yang perayaannya dipusatkan di Kota Pematangsiantar.

Ketua panitia Adlis Efendi dalam sambutannya mengatakan, diklat dan pemahaman hukum yang diadakan dalam rangka HUT Koswari ke XIII diikuti mahasiswa/i, wartawan, dan masing-masing perwakilan pengurus Koswari se Indonesia. Ia mengatakan, diklat tersebut akan menjadi agenda Koswari setiap tahunnya, untuk mematangkan dan mencerdaskan wartawan di tanah air.

Ketua DPC Koswari Siantar-Simalungun Leo Visen Simanjuntak dalam pengarahannya mengungkapkan, jurnalistik adalah suatu pekerjaan yang mengemban tanggungjawab dan mensyaratkan adanya kebebasan. Karena tanpa adanya kebebasan, seorang wartawan sulit untuk melakukan pekerjaanya. Akan tetapi, kebebasan tanpa disertai tanggungjawab, akan mudah menjerumuskan wartawan ke dalam praktek jurnlistik yang kotor, serta merendahkan harkat dan martabat wartawan tersebut.

Karena itulah baik di negara-negara maju maupun negara berkembang, persyaratan untuk menjadi wartawan dirasa sangat berat. Wartawan harus benar-benar bisa menjaga perilaku dalam kegiatan jurnalistiknya sesuai dengan aturan yang ada, yaitu sesuai dengan kode etik jurnalistik pasal 1 ayat 1, dan Undang-undang Pers Nomor 40 tahun 1999, serta dan Undang-undang nomor 22 Tahun 2002.

Masih kata Leo Visen, wartawan adalah sebuah profesi. Dengan kata lain, wartawan adalah seorang profesional. Dalam menjalankan profesinya, seorang wartawan harus dengan sadar menjalankan tugas, hak, kewajiban dan fungsinya, yakni mengemukakan apa yang sebenarnya terjadi. 

Bukan hanya itu, seorang wartawan harus turun ke lapangan untuk meliput suatu peristiwa yang bisa terjadi kapan saja. Bahkan, wartawan kadangkala harus bekerja menghadapi bahaya untuk mendapatkan berita terbaru dan original.

Selain itu, wartawan harus mematuhi kode etik jurnalistik. Misalnya wartawan tidak menyebarkan berita yang bersifat dusta, fitnah, sadis, dan cabul, serta tidak menyebutkan identitas korban kejahatan asusila. Wartawan menghargai dan menghormati hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar.

Ketua DPD Koswari Sumut Ir Husni Husin mengatakan, kemerdekaan pers merupakan bagian dari kedaulatan rakyat, yang juga mengharuskan kita menghormati Hak Asasi Manusia (HAM). Untuk itu, pers nasional berupaya semaksimal mungkin menerapkan jurnalisme berbasis HAM.

Guna menerapkan hal itu, sambung Husni Husin, langkah penting yang perlu dilakukan antara lain, memperdalam pemahaman atas UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

“Dengan kemampuan memahami pasal-pasal dan makna dari UU Pers dan KEJ itu, sesungguhnya di situ proteksi yang diberikan kepada publik. Dan, inilah bagian dari HAM, sehingga pemberitaan senantiasa dalam koridor etika profesi,” tukasnya. (Copas MSC)

Jalan Rusak, Warga Kecamatan Raya Tanam Pohon Pisang

 Jalan Lintas Raya-Saribudolok Rusak Parah

Warga Huta Baru, Kecamatan Raya, Simalungun menanam pohon pisang di Jalan lintas Raya-Saribudolok.

SIMALUNGUN- Kondisi jalan rusak memang selalu menjadi masalah yang tak terselesaikan. Jalan besar yang menghubungkan Raya dengan Saribudolok, tepat di HUta Baru, adalah salah satu contohnya. Di sana, kondisi jalan mirip dengan kubangan kerbau. Warga yang bosan dengan kondisi itu, beramai-ramai menanam pohon pisang di badan jalan, Sabtu (8/12) sekira pukul 12.00 WIB.

Informasi dihimpun, aksi yang dilakukan puluhan warga Kecamatan Raya dilakukan sebagai bentuk protes warga karena tidak adanya peerhatian pemerintah terhadap kondisi jalan.

J Saragih (34) warga Huta Baru, Kecamatan Raya mengungkapakan, jalan rusak dan berlubang yang menyebar di sekitar jalan menuju Saribudolok Dolok ini sudah lama tidak mendapat perhatian pemerintah. Jika dihitung, ada sekira 5 tahun kondisinya rusak.

“Kalau kita mengeluhkannya kepada lurah atau camat, maka jawabannya selalu akan menyampaikannya ke Pemkab Simalungun. Ketika ditanya ke Pemkab Simalungun, maka jawabannya adalah, perbaikan itu gawean dinas PU Propinsi,” ujarnya. 

P Sihaloho (29), seorang supir angkutan bus di jalinsum Siantar-Kabanjahe, mengatakan hal senada. “Apakah benar pemerintah tidak mempunyai anggaran untuk perbaikan dan perawatan jalan lintas negara ini,” ujarnya Sihaloho bertanya dengan nada kesal.

Sihaloho menambahkan, anehnya, jalan di pusat perkantoran Pemkab Simalungun bisa diperbaiki, sedangakan jalan ini seperti tak diperhatikan.

“Jika sudah melewati jalan ini, maka mobil yang dikemudikan haruslah berjalan lambat sekali. Dengan demikian, pendapatan para supir juga akan berkurang,” ungkapnya.

Sementara warga sekitar Pinta Purba (46) mengatakan,  sejak jalan di sana rusak dan berlumpur, ia dan keluarga jarang melintas di sana. “Keluar rumah pun kita malas jika melihat kondisi jalan itu,” katanya.

Disamping itu, lumpur juga akan menyulitkan warga untuk mengangkut hasil pertanian dari daerah sekitar.
“Mudah-mudahan dengan aksi protes yang dilakukan warga ini, akan membuka mata pemerintah dan menggugah pikiran mereka, agar segera melakukan perbaikan,” harap Pinta. (Copas MSC)

Konser Paduan Suara Lagu Rohani dan Tradisional Simalungun GKPS Cililitan


Di Apresiasi oleh DR. JR. Saragih (Bupati Simalungun)

“Putri Ayu bangkitkan ahap Ha-Simalungunon melalui Alunan Lagu Mulak Pe Au Girah ”
Simalungun In Harmony merupakan pagelaran Konser Ucapan Syukur Paduan Suara lagu Rohani dan lagu tradisional Simalungun yang di kolaborasi dengan tari-tarian (tortor) khas Simalungun diiringi oleh musik orchestra secara modern etnik. 

Pagelaran ini berlangsung pada 27 Oktober 2012 di Theater Tanah Airku TMII, dalam rangka ucapan syukur pamokkoton gedung GKPS Cililitan. Konser ini merupakan ekpressi hati, jiwa dan raga dalam mensyukuri Anugerah Tuhan dan mencintai tanah air melalui pelestarian bubaya simalungun.

Pujian Penyembahan/Ucapan Syukur dan pelestarian budaya 

Acar konser ini di mulai dengan kemunculan sepasang anak muda yang berpakaian adat khas simalungun (gotong, hiou, bulang, dll) yang menyapa penonton dengan salam selamat datang. 

Kemudian dilanjutkan dengan lagu-lagu rohani sebagai pujian dan penyembahan pada sessi I dengan lagu antara lain The Majesty and Glory of Your name, Hupuji holong ni atei-Mu, Huhamegahkon, Worthy to be praised, Air,  Sonangdo (It Is Well With My Soul), I believe I can fly, How Great Thou Art, Indonesia Menyembah-Mu, Hallelujah to The King of King

Penampilan sessi I ini membawa suasana penyembahan dan pujian syukur hubani Naibata dengan penampilan Paduan Suara beranggotakan 90 orang yang dipimpin oleh seorang conductor sekaligus pelatih yang bertalenta Sy. Ir. Agust Juvenly Purba, MBA dan Pemusik muda berbakat kita Roi Josen Purba. 

Dalam sessi ini juga menampilkan penyanyi solo, kwartet GKPS Cililitan yaitu Dr. Erida Manalu, Abner Sumbayak, Ciska Purba, Echu Saragih, Jhane Saragih dan Masniar Saragih yang tentunya berkolaborasi dengan paduan suara serta musik orkestrasi.

Setelah istirahat selama 20 menit dilanjutkan dengan sessi II lagu tradisional Simalungun diawali dengan penampilan anak sekolah minggu esamble, kemudian tortor SOMBAH terus lagu Tanoh Simalungun, Haroan bolon/Manduda/Sermadengandengan, Horja Harangan, Ilah Hasiholan, Ulang Lupa Bona, Tuan gunung malela, Ham do harosuhku, Martondur, Ulang Mittor Holsohan, Mulak pe au girah, Sipukkah Huta + Simalungun.  

Sebagian lagu tersebut di arregement secara khusus untuk acara ini. Selain tortor Simalungun pada beberapa lagu juga diiringi tarian modern balet dan tamborin, Panortor dalam acara ini merupakan anggota seksi sekolah minggu dan remaja perempuan serta wanita GKPS Cililitan yang berjumlah 30 orang. 

Penampilan paduan suara sangat memukau saat membawakan lagu Tanoh Simalungun dan Martondur. Sebelum menyanyikan lagu tersebut MC yang dibawakan oleh Bennimanria br Purba ini sempat mengajak penonton untuk mengenang lagu martondur dengan bertanya kepada beberapa penonton termasuk Bupati JR Saragih. Sonaha do ham hinan martondur? jawaban mereka membuat penonton bersorak. 

Pada penutup sessi II ini sebagai akhir acara semua artis dan pendukung acara bernyanyi bersama dengan penonton kemudian ditutup oleh penyanyi solo yang bersuara khas inggou simalungun Sy. Damenson Damanik.

Putri Ayu dan Sumani Purba Bangkitkan Jiwa Ke-Simalungunan

Dalam konser ini Putri Ayu (jebolan IMB Trans TV) tampil sangat memukai dengan membawakan salah satu lagu khas anak perantau yang rindu pulang kampung berjudul Mulak Pe Au Girah,  dengan suaranya yang khas seriosa dan bernada tinggi bersama paduan suara membuat ruangan gedung teater tanah airku menggelegar dan penuh sambutan tepuk tangan dari penonton. 

Sebelumnya Sumani Purba (Simalungun Idol 2010) telah menggugah penonton dengan lagu Ilah Hasiholan dan Ulang Lupa Bona yang mengingatkan kita ulang maila jadi Simalungun namun banggalah jadi Simalungun. Acara ini memang dibuat selain ucapan syukur juga untuk melestarikan budaya Simalungun termasuk gereja GKPS dengan harapan bisa membangkitkan semangat hidup kita, demikian wawancara dengan ketua Panitia (St. Jamulianer Saragih, M.Pd)

Apresiasi DR. JR. Saragih, SH, MM (Bupati Simalungun)

Bapak DR. JR. Saragih (Bupati Simalungun yang juga Ketua Presidium PMS) memberikan penghargaan dan apresiasi atas pagelaran konser budaya ini, hal ini juga sejalan dengan komitmen beliau membangun Simalungun pada berbagai bidang. Khususnya bagi anak-anak muda Simalungun yang diperantauan marilah bangga jadi Simalungun sahutnya dalam acara tersebut.  

Bapak JR. Saragih yang di daulat untuk memberikan bunga tanda terima kasih kepada para pendukung acara mengatakan bahwa beliau juga merupakan mantan bagian dari Resort Cililitan (saat di Karawang-Purwakarta). Sebagai dukungannya terhadap acara ini beliau melalui RS. Efarina Etaham memberikan sumbangan sebesar 150 Juta rupiah menambahi yang sebelumnya telah di berikan sebanyak 20 juta untuk GKPS Cililitan. 

Sementara pak Gideon Purba juga turut memberikan bantuan sebesar 5 juta rupiah. Dalam kesempatan tersebut Pengantar Jemaat GKPS Cililitan St. Jhon Jansen Purba, SH menyampaikan terima kasih atas kehadiran dan bantuan pak Bupati dengan memberikan bunga yang disambut tepuk tangan para penonton sembari berjabat tangan dan foto bersama. 

Dalam wawancara Bupati dengan Media, Beliau berharap GKPS yang lain menyusul membuat acara begini, IKEIS juga pasti bisa bikin acara pelestarian budaya karena menurut saya Simalungun adalah GKPS dan GKPS adalah Simalungun, demikian juga IKEIS adalah Simalungun dan Simalungun adalah IKEIS.

Penonton Penuh dan Melebihi Kapasitas Gedung

Gedung Theater Tanah Airku yang berkapasitas 1.054 kursi tidak bisa menampung penonton yang dihadiri sekitar 1.200 orang sehingga banyak yang duduk ditangga, sebenarnya tiket yang di distribusikan oleh panitia hanya 1.000 lembar (begitu kata koordinator tiket, Sy. Desbay Saron Sumbayak).

Dimana yang 54 untuk undangan khusus namun kenyataannya banyak orang-2 yang terus berdatangan walaupun penerima tamu sudah ditutup setelah 20 menit acara dimulai karena tempat duduk habis sehingga yang tidak memiliki tiketpun tetap masuk oleh panitia karena acara ini merupakan milik kita bersama baik GKPS maupun Simalungun. 

Pada saat istirahat panitia terpaksa dengan sigap menambah kursi tambahan (tempel) di depan panggung  untuk menampung penonton. St. Jhon Jansen Purba (Porhanger) dengan rela memberikan kursinya (VVIP) bahkan sampai 3 kali digusur hingga akhirnya berdiri supaya orang/tamu bisa duduk.

Inilah pelayanan yang harus kita lakukan sebagai tuan rumah yang baik, beliau juga bersama panitia menyampaikan maaf dan harap maklum kepada tamu yang terganggu dengan situasi tersebut. Dalam acara yang diliput oleh media massa ini (TVRI, Suara Pembaharuan dan Batak Pos) turut juga diundang Praeses GKPS Distrik VII serta Pandita dan Penginjil yang ada di distrik VII ini.

Apa tanggapan Mereka?

Setelah selesai acara tersebut beberapa pendapat sebagai berikut, Mantab tumang (St. Jhan Kandi Sumbayak),  puas dan bangga, tuntas sudah perjuangan kita 6 bulan ini dan berharap ada yang kedua (Roi Josen Purba/Music Director/Pianis).

Hebat….acara ini mengangkat derajat lagu Simalungun dengan arrangement khusus dan orkestrasi menuju era modern, lagu Tanoh Simalungun bagus sekali, tapi hati-hati dengan lagu Sipukkah Huta (Pdt. Martin Lukito Sinaga), puas dan terjawab sudah usaha kerja keras tim paduan suara dan musik serta panitia atas acara ini.

(Sy. Ir. Agust Juvenly Purba/Conductor), Puji syukur karena ternyata ucapan syukur bisa diaktualisasikan dalam acara ini (Bennimenria Purba/MC), acara konser ini melebihi ekspektasi dari panitia khususnya penonton, ini yang harus di syukuri dan bagi jemaat cililitan proses selama 6 bulan ini yang paling berarti untuk kebersamaan kita (Sy. Riasman Damanik/Sekretaris Panitia).

Kita pasti bisa melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan sesame kita (Abner Sumbayak-Ciska Purba), lagu martondur bintang lima (seorang kritikus musik), Acara ini bukan hanya miliki Cililitan tapi semua kita GKPS dan Simalungun, makanya bagi yang tidak menonton langsung akan dibuatkan DVDnya (St. D. Sarlen Saragih/Floor Director), Puji Tuhan dan bagus sekali (Pdt. Jon Harapan Purba/Praeses D-7), tidak rugi saya berusaha datang hari ini (Dr. Sortaman Saragih/Penonton), dan masih banyak lagi pendapat lainnya baik positif maupun kritikan, diatas semua itu Sai Tuhan Naibata ma na tarmulia melalui acara ini. Horas. (www.gkps.or.id)

Membangun Jemaat-jemaat GKPS: Belajar dari GKP

Oleh :Pdt. Martin Lukito Sinaga
 
Dalam seri no. 28 bulan lalu, kita membaca sikap seorang pemimpin  “Parbapaon” di salah satu GKPS di Jakarta: komitmennya terutama ialah membangun JEMAAT GKPS yang telah menjadi ruang sosial-teologisnya selama ini. Maka memang fokus karyanya ada pada jemaat tertentu tersebut, tempat ia beribadah setiap minggu. 

 Tampaknya para anggota jemaat kini pun mulai memberi fokus melayani jemaat dimana mereka menjadi anggotanya. Untuk itu proses pemberdayaan jemaat menjadi karya kita ke depan ini: dalam hal ini kaum awam memang akan berperan strategis.

Karena itu saya kini –khususnya di bulan Desember di hari-hari perayaan Natal ini- hendak mengajak kita belajar dari GKP (Gereja Kristen Pasundan) dalam hal pembangunan jemaatnya. Khususnya karena mereka hidup di daerah Jawa Barat (termasuk Jakarta), daerah yang membutuhkan cara yang khas agar jemaat-jemaat bisa bertumbuh dan diterima.

Saat Natal, maka biasanya stasiun TV nasional akan menayangkan cerita menarik dari satu jemaat GKP, yaitu “Jemaat Betawi di Kampung Sawah”-Bekasi,  sebab di situ ada jemaat yang bertumbuh secara vital bersama tetangga muslimnya, dan malah bisa membawa budaya Betawi ke dalam gereja.

GKP Kampung Sawah

Keberadaangereja di perkampunganBetawidi situ tidakpernahdiusikwarga, karena hampirseluruhwarga jemaatberasal darimasyarakatBetawisetempat, mereka dari “satu pohon” keluarga.Seorangwargagereja, misalnya, bernama Manuel BoengNapiun bisa bekerja selakukaryawankebersihanbaik dikompleksmakamKatolikdanmakam Muslim.

Perayaan Natal di Gereja selalu semarak dengan kehadiran jemaatnya, yang mengenakan baju tradisional Betawi.Pria/wanita berbaju ala “muslim” (baju koko warna krem dan celana hitam, sementara perempuannya memakai kebaya encim dipadu kain batik).

Perkembangan yang unikdarisatujemaat GKP di satukampunginiterkaitdengan proses unikbagaimanajemaatitubekerjamembangundirinya, mengadakanstuditentangsituasijemaatnya, danmemutuskanmengadakanprogram terobosan tertentu agar jemaattersebuttumbuh,berakar dan berbuahpadakonteksnya yang khasitu.

Proses Pembangunan Jemaat GKP dan Kita

Ternyataadalatarsejarah yang perlu kita catatdalamhalini.Pada tahun 1930-an Hendrik Kraemer melakukan survey (laporannya:From Missionfield to Independent Church: Report on a decisive decade in the growth of indigenous churches in indonesia, 1958). 

Saatitu –setelahmelihatjemaat-jemaat Kristen di Jawa Barat- Kraemer menekan kan pentingnya memikirkan ulang makna misi itu sendiri, dan ia terkesan oleh karyaF.L. Anthing. Sebab Anthing menemukan skandal kehadiran Kristen di tanah Pasun dan terletak pada bentuk dan watak kolonialnya. Anthing ingin mengubah ini: lalu ia datang ke Jawa Barat mirip seperti gurungelmu, yang membacarapal(semacam “tabas” kalau di Simalungun).Ia memakai cara Jawa Barat dalam misi dan kesaksiannya.

Ia juga ingin agar jemaat-jemaat tidak terisolir dan bergaya kebelanda-belandaan. Ia sadar orang Kristen Pasundandiapitoleh (a) tipeIslam hakekat di  Cirebon,dan(b) tipe Islam syariat di Banten, dansementaraitudi Jawa Barat tidakadakulturkerajaan yang kuatseperti di Yogya, makajadilah adagium terkenal ini tentang Pasundan: Islam adalah mahkota adat Sunda!

Tapi tentu tak perlu undur dengan realitas itu. Maka, dalam konteks itu, ada2hal yang rupanyaperlumenjadilangkahpembangunan jemaaat-jemaat (juga jemaat GKP Kampung Sawah) di Jawa Barat (juga Jakarta atau daerah majemuk seperti Medan):

1. MENGAKAR
Yang mau ditekankan disini ialah proyek kontekstualisasi di GKP (atau GKPS) harus terus dilanjutkan, artinya; mesti ada yang hidup di tengah-tengah jemaat yang menjadi tanda bahwa ia ada di daerah tersebut. Misalnya dalam sejarah GKP ada tradisi zakat, “sedekah bumi, atau pun Pesta Panen”.

 Dengan kata lain, ada fokus teologi ataupun kegiatan gerejawi yang terkait dengan “bumi, tanah, pertanian, rakyat biasa”. Belajar dari situ maka Jemaat GKPS yang hidup di Jawa Barat perlu mencari ekspresi budaya setempat agar ia memiliki pertalian dengan bumi tempat gerejanya berpijak.

Kini GKP  banyak hadir dalam konteks masyarakat transisi, GKP banyak berkarya di tepi-tepi daerah urban (dan ternyata telah menjadi gereja multikutural-multietnis, malah ada jemaat GKP yang mayoritas warganya adalah orang Batak, termasuk Simalungun). Sehingga soalnya ialah, belajar dari situ: bagaimana kalau ada eksperimen di salah satu JEMAAT GKPS warganya multi-etnis?

2. BERTUMBUH BERSAMA
Dalam kaitan dengan masyarakat transisi (semi-urban)  yang menjadi konteks kontemporer GKP, ada tradisi“ngaduk” –kegiatan kaum muda “ngaduk dodol” di Hari Raya. Ini terkait dengan program kerja sosial jemaat, khususnya mempertemukan kaum muda lintas-agama. Dan ini bisa dipelajari oleh GKPS. 

Kalau di jemaat GKPS akan dikembangkan program “persembahan bulanan/perpuluhan” (perluasan dari persembahan tahunan atau “gugu tahun”) maka dana yang diperoleh dari situ perlu digunakan untuk program harapan sosial dan ekonomi khususnya bagi kaum yang secara sosial amat rentan dicederai globalisasi ekonomi pasar bebas saat ini.

DENGAN KATA LAIN, kita perlu menumbuhkan cara-cara yang khas dalam setiap jemaat GKPS itu bertumbuh di tempatnya yang khas. Dan ini sekali lagi membutuhkan keterlibatan baru kaum awam: dari membaca realitas lingkungannya, membuat analisis manajemen jemaat yang pas untuk realitas tersebut, mencari terobosan program, dan memberlakukannya secara ajek (sustainanable); hanya dengan jalan ini cita-cita GKPS menjadi “pembawa berkat dan kepedulian” bisa dikerjakan oleh jemaat-jemaatnya, dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Salam damai Natal di bulan Desember,
Pdt Martin L Sinaga. (www.gkps.or.id)

"Sang Natal Adalah Hadiah" Oleh Ephorus GKPS


http://gkps.or.id/wp-content/uploads/2012/12/epbarau-150x150.jpg
Ephorus GKPS

 Sanggah studi penulis i Manila hampir lobih hurang 8 tahun adong do kebiasaan setiap halak karisten ijai bani panorang natal mempersiaphon gift natal atap kado Natal. Penulis sendiri pakon inang ampa niombah setiap tahun pasti manjalo gift natal on. 

Bentuk pakon hargani lang pala sadiha tapi kesanni mendalam luarbiasa. Memang agak mirip pakon kebiasaan tukar kado atap change kado na domma ipraktekkon bani namaposo atap sekolah minggu suang sonai halak dewasa i gareja-gareja i Indonesia bani panorang parpudi on. 

Bedani anggo tukar kado domma iaturhon ise2 halakni. Ise na mambere janah ise na manjalo.  Batas minimum harga kadoni domma itontuhon. Sipata adongdo na berkomentar miring sanggah kado atap gift na jinaloni lang sesuai bani kesepakatan. 

Pakon hata na legan change kado sifatni formal, iatur lang spontan. Ibagas pikiran na marchange kado on ia pe pasti do manjalo. Bani change kado marlaku hukum reciprocity. Ahu mambere untuk manjalo. Ibagas uhur na manjalo “moga-moga na hujalo dearan janah mahalan marimbang na hubere”.

Marbeda tumang pakon gift natal atap kado natal. Sifatni spontan janah na mambere lang pala mangaraphon balasan humbani na binereni. Lang reciprocity sifatni. Na manjalo lang iharushon mambere. Tapi anggo bani sada panorang na manjalo gabe mambere ai buahni na dob gabe sipanjalo ma ai. Janah panorang mambere pakon manjalo gift natal on marupahon momentum na selalu itunggu-tunggu.

Dob na rimang-rimangi hapeni bagas do makna ni Gift Natal  on. Ipudini perilaku mambere gift natal untuk halak na legan tersirat do makna na sangat mendalam. Perilaku on mencerminhon janah meneladani na binahenni Naibata hubani Jolma. Naibata ibagas Jesus Tuhan domma gabe “gift” Natal hubani jolma pardosa. 

Janah “gift” Natal ni Naibata ibagas Jesus Tuhan lang mangaraphon balas humbani jolma. Pemaknaan on do hapeni sejak awal memotivasi gift natal na iatas. Natal ai ma paingathon halak na porsaya bani hadiah na domma jinaloni, ai ma haluahon ibagas jesus.  Sadalan hujai na domma manjalo pe tardilo gabe si pambere. Pemaknaan on kemudian iterjemahkon bani praktek gift natal na iatas.

Martin Luther manghatahon haluahon ai ma idop ni uhur. Haluahon ibagas Jesus ai ma anugrah atap sola gratia. Pakon hata na legan haluahon ai ma hadiah. Sang natal ai ma hadiah ( Joh 3:16)

Sayangni perilaku ‘gabe’ gift natal atap perilaku mendatangkan sukacita atap perilaku menjadi berkat  untuk orang lain on musiman hansa, sanggah panorang natal, lape gabe pola hidup sehari-hari. Betapa dasyatnya kesaksian halak karisten anggo menjadi berkat bagi orang domma gabe pola hidup.

Panorang natal paingathon hita bahasa domma ijalo hita gift natal atap hadiah natal ai, buahni? Panorangni ma hita gabe sipambere atap mambere gift atap hadiah natal untuk halak na legan tanpa mengharapkan balasan. 

Panorangni ma homa perilaku gabe “gift” natal on lang pitah musiman tapi gabe pola hidup sehari-hari. Panorangni ma hita na dob manjalo hadiah natal memiliki pola hidup mendatangkan sukacita atap gabe siboan pasu-pasu untuk orang lain. Marhiteihon pola hidup na sonai hita domma menjadi pewarta Sang Natal itu sendiri. Selamat “gabe” gift atap hadiah natal ma untuk halak na legan.

Pulang kampung dari jakarta ke desa Natal
Pulangnya jangan lupa bawa kemiri
Kepada seluruh umat sa GKPS saya ucapkan selamat hari Natal
Pesan Natal kita sudah menerima saatnya kita menjadi pemberi.
 (Sumber www.gkps.or.id)

Berita Lainnya

.

.
.

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)

Peletakan Batu Pertama Pembangunan “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba)
Hinalang- Pdt Jhon Rickky R Purba MTh melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusara “Monumen Makam Hinalang” (St RK Purba) di Desa (Nagori) Hinalang, Kecamatan Purba, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara, Selasa (22/10/2019). Acara Peletakan Batu Pertama dilakukan sederhana dengan Doa oleh Pdt Jhon Rickky R Purba MTh. Selengkapnya KLIK Gambar

Ikan Bawal Seberat 9 KG Dapat (Tabu-tabu) di Danau Toba Hutaimbaru Simalungun

Ikan Bawal Seberat 9 KG Dapat (Tabu-tabu) di Danau Toba Hutaimbaru Simalungun
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia

Simalungun Berduka, St RK Purba Pakpak Tutup Usia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba

Jeritan Hati Warga Jemaat GKPS Dari Pinggir Danau Toba
Sakit Bertahun Tanpa Pelayanan Medis

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba

Sapu Bersih Rencana Gubsu Soal Wisata Halal Syariah di Kawasan Danau Toba
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia

Andaliman, Rempah Batak Yang Mendunia
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti

St Adriani Heriaty Sinaga SH MH (Srikandi Simalungun) Itu Purna Bakti
KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya


MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN

MIRACLE "TINUKTUK" SAMBAL REMPAH KHAS SIMALUNGUN
PESAN: MIRACLE'TINUKTUK WA: 081269275555

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih

Catatan Paska Konser Jhon Eliaman Saragih
TMII Jakarta Sabtu 4 November 2017.KLIK Gambar Untuk Berita Selengkapnya